<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014</id><updated>2012-02-08T19:44:50.168+07:00</updated><title type='text'>yanti's site</title><subtitle type='html'>Hidup adalah anugerah paling indah. Meski cuma sebuah dongeng, namun terlalu sayang untuk dilewatkan. Antara ada dan ketiadaan dalam materi yang maya, aku dan kehidupanku adalah sebuah cerita yang tak pernah ada. Aku bukanlah sesuatu yang nyata, karena hanya Dia-lah yang benar-benar ada.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>90</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-6781899881610726275</id><published>2011-10-20T13:18:00.003+07:00</published><updated>2011-10-20T13:43:37.763+07:00</updated><title type='text'>Hidup Dengan Kebanggaan</title><content type='html'>Aku tersentak oleh getaran handphone ku. Satu nama yang sangat ku kenal tampil di layarnya. Papah-koe, begitu huruf demi huruf itu tersusun. Kupandangi sebentar. Sejak tadi, beberapa panggilan dan SMS  masuk ke HP ku, tapi aku mengacuhkannya. Kali ini tidak. Sebab, Papah adalah temanku, seperti nisa, seperti ambar, icha dan Erika. Mereka punya arti yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lupa redaksi SMS itu, yang kuingat hanya papah ingin aku bertandang ke ruangannya. Ini pasti soal SMS yang kukirim padanya. Aku juga lupa bagaimana redaksi SMS yang ku kirim, tapi intinya memberitahukan bahwa aku tak bisa ujian dan wisuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, aku sedang duduk di kursi operator radio Prokom, radio kampus ku. Mencoba untuk bercanda dan tertawa dengan adik-adik tingkat yang sedang nongkrong di sana dan seorang teman yang berprofesi sebagai dosen, sekedar untuk mengembalikan kondisi perasaan yang sempat berantakan. Setengah jam sebelumnya, aku menghabiskan hampir setengah jam paling menghancurkan dalam sejarah pen-didik-anku. Hampir setengah jam aku mengunci diri di WC mahasiswa yang pasti tak harum, hanya untuk menangis meratapi kegagalanku. Gagal ujian dan wisuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanya mengapa harus WC, karena tentu saja tak ada tempat yang baik untuk menangis di kampus ini. Direktur Pendidikan Tinggi Kemenag  mungkin tak pernah berpikir untuk menyediakan sebuah ruangan agar mahasiswa yang sedang mengalami kegagalan sepertiku dapat menangis. Karena tak ada ruang khusus, WC menjadi tempat paling aman untuk menangis. Tak seorang pun akan melihat dan mendengarku di sini, dan satu bak air akan membasuh wajahku usai menangis untuk menghilangkan jejak sedih. Tempat yang sempurna, walaupun bukan tempat yang nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menangis, ya aku menangis saat itu. Bukan karena aku ingin ujian dan wisuda, tapi aku butuh kedua moment itu. Aku sangat butuh saat itu. Tahun itu adalah waktu yang kujanjikan pada ibuku untuk menyelesaikan kuliah, dan  dia sangat ingin menghadiri acara wisudaku. Pada saat sakit kerasnya, dia masih berkata bahwa dia ingin sembuh untuk acara itu. Dia sangat menginginkannya. Lantas, saat dia pergi untuk selamanya, aku masih yakin bahwa aku bisa memenuhi janjiku walaupun tanpa  kehadirannya.Justru karena dia tak ada, aku harus memenuhi janji itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu wisuda telah dipatok. Entah kebetulan apa, perayaan wisuda bertepatan dengan peringatan 100 hari ibuku meninggal. Aku semakin gencar mengejar moment itu. Ya, aku butuh moment itu untuk memenuhi janjiku, aku butuh untuk mengobati rasa bersalahku, dan aku butuh untuk rasa kehilanganku. Aku membutuhkannya. Sangat membutuhkannya. Bahkan untuk mengejar moment itu, sesaat setelah pemakaman ibuku, aku langsung membuka laptop dan melanjutkan skripsiku. Aku harus menyelesaikannya tepat waktu, bersedih dapat kulakukan setelah skripsiku selesai. Itu yang kupikirkan sambil mengetik.  Tapi,  ternyata aku kehilangan moment itu.  Sebuah keteledoran masa lalu membuat nilai mata kuliahku tak keluar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skripsi yang terhitung ratusan halaman, IP yang tiga-delapanan, track record pendidikan yang tak bermasalah yang sempat menjadi modal kepercayaan diriku untuk mengurus nilai, seketika tak berarti apa-apa lagi. Ah, semuanya seperti runtuh di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus ini, aku tahu dengan baik bahwa aku salah. Sebab, aku jelas melanggar aturan. Aturan yang ada, mahasiswa dapat mengurus nilainya selambat-lambatnya 2 minggu setelah nilai keluar dan ditempel di mading jurusan. Itu aturannya, dan aku tahu betul akan aturan itu sejak awal-awal kuliah. Tapi aku melanggarnya. Aku juga tak mengulang ketika mata kuliah itu diadakan lagi untuk adik tingkatku. Aku justru mengurus nilai itu setelah hampir 3 semester berlalu. Itu tentu sangat keterlaluan. Sangat dimengerti jika nilaiku tak keluar. Tapi, jujur saja, aku kecewa saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sempat tersenyum nyinyir mengingat setengah jam itu dan tak percaya bahwa aku telah melewatinya. Aku melangkah menuju ruang Papah. Seorang teman ikut bersamaku. Dia punya urusan dengan Papah. Ketika sampai, aku membiarkannya untuk lebih dulu bicara. Entah berapa lama sampai dia mohon pamit padaku dan Papah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saye tak pernah wisuda sampai saye jadi Doktor,” kata Papah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu menjelaskan betapa tak berartinya wisuda. Hanya sebuah pesta perayaan menyelesaikan kuliah, padahal sesaat setelah pesta itu berakhir banyak diantara wisudawan yang kebingungan mencari kerja dengan status sarjananya hingga berakhir dengan sebutan pengangguran kelas atas. Ironi, begitu kami menyimpulkan moment itu. Aku dan Papah beberapakali memiliki pandangan yang sama tentang sesuatu, mungkin karena pemikiran kami yang sedikit abnormal dibanding mainstream. Aku berpikiran yang sama tentang wisuda, tapi kondisinya berbeda. Aku butuh, itu saja.  Karena  itu, aku tetap saja merasa tergeletak di lantai paling bawah di ruang paling gelap dengan aroma yang pengap. Itu memaksaku untuk sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu bicara soal nilai itu. Dia bangga karena aku tidak mengambil jalan pintas yang dilakukan oleh anak-anak bermasalah di kampusku. Menghadap Kaprodi atau Kajur, lalu mendapatkan selembar surat untuk mengurus nilai ke dosen dan dapatlah nilai. Dia bilang, dia benci cara itu. Papah sempat kaget karena mengetahui ada mahasiswa yang ujian, padahal ada nilainya yang nyangkut di Papah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nilai die tak saye keluarkan, entah darimane die dapat nilai tuh. Ngadap saye pun tadak,” begitu kata Papah ngomel. Dia tak suka itu. Dosen punya hak preogatif untuk soal nilai mata kuliah yang diampunya. Dia tak suka cara anak itu, dan tak mengerti bagaimana secara prosedur, anak itu dapat ‘diizinkan’ melakukan cara itu. Hak dosen dilanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana kabar tentang nilaiku tersiar. Seingatku, aku hanya memberitahu orang-orang  terdekat, yang aku tahu pasti tidak akan bocor dari mereka. Tapi, ini kampus. Apa yang tak diketahui disini? Sejak itu, beberapa orang yang cukup populer di kancah birokrasi kampus sempat menawariku jasa untuk membantu bicara pada pak dosen, sebab beliau-beliau  kenal baik dengan Pak dosen. Aku menolak. Ini masalah mahasiswa dan dosen, tak lebih dari itu. Pikiranku memaksaku untuk tetap pada jalur seorang mahasiswa, sebab aku seorang mahasiswa bukan birokrat. Aku akan menghadap dosenku, mendiskusikan masalah itu  untuk kemudian menunggu keputusannya. Tidak fair rasanya melibatkan orang lain. Tak boleh begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, aku ditawari cara. Aku disuruh ke rumah pak dosen, biar lebih akrab dan santai. Bersilaturahmi, begitu bahasanya, tentu saja sambil mengurus nilai. Ini pun kutolak. Kupikir, aku kuliah di kampus bukan di rumahnya. Maka, soal nilai juga harus diselesaikan di kampus.  Jadi, itu tak boleh. Itu bukan cara seorang mahasiswa, itu cara para politikus. Aku bukan politikus, memanfaatkan suasana kekeluargaan bukan keahlianku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, aku sempat shock ketika tahu bahwa seorang dosenku berinisiatif untuk menghadap Pak Dosen agar dapat membantu mengeluarkan nilaiku. Aku berterimakasih atas kepeduliannya, tapi aku tak mau itu. Jika saja aku tahu, pasti aku akan menolaknya. Aku ingin nilaiku keluar, tapi aku tetap punya batasan apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan. Itu penting, begitu Papah sering berkata padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi, harus ngulang?” Papah bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ho oh, satu semester lagi,”jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak apelah, sambil sempurnakan agik jak skripsinye.”&lt;br /&gt;Aku tersenyum kecut. Mungkin wajahku lebih terlihat seperti menyeringai daripada tersenyum. Papah pasti melihat kondisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ti, saye yakin suatu saat Yanti akan jdi orang yang sukses. Karena itu, siapkan dari sekarang, jangan buat celah yang orang bise meragukan kualitas Yanti. Yanti bise lewat jalan pintas macam budak-budak tu, tapi suatu saat orang-orang  akan ngomong, ’Budak tu dulu mintak-mintak nilai.’ Kalo macam itu, ape artinye?” kata Papah sambil menatapku tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidup dengan kebanggaan itu penting, Ti. Itu jaminan atas kualitas kite. Orang tak bise meragukannye,” begitu Papah memberiku semangat. Dia katakan dia bangga padaku. Hari itu, Papah menjadi satu-satunya orang yang mengatakan bahwa dia bangga padaku walaupun aku gagal. Aku merasa benar dengan apa yang tidak aku lakukan dan aku merasa benar dengan apa yang aku pilih. Saat itu aku berharap sekali bahwa ibuku akan mengatakan hal yang sama dan aku yakin itu. Setelah hari itu, sahabatku-sahabatku yang lain juga datang untuk menepuk punggungku seraya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun berlalu. Kini moment wisuda kembali. Mahasiswa berbondong-bondong mendaftar ujian agar dapat wisuda tahun ini. Aku tidak menjadi bagian dari mereka. Aku telah ujian beberapa bulan lalu. Nilaiku dulu telah keluar seiring berlalunya semester. Ujianku terbilang cukup baik dengan nilai yang konon katanya cukup maksimal. Badai telah berlalu, begitu aku menyebut diriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari lalu aku kaget dengan cerita temanku tentang nilainya. Gadis cantik yang imut-imut itu satu angkatan denganku. Nilainya bermasalah sama sepertiku dulu dengan dosen yang sama pula. Wow, kau lebih berani dariku, kawan.  Aku saja ditolaknya setahun yang lalu, apalagi kamu yang lebih lama setahun dariku,begitu  pikirku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temanku itu lalu menanyakan pengalamanku sebagai mantan mahasiswa bermasalah. Aku mendukung keinginannya untuk mengurus nilai itu, tapi berkaca dari pengalaman, aku memintanya agar tak  berharap banyak. Begitulah pertemuan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa nilainya keluar, walapun tak maksimal. Dia menghadap ke Ketua Jurusan untuk mendapatkan surat rekomendasi agar dosen dapat mengeluarkan nilai. Aku senang, tapi jujur saja, aku juga terkejut. Satu sudut gelap hati manusiaku merasa harus mempertanyakannya. Apalagi, untuk mengurus semua itu, dia hanya butuh waktu beberapa hari, tak sampai seminggu. Lalu, temanku melenggang ke ruang ujian. Sifat sombongku muncul, aku merasa skripsiku lebih baik, IP ku lebih tinggi, sejarah kuliah dan aktivitas kampusku lebih baik, pilihanku lebih benar. Tapi, apa begini? Ah, ternyata ada lampu yang mati di satu sudut hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, aku mendengar bisik-bisik tentang temanku dan nilai itu. Tak sedap juga didengar. Ujiannya tak begitu baik, beberapa penonton menghubungkannya dengan nilai yang tak genap prosesnya. Aku terdiam. Sesuatu yang sesaat tadi terhimpun di sudut hati yang mati lampu. “Hidup dengan kebanggaan” begitu istilah Papah. Pasti akan terasa berat, tapi jangan memberi celah agar orang dapat meragukan kualitas kita. Itu yang tadi aku lupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jariku terasa gatal untuk mulai memencet keypad HPku. Ingin mengirim pesan singkat pada Papah. Tak banyak yang ingin ku tulis, hanya ingin bilang “Pah, terimakasih telah membantuku  untuk memilih sesuatu yang benar dan terimakasih untuk bangga padaku”. Terimakasih, Pah, dan terimakasih untuk ssahabat-sahabatku yang selalu percaya pada jalan yang kupilih. . .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-6781899881610726275?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/6781899881610726275/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=6781899881610726275' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6781899881610726275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6781899881610726275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/10/hidup-dengan-kebanggaan.html' title='Hidup Dengan Kebanggaan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2186782290849161617</id><published>2011-10-05T14:12:00.002+07:00</published><updated>2011-10-05T14:19:04.500+07:00</updated><title type='text'>Wisuda</title><content type='html'>Aku tak mau wisuda. Tidak salah'kan? Aku tidak salah,  tentu saja. Aku mungkin berbeda, tapi aku sangat yakin bahwa aku tidak salah. Ini hanya soal pilihan. Aku hanya tak mau repot memakai kebaya dan kain songket atau batik, untuk kemudian menutupnya dengan jubah besar wisuda, hingga kebaya dan kain  yang susah payah dipakai itu justru tak kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tak mau memakai kasut high heels yang mungkin akan membuat kakiku sakit semalaman. Aku juga tak mau memakai make-up tebal yang dapat membuatku tidak menikmati makan dan minum selama acara berlangsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tak ingin menjadi boneka pada hari itu untuk sebuah kebanggaan menjadi sarjana. Pesta yang digelar untuk merayakan lahirnya seorang intelektual baru, lalu sejam kemudian menjadi pengangguran berintelektual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, aku tak mau wisuda. Aku ingin meraih gelarku, tanpa harus berjalan menuju altar suci itu. Tanpa harus disebut namaku, lalu menunduk agar pemegang gelar tertinggi di kampus dapat memindahkan seutas tali di atas topi yang ku pakai. Pindahnya hanya 2 cm saja, tak lebih dan tentu saja masih &lt;span style="font-style:italic;"&gt;nangkring&lt;/span&gt; di topi. Aku sendiri bisa memindahkannya lebih jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Tuhan mendengar ocehan2ku, hingga aku tak dibiarkannya untuk wisuda tahun lalu, saat aku benar-benar membutuhkan moment itu. Aku butuh, bukan mau atau ingin. &lt;br /&gt;Lalu saat ini, aku lagi-lagi harus menghadapi moment wisuda. Sekali lagi, aku tak mau wisuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa aku punya pilihan? Benar kata Nas, di luar sana ada orang yang pegang kendali. Aku tidak berhak memutuskan sendiri, ada yang juga memiliki hak atas moment itu. Bahkan, dia memiliki hak yang jauh lebih besar dibandingkan hak yang kumiliki. Dan kemungkinan besar, aku harus wisuda karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali bisa seperti Prince Moon Seong yang tidak datang dalam pesta pertunangannya, karena dia memang tak menginginkan pertunangan itu. Meskipun, setelah itu dia harus menanggung banyak resiko. Ingin juga seperti Oscar yang meninggalkan pasukan kavaleri istana dan lebih memilih memimpin pasukan rakyat Perancis dalam revolusi th. 1789. Walaupun akhirnya dia harus tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin sekali menolak moment itu, sangat ingin. Tapi, aku tak punya alasan untuk menolaknya. Aku tidak sedang berhadapan dengan pesta pertunangan yang tidak diinginkan. Aku juga tidak sedang berperang untuk membela rakyat yang didzolimi. Aku hanya sedang berhadapan dengan suatu moment yang ditunggu-tunggu oleh para sarjana yang belum di’baptis’, suatu moment yang seakan-akan lebih legal dibanding ijazah sarjana sendiri. Moment yang sangat ditunggu dan akan menjadi yang paling dikenang. Lalu ada apa denganku?  Entahlah, aku hanya tak mau wisuda. Sebab, aku tahu pasti, beberapa jam itu pasti akan sangat menyiksak. Sangat menyiksaku, tapi tetap saja harus kulakukan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2186782290849161617?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2186782290849161617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2186782290849161617' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2186782290849161617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2186782290849161617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/10/wisuda.html' title='Wisuda'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8388166282573657230</id><published>2011-09-27T13:43:00.002+07:00</published><updated>2011-09-27T13:59:10.550+07:00</updated><title type='text'>Bicara pada Luka</title><content type='html'>Luka...&lt;br /&gt;Aku sedang menikmatimu&lt;br /&gt;Perihmu yang merajam ulu hatiku&lt;br /&gt;Tetes darahmu dan goresan yang kau toreh di dinding hatiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka...&lt;br /&gt;Aku masih menikmatimu&lt;br /&gt;membiarkan pedihmu menebarkan siluet merah di sudut-sudutnya&lt;br /&gt;Terus menikmatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka...&lt;br /&gt;Aku bicara padamu&lt;br /&gt;Katakan semua tentangmu&lt;br /&gt;Dan tentang kesakitan itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah kau...&lt;br /&gt;Kini aku mengundangmu untuk datang padaku&lt;br /&gt;Jangan ragu untuk melukaiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku akan menertawakanmu&lt;br /&gt;Menertawakan perihmu yang tak mampu membelenggu kebebasanku&lt;br /&gt;menghinakan pedihmu yang malah menegakkanku&lt;br /&gt;Aku akan mengejek kelemahan goresanmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luka...&lt;br /&gt;datanglah padaku tanpa ragu&lt;br /&gt;Karena, ketika kau tebarkan kesakitan dan perih itu&lt;br /&gt;Aku akan mengajarimu tentang arti bertahan dalam kehidupan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8388166282573657230?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8388166282573657230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8388166282573657230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8388166282573657230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8388166282573657230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/09/bicara-pada-luka.html' title='Bicara pada Luka'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4776591747950527810</id><published>2011-09-24T15:57:00.004+07:00</published><updated>2011-09-27T13:36:53.026+07:00</updated><title type='text'>Ruang Kenangan Itu...</title><content type='html'>Semua hal akan berubah dalam kehidupan ini, takkan ada yang tetap seiring waktu yang berlalu. Meskipun demikian, ada hal-hal yang tak pernah tergantikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desir halus itu menelusuk diam-diam di hatiku. Terpaku sebentar, hingga tak beriak darah ini untuk sejenak. Ruangan ini telah berubah. Kursinya bertambah banyak, dan ditempati oleh wajah-wajah sumringah yang bersemangat. Aku masih berdiri di depan pintu. Dulu, tak banyak kursi di sana, seingatku hanya ada beberapa. Di sana, ada tempat dudukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menoleh sejenak pada mereka yang ada di sampingku. Tampaknya, mereka juga sepertiku. Terpaku sebentar. Aku mengingat bahwa kami-lah yang biasa bercengkerama di situ. Tertawa, bercanda, dan adakalanya kami berlinang air mata di tempat itu. Tempat itu tak selalu indah. Kami juga pernah bertengkar, hingga rasa sakit menusuk-nusuk hati untuk beberapa waktu. Entah bagaimana, tempat itu lagi-lagi mempersatukan kami. Itulah tempatnya, tempat kami yang kini jumlah kursinya bertambah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berdiri di depan pintu, ada perasaan takut untuk masuk ke dalam. Aku ingin sekali melihat, apakah kursiku masih ada di sana. Tapi, kakiku bersikeras untuk berhenti di depan pintu. Diam-diam, aku pergi dari ruangan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah sejak kapan, seorang anak yang duduk di ruangan itu mengikutiku keluar. Dia tersenyum ramah, dan berusaha untuk bicara padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa pergi?” tanyanya polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku?” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, kamu. Kenapa pergi? Ayolah, masuk dan bergabung bersama kami,” katanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku? Aku hanya datang untuk melihat ruangan itu, karena sudah beberapa waktu aku tidak ke sana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, di sana masih ada tempatmu. Kamu bisa bergabung bersama kami. Aku biasa mendengar tentangmu yang sering bermain di sana. Di dinding ruangan itu masih ada pahatan namamu,” katanya menjelaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah kursiku masih ada di sana?” tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia kemudian menatapku dengan wajah yang memancarkan rasa bersalah. Suaranya berubah sendu. “Aku tidak mengambil tempatmu. Kursimu masih ada di tempatnya, bahkan aku tak menyentuhnya. Aku hanya duduk di sampingmu, aku berharap suatu saat kita akan bermain bersama di sana. Jika kamu merasa tak nyaman dengan keberadaanku, mungkin aku bisa pergi,” katanya lagi. Dia menunduk .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menatap wajahnya dalam-dalam. Anak itu tentu tak berniat jahat, dia memang tak bermaksud mengambil kursiku. Dia mungkin justru menjaganya. Aku tersenyum menatapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu dan aku tak menyalahkanmu. Aku hanya ingin memastikan bahwa ruangan yang berharga itu baik-baik saja dan aku merasa tenang karena kamu berada di sana untuk menjaganya. Aku hanya merasa bahwa waktu telah banyak berubah,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu marah dengan perubahan itu?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di dunia ini, ada sesuatu yang tidak akan pernah tergantikan, tapi tak ada yang tidak berubah. Ruangan itu adalah hal yang tidak akan pernah tergantikan buatku, tapi seiring waktu aku tidak bisa selalu berkunjung ke sana. Aku senang kamu di sana dan menjaganya, melakukan apa yang tak bisa lagi aku lakukan. Aku memang sangat cemburu, tapi bukan karena  aku membencimu dan bukan karena kamu. Perasaan itu tak ada kaitannya denganmmu. Aku cemburu, karena tempat itu sangat berharga bagiku. Dia mengajarkan banyak hal tentang cita-cita, persahabatan dan optimisme. Tempat itu tetap sangat berharga dan akan selalu seperti itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau tempat itu berarti bagimu, kenapa tak masuk dan bermain bersama?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tempat itu telah mengajarkanku cara menapak, dan saat ini tiba waktunya aku untuk mulai melangkah. Aku ingin melihat berbagai macam tempat, agar aku bisa lebih banyak belajar tentang kearifan. Karena itu, saat ini aku harus berada di tempat yang lain. Tempatku bermain, kini menjadi tempat bermainmu, maka bermain dan belajarlah dengan baik. Akan banyak pelajaran yang kamu dapat di sana,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu tidak akan ke sana lagi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan tetap ke sana nanti. Bukankah kursiku dan teman-temanku masih ada di sana? Aku akan tetap bersahabat dengan tempat itu sampai kapanpun. Keberadaanmu atau siapapun tidak akan mengubah itu. Jadi jangan merasa bersalah padaku,” jelasku padanya. Gadis itu tersenyum. Raut wajahnya tak lagi sendu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kembalilah ke ruangan itu, karena aku juga akan kembali melangkah ke berbagai tempat. Aku masih harus belajar banyak, begitu juga denganmu.” Kataku lagi. &lt;br /&gt;Mata anak itu berbinar, dia kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang kenanganku. Dari jauh, aku melihat pintu ruangan itu terbuka dan memancarkan cahaya biru yang lembut dan hangat. Cahaya yang berasal dari hati ruangan yang penuh dengan persahabatan dan ketulusan. Aku melangkah membelakangi ruangan itu. Sayup-sayup terdengar suara tawa yang renyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum sambil terus melangkah. Ruangan itu mungkin tak lagi sepenuhnya milikku dan teman-temanku, sebab sudah banyak kursi lain di sana. Namun, ruangan itu telah memberikan kekuatan yang besar pada kakiku untuk melangkah. Dia mempersiapkan sepasang kaki yang kuat agar aku bisa mengejar mimpiku dan sepasang kaki yang kuat agar suatu saat aku bisa kembali mengunjunginya. Ada banyak hal yang akan berubah di dunia ini karena waktu, tapi ada hal yang tidak akan pernah tergantikan, sekalipun oleh waktu…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4776591747950527810?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4776591747950527810/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4776591747950527810' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4776591747950527810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4776591747950527810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/09/ruang-kenangan-itu.html' title='Ruang Kenangan Itu...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5844657968435626019</id><published>2011-09-21T12:18:00.001+07:00</published><updated>2011-09-21T12:27:27.497+07:00</updated><title type='text'>Dalam Secangkir Teh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vPhr1ZOv67M/Tnl1pbr3cvI/AAAAAAAAAJw/YDNcoekDDe4/s1600/images%2Bteh.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 208px; height: 243px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vPhr1ZOv67M/Tnl1pbr3cvI/AAAAAAAAAJw/YDNcoekDDe4/s320/images%2Bteh.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654680161807201010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jangan main-main pada secangkir teh, karena minuman cantik itu mengandung perasaan orang yang membuatnya. Itulah ungkapanku tentang teh. Entah karena telalu suka pada teh, atau factor lain, aku selalu merasakan bahwa rasa yang terkandung dalam secangkir teh selalu dipengaruhi perasaan si pembuat. Karena itu, tak heran kalau setiap kali menikmati secangkir teh, aku akan merasakan rasa yang berbeda, meskipun teh dan gula yang digunakan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyukai rasa teh yang ku buat saat sendirian dengan perasaan yang agak sedih tanpa rasa marah. Kesedihan tanpa rasa marah itu hanya akan timbul saat aku mengingat orang-orang yang ku saying, namun telah pergi sangat jauh. Rasa secangkir teh itu lebih lembut, sangat lembut. Aku suka sensasinya ketika melewati lidahku, kemudian meluncur ke tenggorokan dan terus hilang perlahan-lahan. Sangat perlahan, hingga aku merasa harus sekali lagi mereguk isi cangkir itu. Berulang-ulang, hingga aku tak sempat berpikir, bahwa secangkir teh ku telah habis…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak begitu menyukai teh yang ku buat saat terlalu gembira. Rasa manisnya lebih kental, rasa pahit teh yang khas itu lenyap begitu saja. Aromanya menjadi manis, bukan lagi aroma teh yang tenang. Saat melewati kerongkongan, ada yang “menyelekit” di sana. Dengan cepat, aku akan merasa sangat bosan menghabiskan secangkir teh di depanku. Kalau sudah begitu, aku lebih memilih minum susu Dancow putih yang tanpa rasa itu, untuk menetralisir rasa manis yang menyelekit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tak begitu menyukai teh yang dibuat saat marah. Semua rasa yang terkandung dalam secangkir teh itu terlalu kuat. Semuanya seolah berlomba-lomba untuk mendominasi satu dengan yang lain. Aroma teh yang nikmat itu tentu saja lenyap. Dia paling sensitif. Tidak di semua cangkir teh akan kau temukan aroma teh yang menyegarkan itu, Apalagi dalam secangkir teh ‘marah’. Setelah sedikit menampar lidah, dia akan meremas kerongkongan untuk kemudian pada akhirnya mengoyak kulit lambung… uhg…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada akhirnya, teh adalah teh, secangkir minuman yang kerap diminum untuk melepas lelah, cemas, takut, sekedar untuk meredakan perasaan rindu, atau menambah manis senyuman bahagia. Secangkir teh mungkin mewakili segenggam perasaan pembuatnya, tapi mungkin juga mengobati perasaan, karena dalam secangkir teh larut semua perasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5844657968435626019?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5844657968435626019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5844657968435626019' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5844657968435626019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5844657968435626019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/09/dalam-secangkir-teh.html' title='Dalam Secangkir Teh'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vPhr1ZOv67M/Tnl1pbr3cvI/AAAAAAAAAJw/YDNcoekDDe4/s72-c/images%2Bteh.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8596484562306200781</id><published>2011-09-20T16:46:00.002+07:00</published><updated>2011-09-20T17:00:59.754+07:00</updated><title type='text'>Kami Cemburu</title><content type='html'>Cemburu, itulah kata yang pernah diucapkan dua orang temanku. Sedangkan aku tak mengucapkannya, tapi merasa. Bagaimana tidak, Abi-merka sekarang lebih dekat dengan mahasiswanya yang baru. Di kantor Abi, selalu ada beberapa mahasiswa ‘terdekat’nya. Aku juga sewot. Di kantor Papah-ku mereka juga selalu nangkring. Abi-nya kedua temanku dan Papah-ku adalah orang yang sama. Kami memanggilnya dengan sebutan berbeda. Kedua temanku yang pertama memanggilnya dengan sebutan Abi. Aku memilih memanggilnya Papah, sedangkan seorang teman lain memanggilnya Ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini, kami tengah sewot, karena Abi-mereka, Papah-ku dan Ayah-dia sedang banyak penggemar. Mahasiswa-mahasiswa baru lengket pada Abi-Papah-Ayah (APA)  kami. Tak terlalu berlebihan memang, sebab APA memang pandai memotivasi orang lain dengan membakar semangatnya. Tak lama mereka semua akan berkarya seperti APA. Kami juga pernah merasakan saat-saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang buat sewot, sekarang mahasiswa-mahasiswa baru itu lah yang dimotivasi APA. Mereka hampir selalu di dekat APA. Mereka bicara di depan kami juga sebagai mahasiswa ‘terdekat’ APA. Beberapa di antaranya bercerita soal betapa baiknya APA, betapa mereka termasuk mahasiswa yang diperlakukan istimewa oleh APA, dll. Aih.  Gubrak...  Ah, kami lebih tahu APA, begitu seolah-olah mereka berkata. Aih.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu, memang.... Karena tentu saja kami berempat terdengar seperti anak kecil. APA sangat istimewa untuk kami. Selain dosen, kami sudah menganggapnya sebagai sahabat kami. Seringkali kami bicara tidak sebagai dosen dan mahasiswa, tapi lebih sebagai sahabat yang berbagi cerita. Itulah hal yang paling kami ingat dari APA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kami berempat sudah tentu tak bisa seperti dulu lagi, selalu ada di dekat APA dan bercanda, juga mengerjakan semua tugas dari APA. Sebab, aku dan teman-teman sekarang sedang menyiapkan jalan untuk kami lewati menuju masa depan. APA tahu itu dengan baik, karena itu juga APA tak pernah menanyakan pada kami mengapa hampir tak pernah menemuinya. Yah, APA menyikapinya dengan dewasa. Tidak demikian dengan kami yang tetap saja tak rela tempat kami sebagai ‘anak-anak’ APA digantikan, meskipun dengan adik-adik kami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, sekali lagi, pasti terdengar seperti anak kecil. Tapi, seperti itulah. Sampai detik ini, kami masih merasa bahwa anak-anak APA cuma kami saja. Tidak yang lain.&lt;br /&gt;Dengan (sedikit?) narsis, kami merasa bahwa kami tetap ‘anak-anak’ APA yang tak tergantikan. Sama seperti APA yang tak tergantikan di hati kami. Sebab, hati kita seperti sebuah rumah. Setiap orang dapat saja berkunjung dan duduk di dalamnya. Namun, hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki kamar di rumah itu. Sekali tinggal di dalamnya, tidak akan ada yang pernah menggantikannya. Di hati APA akan selalu ada kamar kami yang tidak (akan) ditinggali oleh siapapun selain kami. Dia tetap Abi-mereka, Papah-ku dan Ayah-dia. Milik kami berempat...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8596484562306200781?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8596484562306200781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8596484562306200781' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8596484562306200781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8596484562306200781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/09/kami-cemburu.html' title='Kami Cemburu'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4620647447634159518</id><published>2011-09-20T15:35:00.001+07:00</published><updated>2011-09-20T15:43:25.458+07:00</updated><title type='text'>Darah Kita dan Hidup Mereka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-EktL3tAHNQI/TnhSCKecK3I/AAAAAAAAAJo/e8Oy8RPO_jI/s1600/blood1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 302px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-EktL3tAHNQI/TnhSCKecK3I/AAAAAAAAAJo/e8Oy8RPO_jI/s320/blood1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654359529288903538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Yan, kwn sye kecelakaan. Kplanye bocor, nak dioperasi n btuh darah. Di PMI habis”. Begitulah sebuah SMS yang tiba-tiba masuk ke nomor HP saya. Saat itu sekitar pukul 08.00 malam, saya baru saja pulang ke rumah setelah seharian berkutat dengan bangku kuliah dan dilanjutkan dengan berjam-jam di meja operator warnet tempat saya bekerja. Saya kemudian beranjak dari tempat tidur dan meneliti nomor pengirim. Nama Puji tertera di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gol. ape?” balas saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O. Bentar agek sy jmput ke rumah. kite skalian nyari dnor. Hub kwn2 yg laen,” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera mencuci muka dan mengganti baju yang seharian melekat di tubuh. Tak lama, suara motor Puji menderu di halaman rumah. Saya segera keluar dengan menenteng tas ransel kesayangan dan menggenggam Hp butut biru tercinta sambil memencet nomor kawan-kawan untuk menghubungi mereka soal darah. Malang, saat itu banyak teman-teman yang sedang di luar kota karena program Kuliah Kerja Lapangan (KKL).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dan Puji berunding tentang kami harus kemana. Beberapa kali keluarga si korban kecelakaan menelpon Puji, sekedar untuk berkonfirmasi tentang keberadaan beberapa kantong darah yang mereka perlukan. Menurut Puji, temannya itu bukan berasal dari Kota Pontianak. Dia dan keluarganya tinggal di Kabupaten Sanggau yang berjarak ratusan kilometer dari ibu kota provinsi Kalbar ini. Mereka nyaris tak punya kerabat di sini. Saya dan Puji cukup memaklumi kekhawatiran mereka, apalagi si korban kecelakaan adalah anak lelaki tertua dalam keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua lantas membelah malam dengan deruan motor Honda Astrea butut bersejarah itu. Hujan gerimis malam membuat baju kami sedikit basah sekaligus menciptakan suasana temaram ketika ditimpa sinar lampu jalan yang sedikit redup. Tak hanya kami, teman-teman karate Puji yang juga teman si korban kecelakaan itu, juga sedang menembus hujan malam yang sama entah di sudut mana di kota Khatulistiwa ini. Tujuan kami sama, membawa kepastian tentang beberapa kantong darah yang sedang ditunggu di ruang operasi. Sementara itu, pesan via SMS terus beredar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba-tiba teringat warnet tempat saya bekerja. Warnet itu tak sekedar tempat berselancar di dunia maya, tapi juga tempat berkumpulnya ide-ide brilian para aktivis muda. Beberapa dari mereka sering mendonorkan darahnya, bahkan ‘kecanduan’ untuk mendonor sehingga punya kartu donor di PMI. Puji segera memutar arah motornya. Hanya beberapa menit, kami  sudah sampai di halaman depan warnet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya segera masuk. Beberapa teman menyambut saya keheranan, karena baru sekitar sejam  yang lalu saya pamit pulang dengan wajah lusuh. Saya masuk ke ruang tengah. Beberapa kawan sedang main game dan beberapa lagi sedang mengurusi CPU yang rewel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang ade yang darah O tak? Kawan kamek kecelakaan nak operasi tak de darah di PMI,” kata saya cepat. Beberapa di antara mereka bergolongan darah yang sama. Sayang, seorang sudah donor beberapa hari yang lalu, hingga tak mungkin memberikan darahnya. Sisanya segera ikut kami ke PMI. Di PMI kami bertemu dengan pendonor lain hasil dari pesan via SMS dan perjalanan kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa orang teman saya, hanya satu orang yang bisa memberikan darahnya. Yang lain ditolak oleh petugas karena berbagai alasan, yaitu HB darahnya rendah atau tekanan darah yang tidak normal. Belakangan, saya baru tahu bahwa ada yang tak pernah donor darah hingga saat diperiksa dia bahkan hampir pingsan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mengucap syukur karena jumlah darah yang diperlukan berhasil dikumpulkan. Teman-teman pun pamit pulang untuk melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Saya dan Puji segera meluncur menuju rumah sakit dengan perasaan senang. Paling tidak, kami bisa mengatakan pada ibu si korban bahwa ada darah yang tersedia untuk anaknya. Puji bilang, sang ibu sempat tak bisa bicara karena terlalu syok atas kecelakaan anaknya apalagi ditambah kabar bahwa persediaan darah di PMI habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai di rumah sakit dan Puji mengabarkan berita gembira itu pada keluarga korban. Mereka tampak bersyukur. Kami duduk bersama dengan keluarga korban. Tapi, saya merasa ada sesuatu yang mengganjal setelah perjalanan panjang ini. Ah iya, saya lupa mandi. Lalu perut saya lapar. Saya lantas menyikut perut Puji dan mengajaknya pulang. Semangkuk bakso hangat di perjalanan pulang ternyata membuat saya kembali berstamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yan, name kawan saye tuh Imam,” kata Puji ketika kami hendak berpisah di halaman rumah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saye belom ngasi tahu Yanti name kawan saye tadi ‘kan? Nah, namenye Imam,” katanya menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, iye ye,” kata saya lagi. Saya lupa menanyakannya, karena saya juga tak berpikir menanyakannya. Teman-teman saya yang mendonorkan darahpun tak juga menanyakan kepada siapa mereka memberikan darahnya. Toh, darah itu milik Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian di rumah sakit yang sama, giliran saya yang berurusan dengan darah. Ibu saya yang mengidap penyakit cirocis hati harus melakukan tranfusi darah, karena tekanan dan HB darahnya yang menurun drastis jauh di bawah normal. Ibu butuh 3 kantong darah. Saya tak ingat berapa cc. Dokter sudah menghubungi PMI, tapi persediaan di sana habis. Saya dan saudara-saudara saya bersedia untuk donor. Ternyata, kakak dan abang saya tak bisa donor, karena mereka mengidap penyakit typus. Saya gugur di pemeriksaan tekanan darah, karena memang berhari-hari nyaris tak tidur. Maka, kami  segera menghubungi semua orang yang kami kenal untuk donor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit di PMI, saya merasa nyaris mati, karena belum ada pendonor yang datang. Tiba-tiba beberapa SMS masuk sekaligus ke HP saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yan, saye bawa rombongan. Agk di jln. Tunggu ye,” pesan dari seorang teman itu membuat  hati saya lega. Saya ingin menangis ketika beberapa menit kemudian, para donor kemudian berdatangan. Saya tak tahu berapa banyak. Bahkan ketika tiga kantong darah itu terkumpul, masih ada yang datang ingin mendonorkan darah. Sungguh membuat saya bahagia. Mereka teman-teman, kakak dan adik-adik tingkat saya di kampus dan luar kampus. Sebelumnya, saya tak terlalu dekat dengan beberapa di antara mereka. Kami sekedar bertegur sapa dan berbagi senyum ketika bertemu, bahkan beberapa orang saya tak tahu namanya. Tapi menjadi kebahagiaan yang luar biasa, karena hari itu saya menyaksikan mereka mau berbagi hidup dengan ibu saya, wanita yang tak pernah mereka temui. Tiga kantong darah berhasil dikumpulkan. Saya kembali ke rumah sakit. Besoknya, kami mengambil 2 kantong untuk keperluan medis ibu. Satu kantong masih di PMI. Kondisi ibu semakin melemah. Dokter belum bisa memberi aba-aba untuk melakukan tranfusi ke tiga karena kondisi yang tak memungkinkan. Sampai akhirnya, ibu saya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya teringat satu kantong darah yang tersisa di PMI. Ternyata abang saya sudah mengurusnya. Ketika kondisi ibu kami semakin lemah, dia telah menghubungi PMI agar memberikan sekantong darah itu pada siapapun yang membutuhkan. Kami tak tahu pada siapa darah itu diberikan. Kami juga tak perlu tahu. Saya teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika teman saya yang mendonorkan darahnya tak bertanya pada siapa dia memberikan darah dan itu seringkali terjadi. Kita memang tak harus selalu tahu pada siapa kita memberikan darah. Toh, darah adalah milik Tuhan. Kita hanya harus tahu bahwa dalam darah kita yang sedang mengalir ini, ada hidup orang lain yang dititipkan di sana. Sampai saatnya tiba, darah itu memang harus dikembalikan untuk menebus hidup, siapapun orangnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4620647447634159518?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4620647447634159518/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4620647447634159518' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4620647447634159518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4620647447634159518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/09/darah-kita-dan-hidup-mereka.html' title='Darah Kita dan Hidup Mereka'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-EktL3tAHNQI/TnhSCKecK3I/AAAAAAAAAJo/e8Oy8RPO_jI/s72-c/blood1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-3252291179574478687</id><published>2011-01-18T13:11:00.001+07:00</published><updated>2011-01-18T13:16:29.515+07:00</updated><title type='text'>Engkau dan Kenanganmu</title><content type='html'>Buliran ini tak cukup untuk mengatakaan betapa aku merindukanmu&lt;br /&gt;Karena itu aku tak akan menangis saat mengingatmu&lt;br /&gt;Air mata itu hanya menjadi bukti kelemahanku atas dirimu&lt;br /&gt;Yang selalu kau takutkan berlaku padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang slalu kau ucapkan setiap pagi mengintip lewat jendela kamarku&lt;br /&gt;Bahwa matahari telah menungguku di luar pintu&lt;br /&gt;Bernafas dan bertanya dengan muka geram  pada langkahku yang lamban&lt;br /&gt;“Apa yang dapat kau lakukan hari ini, hai Nona Pemalas?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu hangat kamar dan aroma lelap yang mengundang lena&lt;br /&gt;Masih menggelayuti geliat tubuh yang enggan beranjak&lt;br /&gt;Derap langkah penjunjung kerjamu memberontak pada lantai-lantai yang bahkan belum hangat&lt;br /&gt;Menyingkap tabir jendela yang membentengi cahaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang selalu kau katakan pada cahaya pagi yang menerobos&lt;br /&gt;“Renggutlah lenanya dan kembalikan dia pada nyata, lalu sadarkan dia akan terjangan waktu yang tak sudi menunggu”&lt;br /&gt;Senyummu mengembang ketika titik cahaya membelalakkan retinaku dan aku mulai membuka pintu untuk menjejakkan kaki di lantai-lantai yang beeku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, pagiku telah tercipta&lt;br /&gt;Tapi, bukan waktu yang mereka teriakkan karena matahari telah nampak&lt;br /&gt;Pagi adalah waktu yang aku definisikan&lt;br /&gt;Yaitu saat kau berhasil menceraikanku dari hangat tilam dan terdengar derit langkahku yang tergesa-gesa, karena setiap sudut dunia kecilku dipenuhi bulir cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pagiku telah berlalu bersama tabur bunga di makammu&lt;br /&gt;Tapi air mata tak dapat membentuk pagi yang sama&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the first night without you&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-3252291179574478687?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/3252291179574478687/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=3252291179574478687' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3252291179574478687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3252291179574478687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2011/01/engkau-dan-kenanganmu.html' title='Engkau dan Kenanganmu'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8885994037540054450</id><published>2010-11-20T11:56:00.003+07:00</published><updated>2010-11-20T12:38:02.795+07:00</updated><title type='text'>Rumah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/TOdefKX3diI/AAAAAAAAAJU/MapKr_PZPLk/s1600/baby.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/TOdefKX3diI/AAAAAAAAAJU/MapKr_PZPLk/s320/baby.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541501755956098594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku rindu rumahku&lt;br /&gt;Sebuah tempat kecil di atas bukit kasih&lt;br /&gt;Tempat kami duduk bersila untuk makan malam dengan lauk sederhana&lt;br /&gt;Tertawa dan bercanda di atas tikar pandan yang mulai rekah termakan usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahku&lt;br /&gt;Dipan-dipan kayu tempat kami bercerita tentang kepenatan hari&lt;br /&gt;Duduk di bawah bulan sambil menggunting daun kamboja yang kering&lt;br /&gt;Lalu membayangkan masa depan dengan menghitung bintang yang berserakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahku&lt;br /&gt;Sebuah tempat yang kadang tak berpelita dalam gelap&lt;br /&gt;rembesan air dan bocor atap ketika hujan di tengah malam&lt;br /&gt;Terbangun bersama dan ter tawa menadah air dalam wadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu itu rumahku&lt;br /&gt;Ketika semua derita akan berubah menjadi tawa saat melewati halaman&lt;br /&gt;Segala perih terhapus dalam gelak canda di ruang tamu&lt;br /&gt;dan kerinduan akan terbayar dalam kehangatan ruang keluarga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, rumah itu  tiada&lt;br /&gt;Tempat kecil itu  tenggelam bersama jasadnya di pekuburan tanah&lt;br /&gt;Tercerabut bersama desah nafasnya yang patah&lt;br /&gt;Kosong seketika seiring detak nadinya yang tak ada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahku kini tiada&lt;br /&gt;Tinggal aku yang seorang papa&lt;br /&gt;Tanpa rumah&lt;br /&gt;Tanpa pulang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8885994037540054450?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8885994037540054450/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8885994037540054450' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8885994037540054450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8885994037540054450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2010/11/rumah.html' title='Rumah'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/TOdefKX3diI/AAAAAAAAAJU/MapKr_PZPLk/s72-c/baby.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2389672120243458133</id><published>2010-06-25T12:50:00.002+07:00</published><updated>2010-06-25T13:05:31.867+07:00</updated><title type='text'>KKL Selalu dan Selalu Saja....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/TCREWJj77HI/AAAAAAAAAI8/w0q6rqIo9nQ/s1600/makan+malam.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/TCREWJj77HI/AAAAAAAAAI8/w0q6rqIo9nQ/s400/makan+malam.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486585393358564466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Waktu makan malam di lokasi KKL... Ya ampu, kangen ya....&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi, teman-teman berangkat KKL ke kabupaten Sanggau. Cukup jauh dari Kota Pontianak, karena bisa membuat badan pegal-pegal karena perjalanan. Aku datang ke kampus agak siang, hingga tak bisa melihat bis-bis yang mereka tumpangi berangkat dari kampus. Tapi aku bisa merasakan betapa hebohnya mereka tadi pagi, seperti betapa hebohnya aku dan teman-teman waktu berangkat KKL dulu. Uh, saat-saat luar biasa yang tak akan terlupakan seumur  hidup. Pengalaman yang takkan terulang lagi  dan waktu yang dapat dikenang saat tua nanti, lalu diceritakan pada anak cucu (baca: Jika Tuhan memberi kesempatan hidup lebih lama). KKL memang selalu menjadi peristiwa yang luar biasa, jauh lebih asyik dari ospek,malah lebih hebat dari ujian skripsi. Berbagai cerita menghiasi setiap peristiwa KKL mulai dari awal perjalanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pembagian kelompok, setiap orang akan melihat dengan antusias siapa yang akan menjadi teman sekelompoknya selama 2 bulan. Ada yang tersenyum ceria, ada pula yang mencibir, dan ada yang datar-datar saja usai melihat nama-nama yang ditempel di papan pengumuman.Pembagian kerja, barang-barang yang dibawa dan belanja keperluan makanan selalu mengundang cibir dan tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat keberangkatan juga tak kalah heboh. Mahasiswa ‘double’ dalam artian apapun akan merasakan khidmatnya waktu ini. Pasangan mereka melepaskan dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Tak jarang ada kekhawatiran. Sebab, KKL selalu saja dikaitkan dengan cinta lokasi. Untuk hal yang satu ini bukan sekedar isapan jempol. Banyak buktinya, meskipun kebanyakan tak berlanjut dan memang hanya berlangsung di lokasi KKL saja. Namanya juga CinLok. (hahaha, sepertinya aku mengingat sesuatu...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja meng-SMS-i seorang teman yang ditinggal KKL ‘seseorangnya’. Kupikir asyik juga mengolok-oloknya saat ini.&lt;br /&gt;“Dah kangen lom? Hehehe...” Delivered to : 08xxxx&lt;br /&gt;“Iya.. dr tdi pas bis nye brgkt. He..” sender 08xxxx&lt;br /&gt;“ Hahahaha. Tenang jak. Dh diancam tak boleh selingkuh. Eh balek ne kapn?” Delivered 08xxxx&lt;br /&gt;“wkwkwkwk.. Ampe diancam? Mgkin awal agustus. Tak tw jg” sender 08xxxx&lt;br /&gt;“ Iyelah... Oh, pasti kangen bgt tuh, mane disana tak de sinyal gek tuh... Sian ne...” delivered 08xxxx&lt;br /&gt;“Ih die nih ngeracau... Iyelah, kalo berani macam-macam digunduli...” sender 08xxxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sepotong percakapanku dengan teman yang sedang ‘ditinggal’. Ah, bukan cuma dia, masih ada yang lain yang juga merasakan hal yang sama. KKL sekali lagi membuat para pasangan menjadi was-was. Memang beralasan kalau mereka was-was. Beberapa kakak tingkat kami membuktikan bahwa cinta KKL bukan cuma sekedar cinlok. Mereka melabuhkan cinta itu di pelaminan. Ada yang cintanya nyangkut dengan warga di lokasi, ada pula dengan teman sekelompok, malah ada yang dengan anggota kelompok lain. Ada yang jatuh cinta tanpa beban, karena masih single, namun tak jarang ‘terpaksa berkhianat’. Tapi toh, cinta itu terlanjur tercipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi ingat beberapa kata yang kurangkai untuk cerpenku yang belum selesai. “Cinta itu berhubungan dengan perasaan dan ‘hati’. Tak ada yang bisa menolaknya, juga tak diminta. Dia datang begitu saja tanpa mau tahu dimana, siapa atau mengapa. Intinya,cinta itu tak dapat ditolak. Tapi, apakah cinta itu kemudian membuat kita bersama dengan orang yang kita cintai, itu adalah pilihan. Ada banyak sekali pilihan. Ada yang mencintai, tapi memilih untuk diam dan ada pula yang mencintai lalu memilih mengatakannya. Ada yang saling mencintai dan memilih untuk hidup bersama. Tapi ada pula yang saling mencintai, tapi memilih tidak bersama, lalu membiarkan orang lain mengisi hidupnya meskipun bukan untuk mencintai lagi. Ada juga yang saling mencintai, namun memilih untuk tidak bersama dan menutup hatinya untuk siapapun. Toh, semuanya adalah pilihan, dan masih banyak lagi pilihan yang lain”. Kenyataannya, memang masih banyak pilihan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba di lokasi, akan ada cerita hebat lainnya yang masih menunggu. Menunggu untuk dilewati. Teman baru, keluarga baru dan kisah baru. Ada cemburu, ada sinis, tapi ada tawa dan senyum yang nantinya akan sulit dilupakan. Aku masih ingat kisah-kisah KKL ku yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Seorang teman sangat cemburu padaku. Konon kata temanku yang lain, dia selalu membongkar isi pesan di Hpku, membolak-balik halaman buku catatanku yang dengan ceroboh kutinggal begitu saja di kamar kami (baca: aku tak pernah berpikir ada orang yang tertarik untuk membaca isi pesan dan tulisan di catatanku)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di catatanku, dia tak menemukan apapun, tapi di inbox HP ku dia menemukan banyak pesan yang menjadi bensin untuk bara kecemburuannya (aku paling malas menghapus pesan di HP, biasany sampai pesan lain tak bisa masuk). Aku sempat naik darah, tapi tak meledak. Kejadian yang sama sempat terulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang tak pernah kulupakan. Di KKL itu, aku menambah teman yang kemudian menjadi sahabat. Sahabat yang luar biasa. Banyak kesamaan, tapi tak sedikit perbedaan dan kami bisa menyatukan semuanya menjadi hal yang hebat. Sangat hebat. Bahkan sampai sekarang pun, saat waktu-waktu itu telah lama berlalu, kami tetap menjadi sahabat yang unik dan luar biasa (untuk kami). Aku juga menambah teman yang selalu membelaku, di depan atau di belakangku. Juga mengingatkanku. Senangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinlok? Pasti. Meski aku dan teman-teman tak pernah menganggapnya sebagai cinta. “Kebersamaan yang lebih dekat” itu adalah pelengkap. Seperti gorengan saat jedah mata kuliah. Seperti ‘sedikit mengerjai dosen’ waktu di kelas. Hanya sebagai pelengkap agar semuanya tak terasa hambar, supaya kenangan itu menjadi semakin layak untuk dikenang. Kami semua dengan sadar bisa membedakan mana yang harus kami lanjutkan dan mana yang harus berakhir pada saatnya dan memang harus berakhir begitu kami kembali pada kehidupan masing-masing nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haru dan tangis menjadi penutup saat KKL berakhir. Warga desa yang baik, ramah dan sederhana manjadi salah satu pemicunya. Aku ingat saat aku dan teman-teman diantar dengan tangis dan doa oleh warga. Anak-anak TPA semuanya menginap di posko kami. Ibu, remaja dan bapaknya pagi-pagi sekali telah berkumpul di tempat kami. Mereka membawakan makanan, buah atau souvenir untuk kami, bahkan ada yang memberi uang, meski tak banyak. Kata mereka, kami harus membawa sesuatu dari tempat itu untuk dibawa pulang ke rumah. Mungkin sebagai salam mereka untuk orang-orang yang menunggu kami di rumah. Tapi semuanya tak berakhir begitu saja. Hingga saat ini pun kami semua masih saling mengingat. Warga di sana juga kerap berkirim kabar dengan kami di sini. Ikatan itu tak putus begitu saja, meskipun kata temanku ada hal yang harus diakhiri hanya sampai saat perpisahan (hahaha, setuju !!!!!). Yah, KKL sekali lagi membuat kisah dan setiap tahunnya akan selalu mengukir kisah baru dengan keistimewaannya sendiri-sendiri....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2389672120243458133?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2389672120243458133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2389672120243458133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2389672120243458133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2389672120243458133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2010/06/kkl-selalu-dan-selalu-saja.html' title='KKL Selalu dan Selalu Saja....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/TCREWJj77HI/AAAAAAAAAI8/w0q6rqIo9nQ/s72-c/makan+malam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5887970848470781316</id><published>2010-01-30T11:09:00.001+07:00</published><updated>2010-01-30T11:16:32.763+07:00</updated><title type='text'>Catatan Seorang Mahasiswa Tua</title><content type='html'>Sebuah keputusan sulit akhirnya dibuat. Aku ingin hengkang dari organ yang selama ini menemani hari-hariku, yang tak hanya sekedar tempat bernaung di kampus, tapi juga rumah yang memberiku banyak saudara. Rumah itu pula yang menjadi wadahku. Ah, sakit sekali rasanya. Aku seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku terlalu mencintainya dan menempatkannya di tempat yang sangat istimewa di hatiku. Aku sangat mencintainya. Sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu sebuah proses kehidupan, sebab aku tetap harus hengkang. Aku sadar benar bahwa setiap orang orang memiliki masanya sendiri. Kini masaku sudah berakhir dan harus digantikan oleh adik-adikku. Aku teringat perkataan seorang teman yang menyatakan bahwa kami memang sudah harus pergi dari kehidupan organ di kampus, secinta apapun kami pada organ itu. Keberadaan kami hanya akan memperlambat proses pendewasaan adik-adik kami. Mereka butuh sendiri untuk belajar bertanggungjawab atas kewajiban, posisi dan tugas mereka. Mereka harus memikul tanggungjawab itu di bahu mereka, tanpa kami.&lt;br /&gt;Kini adik-adikku bertambah banyak. Senang rasanya kini rumah itu dihuni oleh banyak orang. Karya ciptanya pun ditunggu dan dibicarakan orang-orang di kampus ini. Bahagia rasanya pernah menjadi bagian dari perubahan citra itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih membahagiakan lagi, pernah melihat pertumbuhan adik-adikku yang dulu imut dan nakal kini berubah menjadi pemimpin dan mahasiswa-mahasiswa yang keberadaannya diperhitungkan karena karya ciptanya, tulisan. Senang rasanya menjadi kakak mereka, meski aku tak berperan apapun dalam pertumbuhan mereka yang begitu sempurna. Masih segar dalam ingatanku ketika mereka melintasi kelasku tanpa menoleh saat kami belum kenal, mereka pun masih berstatus mahasiswa yang baru saja menyelesaikan masa Ospeknya. Saat itu aku tak pernah berpikir bahwa sosok-sosok itulah yang nantinya akan mengisi hari-hariku dan menempati hatiku dengan sangat dalam. Aku juga tak pernah membayangkan bahwa kami akan berkumpul dalam suka dan duka, kemudian seberat ini hatiku berpisah dari moment-moment indah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi waktu harus terus berjalan, dan kita tidak tercipta untuk cengeng menangisi perjalanannya yang tak akan pernah kembali. Tak ada yang perlu ku khawatirkan, sebab adik-adikku jauh lebih baik. Mereka memiliki semangat mudanya, komitmen dan kemampuan yang tak bisa dianggap remeh. Tak ada yang perlu ditakutkan. Ah tidak, bukan khawatir atau takut. Aku tak pernah takut atau khawatir untuk menyerahkan semuanya pada mereka, aku hanya belum siap untuk benar-benar melepaskan semuanya. Mereka dan rumah itu terlalu berarti untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, aku tahu bahwa mereka lebih berarti dari pada egoku untuk terus bersama mereka. Aku harus benar-benar menyerahkan semua urusan rumah itu secara utuh. Kini ku benar-benar pergi. Aku tahu, adik-adikku akan semakin dewasa, semakin kuat dan semakin cerdas tanpaku. &lt;br /&gt;Hampa. Lagi-lagi perasaan ini muncul. Begini ternyata rasanya menjadi mahasiswa tua yang sedang berada diujung waktu keberadaannya di kampus. Oh, ternyata ini rasanya menjadi mahasiswa tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tak ada waktu untuk larut dalam perasaan, jalan masih begitu panjang. Skripsiku menunggu untuk diselesaikan, tugasku di Centre juga bertumpuk. Aku sedang belajar merajut masa depan sebagaimana yang aku cita-citakan. Aku sedang melangkah untuk impianku. Akhirnya harus kukatakan; Terimakasih untuk segala kenangan, cinta, tawa dan kesal yang pernah ada. Aku begitu menyayangi kalian. Hari ini dan selamanya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5887970848470781316?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5887970848470781316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5887970848470781316' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5887970848470781316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5887970848470781316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2010/01/catatan-seorang-mahasiswa-tua.html' title='Catatan Seorang Mahasiswa Tua'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1715474423663575706</id><published>2010-01-30T10:55:00.000+07:00</published><updated>2010-01-30T11:00:38.066+07:00</updated><title type='text'>Saat Menungguimu, Sobat....</title><content type='html'>Malam semakin larut, 00.56 Selasa 19 Januari 2010 dini hari WIB. Malam ini tak seperti malam-malam lainnya, sebab malam ini aku dan teman-teman sedang menemani Ari yang tertidur sehabis dioperasi tadi siang. Hanya sesekali dia terbangun dan tersenyum menatapku. Malam ini mengingatkanku pada malam-malam yang pernah kuhabiskan di rumah sakit tahun-tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinginnya dinding-dinding rumah sakit dan lantainya yang beku pernah menemani malam-malam ku, nyaris seperti malam ini. Ada rasa pedih yang rasanya melukis tiap inchi dinding-dinding itu. Trauma masa lalu tentang rumah sakit lagi-lagi terasa tergambar di kelopak mataku. Kini, lagi, sahabat kecil yang kusayang harus terbaring lemah di bangsal tua rumah sakit. Sementara kecemasan yang sombong tetap menyelimutinya dengan angkuh. Lagi-lagi seorang yang kusayang harus terpenjara di lengkung lengan besi si bangsal tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ari demam. Sesekali bibirnya bergetar. Aku dan Icha memandangnya nanar. Kak Vita tersenyum menatap kami. Ari tak banyak membuka matanya. Hanya sesekali. Bibirnya agak memucat. Konon itu disebabkan pendarahan akibat operasi tadi. Ada sekantong kecil darah yang menyertai tabung infus besar yang akan segera menjadi tamu dalam tubuhnya. Ah, adik kecilku. Dia kembali tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone ku bergetar. Nama seorang sahabat muncul di layar LCD. Tak ada basa-basi, khas gayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasi aku alasan ngape tak maok jadi menteri. Alasan konkret yang bise aku terima dengan logika aku. Aku tak maok alasan karena udah ketuean di kampus atau apelah. Aku maok alasan yang benar-benar konkret” ujarnya tepat di pokok permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah tak penting agik sekarang. Kan udah nak pelantikan,” jawabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini bukan soal pelantikan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus buat ape? Emang dah tak penting agik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terserah, buat aku penting”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Malam ini pikirkan, besok sebelum dzuhur aku tunggu jawabannye. Sekarang aku capek, baru balek darijeruju,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dia menutup teleponnya. Beberapa SMS kemudian kukirim dan kuterima yang membahas soal masalah di telepon. Aku masih menjawab sama. Tak penting untuk dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 01.19 dini hari. Kak Vita ke kamar mandi. Icha tertidur pulas di sisi kananku, sementara Hakim juga bergelut di alam mimpinya tepat di sebelah kiriku. Yos dan Budin sudah sejak tadi berhenti bercanda dan memilih beristirahat. Heri tetap sibuk dengan kerjaannya sambil sesekali mengunyah kacang atom garuda. Aku bergulat dengan laptop kesayangan Ari yang sejak semalam sudah ku sita, tentunya dengan tema kerjaan dua mingguanku, lay out dan sedikit editing. Aku mengerjap sejenak mengusir kantuk yang mulai datang. Aku sedang tak ingin melakukan apapun selain menulis. Lay out menjadi pekerjaan yang membosankan malam ini, tak seperti malam-malam lain yang selalu sukses meraih seluruh perhatianku. Editing juga sangat tak mengasikkan, padahal tulisan di depanku begitu asik untuk dibaca. Tapi aku sedang tak ingin. Itu masalah terbesarnya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik bangsal rumah sakit yang tepat berada di depanku. Tampaknya Ari terbangun. Aku melihat bibirnya bergetar menggeliat sakit. Ku buang wajahnya dari pandanganku. Miris. Sahabat baik hati yang terlihat sangat kesakitan, bahkan begitu jelas di depanku, rasanya begitu sakit. Aku melanjutkan kalimat demi kalimat yang mungkin dapat kutulis untuk mengusir penat sejenak. Tulisan selalu menjadi penghibur hati, saat segalanya sudah tak lagi menenangkan. Saat semuanya terasa begitu terlalu membosankan dan saat segalanya menjelma dalam sosok-sosok hitam kegelapan yang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa bagian persendianku masih terasa pegal, hadiah survei lokasi pengukuhan anggota baru rumah kami, hari Minggu kemarin. Aku sempat mencoba hampir semua tantangan outbond di sana, meskipun peralatan pengamanan belum dipasang. Toh, aku dan teman-teman tak peduli dengan pengaman-pengaman itu. Aku ingin. Itu faktornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik Hakim sebentar. Dia memunggungiku. Tak terlihat seperti apa wajahnya saat tertidur, tapi wajah inilah serta wajah 8 orang teman seangkatannya yang begitu lekat akhir-akhir ini di mataku. Bukan karena mereka lebih baik atau lebih kusayang. Tapi, mereka sangat membanggakanku. Akhir-akhir ini mereka harus bekerja lebih berat, karena beberapa musibah yang mendera kakak dan abang mereka. Banyak hal yang harus mereka lewati akhir-akhir ini. Aku begitu bangga karena mereka justru semakin kuat dan dewasa. Sosok mereka membuatku sadar bahwa mereka memang pantas menjadi yang terpilih. Mereka membuatku begitu optimis bahwa rumah kami akan tetap bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mereka yang dulu kami panggil “bayi-bayi” pers mahasiswa, kini telah tumubuh begitu dewasa dan kuat sebagai garda depan penerbitan dan sinar dalam rumah kami. Tak sia-sia rasanya mereka ditetaskan di atas bukit Rel dan belajar mandi bersama-sama anak kodok di kolam bawah bukit. Juga tak sia-sia rasanya belajar berjalan di antara pekuburan di tengah malam. Mereka dewasa dengan cepat dan menjadi begitu kuat. Sebentar lagi, kami akan kembali menetaskan bayi-bayi pers mahasiswa  yang lain. Sepuluh orang lagi. Meski tempat menetas mereka berbeda, aku berharap bayi-bayi baru ini akan sekuat kakak-kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, malam semakin larut. Heri sudah merapikan pekerjaannya. Mengambil tempat di sisi Budin dan kemudian merebahkan diri. Pukul 0.2.15 WIB, malam lebih larut lagi. Malam ini akan kuakhiri sampai di sini. Cukup sampai di sini, karena esok masih ada kisah-kisah lain yang sudah menanti untuk diselesaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1715474423663575706?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1715474423663575706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1715474423663575706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1715474423663575706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1715474423663575706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2010/01/saat-menungguimu-sobat.html' title='Saat Menungguimu, Sobat....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-516266732933886627</id><published>2009-02-02T06:39:00.003+07:00</published><updated>2009-02-02T07:37:22.195+07:00</updated><title type='text'>Ijinkan Aku Menjadi Tolol</title><content type='html'>"Seperti orang putus asa gitu, jangan pesimis, masih bayak yang bisa kamu berikan pada kami..." kata seorang teman memberikan motivasi ketika ku katakan terlalu banyak pertanyaan 'tolol' yang sedang menghantuiku. "Bukan putus asa, tapi pertanyaan-pertanyaan itu datang begitu saja, dan tak terkendali", kataku menjawab e-mailnye. Dia teman baikku, dia adalah sahabat yang selalu mencoba untuk mengerti jalan pikiranku yang lebih sering lari dari rel yang seharusnya. Pikiran yang terlalu liar, komentar seorang teman lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, ini bukan soal pesimistis atau putus asa, ini adalah soal pertanyaan 'tolol' yang sering mengahantui orang-orang yang sering tak mengikuti arus pemikiran normal. Aku mendapatkan beasiswa belajar Bahasa Inggris selama dua bulan di Amerika Serikat. Aku tahu benar, itu menghabiskan puluhan juta rupiah, mungkin sekitar lebih dari 60 juta jika dirupiahkan. Memang ini beasiswa dari pemerintah AS sendiri, tapi tentu bukan tanpa alasan dia memberikan itu pada mahasiswa-mahasiswa dari negara berkembang, Indonesia misalnya. Negara ini telah lama menjadi pasar untuk produk mereka, telah lama menguntungkan perekonomian mereka, bahkan mungkin menjadi sumber pendapatan negara mereka. Mungkin ini salah satu cara untuk membalas, meski juga tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan dan mereka akibatkan. Untukku, dengan kata lain, uang yang membiayai kepergianku dan mahasiswa Indonesia lainnya ini adalah uang rakyat kami juga, dan rakyat dari negara berkembang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang kemudian muncul, apa yang bisa kuberikan untuk mereka ? Orang-orang yang telah memberikan uang puluhan juta ini kepadaku dengan cuma-cuma. Sekedar belajarkah ? Bukankah mereka tidak butuh orang-orang yang pintar untuk dirinya sendiri ? Lantas apa ? Berbagi dengan banyak orang, mengajari mereka, dan membuat perubahan yang lebih baik ? Dengan apa ? Bangaimana caranya ? Kapan ? Apa aku bisa ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul. Ini bukan masalah idealisme, karena aku bukan seorang idealis. Ini soal pertanggungjawaban moral kepada hutang yang abstrak. Tak ada hitam diatas putih yang dapat memaksa dan mengintervensiku untuk bertanggungjawab atas apa yang kuterima. Ini peruntungan karena aku mahasiswa, dari negara berkembang, dan memiliki nasib baik. Lantas kenapa aku harus pusing menjawabnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beasiswa dan kesempatan ini membuatku senang, tapi sama sekali tak membuatku merasa menang. Ada saat dimana aku merasa benar-benar beruntung, tapi beberapa saat dalam waktu yang amat sekejap, aku merasa begitu kecil dan penuh dengan rasa bersalah. Bahu dan otakku terasa benar-benar menyiksa. Ada beban disana, yang belum kutunaikan. Aku seperti pegawai negeri yang hanya mengisi absen dan kemudian mendapatkan sejumlah uang di awal bulan, tanpa dapat memberi apa-apa untuk rakyat yang membayar pajak agar gajinya dapat dibayar. Aku merasa seperti pejabat yang senang-senang berjalan dengan mobil dinas, dikawal ketat oleh pengawal yang justru menjauhkan dia dengan masyarakat yang memberinya jabatan dan segalanya. Orang-orang yang membunuh nuraninya untuk alasan kedamaian dan ketenangan hati. Agar tak terlalu risih dan tersiksa dengan pertanyaan pertanggungjawaban moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pertanyaan itu datang dan aku memikirkannya, aku terlihat seperti orang tolol yang tersesat dalam arus zaman. Tapi ketika aku mencoba untuk melupakan dan mengabaikannya, aku merasa seperti orang pintar yang membunuh nuraninya. Maka, teman-teman dan Tuhan, ijinkan aku menjadi tolol, dan kemudian mati dalam kegilaan atas pertanyaan-pertanyaan 'tolol', sebelum aku memutuskan untuk membunuh nuraniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corvallis...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-516266732933886627?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/516266732933886627/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=516266732933886627' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/516266732933886627'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/516266732933886627'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2009/02/ijinkan-aku-menjadi-tolol.html' title='Ijinkan Aku Menjadi Tolol'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-739206299398827294</id><published>2009-01-28T02:05:00.002+07:00</published><updated>2009-01-28T02:58:26.088+07:00</updated><title type='text'>Saat Ku Jauh...</title><content type='html'>'Jauh' menjadi kata yang sangat bermakna saat ini. Saat jarak dan waktu membentang di depan mata dan menjadi begitu luas. Di tempat yang asing dengan teman-teman, budaya, bahasa dan cara hidup yang sangat berbeda. Sungguh luar biasa, memberikan pelajaran baru yang belum kudapatkan. Disini aku belajar untuk memahami banyak kata yang selama ini tak begitu bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, apa kabar orang-orang yang disana, di tanah tempatku dilahirkan ? Apa kabar orang-orang yang selalu menemani hari-hariku selama ini dan menjadi orang-orang yang menunggu kedatanganku. Aku mulai mengingat mereka, mulai ingin menemui mereka dan ingin mendengar tawa, canda, cerita dan kadang omelan mereka. Tuhan, apa aku mulai merindukan mereka ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah ketidaksamaan ini, ada hal-hal yang membuatku bersemangat. Ada sesuatu yang mulai membuatku merasa nyaman. Membuatku berpikir bahwa waktu yang tersedia dalam sehari begitu pendek, hingga aku ingin cepat matahari bersinar yang menandai hari baru telah datang. Namun, disisi lain membuatku menoleh kebelakang dan bepikir 'mengapa hari begitu cepat?' Tuhan, apa aku mulai menikmati hidupku disini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perasaan marah dan kesal, ketika orang-orang membicarakan negeriku seakan-akan hanya memandangnya dengan sebelah mata. Ada perasaan bangga yang membuncah dengan luar biasa, ketika rak-rak pakaian di mall terbesar di kota ini hampir semuanya berisi produksi negeriku. Juga ketika konsumen mencari dan menanyakan dimana produk negeriku, karena dia ingin membelinya. Ada semangat yaang keluar begitu saja, ketika ku bercerita tentang kampungku kepada siswa internasional lainnya, meski dengan bahasa inggris yang terbata-bata ? Tuhan, apa aku mulai mencintai negeriku ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai nyaman mempelajari dan mendengarkan pikiranku, mulai asik dengan hatiku untuk berusaha memahami apa yang kuinginkan secara jujur. Aku bergulat antara apa yang harus kulakukan, tak harus kulakukan, ingin kulakukan, tak ingin kulakukan, boleh dan tak boleh kulakukan. Tuhan, apa aku mulai mencari kebenaran dalam diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hadir, justru saat ku jauh. Jauh membuatku dan memberiku waktu untuk memahami dan merenungkan semuanya. Dan semunya terjadi justru saat ku jauh. Saat ku jauh..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-739206299398827294?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/739206299398827294/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=739206299398827294' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/739206299398827294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/739206299398827294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2009/01/saat-ku-jauh.html' title='Saat Ku Jauh...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-441139507477044086</id><published>2009-01-09T03:22:00.004+07:00</published><updated>2009-01-09T03:45:22.871+07:00</updated><title type='text'>Aku di Corvallis.....</title><content type='html'>Aku lagi ada di Corvallis sekarang, sebuah kota di Oregon State, USA. Aku dan 19 orang teman serta seorang chaperone dari Indoensia sampai di bandara Portland, ibu kota Oregon State pada 4 januari sekitar pukul 22.20 waktu setempat ( di Indonesia udah tgl 5 januari sekitar pukul 13.00 WIB). Di sana sudah ada Alexis Siegel dan Shandy Riverman yang menjemput kami. Kami masih harus naik bus selama 2 jam untuk menuju Corvallis, kota dimana Oregon State University berdiri megah.  Ketika keluar dari bandara, semua orang dari rombongan kami langsung terkejut. Udara di Portland luar biasa. Jika anda pernah memasukkan kepala anda di freezer dalam kulkas selama berjam-jam, maka seperti itulah suhu di Portland saat itu. Dalam sekejap, karena hanya menyeberang jalan saja, tanganku yang menggunakan sarung tangan tipis segera mati rasa, sampai-sampai aku tak bisa menekan pegangan travel bag-ku. So funtastic.&lt;br /&gt;Di dalam bus, lumayan hangat. Suasana ramai di dalam bus, termasuk bercerita selama lebih dari 20 jam penerbangan hanya bertahan sekita 45 menit. Setelah itu suasana sepi, sebagian besar teman-teman tertidur. Aku sempat mengirim beberapa sms, ke teman, dan keluarga di rumah. Ah, betapa di tempat yang jauh, mereka terasa sangat dekat dan begitu berharga.......&lt;br /&gt;Salju lebih menarik perhatianku dari pada tidur. Di sepanjang jalan-jalan di Portland, salju memamerkan keanggunannya dengan menutupi puncak-puncak tanaman nias, pohon dan atap-atap rumah, bahkan mobil yang sedang melajupun harus membawa salju di bagian atasnya. Putih dan luar biasa.&lt;br /&gt;Sekitar pukul 00.30 waktu corvallis, kami tiba di asrama mahasiswa. Kami tinggal di Cauthorn Hall lantai 5. Jadi kami harus bolak-balik dengan menggunakan lift. Beberapa fasilitas tersedia di sini. Ada komputer dengan akses internet gratis di lantai bawah, meski cuma dua komputer dan menggunakannya harus antri. Sedangkan yang punya laptop dapat menggunakan koneksi di kamar dan temapt lainnya, juga gratis. Asik ya..... Beberapa hari kemudian kami juga menerima fasilitas telpon di setiap kamar, meskipun cuma bisa digunakan untuk menelpon di daerah lokal. tapi lumayan....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-441139507477044086?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/441139507477044086/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=441139507477044086' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/441139507477044086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/441139507477044086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2009/01/aku-di-corvallis.html' title='Aku di Corvallis.....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-692743850899987674</id><published>2008-09-03T13:52:00.002+07:00</published><updated>2008-09-03T13:59:15.047+07:00</updated><title type='text'>Ayo Menulis !</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/SL41UQTFCSI/AAAAAAAAAGE/2QgekLgTotY/s1600-h/live-to-write.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/SL41UQTFCSI/AAAAAAAAAGE/2QgekLgTotY/s320/live-to-write.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241685638394480930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan harus mengerjakan sebuah tulisan bukanlah hal yang menyenangkan untuk sebagian orang. Apalagi yang tidak terbiasa dengan aktivitas menulis, tentunya menjadi sebuah mimpi buruk yang menghantui. Dalam bayangan mereka, menulis merupakan rangkaian proses yang besar dan sangat panjang, mulai dari memikirkan ide, mengumpulkan fakta-fakta sampai menuangkannya dalam kalimat-kalimat. Jika demikian, jangankan untuk menulis, memikirkannya saja dapat membuat seperempat dari komposisi otak terasa begitu lelah. Alhasil, tal ada satu kalimatpun yang berhasil di selesaikan, kepala terasa pusing, dada menjadi sesak karena putis asa. Satu-satunya penyelesaian adalah bangun dari duduk, lalu ngeloyor pergi meninggalkan monitor computer yang pasrah membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tahukah anda, sebenarnya menulis tidaklah serumit yang seringkali dibayangkan oleh banyak orang yang gagal menulis. Menulis itu adalah sebuah proses yang sangat sederhana, bahkan menyenangkan. Pernahkah anda membayangkan ada seorang teman yang begitu dengan sabar mendengarkan semua pembicaraan anda tanpa menyela satu kalipun ? atau seseorang yang mau menampung semua pikiran, dan perasaan anda tanpa protes sedikitpun ? Yah, mungkin ada, tapi rasanya sulit untuk menemukan orang-orang seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan khawatir, jika anda tak menemukannya, maka cobalah untuk menulis. Syaratnya, jangan biarkan otak anda dibodohi oleh perasaan malas dan sugesti bahwa menulis itu sulit. Persoalan dalam menulis hanyalah ‘apakah anda mau memulainya ?”. Jika anda menjawab ‘iya’ maka anda sudah membuat sebuah keputusan besar dan telah menyelesaikan masalah paling rumit dalam aktivitas menulis. Nah, selanjutnya hanyalah apa yang ingin ditulis. Bagi pemula jangan dulu membayangkan bahwa anda akan menulis catatan pinggir sebaik Gunawan Muhammad, cerpen seluwes Helvy Tiana Rosa, atau syair seimajinatif Chairil Anwar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, cobalah menulis dari hal-hal yang paling kecil dan dekat dengan kehidupan. Menulislah dengan hati. Tulis apasaja yang sedang anda rasakan, mungkin lebih tepat seperti sebuah buku harian. Jangan pedulikan dulu kaidah-kaidah yang membuat kepala mumet dengan aturan-aturan baku, tapi biarkan ide itu menjalar dengan perlahan dan santai, hingga dengan sendirinya membuat jemari menari indah diatas keyboard. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;em&gt;Aku kehilangan ide yang tadinya menumpuk-numpuk di kepalaku. Sebenarnya aku ingin menulis sebuah artikel yang bagus, tapi entah kenapa semuanya hilang begitu saja. Selain itu aku memang sedang kekurangan bahan untuk menulisnya, sudah beberapa hari ini, tak ada sebuah bukupun yang berhasiul kuselesaikan. Sebuah prestasi, ya, prestasi di puncak kemalasan seorang mahasiswi yang hamper benar-benar tersungkur dalam kemalasannya. Ironisnya, mahasiswi itu adalah aku.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan malu, menulis saja seperti itu. Tulisan yang demikian tidak menuntut penulisnya untuk berpikir keras, hanya sekedar menuliskan apa yang dirasakannya menjadi rangkaian kalimat, tepatnya seperti bicara atau bergumam. Tak perlu merasa rendah diri karena baru mampu menulis seperti buku harian. Malah tulisan-tulisan tersebut sangat penting untuk membiasakan diri menungakn ide dalam bentuk tulisan. Tulis saja apapun yang dilihat, didengar atau cita-cita yang diimpikan. Dengan begitu, anda telah membiasakan diri untuk akrab dengan bahasa tulis, sedikit-demi sedikit kepekaan anda dalam merangkai kalimat akan terbentuk dan terasah.&lt;br /&gt;Jika anda mau berpikir sedikit lebih rumit, maka berpetualanglah. Kaitkan apa yang dirasakan dengan kondisi lingkungan masyarakat, keadaan politik atau ekonomi. Bebaskan saja otak untuk melakukan tugasnya. Jangan bebani dengan obsesi-obsesi lain. Apa yang dilihat atau didengar, tuangkan saja untuk melanjutkan tulisan yang telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Malas. Kata itu cukup sederhana, hanya berjumlah lima huruf, namun kata itu sangat mematikan, dan dapat melumpuhkan sebuah bangsa.  Bayangkan saja, jika semua pemuda negeri ini mengatakan bahwa mereka malas menuntut ilmu, malas belajar dan berkerja membangun bangsa, apa yang akan terjadi ? Kehancuranlah yang akan menanti diujung perjalan bangsa ini. Padahal, pada hakikatnya pemuda adalah ujung tombak kemajuan masyarakat sekaligus sebagai pemegang panji-panji kepemimpinan Negara. Sejauh ini, racun malas telah membuktikan kebisaannya pada Indonesia. Banyak berita di TV dan Koran yang mengisahkan bagaimana oknum wakil-wakil rakyat merasa malas untuk memikirkan nasib bangsanya, sehingga mereka lebih memilih korupsi dari pada harus ikut-ikutan menderita bersama rakyat negeri ini. Lalu, para seniman yang malas melewati perjuangan panjang untuk sukses, sehingga mereka mengambil jalan pintas dengan tampil habis-habisan seksi agar mendapat banyak penggemar, meskipun kualitas seninya masih diragukan. Semuanya berawal dari malas.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tulisan itu tak sekedar sebuah ungkapan bahwa si penulis sedang malas, tetapi ada unsure lain yang mengikutinya. Penulis menjelaskan bahwa rasa malas menjadi sebuah awal dari kehancuran. Dia menjabarkannya dan mengakaitkannya dengan kondisi lingkungan masyarakat. Ada kepedulian dan pesan-pesan moral yang ingin disampaikan lewat tulisan itu. Sehingga tulisan yang awalnya sangat sederhana semakin berkembang menjadi bentuk lain yang lebih dari sekedar catatan harian.&lt;br /&gt;Membuat tulisan sama seperti menyusun puzzle. Semakin anda mendapatkan kepingan-kepingannya, akqn semakin dibuatnya penasaran. Begitu pula dengan menulis. Semakin anda masuk ke dalamnya, maka akan banyak hal yang ditemui, tapi justru membuat anda merasa kurang. Anda tidak dapat berhenti sampai di situ saja, anda akan semakin tertentang untuk membuat bentuk-benatuk tulisan yang lain. Semua itu membuat penulis menggunakan seluruh inderanya dengan maksimal, bukan untuk mendapat ide, tapi untuk mengembangkan ide tersebut. Sebab, pada dasarnya setiap orang memiliki gagasan, hanya saja tak semua orang berhasil untuk mengembangkan gagasan tersebut dan menuangkannya dalam bahasa tulis. Bukan berarti mereka tak mampu, hanya saja apa mereka telah memulainya ? bagi orang-orang yang mau memulai, kini saatnya untuk bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengembangkan dan memperkaya gagasan memerlukan wawasan. Oleh sebab itu, seorang penulis harus rajin memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Selain itu, membaca buku adalah aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dengan menulis. Jangan memaksakan diri untuk menelan berbagai jenis buku sekaligus, tapi nikmati saja proses itu secara alami, meski jangan juga terlena dengan perasaan malas. Kebiasaan menulis dengan sendirinya akan membuat anda gemar membaca, karena anda selalu ingin mengetahui perkembangan dunia tulis menulis. Anda memerlukan pembanding, karena itu anda perlu untuk membaca tulisan orang lain, dengan begitu anda bisa mengevalusi tulisan dan mengembangkannya menjadi bentuk yang lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya atau tidak, aktivitas menulis juga membuat anda semakin peka dengan orang lain. Menulis membuat aktivisnya gemar memperhatikan dengan mengoptimalkan fungsi inderanya. Hingga tak heran jika banyak penulis yang lebih peka dengan masalah-masalah masyarakat dibandingkan dengan kelompok lain yang justru lebih berwenang. Menulis juga dapat menjadi sebuah ajang untuk memperjuangkan sebuah gagasan. Dampak yang ditimbulkan oleh sebuah tulisan, dapat negitu mencengangkan dan tidak terbayangkan. Jika sebuah tulisan telah tercipta, apalagi sampai dipublukasikan, maka dia telah menjadi milik semua orang. Tulisan dapat berbicara dengan bahasanya sendiri, mempengaruhi atau mengajak orang lain berpikir. Oleh sebab itu, menulislah, karena tulisan kita akan membuat kejutan-kejutan yang tak pernah kita bayangkan. Maka, teruslah menulis (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-692743850899987674?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/692743850899987674/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=692743850899987674' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/692743850899987674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/692743850899987674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/09/ayo-menulis.html' title='Ayo Menulis !'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/SL41UQTFCSI/AAAAAAAAAGE/2QgekLgTotY/s72-c/live-to-write.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4017948767167557092</id><published>2008-07-07T21:21:00.002+07:00</published><updated>2008-07-07T21:27:10.595+07:00</updated><title type='text'>Aku, Nisa, Cinta dan Es Krim Coklat</title><content type='html'>Tadi siang aku dan Nisa jalan-jalan ke Sungai Jawi. Kami ingin membeli ikan peliharaan untuk teman Socra dan Filsa, dua ekor ikan yang telah lebih dulu kubeli, di akuarium mungilku yang kuberi nama ‘dunia ide’. Kami berhasil menemukan 4 ekor ikan yang kelihatan anggun dan manis, setelah cukup lama menimbang-nimbang kemungkinan-kemungkinan untuk membeli ikan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ekor lebih kecil, satu berwarna putih mengkilap sedangkan yang satunya lagi berwarna putih dengan totol-totol hitam. Dua ekor lainnya berukuran lebih besar dengan bentuk ekor lebar dan panjang. Dia kelihatan berenang dengan anggun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai beli ikan, kami mencari es krim. Kami menemukan kedai es krim di JL. Putri Candramidi, namanya Es Krim Eskimo. Ada beberapa rasa, coklat, strawberry, cempedak, durian dan Vanilla. Tapi untukku dan Nisa tak ada pilihan lain, jika ada coklat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kami memesan dua porsi es krim kepada pemuda yang menunggui kedai itu.&lt;br /&gt;Sambil menunggu pesanan, kami mencari nama untuk 4 ekor ikan cantik di kantong yang kupegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Yanti jak yang kasi name “ &lt;/em&gt;kata Nisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Yang beask tuh namenye Rene same Karen, yang kecik Nisalah yang kasik name”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“ Udah, Yanti jak yang kasik name “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyelah, namenye Plato same Sophie”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Boleh “ &lt;/em&gt;jawab Nisa singkat. Wow....sekarang di dunia ide ku ada Socra, Filsa, Plato, Sophie, Rene dan Karen. Pasti menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama pesanan kami datang. Es krim coklat yang disajikan anggun di gelas yang memang khusus untuk es krim, transparan berbentu seperti gelas seloki. Kami makan sambil bercanda. Tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan 1 porsi es krim itu, karena kami memang penggila es krim, meskipun sempat pindah posisi duduk karena kepanasan terkena sinat\r matahari. Khatulistiwa.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Tau dak Syah, hal yang paling enak di dunie tuh, es krim coklat”&lt;/em&gt; kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; Setuju......eh, bile kite makan ayam di Mall ?”&lt;/em&gt;‘&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;" Nantiklah, liat kondisi keungan lok, agik pailit neh “&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ tenang kalo soal duet...”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ agik kaye nih ceritenye ?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Hehehe Nisa gitu loh......”&lt;/em&gt; katanya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Selase gimane ?” &lt;/em&gt;lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Boleh, hari senen yanti bise merampok lok”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Siape yang mok dirampok tuh ?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Ade banyak...hehehehehe....”&lt;/em&gt; kami tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Makan es krim juga di Mall”&lt;/em&gt; Nisa berkomentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Boleh, yang ade saus jagungnye, enak......”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Ok deh “ lagi-lagi kami tertawa.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menghabiskan es krim kami, nisa segera beranjak membayar pesanan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Mok dibungkus dak ?”&lt;/em&gt; katanya menawarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ dak maok” &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ serius neh ?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;“ serius “&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ OK”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami lalu menuju tempat Nisa memarkir motornya. Menyapa abang penjaga kedai lalu tersenyum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Sini lagi lah “ &lt;/em&gt;katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ OK deh, tenang jak bang”&lt;/em&gt; jawab Nisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Dah.......”&lt;/em&gt; kataku melambaikan tangan. Pemuda itu tersenyum dan membalas lambaianku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; Eh, syah, kalo dibuat cerpen kayaknye asyiklah “ &lt;/em&gt;kataku tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ ape die ?”&lt;/em&gt; tanya Nisa agak kaget&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ es krim coklat “&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Ha...” &lt;/em&gt;dia menatapku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; Ginik nih kalimat pertamenye ‘ Hidup itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Oh ya...?’&lt;/em&gt; Nisa menanggapi sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;em&gt;Eh, salah yang agak heboh sikitlah ye. Ginik jak lah ‘ Cinta itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya. Seperti itulah Cinta, tak selalu indah, dan ada sakit hatinya. Namun setiap rasa yang dihadirkannya justru membuat orang semakin dalam menghayatinya’ Gimane ? asyik kali ye.....”&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Setelah itu kami meluncur pulang dan menyiapkan berbagai rencana untuk esok hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dan es krim coklat ? Mirip kali.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;07 Juli 2008&lt;br /&gt;Pukul 00:03 WIB&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4017948767167557092?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4017948767167557092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4017948767167557092' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4017948767167557092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4017948767167557092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/07/aku-nisa-cinta-dan-es-krim-coklat.html' title='Aku, Nisa, Cinta dan Es Krim Coklat'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1222968436948611954</id><published>2008-07-07T21:12:00.003+07:00</published><updated>2008-07-07T21:20:08.506+07:00</updated><title type='text'>Agama Lokal dan Apa Saja</title><content type='html'>Sekarang jam di komputerku menunjukkan pukul 1.45 WIB, dini hari. Mataku lagi-lagi tak mau menyerah pada waktu. Ingin tidur rasanya, tapi apa boleh buat. Tak ada yang harus dipaksakan, dan tak boleh ada yang merasa dipaksa, biar saja semua mengalir apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah pergantian hari, aku mendapat pesan pendek dari seorang teman di sebrang lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; Dh tdr?”&lt;/em&gt; Sender +62857xxxxxxxx 00:23:3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Blm. Kamu blm tdr jg?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“Sama. Lg ngpain?”&lt;/em&gt; Sender +62857xxxxxxxx 00:29:01&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Gak lg ngapa2in. Kmu?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“ Hbs wawncra d hotel grand candi smg. Tau g, aq wwncra sama siapa?” &lt;/em&gt;Sender +62857xxxxxxxx 00:35:14&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Siapa dan ttg apa”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“ Engkus.orang jawa bart. Uniknya, d KTPnya, kolom agama diisi tanda strip (-). Tau knpa?”&lt;/em&gt; Sender +62857xxxxxxxx&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; Gak, emg napa ?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;“ Ia penghayat kpercyaan sunda wiwitan, agama buhun, agama asli orang sunda. Kbradaanmrka skrg trdskriminasi spt kaharingan” &lt;/em&gt;Sender +62857xxxxxxxx&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunda wiwitan. Aku sedikit tahu tentang sunda Wiwitan, seperti Kaharingan, dia adalah agam lokal yang ada jauh sebelum masuknya agama di Indonesia. Namun, saat ini kurasa akan sulit sekali menemukan orang yang bertahan dengan agama ini. Aku jadi teringat dengan beberapa nama yang kutahu bergelut dalam penelitian agama-agam terutama agama Jawa. Clifford Gertz dan Mark R. Woodward. Salah satu buku Woodward bertengger manis di rak bukuku.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Meskipun tidak bicara tentang wiwitan tapi praktik Islam, namun ada beberapa hal yang kupikir berkaitan erat dengan agama-agama lokal. Sebab, mau tidak mau harus diakui bahwa tradisi agama lokal telah hidup dan mengakar pada masyarakat, sehingga kedatangan agama-agama baru tidak dapat begitu saja menghapus tradisi yang ada. Pada praktiknya, tidak sedikit tradisi agama lokal tersebut masuk ke dalam ajaran-ajaran agama baru yang datang kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sabar menunggu dia mengetikkan huruf demi huruf dan menunggu rangkaian kalimat itu menyeberang terlalu lama. Aku segera menelponnya, tak peduli bahwa sekarang sudah hampir jam 1 dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Sunda Wiwitan itu agama asli orang Sunda.Ajarannya sangat bersahabat dengan alam. Mereka menghormati alam karena telah memberikan kehidupan, karena itu manusia harus berterima kasih pada alam dan tidak dapat berlaku sewenang-wenang. Mereka juga percaya bahwa segala sesuatu di alam memiliki jiwa dan kehidupan” jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bertanya padaku tentang Kaharingan. Ya, kaharingan. Aku pernah sedikit membaca tentang Kaharingan, agama asli masyarakat Borneo. Agamanya orang-orang Dayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kalimantan Barat, ku pikir akan sulit mendapatkan orang yang mengaku bahwa dirinya menganut Kaharingan. Pertama, karena istilah ini memang hampir tak pernah digunakan di Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; Orang lebih suka menyebutnya agama lama. Ada yang menyebutnya animisme, tapi ada pula yang tidak menyukai sebutan ini”&lt;/em&gt;  begitu kata dosenku, Dr. Yusriadi, ketika aku cek tentang istilah kaharingan setelah tulisan ini selesai kubuat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab lain, penyebaran agama telah masuk sampai ke pelosok-pelosok desa bahkan dusun. Sejak zaman penjajahan Belanda, para misionaris telah gencar melakukan ‘dakwah’nya, sedangkan Islam juga telah berkembang di beberapa wilayah, meskipun masih terbatas pada daerah-daerah kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, karena berbagai faktor dan kepentingan politik, setelah tahun 1960-an, Pemerintah mengeluarkan aturan yang mengharuskan masyarakat untuk memilih salah satu dari 5 agama yang diakui Undang-undang di Indonesia. Tak kuasa dengan berbagai hal yang akan menyulitkan kelak, masyarakatpun pasrah dengan aturan yang ada. Maka, ditanggalkanlah identitas agama asli mereka diganti dengan agama baru yang diakui. Apakah semuanya selesai ? Ternyata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, agama lama itu tak pernah benar-benar mati. Semua itu terlihat jelas pada ritual-ritual adat yang masih hidup sampai tulisan ini kubuat. Ada beberapa buku yang kumiliki atau yang pernah kupinjam yang bicara soal Masyarakat Dayak dan Tuhan. Kutemukan beberapa versi cara pandang mereka kepada Sang Maha Pencipta, termasuk sebutannya, dari &lt;em&gt;Jubata&lt;/em&gt; hingga &lt;em&gt;Ne’.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penciptaan manusia juga dikenal dalam beberapa ragam. Dalam buku yang ditulis oleh Manias M. Sood, aku menemukan bahwa ada versi penciptaan manusia yang mirip dengan penciptaan yang dikisahkan dalam ajaran Islam. Apakah ini murni dari ajaran mereka dan telah dipengaruhi oleh Islam ?, belom ada penelitian yang membahas tentang ini. Tapi, kurasa ini akan sangat menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaharingan, dan agama lama pada prinsipnya mirip dengan ajaran Sunda Wiwitan yang di ceritakan oleh temanku. Kepercayaan ini sangat menghormati alam semeta. Semua yang berada di alam memiliki jiwa dan ruh. Manusia tidak boleh sembarangan dalam melakukan eksploitasi terhadap alam. Bukan sekedar etika memperlakukan alam, tapi ini lebih dari itu. Sebuah penyatuan dan penghargaan sebagai sesama makhluk Tuhan yang diciptakan untuk saling menopang dan menjaga keseimbangan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, dengan pandangan demikian, ajaran agama lokal melahirkan banyak sekali ritual yang dilakukan untuk menghormati alam. Upacara yang paling banyak dilakukan adalah yang berkaitan dengan padi, sebab padi dianggap sebagai sumber kehidupan manusia. Mulai dari upacara pra tanam, menanam hingga panen dan pasca panen. Semuanya memiliki makna dan keindahannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi Dayak juga mengganggap bahwa kehidupan manusia adalah siklus yang salng berkaitan dan tak dapat dipisahkan. Kelahiran, perkawinan dan kematian, menjadi titik fokus ritual yang berkaitan dengan manusia. Banyak kearifan yang terdapat dalam kepercayaan ini, dan masyarakat adat sampai sekarang masih banyak yang taat pada aturan tradisi yang bahkan tak tertulis ini. Aku melihat ini semua sebagai sebuah kekayaan dan keindahan negeriku yang memang menjadi indah apabila diperlakukan sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2 Juli 2008&lt;br /&gt;Pukul  03:03 WIB&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1222968436948611954?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1222968436948611954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1222968436948611954' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1222968436948611954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1222968436948611954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/07/agama-lokal-dan-apa-saja.html' title='Agama Lokal dan Apa Saja'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-3371164683790287837</id><published>2008-07-07T21:07:00.002+07:00</published><updated>2008-07-07T21:12:38.273+07:00</updated><title type='text'>Hari-hari Itu............ (2)</title><content type='html'>&lt;em&gt;Jum’at, 27 Juni 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kepastian operasi juga belum ada. Artinya, aku bisa meninggalkan kakakku dan pergi ke kampus dan menghadiri kongres mahasiswa STAIN Pontianak ke VII. Aku sampai sekitar pukul 09.00 WIB, acara telah dimulai , bahkan telah membahas beberapa hal. Pesertanya ternyata tak begitu banyak, ku pikir tak sampai 100 orang, juga tak semeriah tahun-tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belasan orang anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) berpakaian lengkap menjaga setiap sudut aula setiap kali digelar kongres, tapi tidak tahun ini. Tak ada seorangpun yang terlihat, mungkin hanya perwakilannya yang berada di dalam, itupun menggunakan pakaian biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres berjalan alot, membahas tata tertib sidang.. Suasana sempat panas. Seorang peserta kongres dari perwakilan salah satu UKM maju ke depan dan merampas microphone dari presidium sementara ke 2 dan menyerahkannya pada presidium pertama. Presidium kedua dianggap lancang karena langsung mengambil alih sidang tanpa melalui mekanisme yang benar, apalagi dia baru datang ke aula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Gadis itu terdiam ketika microphone di tangannya diambil paksa. Dia duduk dengan wajah merah. Sementara yang mengambil paksa, lantas duduk sambil menggerutu dengan wajah masam setelah menyerahkan microphone pada presidium pertama.&lt;br /&gt;Aku dan beberapa teman yang duduk di belakang tersenyum, sebuah tontonan, sayang bukan contoh yang dapat diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali asyik dengan aktivitas kami, memperhatikan setiap gerak-gerik peserta kongres. Banyak hal yang kami dapatkan, paling tidak sebuah kenyataan bahwa tidak semua mahasiswa dapat menggunakan otak, etika dan ilmunya dengan seimbang. Menjelang waktu dzuhur, kongres ditunda agar peserta dapat menunaikan shalat dzuhur dan makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kecelakaan sejarah neh, menu kongres kayak ginik” kata seorang teman dari salah satu HMJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ye ke ....?” tanyaku seraya membuka bungkusan nasi di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi putih, bakwan jagung, sambal tempe dan kuah santan, tak jelas apa sayurnya. Sedangkan Hanisa, temanku, mendapatkan menu yang sama, hanya saja bakwan jagung diganti dengan telur goreng mata sapi. Aku dan Nisa tersenyum, ini bukan hal yang luar biasa untuk kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di LPM, kami terbiasa berpusing-pusing ria untuk membagi uang yang seadanya agar dapat meng-cover seluruh kegiatan dengan baik, yah meskipun menunya tak pernah separah ini, paling tidak ikan goreng lah.... Tapi apa artinya ? jika lapar, toh habis juga, atau jika tak selera, kita semua bisa beli sendiri, sehari-harinya juga begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama-sama tahu tentang minimnya dana untuk kegiatan mahasiswa di sebuah sekolah tinggi seperti kampus ini. Kita semua tahu, bahwa di negara ini,anggaran dana pendidikan memang menyedihkan, jadi jangan lagi permasalahkan tentang menu dalam kegiatan mahasiswa. Salahkan saja pembuat kebijakan yang memandang bahwa gaji anggota dewan lebih penting untuk dibengkakkan dari pada dana pendidikan generasi muda Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 1.30 siang, kongres di lanjutkan. Dengan agenda masih membahas tatib dilanjutkan dengan agenda sidang dan setelah istirahat shalat Ashar dilajutkan dengan membahas UU KBM. Peserta sempat mempertanyakan kinerja MPM pada saat membahas tentang UU. MPM dinilai tidak bekerja dengan semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal yang dijadikan bukti, MPM memberikan kopian UU kepada HMJ dan UKM pada saat diujung kepengurusannya. Kedua, pada kopian UU itu terdapat dua ayat yang salah fatal dan tidak sesuai dengan hasil kongres tahun lalu, yakni pasal 6 yang tidak memuat ayat 4 yang seharusnya ada dan pasal 29 ayat 4 yang memabahas tentang SK dan pelantikan UKM. Ketiga, fungsi pengawasan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dinilai juga diabaikan oleh MPM, dan LPJ BEM serta kongres yang terkesan tidak siap. Hal ini melahirkan wacana tentang kemungkinan dibubarkannya MPM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gimana pendapatmu kalau MPM dibubarkan ?” tanya seorang teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ha......? yang benar jak. Masa’ mok dibubarkan, tak biselah. Bise sangsot kehidupan oragnisasi mahasiswa di kampus kite ni “ jawabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ade pun tak dirasekan mahasiswa ” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu bukan masalah MPMnye tapi disfungsi orang-orang di dalamnye. Yanti yakin semuenye bise lebih baik kedepannye, kalo memang maok. Kayak kite gak, UKM same HMJ” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hehehehehe” dia duduk di sebelahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kongres untuk hari ini selasai pukul 5 sore dan akan dilanjutkan besok pagi. Aku pulang dengan Dian, peserta utusan LPM, sekaligus pimpinan redaksi WARTA. Dia cukup vokal dalam kongres tadi. Sementara, aku lebih suka duduk di belakang, mendengarkan, dan menikmati segepok cemilan yang dibawa Hanisa dari rumahnya, dan tentunya bercanda dengan beberapa teman yang juga gila-gilaan di belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Malas, banyak yang sekedar cari sensasi” kata mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sabtu, 28 Juni 2008&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi, dokter telah memastikan bahwa hari ini operasi pengangkatan usus buntu kakakku dapat dilaksanakan. Pukul 09.00 WIB. Aku tak bisa ke kampus untuk mengikuti kongres lanjutan, operasi kakakku lebih penting untukku saat ini. Maaf, teman-teman. Tadi malam aku juga tak tidur semalaman, untung seorang teman bersedia menemaniku meskipun hanya suaranya yang terdengar di seberang sana. Lumayan, dia dapat mengisi kekosongan dan kebosanan di lorong rumah sakit yang kaku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi, aku keluar dari ruang perawatan, karena sudah waktunya petugas kebersihan untuk membersihkan kamar pasien. Keluarga pasien diperbolehkan masuk lagi pada pukul 09.00 WIB. Aku menunggu di ujung lorong, sendirian. Abangku, yakni suami kakak, sudah menyatakan bahwa dia tak bisa menemani istrinya. Dia tak tega melihat wanita yang telah menjadi ibu dari kedua gadis kecilnya itu terbaring lemah di bawah pengaruh obat bius, atau menyaksikan bagaimana pucatnya wanita cantik itu ketika di dorong menuju ruang operasi. Aku saja tak tega, tapi kenyataan seringkali memaksa kita untuk memenangkan pertempuran melawan perasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 08.30 WIB, aku melihat seorang perawat mendorong kakak yang telah duduk di kursi roda, lengkap dengan baju operasinya menuju ke arahku. Wajahnya pucat, kakak sama sekali tak tersenyum, tapi bibirnya terbuka sedikit. Sorot matanya sendu menatapku. Tuhan, aku tak berkata apa-apa, selain mengikuti gerak langkah perawat itu menuju ruang operasi.&lt;br /&gt;Kakak segera di dorong masuk ke ruangan itu, sementara aku ditahan di luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sampai sini ya mbak “ kata perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya “ jawabku pasrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan ruangan itu, mungkin sekitar 30 an orang duduk berjejer, hingga kursi yang disediakan tak dapat menampungnya. Aku berdiri, tak berminat untuk memulai pembicaraan dengan siapapun. Di samping ruang operasi itu ada sebuah tangga menuju lantai I, lalu ruang ICU. Orang-orang yang banyak ini mungkin bukan hanya keluarga pasien yang dioperasi, tapi juga ada yang menunggui keluarganya di ICU. Seorang wanita duduk di sampingku dengan dua anak perempuannya, yang satu berusia sekitar 17 tahun, dan satunya lagi mungkin sekitar 5 tahunan. Dari pembicaraannya, aku mengetahui bahwa wanita itu sedang menunggui ibunya yang belum sadarkan diri di ruang ICU karena kecelakaan tabrakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa belas menit kemudian, aku melihat seorang wanita muda dari etnis Tiong Hoa yang juga di dorong ke ruang operasi. Dia berbaring dengan wajah kesakitan, dan kelihatan merah. Perutnya besar, dia akan melakukan operasi caesar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian, aku menyaksikan seorang bayi laki-laki yang digendong ibunya juga menuju ruang yang sama. Ditangannya yang kecil dilekatkan pipa infus dan tepat didepan pintu ruang operasi, seorang perawat meminta si ibu menyerahkan bayi mungil itu. Si Ibu pasrah melepas gendongannya dan menyerahkan si mungil pada perawat. Hanya selang beberapa menit, seorang lelaki dengan pakaian lengkap dinas operasi keluar dari ruangan operasi menghampiri si ibu. Dia membawa topi dan kaus kaki rajutan bayi, lalu menyerahkan pada ibu bayi itu. Sebuah pemandangan yang mengharukan buatku. Seorang ibu harus melepaskan bayinya yang begitu kecil dan lemah memasuki ruang yang terkesan ‘ganas’ untuk menghadapi berbagai bentuk pisau bedah. Bukan sebuah hal yang mudah untuk dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kak, belom selesai ke ?” sebuah suara mengejutkanku. Adik dan bapakku datang dan menghampiriku. Mereka baru saja dari Universitas Tanjungpura, calon kampus adikku. Dia sedang mengurusi berkas-berkas yang diperlukannya untuk mendaftar dan mengikuti ujian masuk UNTAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ belom” kataku singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik penunjuk waktu di layar HP, sekitar pukul 09.15 WIB. Waktu terasa lama sekali. Tak lama kemudian, HP ku berdering. Telpon dari teman yang tadi malam ikut begadang bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gimana kakak ?” terdengar suaranya dari seberang sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Lagi dioperasi, nih lagi di depan ruang operasinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘ Udah sarapan blom ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Belom dak sempat, eh, udah, udah sih tadi makan roti. ‘kan banyak tuh di tempat kakak “ jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Makan di jaga, ntar kamu yang sakit, iya tho “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iye, cerewet “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia protes aku bilang cerewet. Dia lalu bercerita tentang temannya yang juga pernah mengalami penyakit yang sama seperti kakakku yang juga harus menghadapi tajamnya pisau bedah. Pembicaraan kami sempat terputus, karena aku dipanggil. Lalu kembali kami sambung, dan akhirnya harus disudahi karena dia akan sarapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10....11....kakak tak juga keluar. Padahal bayi yang ibunya dioperasi caesar sudah keluar, tak lama ibunya juga keluar. Kami mulai gelisah, apalagi abangku, yang katanya tak mau menemani, tapi ternyata sejak pagi sudah mondar-mandir di sekitar ruang operasi tanpa sepengetahuanku. Pukul 11.45 melalui pintu ruang ICU, kakakku keluar. Dia terbaring tak sadarkan diri di dorong oleh dua perawat muda. Kami semua mengikutinya. Di sisi tempat tidur dorong itu, terlihat sebuah botol kecil seperti tempat cottombud. Di dalamnya diisi cairan alkohol dan.....ah.....,ada usus kakakku yang diangkat dalam operasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sekeluarga mengikuti perawat tadi, namun harus berpisah di persimpangan lift. Mereka menguunakan lift pasien, sedangkan kami menggunakan lift umum. Kami kembali bertemu di ruang perawatan. Letih rasanya, aku ingin tidur. Tapi belum bisa. Aku masih harus menunggu instruksi dari dokter atau perawat tentang kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ belum boleh duduk apalagi berdiri, dan minum sampai jam 12 malam nanti. Kalo berbalik boleh, tapi di bantu. Setelah jam 1 malam boleh minum, tapi cuma 1 sendok makan setiap jam. Kalo makan jangan dulu” kata perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kalo buang air boleh dak mbak ?” tanya adikku konyol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Boleh, tapi gak boleh jalan, nanti pake pispot aja” jelas sang perawat. Adikku hanya senyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 12 an kakakku sadar, tapi tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia hanya menatap kami satu-persatu. Tapi kemudian, sedikit demi sedikit dia mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 14.30 aku pulang kerumah. Aku langsung merebahkan diri di lantai ruang tengah. Dingin. Lega rasanya dapat membaringkan tubuhku. Tak lama aku melihat Hpku, ada SMS dari teman-teman di kampus. Mereka menanyakan apakah aku bisa datang ke kampus atau tidak. Aku ingin membalasnya, namun tertidur. Sore sekali, baru terbangun. Aku harus kemas-kemas, kasian ibuku, beliau juga tak boleh terlalu lelah. Malam ini aku akan tidur di rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Minggu, 29 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ternyata cucian benar-benar menumpuk. Pakaianku, sedikit titipan dari ibu dan bapak, lalu segepok titipan dari abangku. Tulangku gempor. Semalam aku tidur subuh, meski di rumah tapi tetap saja tak bisa tidur. Insomnia. Kembali seorang teman menemaniku begadang. Terimakasih Tuhan.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang, setelah semua selesai, aku ke rumah sakit menjenguk kakak, tapi tak lama. Sore aku sudah harus pulang kerumah. Malam ini juga tidur di rumah. Tidak malam, tapi subuh. Karena sekarangpun sudah subuh, tapi aku belum tidur....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abies...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;29 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menjelang subuh, tapi pikiranku masih asyik dengan dirinya.&lt;br /&gt;Special thanks to ; orang-orang yang telah menemaniku begadang.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-3371164683790287837?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/3371164683790287837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=3371164683790287837' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3371164683790287837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3371164683790287837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/07/hari-hari-itu-2.html' title='Hari-hari Itu............ (2)'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-6108630484487513390</id><published>2008-07-07T20:59:00.002+07:00</published><updated>2008-07-07T21:07:20.733+07:00</updated><title type='text'>Hari-hari Itu............ (1)</title><content type='html'>Malam ini, setelah 4 malam aku berpisah dengan komputer butut yang bertengger manis di sudut kamar, aku kembali berada di depannya. Mengetikkan huruf demi huruf diatas kertas putih maya di layar monitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, malam ini tepatnya adalah malam kelima kakak iparku tercinta harus terbaring lemah di bangsal rumah sakit Saint Antonius. Radang usus buntu membuatnya kian lemah dan tak dapat berbuat apa-apa ketika dokter yang menanganinya memutuskan untuk melakukan operasi. Dia takut, aku tahu itu. Aku lihat dari matanya, gerakannya, juga bibirnya. Dia gelisah sepanjang malam.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Selasa, 24 Juni 2008&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang mengikuti sidang pleno Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) yang meminta laporan pertanggungjawaban Presiden Mahasiswa  STAIN Pontianak periode 2007-2008.   Di jadwal, sidang itu dimulai pukul 15.30 WIB, tapi kurasa molor sekitar setengah jam. Awalnya, kami semua berada di dalam aula kampus, namun menjelang maghrib, terpaksa pindah ke gedung PGRA, karena aula telah lebih dulu di’booking’ untuk acara lain. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Ada beberapa bahasan yang dibahas oleh teman-teman, termasuk masalah Undang-undang KBM yang berada di tangan UKM dan HMJ  tidak sesuai dengan hasil kongres tahun lalu. Tapi, menurut pengurus BEM UU KBM yang ada di sekretariatnya sama dengan hasil kongres. Berarti ada dua versi. Sebenarnya ini bukan wilayah Badan Ekssekutif Mahasiswa, tapi MPM. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Namun, hal itu menjadi pertanyaan, karena SK setiap oraganisasi di dalam tubuh KBM dikeluarkan oleh BEM dan menggunakan landasan UU KBM. Ketika UU yang menjadi landasan tidak sesuai, maka keabsahan SK menjadi pertanyaan. Itu yang juga menjadi pertanyaanku, SK LPM. Tapi lebih anjut masalah ini akan di bahas di kongres mahasiswa.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Malam, usai maghrib teman-teman masih asyik membahas soal tadi, meskipun LPJ ini hanya di hadiri oleh 2 perwakilan UKM dan 2 HMJ dari 8 UKM dan 3 HMJ yang ada. Representatifkah ? Begitu tanya seorang teman. Entahlah, kalau berpikir tentang hal itu, seharusnya dipertanyakan lebih dulu, ‘ pedulikah mereka tentang ini?’ ‘kalau iya, kemana yang lain ?‘&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Pukul 19.30 WIB, handphoneku berbunyi. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Kak Maya masuk rumah sakit, cepatlah balek” ujar adikku di seberang sana. Aku lalu menutup telpon.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Lima menit, aku menunggu sidang sedikit lengang. Lalu menunjuk jari dan meminta izin pada forum untuk pulang lebih cepat. Sekitar setengah jam kemudian, aku sampai dirumah. Kakakku sudah diantar ke rumah sakit Saint Antonius, Pontianak sekitar satu jam yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rabu, 25 Juni 2008&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Aku tiba di kampus sekitar pukul 11.25 WIB. Hari ini memang tak ada mata kuliah pagi, hanya pukul 12.30 nanti, aku mengikuti kelas feature. Tak ada kegiatan yang terlalu penting hari ini, kecuali menyerahkan surat rekomendasi kepada panitia kongres mahasiswa dan sedikit kilas balik tentang kongres. Tapi untuk kelas feature ada berita baik, sekitar awal Juli, kami sekelas akan mengunjungi salah satu lokasi KKL kakak tingkat kami yang saat ini sedang berlangsung. Kami ditugaskan untuk membuat narative reporting, sekaligus makalah penelitian singkat bagi yang berminat. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Rencananya kami akan menginap di sana. Berbagai rencanapun disiapkan oleh teman-teman, sampai-sampai kami merasa perlu untuk melakukan sesuatu yang nantinya akan dapat kami kenang selamanya. Kelas ini, terutama teman-teman dari angkatanku memang luar biasa heboh, dan aku bangga karenanya. Begitu kelas selasai, aku langsung pulang, banyak yang harus dikerjakan di rumah. Apalagi tadi pagi kudengar kabar bahwa besok kakakku harus menjalani operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kamis, 26 Juni 2008&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Operasi itu dijadwalkan hari ini, pukul 09.00 WIB. Aku menungguinya sejak malam, karena urusan administrasi diserahkan padaku. Sebelum pukul 09.00 semuanya harus sudah selesai. Aku menuju bagian keuangan dengan ransel dipundakku, tentu saja dengan segepok uang yang harus disetorkan ke bank Mandiri yang menjadi mitra rumah sakit ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Aku menunggu antrian dengan agak gelisah, bukan karena gerah mengantri, tapi sekali lagi membayangkan wajahnya. Wanita yang hanya lebih tua 4 tahun dari ku. Wanita muda yang hampir selalu membelaku jika aku diomeli karena telat pulang ke rumah. Dia ibu dari dua gadis kecil yang yang membuat hariku penuh warna. Wanita itu pula yang selalu mengusap pundak dan rambutku jika aku tertidur di sampingnya. Dan tadi, saat meninggalkannya dia terlihat pucat, dan panas badannya mencapai 39 derajat celcius lebih.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Ini hari pertama dimulainya rangkaian acara kongres mahasiswa STAIN Pontianak. Tadi aku sempat menelpon seorang teman. Darinya aku mengetahui bahwa hari ini hanya dialog publik, sedangkan kongres akan diadakan besok. Syukurlah, ujarku, dengan begitu aku bisa menghadirinya, dan menunggui operasi kakakku hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Mbak, ini kwitansinya “ ujarku menyerahkan kwitansi berwarna kuning kepada seorang perawat di pos jaganya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt; “ Oh, keluarga ibu Maya ya ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, ada apa Mbak ?” tanyaku&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Begini, operasi bu Maya ditunda. Tadi udah diperiksa dokter, dan kondisi badannya tak memungkinkan untuk menjalani operasi hari ini” jawabnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Emang kondisinya kenapa ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Bu Maya demam, panasnya lebih dari 39 derajat, dia juga menstruasi hari pertama dan payudaranya bengkak. Bu Maya punya bayi’kan”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Iya, Mbak. Umurnya 1 tahun 5 bulan dan nutrisi utamanya memang ASI”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Nah, itu dia. Jadi produksi ASInya banyak, karena tak diminum bayinya, payudara Bu maya jadi bengkak. Nanti coba diperas Mbak ya, soalnya itu juga menyebabkan demam” &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Kemaren malam udah diperas Mbak’&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ kalau gitu, lebih sering, karena produksi ASI yang ibunya aktif menyusui memang banyak sekali”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Oh gitu. Trus operasinya gimana ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Nanti akan dikasi tahu sesuai dengan perkembangan kondisi pasien. Kalau administrasinya gak usah khawatir, kan udah di data “&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;“ Ya, gak papa. Makasih Mbak” ujarku tersenyum pada perawat tadi, kemudian berlalu menuju kamar kakakku di rawat. Lucu juga rasanya, kalau teman-teman kampusku mendengar aku bicara dengan bahasa tadi, aku akan di tertawakan habis-habisan, hilang ciri khas Melayu klotokku. Heheheh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Bersambung.......&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-6108630484487513390?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/6108630484487513390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=6108630484487513390' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6108630484487513390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6108630484487513390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/07/hari-hari-itu-1.html' title='Hari-hari Itu............ (1)'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1369712490429200521</id><published>2008-07-07T20:56:00.000+07:00</published><updated>2008-07-07T20:58:19.101+07:00</updated><title type='text'>Malam</title><content type='html'>Mungkin aku akan menambah daftar orang-orang yang tak bisa menikmati malamnya dengan baik. Tidur menjadi sesuatu yang rasanya sulit ku lakukan. Jika dulu, aku bersahabat baik dengan bantal dan selimut, akhir-akhir ini aku merasa mereka mulai menjauhiku. Entahlah, apa mereka terlalu lelah menemaniku bermimpi dan bermain di alam yang tak nyata, atau aku yang terlalu asyik dengan cumbuan malam, hingga melupakan hangat dekapan mereka. Pastinya, aku mulai tak menikmati binar cahaya terakhir yang mengantar katupan  kelopak mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang ingin kusampaikan pada malam, hingga waktu terasa tak cukup untuk memberi ruang pada kata-kata yang bicara. Ya, malam telah menjadi teman bercerita yang tak pernah meminta penjelasan apa-apa. Tak membuat kita mencari-cari alasan untuk membenarkan apa yang telah dilakukan. Itulah malam, mungkin karena itu pula aku merasa nyaman untuk mengikuti perjalanannya yang panjang. Meski aku merasa bersalah pada mata yang terpaksa harus berbagi ruang dengan kantung di bawahnya, khas mata orang kurang tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa aku merasa nyaman ? Ini yang sebenarnya menjadi pertanyaan. Tidak, pada satu sisi. Rasa itu datang saat aku merasa tubuhku benar-benar lelah, kejam rasanya membiarkan wadah hidup ini terus bekarja tanpa sedikitpun mendengarkan jeritannya. Tapi, ada hal-hal tertentu yang tak bisa dipaksakan, pikiran yang tak mau diajak pasrah terkapar di atas pembaringan, misalnya. Dia lebih memilih untuk berada di depan kotak kaca yang membentuk gambar sebuah kertas putih dengan deretan huruf yang dijejalkan paksa oleh jemariku yang jahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, aku memang merasa nyaman. Malam membuatku seolah terpisah dengan dunia luar. Aku sendirian di dalam kotak bercat putih yang hanya berukuran beberapa meter. Satu-satunya akses ke dunia luar hanyalah sekeping jalinan kayu yang disebut pintu, itupun tertutup rapat. Inilah waktu dimana aku merasa memilikiku, duniaku, aturanku dan kesendirianku yang takkan dapat dipersembahkan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sendiri inilah, aku dapat merasakan keberadaanku dalam kenangan yang kadang kubuat tanpa sengaja. Siang tadi, entah apa yang kupikirkan lalu kuperbuat, tapi yang jelas di malam harilah aku menemukan jawabannya. Semua yang sebenarnya tak terpikirkan dan tak terbayangkan, tapi mulai kulirik ketika malam menjamahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lelah, sekarang pun saat sedang menulis ini, tubuhku terasa lelah. Tapi pikiranku lebih lelah jika harus dikunci mati dalam aktivitas rutin malam hari yang kita beri nama tidur. Sudahlah biar saja, aku tak ingin berusaha tidur. Lagipula, segelas dancow coklat masih belum kandas dari gelas, musik dari winamp juga masih bersedia menemaniku dalam penjara malam yang terlalu ambisius untuk tidak melepaskanku ke dalam pelukan dunia mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudahlah, aku memang telah menjadi simpanan malam yang harus pasrah dicumbuinya sepanjang perjalanan rembulan. Selama aku bisa dan menikmatinya, kenapa tidak ? Malam membawa keheningan yang membuatku dapat mengertiku, bukankah itu yang kucari ? Jadi biar saja aku menjadi malam, dan malam menjadi aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;23 Juni 2008&lt;br /&gt;Sudah lewat tengah malam, tapi gak bisa tidur&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1369712490429200521?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1369712490429200521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1369712490429200521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1369712490429200521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1369712490429200521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/07/malam.html' title='Malam'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8310463283179857156</id><published>2008-07-07T20:40:00.002+07:00</published><updated>2008-07-07T20:54:58.166+07:00</updated><title type='text'>SMS Dari Seberang Lautan</title><content type='html'>Minggu, 22 Juni 2008, aku memilih untuk di rumah, ada hal yang harus kukerjakan dan rasanya telah lama aku menundanya. Siang, aku merebahkan tubuhku yang terasa penat di dalam kamarku, tepatnya di atas karpet palastik yang menutupi lantai semen di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir terlelap, tiba-tiba HP nokia biruku berbunyi, sebuah pesan masuk dari seorang teman di seberang lautan. Dia bicara tentang keadaan daerah tempat dia kuliah yang saat itu sedang mengadakan pemilihan gubernur. Sepi. Apatis. Katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kukatakan bahwa aku percaya kaum muda di daerahnya dapat mengawal dengan baik pelaksanaan demokrasi. Dia juga harus percaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;em&gt;Ya. Meski aq lampung. Aq relwn pmantau. Dan jalanan sepi, tak ad kegiatn brarti. Lesu. Tapi desa agk semarak, trtipu janji palsu. Yg trburu2,”&lt;/em&gt; Sender Nas  22 Juni 2008 13:24: 05, balasnya padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji palsu, lagi-lagi semua pemilihan melakukan hal yang sama. Dari sabang sampai ujung timur Indonesia, masyarakat sudah merasa ragu dengan semua janji yang diucapkan calon-calon pemimpin. Bukan keraguan tanpa alasan, tapi rakyat negeri ini sudah terlalu lelah dengan segala hal yang berbau janji. Janji yang realisasinya nol besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Janji palsu selalu ada dlm stp pemilihan, d t4ku jg. Smw itu jd bumbu dlm prjlnan bgsa. Kt sdg mencari arti dmkrasi yg sesungguhnya. Itu pljran yang brharga untuk kt’ &lt;/em&gt;balasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Ya. Dn qt hrus membyrny dgn harga mahal. Hutan borneo satu d antaranya”&lt;/em&gt; sender Nas 22 Juni 2008  13:35:41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Kamu bnr. Pljrn itu mahal, sygnya ‘pemimpin’ n rakyt kita selalu sj mengulur wktu untuk mengerti, shg hutan, alam dan bdy kt trus mjdi tumbal. Hutn utk org xmantan adlh separuh nywa,tp mrk tak mngrti” &lt;/em&gt;akhirnya pesan panjang itu selesai, aku lantas mengirimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“ Mrka mengrti, tp nafsu tlah mmbtakn ksadrn diri. Atau justru mmbutkan diri scr brjamaah-. Ironis. “ &lt;/em&gt;sender Nas  22 Juni 2008 13:49:28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; jgn membwtku sedih, aku tak ingin bsedih hr ini. Bicr ttg hutan selalu mengundg byk cerita pilu. Bgmn dg kampg halamanmu ?”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ &lt;em&gt;G jauh beda. Smbilu menjerit sendu. Lmpung tk puny hutn lg.”&lt;/em&gt; Sender Nas  22 Juni 2008 13:57:24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membaca SMSnya sekilas, lalu kemudian tak sadarkan diri. Tidur. Aku terbangun sekitar hampir pukul 5 sore. Ternyata sebelum tertidur, aku sempat mengetik sebuah pesan panjang untuknya yang belum sempat terkirim. Aku lalu memilih menu send di HP ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt; Kdg aku bpkr, jika keadaan spt ini terus, mgkn suatu saat kita hanya dpt bercerita ttg hutan pada anak cucu kt, tanpa bs mereka melihtnya lagi. Cerita kt hny akn mjdi dongeng”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Hutan, lagi-lagi aku tak bisa banyak komentar tentang hutan. Seperti hati kebanyak orang Kalimantan, hutan adalah bagian yang tak pernah dapat dipisahkan dari hidupku. Aku mulai belajar mencintai segala sesuatu yang berbau alam, ketika duduk di bangku SMA. Aku bergabung dengan klub Siswa Pencinta Alam (SISPALA) di sekolahku. Organisasi kecil, tapi sampai saat ini memiliki tempat tersendiri dalam hati. Tidak hanya petualangan, padaku diajarkan rasa cinta pada alam, hutan terutama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mencari informasi tentang hutan, kerusakannya dan hal-hal lain yang sebenarnya masih sebatas pengetahuan anak kecil. Bicara soal hutan di Indonesia, sama peliknya dengan bicara soal kemiskinan dan pendidikan. Hutan di Indonesia seperti kue bakpau yang putih dan lembut, tapi dipagari dengan kawat setan tak bertepi yang siap mengahncurkannya kapan saja. Membukanya, tak ubah seperti menjalin benang kusut yang morat-marit di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sebatas rasa cinta seorang anak SMA dan teman-temannya, yang rela mngantongi sampah dari jalanan sampai ke rumah karena tak mau mengotori lingkungan. Ada banyak hal yang terlibat. Terlalu naif, jika mengatakan cinta tak selamanya dapat melindungi, tapi itulah yang memang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi, jika keberadaan hutan tetap tak bisa dihargai, delta sungai kapuas inipun akan segera menjadi sungai besar, karena tanah gambut tak dapat menahan beban dan resapan air di zona hujan tropis. Hutan, entah berapa banyak para pencinta yang mengalirkan air mata, tapi semua itu tetap tak bisa menahan laju langkah ‘si perut gendut’ yang terus menggendutkan perutnya dengan kehancuran hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya, Kalimantan Barat dan Lampung, Palembangpun mengalami nasib serupa. Dari cerita Nisa, temanku yang anak asli Palembang, aku tahu bahwa hutan Palembang juga sedang kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ suasananye bede dengan 4 tahun lalu waktu Nisa tinggalkan. Pas Nisa balek tuh hutannye dah banyak ilang, yang banyak malah kebun sawit. Sedih liatnye” ujarnya padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nas dengan Lampungnya, yang ia katakan sembilu menjerit sendu. Lalu sahabatku, Nisa yang terdiam menunduk mengingat penggundulan hutan di kampung halamannya, Palembang. Aku di Kalimantan Barat. Kenapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Nas, Nisa dan entah berapa banyak pemuda negeri ini yang terluka oleh sinshaw yang membabat hutan kami. Lampung, Kalbar, Palembang semuanya terluka.........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8310463283179857156?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8310463283179857156/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8310463283179857156' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8310463283179857156'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8310463283179857156'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/07/sms-dari-seberang-lautan.html' title='SMS Dari Seberang Lautan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-266521304618174737</id><published>2008-03-15T16:52:00.003+07:00</published><updated>2008-03-15T17:24:32.640+07:00</updated><title type='text'>Aku Hari Ini...</title><content type='html'>Hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kantor Madanika, tempat pengungsian sementara kru P3M setelah beberapa lama tak kemari. Rindu rasanya melihat wajah-wajah orang yang selama ini mengisi hari-hariku dengan segudang canda, tawa, sebel dan juga ilmu. Mereka yang tak kukenal lewat kampus dan sekolah, tapi memberikan begitu banyak hal yang takkan kudapatkan di tempat-tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, lama sekali rasanya. Begitu tiba didepan pintu, aku melihat Bang Deni dan Bang Ratno. Wajah mereka ternyata tak berubah sama sekali (gila' lo.....baru juga beberapa minggu gak ketemu...). Bang Deni tetap saja dengan wajah imutnya yang usil. Bang Ratno masih berpenampilan yang konon Kak Indah bilang seksi, senyum simpul dan komentarnya masih saja sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ruang tengah ada Kak Indah dan Kak Bene. Kak Indah masih tomboy, tapi akhir-akhir ini dia lebih lembut, mungkin lagi jatuh cinta. Kak Bene tetap manis dan keibuan, ah....aku suka sekali padanya. Dia pintar, cerdas, lembut, penampilannya sederhana dan dia adalah produsen buku bacaan yang luar biasa (tempat meminjam buku yang asyik, bukunya bagus, terutama novel sebab seleranya terhadap buku sangat tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, bang Hasan datang. Dia orang Madanika yang kerap singgah ke P3M, lucu tapi dewasa. Caranya bercanda juga asyik, kadang malah aneh, tapi dia baiiiiiiiikkkkk sekaliiiiii. Lalu Bang Didin bangun tidur, lantas mandi. Dia teknisi P3M, lama juga tak melihat wajahnya yang super cool......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak yang belom ketemu, Apri, Bg Cangak, Bg Dimas, dll yang tak dapat disebutkan satu per satu. Hoa......jadi kangen sama suasana P3M yang dulu. But, biarkanlah semua menjadi kenangan yang paling indah, seperti kakak sekoteng yang mengenang P3M dengan mengganti nama sekotengnya menjadi sekoteng 'WARNET' meskipun sekarang dia tak lagi berjualan didepan warnet P3M. Yah....P3M memang akan menjadi hal yang terlalu indah untuk dilupakan oleh semua orang yang pernah singgah ke sana. Sampai kapanpun, mungkin........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-266521304618174737?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/266521304618174737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=266521304618174737' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/266521304618174737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/266521304618174737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/03/aku-hari-ini.html' title='Aku Hari Ini...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7713924564112396316</id><published>2008-03-04T10:44:00.003+07:00</published><updated>2008-03-04T10:47:49.840+07:00</updated><title type='text'>Kekerasan Dalam Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8zF-Oixr6I/AAAAAAAAAF0/N61xbobyyYk/s1600-h/hikmah-kekerasan.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173727744788377506" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8zF-Oixr6I/AAAAAAAAAF0/N61xbobyyYk/s320/hikmah-kekerasan.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh : Hardianti&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhir-akhir ini, ibu pertiwi kembali menangisi kelakukan tak pantas dari putra-putrinya. Belum selesai penanganan bencana alam di berbagai wilayah Indonesia, juga belum tuntas permasalahan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, sekarang, giliran dunia pendidikan yang dilibas bencana. Jika tahun 1966, kaum muda bersatu padu menumbangkan kekuasaan Orde Lama, begitu juga dengan tahun 1998 ketika meruntuhkan keangkuhan Orde Baru, maka dalam era reformasi, segelintir kaum muda malah mencoreng wajah dunia pendidikan Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dengan berita-berita yang menyiarkan pelecehan oleh guru terhadap sejumlah muridnya, kemudian dilanjutkan dengan tawuran dan konflik fisik yang melibatkan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Kini, giliran mahasiswa APDN berebut merampas nyawa orang lain. Tidak puas dengan menganiaya juniornya hingga tewas, mereka malah lebih berani lagi melakukan penganiayaan di luar kampus. Akibatnya seorang pemuda harus meregang nyawa. Ironis memang, karena kasus-kasus itu justru dilakukan oleh mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin negeri ini dan dilatarbelakangi oleh alasan yang sepele. Lantas, dari sejumlah kasus tersebut, timbul pertanyaan ada apa dengan dunia pendidikan Indonesia ? &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan dan pelecehan yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini, bukanlah sesuatu yang muncul dengan tiba-tiba. Namun, semua itu telah tertanam kuat sejak dulu sebelum kemudian akhirnya meledak. Sebagai contoh, masyarakat yang pernah mengenyam dunia pendidikan tentu masih ingat benar dengan istilah MOS (Masa Orientasi Siswa) atau OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) dengan berbagai nama lainnya. Kedua kegiatan tersebut senantiasa dilakukan setiap tahun untuk menyambut siswa dan mahasiswa baru. Tujuan awalnya adalah untuk memberikan pembekalan, baik materi maupun pengenalan lingkungan sekolah atau kampus kepada siswa maupun mahasiswa baru. Hal ini dianggap penting untuk membantu proses belajar mengajar sebagai kegiatan utama. Sayang, dalam pelaksaannya kedua kegiatan ini justru mengalami penyimpangan tujuan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;MOS dan OSPEK seringkali dijadikan ajang para senior untuk menunjukkan kekuasaan dan senioritasnya. Dalam kegiatan ini, tak jarang mereka melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan pada junior. Hukuman seperti push up, lari keliling lapangan, atau di jemur di bawah terik matahari merupakan hal yang biasa. Ditambah lagi dengan bentakan para senior yang kerapkali membuat kecut hati siswa atau mahasiswa baru. Semua itu dilakukan dengan dalih untuk melatih kekuatan fisik dan mental. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, alasan sebenarnya hanyalah untuk bersenang-senang mengerjai junior dan balas dendam atas perlakukan senior terdahulu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Maka, pada masa-masa awal tahun ajaran, tak jarang terdengar ungkapan "Aku jadi panitia ospek nih, lumayan bise ngerjekan anak baru, dapat baju kaos gratis agik". Tidak hanya sampai di situ, para senior juga mempermalukan juniornya dengan menyuruh membawa dan menggunakan dot bayi, mengikat rambut dengan pita warna-warni, memakai kaos kaki berlainan warna dan lain sebagainya. Semua atribut ini pada dasarnya tidak memiliki kaitan dengan tujuan awal di lakukannya MOS atau OSPEK, melainkan semata-mata sebagai alat untuk mengerjai junior, agar acara semakin meriah. Kedua kegiatan ini juga seringkali dirancang tanpa memperhatikan hal-hal penting yang mendukung aktivitas belajar, sehingga tidak dapat diandalkan untuk menjadi ‘acara pembuka’ yang baik dalam memulai aktivitas akademis. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan dan pelecehan yang terkandung dalam kegiatan ini akan terus berulang setiap tahun apabila tidak segera dihentikan. Junior yang sekarang menjadi korban, akan mencari korban lain di tahun depan, terus dan akhirnya membentuk lingkaran setan yang tiada habisnya. Sangat patut disayangkan, kegiatan semacam ini justru telah menjadi tradisi dalam dunia pendidikan di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tindakan kekerasan dan pelecehan dalam dunia pendidikan, disadari atau tidak, ibarat menanam bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Generasi muda yang terbiasa dengan kekerasan dan tindakan pelecehan akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang kekerasan pula. Maka, bukan hal yang mustahil kalau mereka akan menerapkan kekerasan dalam perilaku keseharian, terutama ketika menyelesaikan masalah. Inilah yang akhir-akhir ini terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pada kegiatan MOS dan OSPEK, dalam aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan dosenpun harus menjadi perhatian. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pelecehan sekecil apapun atau hukuman yang berlebihan turut andil menabur benih kekerasan dalam diri generasi muda. Karena itu, tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan harus sesegera mungkin di tiadakan, agar lingkaran setan yang menjadi bencana dunia pendidikan dapat segera terputus. Oleh sebab itu, semua pihak, baik pengajar, masyarakat, siswa dan mahasiswa maupun lembaga pendidikan harus benar-benar memperhatikan hal ini. Kontrol dan perhatian semua elemen masyarakat terhadap kebijakan pendidikan dapat menjadi tameng untuk menekan tumbuhnya kekerasan dan pelecehan dalam proses pendidikan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, untuk mewujudkan pendidikan yang sehat, maka diperlukan strategi pendidikan yang kuat dan cerdas. Kegiatan pengenalan sekolah dan kampus harus di tata sedemikian rupa dengan asas manfaat, yang benar-benar membantu dalam aktivitas akademis. MOS dan OSPEK diharapkan tidak lagi menjadi ketakutan tersendiri bagi siswa dan mahasiswa baru, namun dapat menjadi gerbang untuk mengasah potensi masing-masing. Lembaga pendidikan juga dituntut untuk proaktif dalam membina siswa dan mahasiswanya, serta mengontrol kegiatan-kegiatan yang dianggap memberikan peluang terjadinya kekerasan dan pelecehan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk siswa dan mahasiswa serta keluarganya, diharapkan tidak segan-segan untuk melaporkan penyimpangan-penyimpangan dalam proses belajar kepada lembaga pendidikan yang bersangkutan atau pihak yang berwajib. Semua ini penting untuk mencegah kembali terjadinya kekerasan dan pelecehan dalam pendidikan, mengingat pendidikan merupakan ujung tombak dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas demi terwujudnya pembangunan di Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja pada awal tahun ajaran kali ini dan seterusnya, tidak akan ada lagi siswa dan mahasiswa yang melakukan atau mengalami tindakan kekerasan dalam kegiatan pengenalan sekolah dan kampus. Para pengajar juga diharapkan untuk kembali pada hakikat pendidikan dan tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari tujuan pendidikan. Sehingga, sekolah dan kampus dapat menjadi tempat yang berfungsi sebagaimana mestinya, yakni pencetak sumber daya manusia yang berkualitas sebagai calon pemimpin bangsa, tanpa kekerasan dan pelecehan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Borneo Tribune, lupa tglnya...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7713924564112396316?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7713924564112396316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7713924564112396316' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7713924564112396316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7713924564112396316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/03/kekerasan-dalam-pendidikan.html' title='Kekerasan Dalam Pendidikan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8zF-Oixr6I/AAAAAAAAAF0/N61xbobyyYk/s72-c/hikmah-kekerasan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5188451468470722202</id><published>2008-03-04T10:25:00.002+07:00</published><updated>2008-03-04T10:33:41.858+07:00</updated><title type='text'>Mencermati Pemilihan Duta Lingkungan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8zCnOixr5I/AAAAAAAAAFs/2t86cssehtM/s1600-h/pendidikan_lingkungan.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173724051116502930" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8zCnOixr5I/AAAAAAAAAFs/2t86cssehtM/s320/pendidikan_lingkungan.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh : Hardianti &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemilihan duta lingkungan diharapkan menjadi salah satu wujud kepedulian Pemerintah terhadap lingkungan hidup Kalimantan Barat (Kalbar). Hal itu sangat penting mengingat Kalbar memiliki kekayaan alam yang tidak sedikit. Hutan-hutan Kalbar merupakan hutan hujan tropis yang luas, sekaligus menyimpan kekayaan hayati yang sangat besar. Danau Sentarum, daerah rawa terunik di dunia dengan segala keragaman hayatinya, juga bertempat di Kalimantan Barat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semua kekayaan tersebut, bukan sekedar memberikan nama besar bagi provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini, namun juga menuntut tanggung jawab yang besar dalam menjaganya. Sebab, banyak tangan-tangan rakus manusia yang tidak henti-hentinya mengeksploitasi alam tanpa memikirkan akibat yang akan dihadapi di masa datang. Bahkan mereka selalu siap mengintai peluang untuk merusak alam demi kepentingan ekonominya sendiri. Hutan yang terbentang di provinsi ini memang milik Indonesia, namun keberadaannya merupakan kelangsungan hidup bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini. Sebagai bagian dari paru-paru dunia, maka semua pihak wajib untuk turut menjaganya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu adanya sosok duta lingkungan, benar-benar diharapkan menjadi motor bagi pemerintah, terutama masyarakat untuk menyelamatkan kelestarian lingkungan. Dia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat dan pemerintah, mampu melihat keadaan alam yang harus diperjuangkan kelestariannya. Semua itu tidak sekedar membutuhkan pengetahuan umum yang didapatkan dari browsing di internet, atau buku-buku penunjang. Dia harus benar-benar melihat kondisi lingkungan masyarakat, alam Kalimatan Barat, serta mengetahui sikap dan kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian. Masyarakat menantikan seorang duta lingkungan yang memiliki kesadaran, inisiatif, dan keinginan yang besar dalam memperjuangkan kelestarian alam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun betapa kecewanya ketika melihat pemilihan duta lingkungan oleh Badan Penanggulangan Dampak Lingkungan Daerah Kalimantan Barat (Bapedalda Kalbar) yang diselenggarakan Sabtu, 21 Juli 2007 lalu. Pemilihan duta lingkungan dilakukan bak kontes pemilihan Miss Universe. Mereka semua terdiri dari gadis-gadis muda yang cantik, berlenggak-lenggok diatas panggung dengan menggunakan baju adat dan didandani layaknya peragawati. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pembuka, mereka, 16 orang gadis kandidat duta lingkungan Kalbar menari dengan anggunnya di atas panggung, sesuatu yang mengingatkan saya pada sebuah ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi. Mereka kemudian dipanggil secara bergantian untuk memperkenalkan diri. Saya kecewa, diantara mereka tidak ada yang memperkenalkan diri sebagai aktivis lingkungan, justru mereka lebih senang memperkenalkan diri sebagai pelajar yang baru lulus SMA, mahasiswa atau bekerja di instansi tertentu. Dalam perkenalan itu, beberapa dari mereka yang menggunakan bahasa Inggris, sesuatu yang memiliki point plus bagi seorang duta lingkungan. Namun, harus diingat bahwa orang pertama yang harus dirangkul dalam upaya menjaga alam adalah masyarakat sekitar, mereka jauh lebih mengerti himbauan yang menggunakan bahasa ibu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Para kandidat lalu di persilahkan untuk menjawab pertanyaan yang telah disediakan, juga pertanyaan yang diajukan oleh para juri yang sebagian besar berasal dari Bapedalda dan mantan peserta Putri Indonesia dari Kalimantan Barat. Para juri hanya bertanya "Apa yang akan anda lakukan untuk……..", bukan " Apa yang telah anda lakukan untuk..". Sungguh pertanyaan yang sangat teoritis, padahal jika kembali pada upaya pelestarian alam, maka kita akan berhadapan dengan sesuatu yang tidak sekesar teori. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat terpaku, ketika para kandidat duta lingkungan menjawab pertanyaan dengan sangat gemulai. Kemudian muncul pertanyaan dalam benak saya, mengapa mereka sama sekali tidak terlihat bersemangat ketika menyampaikan ide tentang pelestarian alam ? Mereka begitu gemulai, seperti menjaga penampilan mereka di mata penonton, sekali lagi saya bertanya pada diri saya, benarkah ini pemilihan duta lingkungan, pemilihan sosok yang akan menjadi ikon upaya pelestarian alam, sebuah pekerjaan yang tidak gampang dan menuntut semangat serta perjuangan yang besar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ajang pemilihan duta lingkungan adalah sebuah ajang bergengsi. Tidak itu saja, kegiatan ini juga merupakan wujud kepedulian terhadap pelestarian alam. Orang yang terpilih menjadi duta lingkungan akan mendapatkan penghargaan, sekaligus kesempatan untuk dihargai pendapatnya secara lebih besar oleh instansi pemerintah dan swasta maupun masyarakat. Mengapa apreasiasi sebesar ini tidak diberikan pada pemuda dan pemudi yang benar-benar telah bekerja dan berupaya untuk melestarikan alam ? Ada begitu banyak aktivis lingkungan atau pemuda-pemudi daerah yang telah berjuang demi kelangsungan kelestarian hutan. Bukankah dengan penghargaan sebesar ini akan memudahkan mereka melangkah dan menjalankan program pelestarian alam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan, bagaimana masyarakat adat Kayaan berjuang mempertahankan kelangsungan hutan di daerah Kapuas Hulu dari tajamnya chinsaw PT. TBS yang mengantongi izin untuk pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Mereka melakukannya bukan sekedar untuk kompetisi, tapi karena kecintaan mereka akan hutan dan lingkungannya. Mengapa gelar duta lingkungan tidak dianugerahkan kepada pemuda atau pemudi masyarakat Kayaan atas perjuangan mereka. Bukankah para generasi mudanya tentu ikut serta dalam perjuangan itu ? Atau mereka, aktivis lingkungan yang berjuang keras untuk membantu masyarakat dalam menjaga hutan dan kekayaan alam lainnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bukankah mereka telah begitu banyak mengorbankan waktu, tenaga dan pemikiran mereka untuk alam. Mereka tidak hanya sekedar tahu tentang Kalpataru atau Adipura yang menjadi pertanyaan para juri pemilihan duta lingkungan, tetapi mereka benar-benar tahu tentang masalah pelestarian hutan, bahkan telah melakukan lebih dari apa yang bisa kita lakukan. Mereka adalah orang-orang yang menanamkan tenaga dan pikirannya serta seluruh pengetahuannya pada upaya pelestarian alam. Mereka bukan hanya baru berpikir tentang ‘apa yang akan’ tetapi mereka ‘telah melakukan’ upaya pelestarian, jauh sebelum kompetisi ini dilakukan, bahkan mungkin jauh sebelum kompetisi pemilihan duta lingkungan ini direncanakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya berharap semoga prosedur pemilihan duta lingkungan Kalbar dapat kembali dicermati, agar benar-benar kembali pada hakikat upaya pelestarian alam. Sekaligus menjadikan ajang ini sebagai penghargaan terhadap orang-orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan seluruh umat manusia. Namun, pemilihan duta lingkungan Kalbar 2007, telah dilakukan. Semoga saja duta-duta ini mampu belajar dan berbuat lebih baik untuk alam, mampu memberikan ide-ide cemerlang dan bekerja keras untuk upaya pelestrian alam. Tidak sekedar menjadi pelaksana program pemerintah, namun dapat ikut berjuang bersama masyarakat untuk mempertahankan kelestarian alam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;Borneo Tribune, lupa tglnya...&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5188451468470722202?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5188451468470722202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5188451468470722202' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5188451468470722202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5188451468470722202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/03/mencermati-pemilihan-duta-lingkungan.html' title='Mencermati Pemilihan Duta Lingkungan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8zCnOixr5I/AAAAAAAAAFs/2t86cssehtM/s72-c/pendidikan_lingkungan.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-3134581155279369801</id><published>2008-03-04T10:13:00.006+07:00</published><updated>2008-03-04T10:25:06.318+07:00</updated><title type='text'>Kekuatan Tulisan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8y_Y-ixr4I/AAAAAAAAAFk/4t6dvCSowqQ/s1600-h/661-overland-diary.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173720507768483714" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8y_Y-ixr4I/AAAAAAAAAFk/4t6dvCSowqQ/s320/661-overland-diary.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh : Hardianti&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;"Kalau kamu mencurahkan tenaga untuk menulis, seluruh dunia akan mendukungmu"&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kata-kata itu lahir pena Pramudya Ananta Toer, seseorang yang telah matang ditempa pahit dan manisnya masa-masa sebagai penulis. Berlebihan mungkin, karena tak selamanya seluruh dunia akan mendukung lahirnya sebuah tulisan. Apalagi tulisan itu berpotensi untuk merobohkan sebuah bangunan birokrasi atau pemerintahan yang pada dasarnya telah bobrok nilai. Terlalu banyak kepentingan-kepentingan yang akan bermain dan menghalagi lahirnya sebuah tulisan. Keadaan ini dimengerti benar, bahkan dialami sendiri oleh Pram, yang menulis ungkapan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukanlah tanpa alasan seorang Pramudya Ananta Toer menulis frase yang seakan-akan menyanjung seorang penulis hingga ke atas awan tersebut. Dukungan dunia, bukanlah hal pertama yang diperlukan dalam menulis. Ada begitu banyak nama-nama penulis dalam sejarah Indonesia yang tetap memilih untuk menulis meski tanpa dukungan dan berada dalam keadaan terkekang. Ide-ide brillian mereka justru terlahir saat mereka merasakan dinginnya sel penjara, kejamnya tempat-tempat pembuangan atau ditengah pahitnya menjadi orang yang diasingkan. Bahkan dapat dikatakan bahwa ide pendirian, bahkan pendiri negeri ini sendiri berasal dari mereka yang telah begitu terbiasa berkarya dalam keterkekangan, tanpa dukungan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa yang utama dalam menulis ? Pram telah menjawab dalam kalimatnya yang pertama "mencurahkan tenaga untuk menulis". Hal yang paling utama adalah kesadaran untuk mencurahkan tenaga dan pikiran dalam proses kelahiran sebuah tulisan. Layaknya persalinan, selalu ada kesakitan dan dampak yang akan dihadapi sang penulis. Namun, kebahagiaan setelah melihat janin itu berwujud menjadi sesuatu yang lebih besar dan bermakna akan menghapus semua ketakutan pada sebuah proses. Sebab, tulisan bukan hanya deretan kata-kata kosong yang berbaris dalam lembar-lembar kertas, tapi tulisan mempunyai jiwa yang memiliki makna dalam setiap pilihan diksinya. Dengan sendirinya, tulisan itu akan berjuang untuk mencapai tujuan yang telah dititipkan sang penulis, kini tujuan telah menjadi tanggung jawab tulisan itu sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penulis dengan tulisannya memiliki cara sendiri dalam berjuang. Hal itu telah dibuktikan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Dalam membangun kesadaran kebangsaan, dapat dikatakan bahwa para penulis merupakan pondasi sekaligus pilar yang menegakkannya, bahkan menjadi rahim yang melahirkan ide-ide nasionalisme. Tentu bukan sesuatu yang berlebihan, jika kita kembali membaca kisah hidup seorang R.M.Tirto Adhi Surjo, yang dikenal sebagai Bapak Pers Nasional. Dalam hidupnya, dia pernah menjadi orang yang paling diawasi oleh pemerintah kolonial Belanda, bahkan dia adalah lelaki yang harus dibuang dan dijauhkan dari kehidupan bangsanya. Bukan karena dia dengan gagah berani mengangkat senjata dan meledakkan gudang-gudang persenjataan Belanda. Bahkan dia adalah seorang lelaki dengan ukuran tubuh yang relatif lebih kecil dari teman-teman pribuminya. Alasannya hanya satu, penanya menghasilkan tulisan yang mampu membuat rakyat pribumi terbangun dari tidur lelapnya. Tulisannya dengan mudah menjalar dan mengobrak-abrik mimpi indah masyarakat pribumi tentang kekayaan alam Nusantara. Dia menyadarkan mereka bahwa saat ini alam itu sedang dijarah oleh kekuatan asing, bahkan bukan hanya alam, kemerdekaan dan martabat merekapun sedang dirampas. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Tirto dengan sendirinya melakukan fungsinya sebagai alat perjuangan. Layaknya penyebaran virus, kekuatan kolonial sekalipun tidak mampu membendung terjangan tulisan Tirto. Sedikit demi sedikit rakyat pribumi mulai terbangun dan sadar, kemudian bergerak melawan, melampaui batas etnik, budaya dan agama, hingga melahirkan pergerakan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Contoh serupa juga diberikan dengan sangat manis oleh seorang R.M. Soewardi Surjaningrat lewat tulisannya yang berjudul "Ik eens Nederland Was" (Seandainya Saya Seorang Belanda). Sebuah tulisan yang dengan tajam mengkritik cara berpikir pemerintah kolonial Belanda. Tulisan itu menentang kebijakan pemungutan pajak yang dibebankan kepada rakyat pribumi untuk membiayai peringatan kemerdekaan Belanda yang ke 100 tahun. Tulisan Soewardi ini selain disajikan dengan nada yang provokatif, juga dinilai memuat kesadaran politik dan sosial yang tinggi terhadap kebijakan Pemerintah serta keadaan masyarakat pribumi. Bahkan dianggap sebagai esay paling tajam yang pernah ditulis hingga waktu penerbitannya. Sama seperti kasus Tirto, pemerintah kolonial pun tidak sanggup untuk membendung dampak tulisan Seowardi, kendati telah mengumumkan larangan beredar serta penyitaan besar-besaran terhadap pamflet tersebut. Sekali lagi, pemerintah Belanda harus terpukul oleh karya tulis putra-putra terbaik Nusantara. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan tulisan masih terus berlanjut, bahkan pena itu sedang berada di dalam genggaman seorang Raden Ajeng. Wanita lembut yang menuangkan kebesaran cita-citanya dalam deretan tulisan yang dikirimkan kepada sahabat-sahabat Eropanya. Kartini menuangkan cita-citanya dalam bentuk tulisan yang berbeda. Jika Tirto dengan ciri kegarangan tulisannya, Soewardi dengan gaya tulisan sopan khas keraton Pakualaman, namun tepat menohok jantung, maka Kartini lebih memilih untuk menelusup dalam relung-relung hati yang lembut.&lt;br /&gt;Tulisan-tulisannya hanya berupa surat-surat dalam kegiatan korespondensi dengan teman-teman wanitanya yang berasal dari Eropa. Namun, kekuatan makna dan ketulusan serta petualangan idenya dalam raga yang terkungkung, mampu menjadi sumber inspirasi bagi berjuta-juta manusia, bahkan hingga ratusan tahun setelah keberadaannya. Kartini adalah sosok lain dari sejarah perjuangan tulisan mencapai sebuah tujuan yang besar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tulisan memang sebuah fenomena. Sesuatu yang tak pernah bisa ditebak dan diprediksikan dampak selanjutnya. Begitu tulisan itu tercipta dan sampai ke masyarakat, maka dia akan menemukan bentuk perjuangannya sendiri. Dia dengan kekuatannya mampu membentuk opini masyarakat, bahkan melampaui kemampuan penulisnya dalam meyakinkan orang lain dengan ucapan kata-kata. Tulisan adalah sebuah alat perjuangan yang dahsyat dan memiliki daya ledak yang tinggi, melebihi senjata manapun yang pernah tercipta. Tak jarang sebuah tulisan dapat terus berbicara dari generasi ke generasi membawa cita-cita penulisnya, meskipun sang penulis sendiri telah menyatu dengan tanah airnya. Maka, tentu bukan sesuatu yang berlebihan jika dalam novel tetralogi buruh, Pramudya Ananta Toer menulis bahwa "orang boleh pintar setinggi langit diangkasa, tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dalam peredaran peradaban dan sejarah". Oleh sebab itu, menulis adalah sebuah kekuatan untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang besar yang tak lekang oleh waktu dan dapat melompati batas-batas primordialisme. Namun, lebih dari itu, tulisan harus mengandung kekuatan kebenaran yang diperjuangkan dengan penuh kesadaran. Sebab, tulisan pada hakikatnya adalah "bekerja untuk kebadian".&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Borneo Tribune, lupa tanggalnya...&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-3134581155279369801?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/3134581155279369801/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=3134581155279369801' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3134581155279369801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3134581155279369801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/03/kekuatan-tulisan.html' title='Kekuatan Tulisan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8y_Y-ixr4I/AAAAAAAAAFk/4t6dvCSowqQ/s72-c/661-overland-diary.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1093906540274424379</id><published>2008-03-04T09:57:00.003+07:00</published><updated>2008-03-04T10:13:19.218+07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Alternatif Untuk Anak-Anak Jalanan</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8y8veixr3I/AAAAAAAAAFc/xvmUjiV1FVg/s1600-h/anak.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173717595780657010" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 258px; CURSOR: hand; HEIGHT: 329px; TEXT-ALIGN: center" height="320" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8y8veixr3I/AAAAAAAAAFc/xvmUjiV1FVg/s320/anak.jpg" width="258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div align="center"&gt;Oleh : Hardianti&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sinar matahari terasa menyengat, maklum waktu telah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Asap kendaraan dari berbagai jenis dan merk, terasa menusuk hidung dan sesak memenuhi rongga dada. Namun, bocah-bocah ‘lampu merah’ tampak tak merasakan kondisi yang sama sekali tak menyenangkan itu. Mereka berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain sambil mengadahkan tangan. Baju mereka lusuh, begitu juga dengan tubuh mereka. Seorang anak menghampiriku. Penampilannya tak kalah lusuh dengan anak-anak lain, rambutnya coklat kepirang-pirangan, akibat terpanggang sinar matahari, begitu pula dengan wajahnya yang hitam dan kotor. Namun, gurat-gurat kebocahan tampak jelas pada wajah dan bening matanya yang menatapku. &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;Di lain waktu, hujan deras menyelimuti kota. Aku menggigil kedinginan sambil menyumpahi lampu merah yang menyala tepat di jalur yang aku lalui. Namun, sumpahku tak terselesaikan, begitu mataku dipaksa memperhatikan tingkah bocah-bocah ‘lampu merah’. Mereka tersenyum menang, sambil menikmati air yang membasahi tubuh mereka, melompat, berlari dan berpindah-pindah dari kendaraan satu ke kendaraan lain. Dapat dibayangkan bahwa tengadahan tangan mereka tak akan membuahkan apa-apa, karena para pengendara terlalu tak kuasa untuk membuka jas hujan dan dompet mereka hanya demi seorang anak ‘lampu merah’ yang entah dari mana asalnya".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sepenggal cerita diatas adalah sebagian kecil gambaran tentang kehidupan dan aktivitas anak-anak yang ‘berkarya’ di perempatan jalan raya. Mereka menggunakan nyala lampu merah untuk mengadahkan tangan dan meminta belas kasihan dari para pengendara yang berhenti. Tentu saja belas kasihan itu mesti diwujudkan dengan recehan uang yang tak seberapa jumlahnya. Di Kota Pontianak, ada begitu banyak anak-anak lampu merah yang bertebaran di sejumlah ruas jalan utama, meski belum ada data yang lengkap mengenai kepastian jumlah mereka. Namun, jumlah tersebut akan sangat terasa bila melewati sejumlah perempatan jalan di kota Khatulistiwa ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri bahwa komunitas anak-anak ini adalah sebagian dari wajah kota khatulistiwa, bahkan wajah Indonesia dalam lingkup yang lebih luas. Layaknya anak-anak lain, mereka juga punya andil yang besar dalam menentukan masa depan daerah dan bangsa Indonesia. Sebab, mereka adalah bagian dari generasi muda yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin sekarang ini. Dengan kondisi yang demikian, rasanya tidak mungkin mengharapkan kemajuan daerah ditulis oleh tangan mereka. Dalam usia yang begitu belia, mereka sudah diharuskan memanggul beban kehidupan yang berat, terutama masalah perekonomian keluarga. Bahkan, banyak diantara mereka yang tidak sanggup membagi waktu dan kekuarangan biaya, lantas merelakan masa-masa pendidikannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini harus disadari oleh seluruh elemen masyarakat, mengingat masa depan generasi muda dan bangsa ini adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Oleh sebab itu keadaan anak-anak ‘lampu merah’ yang minim akan pendidikan harus dijadikan perhatian khusus dan dicarikan solusinya. Ada banyak program pendidikan yang selama ini dicanangkan, mulai dari bea siswa, Gerakan Nasional Orang Tua Asuh, hingga dana Operasional Sekolah dan lain sebagainya. Namun, tampaknya program-program tersebut belum banyak menyentuh area pendidikan untuk anak-anak ‘lampu merah’. Penyaluran bantuan seringkali tidak dapat mencapai mereka, sebab kebanyakan dari mereka sudah tidak bersekolah lagi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Memang merupakan suatu hal yang sulit untuk membawa anak-anak yang putus sekolah untuk kembali duduk di bangku pendidikan formal. Mereka mempunyai tanggung jawab dan beban ekonomi yang harus mereka tunaikan. Ketika memasuki area ekonomi, maka hal tersebut sulit untuk dikompromikan, karena tidak hanya menyangkut kehidupan mereka sendiri, tetapi juga seluruh anggota keluarganya. Sebaliknya masyarakat tidak bisa tinggal diam menerima kenyataan bahwa ada banyak generasi muda yang tetap hidup dalam kebodohan di masa depan. Oleh sebab itu, harus ada sebuah metode pembelajaran yang bisa dijadikan pendidikan alternatif bagi anak-anak ini, ditengah aktivitasnya yang tidak mengenal kompromi. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan rumah singgah dapat menjadi sebuah pilihan untuk pendidikan mereka. Tempat ini tidak semata-mata untuk melepas lelah bagi anak-anak jalanan. Rumah singgah yang dimaksud adalah sebuah tempat yang dapat dijadikan sebagai sekolah alternatif untuk mereka. Artinya, ada sejumlah kurikulum pembelajaran yang disusun dalam metode yang sesuai dengan kondisi dan aktivitas anak-anak jalanan. Metode tersebut lebih ditekankan pada cara belajar mandiri. Sebab, tidak mungkin menciptakan suasana belajar yang sama seperti di sekolah, mengingat anak-anak ini sulit dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Oleh sebab itu diperlukan sarana dan prasarana belajar yang mampu mendukung metode ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, ada sebuah perpustakaan mini dan alat-alat tulis yang dapat digunakan oleh anak-anak ini, ketika mereka berkunjung ke rumah singgah. Buku-buku yang disediakanpun harus menunjang kurikulum dan program-program pembelajaran yang dikembangkan pada mereka, selain buku dan media lain yang dapat memberikan pengetahuan umum. Meskipun metode pembelajaran yang dikembangkan cenderung menekankan pada kemandirian, anak-anak ini tetap saja memerlukan guru untuk mengajari dan mengevaluasi hasil belajar mereka. Hanya saja, guru-guru ini diharapkan dapat lebih bertindak sebagai teman sekaligus mentor. Karena kondisi belajar dan aktivitas mereka tidak dapat disamakan dengan siswa-siswa sekolah umum, maka perlakuan untuk merekapun tidak sama dengan siswa-siswa tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, peran guru-guru tersebut sangat penting untuk memantau perkembangan keilmuan anak-anak ini. Semua itu diperlukan untuk memudahkan mereka dalam proses belajar, sebab akan sulit bagi mereka untuk lebih banyak mengorbankan waktu demi belajar. Kondisi inilah yang harus dipertimbangkan sebaik-baiknya dalam penyediaan fasilitas dan merancang metode belajar untuk komunitas anak-anak jalanan. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan akan tumbuh subur dalam pikiran mereka. Maka, menjadi tugas para aktivis pendidikan dan masyarakat untuk menumbuhkan rasa cinta dan semangat belajar tersebut pada mereka. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak ini seharusnya memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak lainnya. Kemampuan merekapun mungkin sama, bahkan lebih dari anak-anak yang dapat mengecap bangku pendidikan formal. Hanya saja, mereka terlahir sebagai anak-anak yang harus memikul beban kehidupan yang lebih berat. Oleh sebab itu, semua masyarakat berkewajiban untuk memberikan kesempatan belajar pada mereka, karena tidak menutup kemungkinan bahwa diantara anak-anak yang sedang berkeliaran di jalanan itu, ada bibit-bibit pemimpin yang selama diharap-harapkan bangsa Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Borneo Tribune, lupa tanggalnya....&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1093906540274424379?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1093906540274424379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1093906540274424379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1093906540274424379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1093906540274424379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/03/pendidikan-alternatif-untuk-anak-anak.html' title='Pendidikan Alternatif Untuk Anak-Anak Jalanan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R8y8veixr3I/AAAAAAAAAFc/xvmUjiV1FVg/s72-c/anak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8383546889274707203</id><published>2008-02-28T11:38:00.000+07:00</published><updated>2008-02-28T11:40:26.840+07:00</updated><title type='text'>Dewasa...</title><content type='html'>“ Kenapa manusia harus dewasa dan berlari menuju kehancurannya sendiri “. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sebuah pertanyaan yang kubaca dari serial komik histori karya Ryoko Ikeda. Judulnya Rose of Versailles. Waktu itu, umurku 12 tahun, tepat ketika aku duduk di kelas 1 SMP. Rose of Versailles adalah salah satu judul komik favoritku. Bahkan hingga saat ini, dia punya tempat khusus dalam ingatanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komik itu bercerita tentang seorang putri bangsawan tinggi dari kerajaan Perancis, namanya Oscar De Jarjayes. Sesuai dengan namanya, meskipun putri bangsawan, Oscar tidak dididik layaknya seorang lady. Oscar dibesarkan sebagai laki-laki tepatnya prajurit. Semua itu terjadi karena ayah Oscar, Jenderal De Jarjayes tidak memiliki putra, sementara dia membutuhkan penerus. Hanya ada satu jalan yakni mendidik salah satu putrinya sebagai prajurit yang akan menggantikannya kelak. Dan Oscar, si bungsu dari 7 bersaudara inilah yang harus mengorbankan statusnya sebagai perempuan demi meneruskan posisi yang Ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oscar adalah prajurit yang luar biasa cerdas, diusia yang belia dia telah mampu menjadi komandan pasukan kavaleri, sebuah satuan pasukan elit di kerajaan. Bukan lantaran Oscar adalah anak dari panglima tertinggi, namun dia mendapatkan semua itu karena kemampuannya yang memang diatas rata-rata. Oscar memiliki seorang sahabat sekaligus pengawal bernama Andre Grandier. Sejak kecil Andre telah menemani Oscar, bahkan dia bersumpah untuk menjaga Oscar selamanya. Andre merasa berhutang budi pada keluarga Oscar yang telah membesarkan dan menolong dia dan neneknya. Bukan hanya karena itu, sejak kecil Andre jatuh cinta pada Oscar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu pula, ketika revolusi Perancis pecah pada 1789, Andre tetap berada di samping Oscar yang kemudian memutuskan untuk menentang kerajaan dan memilih untuk membela rakyat Perancis. Oscar tak rela membunuh rakyat Perancis, dia memilih untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya dan dibuang dari lingkungan kerajaan. Hanya Andre yang tetap disampingnya. Saat akan berperang, di atas kuda putih yang ditungganginya, Oscar berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dre, setelah perang ini selesai, kita menikah...” Oscar membayangkan, bahwa dia dan Andre akan hidup tenang di desa yang jauh dari permasalahan politik dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andre kaget, tapi bahagia. Dia menatap Oscar yang kemudian melesat ke depan memimpin perang revolusi besar itu. Di hari yang sama, mata-mata kerajaan mengetahui bahwa Oscar adalah kekuatan utama prajurit rakyat. Mereka mengincar nyawa Oscar. Tembakan diarahkan padanya, tapi prajurit cantik berambut perak itu mampu menghindari setiap tembakan yang datang. Namun, dia tidak menyadari bahwa sebuah peluru sedang berlari menuju jantungnya. Andre yang melihat tembakan itu, tak ada jalan lain, diapun menyerahkan dadanya sebagai tameng nyawa Oscar. Ketika itulah Andre tumbang bersamaan dengan robohnya semua bangunan harapan yang mereka sematkan. Saat-saat seperti inilah yang membuat Oscar berpikir : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa manusia harus dewasa dan berlari menuju kehancurannya sendiri ?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa berarti kehancuran. Mungkin. &lt;br /&gt;Waktu kecil, Oscar tak pernah protes sedikitpun ketika dia lahir sebagai perempuan, namun dibesarkan sebagai laki-laki. Tapi, dia mulai merasa bahwa semua itu tak adil ketika dia mulai dewasa dan mengenal cinta. Oscar harus kehilangan cinta pertamanya, Van Versent, hanya karena pemuda itu menganggap bahwa Oscar terlalu kuat dan tegar untuk dicintai sebagai wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kecil, Oscar bisa tak peduli pada penderitaan rakyat, karena dia dibesarkan dan dilatih sebagai pasukan elit kerajaan. Tapi kesengsaraan rakyat Perancis mulai membuatnya galau ketika dia beranjak dewasa dan berpikir tentang kehidupan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kecil, Oscar tak perlu merasa sangat tersiksa karena kehilangan Andre. Sebab, Andre selalu berada di sisinya, tak sekalipun pernah meninggalkan Oscar. Namun, semua itu menjadi luka yang sangat menyiksa ketika dia dewasa dan memahami bahwa Andre bukan sekedar sahabat, tapi juga sandaran hati dan orang yang sangat dicintainya, di saat yang sama Andre harus pergi selama-lamanya. Semuanya menjadi begitu tidak adil ketika dia dewasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali aku membaca pertanyaan itu, aku berpikir bahwa Oscar salah, karena dewasa berarti pintu untuk bebas. Bebas menentukan menentukan hidup, mengambil keputusan dan bebas dalam segala hal. Kamu bebas menentukan untuk sekolah dimanapun. Meski NEM-mu tinggi, kamu tidak dipaksa untuk masuk ke sekolah favorit, bebas untuk menentukan apa yang ingin kau lakukan, dan bebas untuk memilih jalan yang sesuai dengan hatimu. Pendeknya, waktu itu aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa dewasa adalah kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang aku telah dewasa. Aku berada di depan pintu itu. Hingga sekarangpun aku masih berpikir bahwa Oscar salah. Dewasa tidak berarti kehancuran. Tapi, aku mulai tak setuju dengan kesimpulanku dulu. Dewasa tak semudah yang dulu kupikirkan. Tak selamanya dewasa berarti kebebasan. Banyak sekali yang kemudian mau tidak mau harus mempengaruhi keputusan yang diambil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa tak sekedar kebebasan untuk memilih sekolah yang kau suka, meski sekolah itu biasa-biasa saja. Dewasa tak hanya soal kebebasan untuk menyatakan bahwa kau lebih suka menjadi penulis daripada pegawai kantoran atau pernyataan bahwa kau ingin jadi dirimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu. Dewasa menuntutmu melihat dan memahami semuanya lebih jauh ke dalam. Bukan sekedar keinginanmu, tapi juga harapan orang-orang yang ada didekatmu. Bukan sekedar bahagiamu, tapi juga senyum bangga orang lain. Bukan sekedar lukamu tapi juga kecewa banyak orang. Semuanya, hingga dadamu kadangkala begitu menyesakkan, hatimu terasa begitu terhimpit. Lebih dari apa yang dulu kau rasakan saat dengan terpaksa kau langkahkan kaki menuju gerbang sekolah yang sama sekali tak pernah nangkring dalam otakmu. Lebih dari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dewasa adalah saat dimana kau mampu memberikan sesuatu untuk orang lain. Dewasa adalah waktu ketika kau mampu memahami bahwa hidup tidak terpusat pada hatimu, tapi kau adalah bagian kecil dari kehidupan itu sendiri. Saat itu pula dimana kau akan menilai pantas atau tidaknya Tuhan memberikanmu kehidupan. Aku punya kesimpulan baru tentang dewasa. Dewasa adalah tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 23 Februari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8383546889274707203?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8383546889274707203/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8383546889274707203' title='32 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8383546889274707203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8383546889274707203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/02/dewasa.html' title='Dewasa...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>32</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4479705223756967550</id><published>2008-02-28T11:37:00.000+07:00</published><updated>2008-02-28T11:38:49.511+07:00</updated><title type='text'>Aku, Minggu dan Kajian itu.....</title><content type='html'>Minggu, 17 Februari 2008 kemarin, aku mengikuti sebuah kajian keislaman. Lumayan buat nambah ilmu yang memang tak seberapa ini. Aku diajak oleh Ambar, temanku. Awalnya jadwal kajian pukul 10.00 WIB, tetapi kemudian Ambar mengirimiku sebuah SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ass ukh dh bngon blm ? O ya!hr ni kajiany g jd jm 10,tp jm 13.ntr ambr jemput jm12.15.lg ngapa?joging yo!biar sehat.” 07: 05: 24 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum agak lega. Lumayan masih ada waktu beberapa jam untuk membereskan semua pekerjaan rumah. Ada cucian yang masih menumpuk, kamar yang seperti kapal Titanic di saat-saat terakhirnya dan buku-bukuku yang tak pernah diam manis di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan ke ruang tengah, melongok di depan TV sebentar melihat acara yang menjadi favorit seumur hidupku, aneka kartun. Detective Conan belum dimulai, tapi sepertinya hari ini aku harus melupakan kencanku dengan detektive imut itu, yah untuk hari ini aku ikhlas dia ditemani Ran Maori saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ti, kalo kerje tuh cepat sikit, katenye mok pegi. Nyuci belom, makan belom. Cepat sikit kerje tuh, depan tepi pulak die” Suara ibuku terdengar merdu ditelinga, namun cukup membuatku terkesiap dan pasrah melangkah ke dapur membereskan meja makan, lalu mencuci pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira pukul 11.00 pekerjaanku selesai. Waktunya untuk makan, mandi, sholat dan lain sebagainya sebelum dijemput Ambar. Sip, jam 12.10 selesai semuanya. 5.....10.....15 menit.... Ya ampun kemana si Ambar ? Aku manyun di ruang tengah menunggu kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 13.10 baru kudengar suara motornya di depan rumahku. Yup, tanpa banyak bicara kami pergi membelah kota panas dan juga diwaktu yang panas ini. Sekolah IBM tujuan kami, karena di mushola sekolah itulah tempat kajian yang akan kami hadiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba didepan mushola itu, kami bersamaan dengan seorang wanita yang kemudian kutahu bahwa dialah yang memberikan materi dalam kajian tersebut. Kami masuk bersama. Didalam, 3 orang gadis telah menunggu sambil membaca Al Qur’an. Kami memberikan salam, lalu ritual kajian dimulai. Hafalan Qur’an 5 ayat setiap minggunya, aku bengong. ‘kan tidak menghafal, gimana harus nyetor ? ternyata aku juga harus menyetorkan hafalan pada pasanganku, yaitu Ambar. Untung saja dimulai dari surah paling akhir, An Naas. Aku menyelesaikan hafalanku, begitu juga yang lain. Lantas ada beberapa menit jedah untuk melanjutkan kegiatan berikutnya. Aku memanfaatkannya untuk memperhatikan tempat disekelilingku.&lt;br /&gt;Aku belum menanyakan nama mushollah itu, yang jelas dia terletak di sebelah kiri komplek sekolah IBM, didepan asrama siswa. Bangunannya tidak besar, bahkan terlihat sederhana. Dinding dalamnya dari kayu yang dipelitur, ada beberapa tempelan didinding itu, jadwal sholat, kaligrafi dan jam dinding. Karpetnya yang berwarna hijau sudah agak terkelupas dari lantai. Di sudut belakang ada sebuah lemari kecil tempat menyimpan Al Qur’an dan mukena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat pada masjid Al Badar, masjid sekolahku dulu. Betapa rindu memasuki dan sholat di dalamnya. Entah seperti apa keadaan dalamnya sekarang ? Beberapa tahun sudah aku tak pernah ke sana, hanya sering lewat didepannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunanku kemudian buyar, karena aku harus memperkenalkan diri, dari perkenalan itu pula akhirnya aku tahu ketiga gadis tadi bernama Tina, War dan Indah. Wanita yang memberi materi belum memperkenalkan diri, karena dia sedang menelpon temannya. Setelah menutup telponnya, dia mempernalkan diri. Namanya Zaleha, guru di sekolah ini, dan keempat temanku ini adalah lulusan IBM, artinya pernah diajar olehnya. Berarti aku sendiri yang kesasar......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita itu tampak lembut, dia kemudian menanyakan motivasiku ikut dalam kajian ini. Aku sudah menduga akan bertemu pertanyaan ini, sebuah pertanyaan yang paling aku tidak suka. Tapi pertanyaan yang seakan-akan wajib ditanyakan pada seorang anggota baru. Aku menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kami masuk pada sesi tafsir ayat dan materi. Materinya tentang mengenal Allah. Kami harus mencatat pendahuluan materi itu dengan huruf Arab. Waduh, tulisanku hancur sekali dan tak bisa cepat. Alhasil aku kerepotan, tapi untung saja masih bisa kuatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua selesai mencatat diapun memulai materi tadi, aku dan teman-teman lain mendengarkannya. Aktivitas itu selesai tepat saat adzan Ashar berkumandang. Kami sholat bersama-sama, Bu Zaleha yang menjadi imam. Usai sholat, kami bersalam-salaman. Meskipun kajian telah selesai, namun tak ada seorangpun dari kami yang meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian War bersuara. Dia mengeluarkan 3 pertanyaan yang dia dapatkan dari seorang temannya. Pertanyaan yang katanya harus dijawab dengan logika, tak boleh menggunakan Al Qur’an sebagai referensi. Aku bingung dengan pertanyaannya, apalagi dengan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saya dapat pertanyaan dari seorang teman, mengapa gereja lebih menonjol dari masjid, padahal’kan Allah Maha Kuasa. Kalau dia mau membuat semua orang menjadi muslim, pasti akan sebentar saja. Jawabannya ndak boleh pakai ayat dalam Al Qur’an “ kata War&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja lebih menonjol dari masjid ??? O ya ??? Aku pikir penilaian ini subjektif sekali. Gereja lebih menonjol dari masjid atau sebaliknya, semuanya tergantung pada siapa yang melihatnya, dimana dia melihatnya dan kapan dia melihatnya juga dari sudut pandang apa dia melihatnya. Lalu kenapa dikaitkan dengan kekuasaan Allah untuk mengubah semua umat menjadi Muslim ? Kenapa pula tidak boleh menggunakan Al Qur’an sebagai referensi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Terus jawabannya apa ?” tanya Bu Zaleha kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Nah itulah letak kekuasaan Allah, dia memberikan manusia akal untuk berpikir untuk memilih jalannya sendiri ...” jawab War lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Nah, hubungannye ape ?” tanya Bu Zaleha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu, kekuasaan Allah dengan akal itu supaya kite bisa memikirkannya” katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bengong, tak mengerti sama sekali, hubungannya dengan gereja yang katanya lebih menonjol gimana ? Sedangkan kata ‘menonjol’ sendiri belum dapat dibuktikan keabsahan penilaiannya. Otakku tak dapat menjangkau pikiran mereka, mungkin cara mereka berpikir dan menganalisa suatu pertanyaan terlalu tinggi, tidak hanya dari segi bahasa tapi juga sesuatu dibalik makna. Mungkin.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Handphone-ku berbunyi memecah kesunyian pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ti,u ad d rmh k?kwn kn aq undngn ti “ sender Dewi 16.43.41 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “ Maaf  Wi, kykx tak bs, yanti agk di sui jawi. Sory honey ” balasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedikit merasa bersalah menolak ajakannya. Sudah beberapa kali aku menolak permintaan gadis itu untuk pergi bersamanya, padahal dia baik sekali. Dewi adalah sepupuku, umurnya satu tahun diatasku. Dia gadis yang cantik, tinggi dan langsing, sangat ramah tapi juga peka terhadap perilaku dan sikap orang-orang kepadanya. Tapi setahuku, dia tidak terlalu sensitif dengan sikapku, karena dia tahu benar bahwa aku, sepupunya ini sulit dimengerti dan tidak peka dengan perasaan orang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 17.00 kami bubaran dan berniat pulang kerumah masing-masing. Satu per satu anggota kajian ini meninggalkan musholla. Tinggal aku dan Ambar yang terakhir berada di sini. Ambar memboncengku dengan motornya, hanya dua meter dari teras musholla dia berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kak, bannye bocor ke ?” tanyanya. Aku turun dan melihat ban motor. Benar, tak ada angin sama sekali di ban belakang motor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kayaknye pecah lah Mbar “ jawabku lemah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ha...........dorong lah kite nih” katanya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dimane ade bengkel ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Depan ade “ katanya merujuk pada gang tempat kami berdiri. Dia lalu memegang stang motor, sementara itu aku mendorong dari belakang. Kami melewati gang kecil yang jalannya di semen, tapi sudah pecah-pecah disana sini. Ambar lalu bercerita tentang masa-masa dia bersekolah di IBM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dulu Ambar pakai sepeda, kalau sepeda Ambar bocor atau kempes, Ambar doronglah, kadang gak Ambar tinggalkan kalo susah” katanya mengawali cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Pake sepeda, jaohlah ye ? Berape lamaklah Mbar ?” tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Dari jeruju ye.... tapi tadak gak jaoh, Ambar’kan suke nembos-nembos jalannye. 15 menet lah “ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Wah, berarti dari SMA memang pembalaplah ye...” kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iyelah, kite...... tapi paleng susah tuh kalau agik banjer, jeruju tuh suke banjer Kak. Ambar bincinglah sepatu Ambar. “ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Betol, Yanti waktu sekolah kalau ujan, yanti bincing sepatu Yanti. Sayang, sepatu mahal. Waktu kuliah jak, pernah Yanti bincing sepatu Yanti. Jadi baleknye tuh, kan nebeng Nisa, Yanti tak pake sepatu, pake kaos kaki jak. Nisa jadi ngikot hehehehe. orang liat, mane duli..... kalo kaos kaki kan tak mahal” kataku lagi. Kami tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kite same-same pelit ye.......” ujar Ambar sambil tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ye......Ambar tuh yang pelit, Yanti tadak, Yanti tuh hemat.....hehehehe” jawabku menggodanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Hm....dasar, tinju nanti.....” katanya kesal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa kami sudah sampai di ujung gang, tepat di Jl. Rais A Rahman. Bengkel langganan Ambar ternyata tutup. Dia memintaku menunggui motornya sebentar, sementara dia melihat-lihat lokasi bengkel yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Situ’ ade bengkel Kak” katanya menunjuk deretan ruko di sebelah kiri kami. Tak jauh, mungkin sekitar 150 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sip...” kataku seraya mendorong motornya. Kali ini kami berganti posisi, aku yang pegang stang, dan dia mendorong dari belakang. Kami sampai ditempat tambal ban, kami meperhatikan bagaimana ban motor itu dipompa lalu direndam di dalam air. Akhirnya kami bosan, dan memilih meninggalkan tempat itu, kami mencari minuman. Tenggorokan rasanya kering sekali, hari ini aku tak membawa botol minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sekalian cari ceres, kawan Ambar titip “ ujar Ambar sambil berjalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Susah nih bejalan same emak-emak “ kataku lagi-lagi menggodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tinju nanti nih....” katanya bernada manja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masuk ke sebuah warung, dan menemukan ceres di sana. Sayang tak sesuai dengan pesanan temannya. Kami lalu keluar dan berjalan lagi, ada sebuah warung es kecil di tepi jalan, kami memutuskan untuk membelinya. Sesuai perjanjian, tidak beli minuman yang mahal, sedang kanker stadium IV (kantong kering sekali). Setelah 5 menit memilih minuman, kami akhirnya sepakat membeli es teh sisri gula batu. Harganya Rp 600 perkantong, jadilah Rp 1200 untuk semuanya. Kemudian Ambar menelpon untuk meminta persetujuan membeli ceres yang tadi kami lihat di warung pertama, temannya setuju. Aku dan Ambar kembali lagi ke warung tersebut untuk sekantong ceres. Setelah itu lalu ke tempat tambal ban, mengambil motor dan bergegas pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kami bercerita tentang banyak hal. Ambar bercerita tentang Ayah~Y nya yang selalu mendukung dan memberinya semangat. Termasuk memberikannya banyak sekali kesempatan untuk lebih maju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Die perhatian tuh same Ambar, die selalu nanyakan tugas-tugas Ambar. Pokoknye perhatianlah same Ambar. Makenye ade ape-ape Ambar pasti cerite same die. Kakak ngiri tuh..... “ gantian dia yang menggodaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Siape yang ngiri ....... ? Iyelah, die ayah Ambar, ambeklah sana. Yanti cari Papah baru jak lah. Nanti Yanti bikin pengumuman ‘Siape yang mok jadi Papah Yanti yang baru?’ Yanti tempel di mading. Siape gak tau, Pak Hermansyah maok jadi Papah Yanti” jawabku asal. Ambar tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ mane ade yang maok.....” ujarnya penuh kemenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kalo tak ade yang maok, udahlah, tak jadi pensiunlah Papah Yanti tuh, kite bagi dua’ jak lah ye hehehehehe “. Lagi-lagi Ambar tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan kami memang aneh, kami sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah. Seringkali kalau berebut sesuatu, tak ada seorangpun diantara kami yang mengalah, hingga akhirnya kami letih sendiri. Tapi aneh, semua itu membuat kami nyaman berada di dekat satu sama lain, mungkin karena beberapa persamaan yang mendasari hidup kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bercerita tentang beberapa mahasiswa yang nilainya banyak tak keluar, ternyata Ambar juga punya stok nama yang tak sedikit untuk masalah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Heran ye, kuliah bah susah. Duet tinggal mintak, komputer ade, motor ade ape agiklah?” katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ He’eh. Kite jak yang banting-bantingan carek duet maseh nak kuliah. Yanti malah pengen sekolah terus, tak taulah sampai S berape, pokoknye sampai capeklah” sambungku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Samelah Kak, Ambar pon gituk gak. Tak kepikeran yang laen. Ambar nak sekolah nak kerje, banyaklah pokoknye. Banyak sekali cite-cite Ambar nih”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sama dong, Yanti tuh banyangkan, nantik sarjana, trus dapat tugas belajar, bea siswa ke Perancis, waduh....... Sorbonne........” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kalau Ambar Harvard, ah.......ketemu same Bill Kovach......”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kemudian larut dengan impian masing-masing. Dengan impian yang tinggi sekali seperti matahari yang sedang memerah di ufuk barat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Eh, nanti kite ketemuan ye, sekali-sekali Ambar yang ke Perancis, nantik Yanti yang ke Amerika “ ujarku agak gila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Oh... tenang Kak, kite ketemualah pokoknye.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Amin.....” ujar kami bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa aku dan Ambar telah sampai di depan rumahku, setelah mengucapkan salam perpisahan dan sedikit cekikikan, kami berpisah. Dia harus melanjutkan perjalanannya di sore yang hangat ini. Aku masuk ke dalam, inilah hariku, hari ini. Thanks for Today, Ya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Februari 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4479705223756967550?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4479705223756967550/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4479705223756967550' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4479705223756967550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4479705223756967550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/02/aku-minggu-dan-kajian-itu.html' title='Aku, Minggu dan Kajian itu.....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1133305277997493344</id><published>2008-02-28T11:14:00.000+07:00</published><updated>2008-02-28T11:24:47.344+07:00</updated><title type='text'>Saturday's Night</title><content type='html'>Aku baru saja selesai mandi, dan akan menggoreng singkong ketika Hpku berbunyi. Jreng....pesan dari INDOSAT layanan Telpon Aku (TA) dari seorang teman. Dia meminta aku menghubunginya. Wah tumben sekali, biasanya aku yang selalu kirim TA, dan dia selalu balik menelponku. Ada apa gerangan ? Pasti ada sesuatu yang penting dan pulsanya benar-benar kosong, pikirku dalam hati.&lt;br /&gt;Dan benar, dia sedang kesulitan. Dia memintaku menghubungi teman yang lain untuk segera menjemputnya di asrama haji. Aku memenuhi permintaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bg kiki, bg mul mintak jemput d asrama haji skrg. Cptn katenye. Ok.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMS yang sama kukirimkan ke dua nomor, Simpati dan IM3, sebab Kiki, temanku yang lain ini memiliki dua kartu. Sempat pending hingga 1 jam kemudian. Lalu SMS ke Simpati terkirim pukul 21.02.00 sedangkan IM3 gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, aku lalu melanjutkan pekerjaanku, menggoreng singkong, kami menyebutnya ubi. Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, tentu saja ubi menjadi salah satu makanan favoritku, melebihi keju atau burger yang aku tak tahu mengapa banyak orang bilang enak, padahal di lidahku terasa aneh. Hm... mungkin saja memang lidahku yang salah, tapi mungkin juga lidah mereka yang tak jujur karena keju atau burger memiliki prestise yang lebih tinggi, terkontaminasi-lah selera makannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu menghidangkan ubi gorengku ke dalam piring putih dengan motif buah-buahan berwarna hijau dan membuat teh di gelas yang besar. Lumayan cantik juga penyajian si ubi goreng, pikirku, kemudian aku membawanya ke ruang tengah untuk dicicipi anggota keluargaku yang lain. Ada nenek dan mak yang sedang menonton sinetron di RCTI, sedangkan adikku sedang having fun bersama temannya di teras rumah. Bapak sedang pergi, biasanya ngobrol bersama teman-temannya di depan rumah atau di masjid ujung komplek. Satu fungsi baru masjid, tempat kongkow bapak-bapak komplek.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk sambil menyandarkan tubuhku di dinding. Map berisi kliping tulisanku yang pernah dimuat di media massa aku singkirkan. Tak asik kalau di klipingku kemudian membekas minyak ubi. Aku tengah menikmati makanan favoritku itu ketika Hpku lagi-lagi berbunyi. Aku segera beranjak dan menghampiri Hp biru yang tergeletak cantik diatas kursi. Aku pikir SMS dari Bang Kiki, Nisa, Ambar, atau Bang Mul, tapi ternyata salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ti, kamu gilee abis.” Sender Papah. 21:27:11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha......??? aku terbengong sambil melongo. Kalau soal gila, ya aku tahu sekali aku memang tak waras, bahkan teman-temanku setuju bahwa aku emang gila. But, Papah bilang aku gila ? Hehehe...., ada apa nian ? Aku tertawa sendiri sambil memencet keypad HPku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kok gile, pak ?” delivered to Papah 21.29.28&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Sy br baca blogmu. Wow, terpukau. Hebat. Caramu menulis, mendeskripsi, luar biasa. Papah kagum abis.” Sender Papah 21:31:41&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih, aku kaget, bukan karena dipuji. Waduh gawat neh, berarti Papah baca semua dunk. Mana banyak yang nyeleneh, ada pula tentang dia, teman-teman dan semuanya. Bahkan ada tulisan yang kubuat saat kesal sekali padanya. Aku menaikkan kakiku ke kursi hijau di ruang tamu, Hpku masih diisi. Ubi gorengku ketinggalan di ruang tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu Cuma ctatan hrian,agar tak lupa. Jgn diolok pa,byk yg nyeleneh jg tuh,ape agk watu nulisx agk sangsot. Hehe. Makasi ya,blog pa jg tmpiln bru kan?keren abis.” Delivered to Papah 21.59.11&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merujuk pada tampilan blognya yang baru diedit, dan tampak banyak sekali penambahan-penambahan. Aku membacanya kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak beberapa lama ku dengar tetangga-tetanggaku agak ribut dan keluar rumah. Aku memperhatikan lewat jendela. Mak lewat sambil memberikan sepiring ubi gorengku tadi, tepat pada saat itu Hpku berbunyi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau sangsot nulisnya segitu, ape gek kalo normal ya. Ya mau buat jg cttn ttg yanti malam ini. Mg2 bsok jadi.” Sender Papah  22.01.59&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar rumah setelah membaca pesan singkat itu. Di belakang rumah tetanggaku tampak cahaya merah, sementara itu aku mendengar raungan suara sirine mobil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ade kebakaran.... “ ujar salah seorang tetanggaku keliatan agak panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi jaoh, mungkin di Ampera” kata yang lain menyambar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tadak, bukan di Ampera, kayaknya lebeh dekatlah...” sambung yang lain lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tengok jak yok...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saye ambek motor lok, pegi kite ramai-ramai...” kata mereka kemudian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melihat beberapa orang tetanggaku pergi mengendarai motor untuk melihat lokasi kejadian. Aku tersenyum senang, artinya aku juga akan mendapatkan informasi tentang kebakaran itu, apalagi bapakku juga ikut. Sekitar beberapa menit kemudian listrik  padam, mungkin ada hubungannya dengan peristiwa kebakaran itu. Tak lama kudengar suara tangis bocah laki-laki yang histeris memanggil orang tuanya. Ternyata suara itu berasal dari rumah tetangga depan rumahku. Vino, anak laki-laki yang baru berumur 5 tahun itu, terbangun dari tidurnya dan ketakutan karena keadaan rumah yang gelap gulita sementara dia tidak mendapati ibu dan ayah di dekatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tentu saja demikian, ayahnya sedang pergi melihat lokasi kebakaran sedang ibunya keluar rumah melihat cahaya merah itu bersama tetangga-tetangga lainnya. Setelah mendengar suara Vino, barulah ibu Vino teringat bahwa dia mengingggalkan anak semata wayangnya di rumah. Tuhan....ibu-ibu zaman sekarang.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama terdengar lagi suara teriakan, kali ini suara ibunya Vino. Dia tidak berani masuk ke dalam, karena takut gelap. Aku tertawa meskipun tidak meledak. Ibu sama anak kok teriak-teriakan...hehehehe... Akhirnya tetangga-tetangga menemaninya masuk, sementara Vino telah sampai di ruang tamu, berjalan sambil menangis. Aku teringat pada Hpku, ups...SMSnya belum dibalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amin smg cpt slsai, jd penasaran pengn tau kyk apa yanti dlm pikirn bpk. Tp yg jujur lo. O ya d dkt rmh Ti kyknya ada kebakaran neh,jl danau sentarum.” Delivered to Papah 22.13.23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengirimkan pesan itu, aku baru sadar, ha...???? membuat catatan tentang aku ?? hihihi.........kayak apa ya aku dalam pikirannya ? dalam pikiran orang yang pernah sangat ditakuti teman-temanku ini, tapi orang yang juga mereka sayangi saat ini. Aku jadi ingat pertama kali mendengar namanya sebagai dosen PA-ku. Amalia Irfani, salah satu staf jurusan prodi KPI bilang, dia adalah doktor pertama di STAIN Pontianak, pinter dan disiplin. Setelah itu kucari informasi tentang dia lewat kakak-kakak tingkatku. Sebuah pernyataan yang cukup membuatku terperangah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sangat ketat sekali, sangar, dan tidak mengenal kompromi dengan kata lain dosen killer, jangan buat masalah same pak Yus” kata mereka. Kemudian mereka bertanya kenapa aku menanyakan tentang dosen satu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bapak yang kate kakak sangar tuh, dosen PA Yanti ” jawabku datar, tapi terus terang aku penasaran sekali. Seperti apa orang ini. Iseng-iseng aku bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Cakep ndak ? ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakak tingkat yang kutanyai malah menimpukku dengan buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Woi...udah punye istri “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ye....kalo cakep, biar punye istri ataupun sangar ‘kan tetap bikin betah “ jawabku sekenanya seraya pergi sambil tertawa. Mereka yang kutinggal hanya menyumpahiku sambil ikutan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Gilenye anak baru sekok nih “ mungkin begitu pikir mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi terus terang dalam pikiranku, aku punya gambar tersendiri untuk orang satu ini, meskipun aku belum pernah melihatnya. Pasti badannya besar, hitam, agak ubanan dan mimik wajahnya keras. Lalu dia berjenggot, tidak berkumis, selalu pakai peci kemana-mana dengan baju koko dan celana panjang yang digulung sampai mata kaki, dan tak pernah tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku punya alasan kenapa menggambarkannya seperti itu. Dia adalah doktor pertama di STAIN artinya dia pasti sudah tua. Disiplin dan tidak mengenal kompromi, artinya dia konvensional dan agak kolot, tentu berdampak pada caranya berpakaian. Dan Killer....??? Wah pasti ini didukung oleh penampilan fisiknya. Ya Tuhan selamatkan aku..........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertemuan pertama akan segera tiba, dia mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia untuk semester 1. Waktu kuliahnya hari Kamis pukul 13.00, seharusnya kami bertemu dua minggu yang lalu, tapi dia tidak masuk. Kami, anak-anak baru yang telah mendengar riwayatnya, menunggu di depan kelas dengan pikiran dan gambaran masing-masing. Ada yang menyandarkan tubuhnya di dinding, duduk di kursi, sementara aku sendiri cekikikan dengan teman-teman yang ada didekatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang lelaki lewat, dia menggunakan kemeja berwarna biru, tampaknya dari bahan jeans atau bermotif jeans aku juga tak tahu, tapi seperti itulah. Celana panjang biru tua, dan menyandang ransel merah besar. Aku tak terlalu respek ketika dia masuk ke kelas. Tak lama di keluar lagi, menoleh ke arah kami yang bergerombol tak beraturan seraya bertanya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yang kuliah Bahasa Indonesia, mana ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bengong. Mungkin dia mengerti, lalu berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Yang ikut kuliah saya, bahasa Indonesia masuk ke kelas “ katanya seraya masuk lagi ke dalam kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Tuhan, dia dosen PA ku, masa’sih....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua masuk, duduk dan diam menatapnya. Dia memperkenalkan diri. Benar. Dia dosen PA-ku. Ha.......????? Kok tidak seperti yang kupikirkan ? Dia putih, bahkan untuk ukuran perempuan pun dia termasuk kategori memiliki kulit yang putih. Badannya sedang, dan rambutnya tidak ubanan. Tadi aku malah sempat berpikir kalau dia bukan dosen. Ya ampun.......orang ini yang katanya killer ??????&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe.....aku tersenyum lagi mengingat pertemuan pertamaku dengan orang yang kelak ku panggil Papah. Di lain waktu, dia pernah membuat aku bolak balik beberapa kali ke prodi dan jurusan lalu ke ruangannya hanya untuk meminta tanda tangannya di buku putihku juga untuk pertama kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Kenapa saya harus tanda tangan ? Memangnya saya siapa ?” katanya cuek menanggapi permintaanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bapak dosen PA-saye Pak, kate prodi harus ade tanda tangan dosen PA di buku ini, baru dikumpulkan” jawabku menunjukkan buku putih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Siapa yang bilang saya dosen PA-mu ?” tanyanya lagi. Duh nih orang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Bu Amalia Irfani yang bilang, Bapak,pak Yusriadi kan ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saya tidak dikasi tau kalau saya jadi dosen penasehat akademik kamu. Kalau saya memang PA kamu, seharusnya ada surat pemberitahuan dari prodi. Sampai sekarang saya belum menerimanya. Jadi saya tak bisa tanda tangan” jawabnya lagi. Ya Tuhan, nih orang, bahkan dia tidak menanyakan namaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Saya akan tanda tangan, kalau ada surat keputusannya, jadi kamu tanya dulu ke prodi dan minta suratnya “ jawabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya Pak, permisi “ kataku pasrah sambil berlalu. Kesalnya......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di prodi aku menanyakan surat itu. Kata ketua prodi, Pak Bambang, salinannya ada di jurusan. Dia turun tangan langsung mencarinya, tapi tak ditemukan. Waktu telah menunjukkan pukul satu siang saat itu. Aku tak tega melihat Pak Bambang mencarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Udahlah Pak, besok jak “ kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi surat itu ada, Har, surat penunjukkan dosen PA”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya, udah Pak, nanti saye bilang jak suratnye ade, agik dicarikan “ jawabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya boleh “ kata pak Bambang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali ke ruangan dosen PA-ku. Tapi hanya berdiri di depan pintu. Ah...sudahlah besok saja, kataku dalam hati. Aku berjalan melewati ruang Prodi, dan tiba-tiba kudengar suara Pak Bambang memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Har, udah ketemu suratnya “ katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iye ke Pak ? Mane ?” kataku sambil menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu memberikan dua helai kertas bertuliskan banyak sekali huruf yang distaples menjadi satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Tapi tak bisa dikasi untuk Pak Yus, itu arsip jurusan. Jadi kamu fotokopi, aslinya kembalikan ke saya” katanya mengingatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Iya Pak” kataku. Aku segera bergegas ke Kopma, memfotokopinya menjadi dua rangkap dan menyimpannya. Besok akan ku serahkan pada dosen PA-ku itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, aku kembali meminta tanda tangan untuk buku putihku, kali ini berbekal fotokopi surat keputusan itu. Meskipun demikian, dia tak lantas menandatanganinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Namamu mana ?” katanya seraya memeriksa fotokopian itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Itu, Pak” kataku seraya menunjuk tulisan namaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Oh “ katanya. Dia lalu melipat dan mengantongi surat tersebut, baru kemudian membubuhkan tandatangan setelah lebih dulu memberikanku beberapa pertanyaan menyangkut mata kuliah yang kuambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...... aku rasanya ingin tertawa mengingat kejadian itu, sebuah kenangan lama tentang dosen ajaib yang kemudian kembali mengirimiku sebuah SMS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok. Ne dah mulai. Judulnya Ti.” Sender Papah  22.15.23&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, saat aku bertemu pertama kali dengannya aku tak pernah berpikir bahwa suatu saat dia akan menjadi temanku, seorang teman yang sangat baik.Seorang teman yang mendukung dan menyemangatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Makasih ya pa, selalu kasi Ti smngt, ksmpatan, dukungn, jg selalu m’hargai smua yg Ti lakukn. Makasi udh jd dosen skligus teman yg baik bwt Ti.” Delivered to Papah 22.24.32 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bayangkan dia mengerutkan keningnya dan kemudian tersenyum sambil geleng-geleng kepala membaca SMS ku itu, dan dapat kupastikan dia takkan menjawab lagi. Dia anti disanjung. Mataku mulai mengantuk dan kemudian listrik kembali menyala. Beberapa tetangga yang tadi pergi ke lokasi kebakaran telah kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ada dua orang yang melompat dari lantai 3 “ kata mereka. Ternyata yang terbakar adalah kos di depan STKIP Jl. Danau Sentarum Gg. Ilham. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tak ada korban, doaku. Setelah sedikit bertanya tentang kejadian itu, aku kembali melanjutkan aktivitasku mengkliping koran. Hingga pukul 23.35 aku baru memutuskan untuk tidur. 25 menit lagi hari akan segera berganti, dan inilah Saturday nightku minggu ini.....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1133305277997493344?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1133305277997493344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1133305277997493344' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1133305277997493344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1133305277997493344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/02/saturdays-night.html' title='Saturday&apos;s Night'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8666825614476083091</id><published>2008-01-31T19:05:00.000+07:00</published><updated>2008-01-31T19:23:07.647+07:00</updated><title type='text'>Tuhan....</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Malam membuatku diam&lt;br /&gt;Dia membuatku rindu&lt;br /&gt;Getarnya membuatku terpaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa dengan hatiku ?&lt;br /&gt;Semuanya terasa begitu sendu&lt;br /&gt;Aku terus membeku&lt;br /&gt;Dalam lorong-lorong yang tak kukenal &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Jamah jiwaku dengan ujung jemariMu&lt;br /&gt;Biar aku tak sendiri&lt;br /&gt;Aku tak mau sunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hancurkan seluruh ragaku&lt;br /&gt;Luluh lantakkan kalbuku&lt;br /&gt;Tapi sisakan aku setetes cintaMu&lt;br /&gt;Dan biarkan aku tergila-gila dalam pelukMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan…&lt;br /&gt;Biarkan saja cahaya itu padam&lt;br /&gt;Aku tak ingin terang&lt;br /&gt;Karena Kau membuatku buta pada dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya dapat memelukMu&lt;br /&gt;mengenalMu dalam kebodohanku&lt;br /&gt;Maka biar saja aku tercampak&lt;br /&gt;Karena aku akan kembali dalam kasihMu&lt;br /&gt;Aku hanya ingin menyentuhMu, Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saat seluruh jiwaku dipenuhi seluruh kerinduan padaMu, Robb&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8666825614476083091?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8666825614476083091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8666825614476083091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8666825614476083091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8666825614476083091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/tuhan.html' title='Tuhan....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7129116860831880244</id><published>2008-01-31T17:51:00.000+07:00</published><updated>2008-01-31T18:07:31.832+07:00</updated><title type='text'>Warnet Ter Cinta (WTC) akan pindah......</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R6GqkD706rI/AAAAAAAAAEs/pkVn8UKEk0w/s1600-h/gassprc.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161594184451549874" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 150px; CURSOR: hand; HEIGHT: 687px" height="344" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R6GqkD706rI/AAAAAAAAAEs/pkVn8UKEk0w/s200/gassprc.jpg" width="150" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa hari lagi WTC akan pindah, sedih juga rasanya meninggalkan tempat ini. Memang rumah yang kami tempat saat ini gak ada bagus-bagusnya. Atap bocor, lantai lepas-lepas, dinding terkupas. Belom lagi bagian-bagian lain dan ditambah dengan kebiasaan malasnya saudara-saudaraku yang semuanya laki-laki, makin tambah ancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yah, beberapa tahun terakhir, inilah rumahku, tempat melepas lelah setelah bergelut dengan aktivitas kampus. Di sini juga tempatku menyelesaikan semua tugas, juga dari tempat ini banyak kisah hidupku dimulai. Tempat ini memberiku banyak teman, sahabat, bahkan saudara. Kenangan bahagia, tawa, sedih bahkan kesal terpahat menjadi satu dalam tiap lekuknya. Yah, inilah rumahku, setidaknya beberapa tahun terakhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih rasanya, ketika kulihat calon pembeli tempat ini berkemas-kemas membersihkan karya-karya 'kejorokan' kami, agar kelak mereka nyaman menempatinya. Saat salah satu pohon kebanggaan (baca : Pohon cermai yang merana) kami ditebang. Ah....semuanya akan menjadi kenangan, sebentar lagi.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, sebentar lagi rumah ini akan tenggelam dalam kenangan. Menjadi sebuah harta karun abstrak yang bertahta dalam ingatan. Keindahan perjalanan waktu di tempat ini yang membuatnya begitu berharga. Bagaimanapun, kelak aku akan tetap menoleh ketempat ini jika melewatinya, mesti yang terpampang bukan lagi papan nama WTC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang tercipta tidak untuk dilupakan, dan mungkin termasuk tempat ini. Tanah ini mungkin suatu hari akan bercerita bahwa pernah ada sekumpulan manusia yang pernah hidup disini. Sebuah kehidupan yang penuh dengan dinamikanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya pasti akan sangat berharga dan lag-lagi waktulah yang akan bicara....................................&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7129116860831880244?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7129116860831880244/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7129116860831880244' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7129116860831880244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7129116860831880244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/warnet-ter-cinta-wtc-akan-pindah.html' title='Warnet Ter Cinta (WTC) akan pindah......'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R6GqkD706rI/AAAAAAAAAEs/pkVn8UKEk0w/s72-c/gassprc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-376217973827687145</id><published>2008-01-26T17:41:00.000+07:00</published><updated>2008-01-26T18:17:20.732+07:00</updated><title type='text'>Tentang Rindu</title><content type='html'>&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5sQUj706qI/AAAAAAAAAEk/Fx1yAqc-yio/s1600-h/wind-tree.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159735743512636066" style="FLOAT: left; MARGIN: 10px 10px 10px 0px; WIDTH: 158px; CURSOR: hand; HEIGHT: 525px" height="336" alt="tentang rindu" src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5sQUj706qI/AAAAAAAAAEk/Fx1yAqc-yio/s200/wind-tree.jpg" width="133" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5sQUj706qI/AAAAAAAAAEk/Fx1yAqc-yio/s1600-h/wind-tree.jpg"&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;Biar malam ini aku terluka&lt;br /&gt;biar tersayat atau tercincang sekalipun&lt;br /&gt;Jika itu dapat membuatku terus melihat senyummu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih tak berhasil menghapus wajahmu di mataku&lt;br /&gt;Biarkan saja bulan marah atau bintang meradang&lt;br /&gt;Juga jangan halangi matahari untuk murka&lt;br /&gt;Aku sudah terlalu beku dalam waktu yang diam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pucuk-pucuk mahoni yang melayang pasrah&lt;br /&gt;menyusuri lorong musim yang bisu&lt;br /&gt;Biar saja semua dipangkas alunan irama untuk nada kesunyian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Nada-nada itu brengsek&lt;br /&gt;Dia tak mampu mengusik suaramu yang berdentang di kepalaku&lt;br /&gt;Bagai lonceng yang memanggil hatiku untuk ada di dekatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga poster-poster bodoh yang membahana di seantero kota&lt;br /&gt;Dan, apa itu senyum agung Monalisa ?&lt;br /&gt;Nyatanya temaram lampu dan taman-taman yang redup&lt;br /&gt;tak juga menghapus wajahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aroma wangi sedap malam atau keangkuhan sekuntum mawar merah&lt;br /&gt;Semuanya tak dapat menguraikan kenanganku akanmu.&lt;br /&gt;Kenapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menemukan jawabannya&lt;br /&gt;Pada akhirnya aku berdiri, sendiri dan terpaku&lt;br /&gt;Aku benci dan sangat benci ketika harus menyerah&lt;br /&gt;Bersimpu didepan angin malam yang menyesakkan&lt;br /&gt;Seraya mengakui bahwa aku begitu merindukanmu&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-376217973827687145?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/376217973827687145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=376217973827687145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/376217973827687145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/376217973827687145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/tentang-rindu.html' title='Tentang Rindu'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5sQUj706qI/AAAAAAAAAEk/Fx1yAqc-yio/s72-c/wind-tree.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-6837082705795417135</id><published>2008-01-25T12:29:00.000+07:00</published><updated>2008-01-25T12:41:06.267+07:00</updated><title type='text'>Buku Mahal......Gilaaa...............</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5l1zz706oI/AAAAAAAAAEU/QkqLMRFaspo/s1600-h/books1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5159284381104532098" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5l1zz706oI/AAAAAAAAAEU/QkqLMRFaspo/s200/books1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Malam ini aku pergi ke toko buku, dua buah toko buku yang cukup besar di k&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5l1Lj706nI/AAAAAAAAAEM/H7_hajh6GTc/s1600-h/books1.jpg"&gt;&lt;/a&gt;otaku. Aku tidak berniat untuk membeli buku, uang sakuku menipis, bahkan sudah sangat tipis. Aku hanya menemani seorang teman, dan tentu sambil mencari kesempatan untuk melahap buku, tanpa harus membelinya. Di toko buku pertama, aku sempat membaca buku berjudul “Off the Record”, sebuah buku yang menceritakan kejadian-kejadian seputar liputan dan meja redaksi wartawan media cetak. Kejadian yang tak pernah diberitakan, karena memang bukan untuk diberitakan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selesai dengan toko buku pertama, aku dan temanku beralih ke toko buku kedua. Jaraknya lumayan, 10 menit dengan mengendarai motor berkecepatan lambat. Kami memasuki toko buku di lantai yang terletak dilantai 1 itu, menggunakan eskalator dari lantai dasar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mataku lantas berhenti di barisan depan bertuliskan “ Buku Terlaris”. Ku ambil sebuah novel karya Habiburrahman El-Syirazy berjudul ‘Ketika Cinta Bertasbih 2’. “Rp. 61.000” tertulis dibelakang buku itu. Tuhan, aku terkesiap, betapa mahalnya buku di negeri ini, dengan tingkat ekonomi masyarakat yang seperti ini. Aku teringat bahwa di dalam tasku yang kutitipkan di depan toko ini juga ada buku yang sama. Aku telah habis membacanya tadi siang. Sayangnya, buku itu bukan milikku, aku meminjamnya kemarin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aku lalu berpikir tentang mahasiswa-mahasiswa sepertiku, dan mereka yang tingkat ekonominya mungkin lebih tinggi sedikit atau malah yang lebih mengenaskan. Bagaimana kami harus membeli buku, sedangkan untuk biaya kuliah saja, harus banting-bantingan. Bagaimana mungkin kami dapat membeli novel dan buku-buku lainnya, semntara untuk membeli buku utama penunjang mata kuliah saja udah bikun sesak nafas. Ah ... aku jadi merindukan para pelaku pembajakan, mereka yang membajak buku dengan kualitas kertas yang lebih rendah dan tentunya harga yang sangat miring. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Bukannya aku tidak tidak mengharagai hak cipta, ide itu memang mahal. Tapi negeri ini butuh pembaharuan, semua itu hanya akan tercipta jika para pemudanya memiliki kualitas akhlaq, ilmu dan pengetahuan yang memadai. Lantas, ketika buku-buku begitu mahal, bagaimana kami dapat menjadi pemuda yang berkualitas ? Jujur, jika ada pembajak buku, aku akan memilih terbitan mereka daripada penerbit buku resminya. Bahkan sebagian besar orangpun mungkin akan melakukan hal yang sama. Buku resmi terlalu mahal untukku. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Meskipun tentunya aku masih punya banyak cara, diantaranya pinjam, misalnya. Harus aku akui bahwa para peberbit alternatif (aku suka menyebutnya begitu, daripada pembajak) merupakan salah satu unsur yang mencerdaskan bangsa ini. Berapa banyak para sarjana dan ilmuwan yang terlahir dari buku bajakan. Itu memang pencurian terhadap hak cipta, tapi kami-kami yang miskin juga ingin pintar. Kalau aku jadi penulis suatu saat kelak (Amin Ya Allah....), aku takkan marah jika banyak penerbit alternatif membajak bukuku, kalau memang terbukti sangat mahal untuk masyarakat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Silahkan saja, yang penting kalian pintar dan cerdas, aku halalkan ideku untuk kemajuan bangsa ini. Asal jujur saja mengakui ideku, kalau tidak, namanya plagiat murni. Aku mengutuk plagiat seperti itu. Ideku adalah milikku, tapi silahkan jika ingin memperbanyak bukuku.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Toh, aku juga sering melakukan hal yang sama. Aku tahu rasanya, memasuki toko buku, melihat buku-buku di rak, lantas hanya tersenyum kecut melihat harganya. Sumpah, rasanya aku ingin mengutuk angka-angka itu. Aku benar-benar dendam pada hal ini. Tunggulah suatu haru, semoga Tuhan mendengar do’aku. Aku akan punya perpustakaan yang super besar untuk orang-orang sepertiku, haus ilmu tapi kantong kerucut. Tunggulah akan kubalas toko-toko itu.&lt;br /&gt;Aku mengatakan hal ini pada temanku. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mereka berkata &lt;em&gt;“ pendidikan tuh mahal Yan, ilmu juga mahal, wajar jak kalau buku juga mahal”&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Aku langsung nyeletuk &lt;em&gt;“ Kalo gitu memang wajar kalau negeri ini takkan maju-maju sampai hari kiamat”&lt;/em&gt; ujarku kesal&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;“Jangan salahkan kalau negeri ini selalu tertinggal, yang punye ilmu pelittt....”&lt;/em&gt; lanjutku&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teman-temanku hanya tertawa.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Ya udah, kalau maok murah, bikin sendiri” &lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Amin....suatu hari”&lt;/em&gt; jawabku. &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-6837082705795417135?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/6837082705795417135/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=6837082705795417135' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6837082705795417135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6837082705795417135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/buku-mahalgilaaa.html' title='Buku Mahal......Gilaaa...............'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R5l1zz706oI/AAAAAAAAAEU/QkqLMRFaspo/s72-c/books1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2377744077524235941</id><published>2008-01-17T12:17:00.000+07:00</published><updated>2008-01-17T12:20:57.093+07:00</updated><title type='text'>Laskar Bintang...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R47leMiT9wI/AAAAAAAAAEE/4adMbk1iizM/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5156310930309773058" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R47leMiT9wI/AAAAAAAAAEE/4adMbk1iizM/s200/images.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Beberapa hari ini aku bahagia sekali. Ada beberapa informasi yang kudapat&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R47lT8iT9vI/AAAAAAAAAD8/rKQQMKuumaY/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;/a&gt;kan, lalu kuteruskan pada teman-temanku di kampus. Mereka sangat antusias, mulai penulisan cerpen dari litekha hingga pertukaran pemuda yang diadakan oleh british council. Mereka semangat, dan aku sangat menyukainya. Aku menyukai semangat muda yang menggelora, semangat yang membuat negeri ini sedikit tersenyum. Aku tak peduli, apakah itu Indonesia, atau Indopahit. Dan inilah negeriku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana kampus kembali dinamis, tak terlepas dari teman-temanku yang kian hari kian bersemangat. Mereka membangun mimpi mereka, seperti aku membangun mimpiku. Tak ada lagi penghalang untuk terus bercita-cita. Aku ingin memiliki laskar, seperti yang dimiliki Andrea Hirata, teman-teman yang selalu menjadi inspirasi. Tapi aku tak mau laskar pelangi, aku ingin laskar bintang. Aku ingin agar kami semua dapat bersinar seperti bintang di langit, tak ada yang redup, semuanya mampu memberi cahaya. Tak ada Lintang, yang harus mengorbankan mimpi dan kecerdasannya demi sebuah kenyataan hidup. Yang ada hanyalah kami yang terus berjuang menggapai mimpi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Linda Puji Rahayu, Dian Kartika Sari, Hanisa Agustin, Erny Purwanti, Badliana, Ira Humaira, Widia, Ambaryani dan Aku. Kami memulai tiap waktu kami dengan segala dinamika kehidupan. Ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada canda, ada tangisan, ada cita-cita dan semuanya menjadi satu kesatuan dalam suasana kampus kecil yang selalu kami cintai, STAIN Pontianak, jurusan Dakwah, prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kehidupan yang akan sulit sekali dilupakan, mungkin hingga kami tua nanti. Dan suatu saat, kami akan menceritakan semua itu kepada anak-anak dan cucu kami kelak. Setiap pagi, kami rebutan meminjam koran di kantor Prodi, juga meminta air putih untuk diisi ke botol-botol minum kami. Atau datang kesana untuk sekedar ngobrol dengan dosen. Yah, dosen dan tenaga administrasi KPI, juga menjadi suatu elemen yang membuat kami bersemangat. Ada DR. Yusriadi, Ria Hayatunnur Taqwa, M.Si, Bambang Slamet Riyadi, M.Ag, Ahmad Jais, M.Ag, Syarifah Aminah, M.Si, Ibrahim. MS, M. Si, Amalia Irfani, S. Sos.I dan Baharuddin Idsa, S.Sos.I. Mereka adalah orang-orang turut mewarnai hari-hari kami dan menjadikannya sangat indah. Kami belajar untuk terus berjalan dan menjadi wanita-wanita yang kuat, lebih dari itu, kami ingin membuat negeri kami bersinar terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laskar bintang teruslah bersemangat….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Saat posting di lab computer STAIN Pontianak, mumpung gratis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2377744077524235941?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2377744077524235941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2377744077524235941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2377744077524235941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2377744077524235941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/laskar-bintang.html' title='Laskar Bintang...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R47leMiT9wI/AAAAAAAAAEE/4adMbk1iizM/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7944655788219583799</id><published>2008-01-15T18:23:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T18:34:40.606+07:00</updated><title type='text'>Beberapa Jam di Tahun Baru Hijriah....(2)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4yaGsiT9uI/AAAAAAAAAD0/zsJbMs_Bimk/s1600-h/pena.gif"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4yaGsiT9uI/AAAAAAAAAD0/zsJbMs_Bimk/s200/pena.gif" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155665113257342690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Setelah pembicaraan usai, Ambar mengajak pulang, bersamaan dengan suara adzan yang berkumandang. Papah menawarkan kami untuk sholat dulu, kami menerima tawarannya, mengingat jarak yang akan kami tempuh tidak dekat. Aku dan Ambar berwudhu di samping rumah, dan menaiki tong-tong semen untuk menyipan air, kami menyebutnya tempayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ati-ati jatok, Kak”&lt;/i&gt; kata Ambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ini keren” &lt;/i&gt;jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan diatas tempayan punya memori tersendiri dalam hidupku. Sejak kecil aku menyukai air. Karena rumahku tidak di dekat laut, maupun sungai, maka tempayan menjadi alternatif terakhir untukku bermain air. Aku seringkali merendam kepalaku di dalam tempayan sambil berlatih pernafasan. Dan setiap kali Ibuku tahu, dia akan mengomeliku berjam-jam karena ulah gilaku tadi.&lt;br /&gt;Setelah berwudhu, aku dan Ambar sholat Maghrib di lantai atas, di depan kamar anak keluarga ini. Wow...aku mengagumi kamarnya yang luas, ada beberapa tempat tidur yang tertata didalamnya. Dua TV dan playstation didepan TV, serta setrika dan alasnya berada diantara kedua TV tersebut. Beberapa sepatu  tertata rapi diatas rak yang ditempatkan di depan kamar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Ambar sholat bergantian, Ambar duluan. Aku turun ke bawah, karena Hpku berbunyi, ada yang menelpon. Aku membawa tasku dan ambar ke atas. 18.35 WIB, Kusairi, temanku di Jogja miskol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“ Knp, Ri”&lt;/i&gt; SMS ku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Indak ado. Cuma mau menyatukan dua hati yang terpisahkan oleh samudra indonesia. Makmane kabr Pntianak?Ucpnmu t’nyta bnr, Yan. Ak kmbli mrindkn bauya bumi Borneo”&lt;/i&gt; (18.38.13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ptk baek2 jak, Ri. Cm ade riak2 kecik jak. Rindu same bumi borneo or orgnye.Siape tau sempt jatok ati same ank ptk,nanti Ti sampaikan. Hehehehe&lt;/i&gt;” balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tak menjawab lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai sholat, aku dan Ambar turun ke bawah. Kami bersiap akan pulang, ketika Mbok dan Bik Te, adik Mbok mengajak kami makan bersama. Kami sempat menolak, tapi tak berhasil. Aku dan Ambar segera bergabung dengan Bik Te dan Mbok di dapur. Kerjaan pertamaku adalah memotong kol. Sementara Ambar memotong bawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lebih banyak mengajak Bik Te ngobrol dari pada membantunya. Tak berapa saat aku mendengar komentar Papah dari ruang tengah yang berhadapan dengan dapur.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;“Ah...Yanti jadi masak di dapok. Pandai masakkah Ti ?&lt;/i&gt;” tanya Papah meledekku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tak pandai Pak, ganggu jak”&lt;/i&gt; jawabku pasrah, menghadapi ledekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Yanti tak pandai masak ?? Waduh susahlah nih.....”&lt;/i&gt; Mbok menambahi gurauan Papah.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;“Pandai, masak Indomie, itu pun angus” &lt;/i&gt;ujarku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sekejap jadilah aku pusat ejekan. Gara-gara papah neh....hehehehehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Ti, waktu di Gombang sekelompok same siape ?”&lt;/i&gt; tanya Papah mengingatkanku pada peristiwa setahun yang lalu ketika STAIN mengadakan Kuliah Kerja Sosial (KKS) di Gombang, kabupaten Landak.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;“ Same Pak Wajidi” &lt;/i&gt;jawabku merujuk pada nama dosen tafsir di STAIN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kudengar Papah menjelaskan tentang kegiatan KKS kami pada  Bapak dan Mbok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua masakan selesai, kami mengelilingi meja makan di ruang tengah. Ada Papah, Bapak, lalu Ambar dan aku. Mbok lewat di depan meja makan sambil membawa piring berisi nasi dan lauk. Ambar mengajaknya makan, tapi dia menolak. Dia sedang membawakan Ai (sebutan kakek, ayahnya yang sedang sakit) makanan. Kami makan dengan tangan, tanpa sendok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Kite makan, Ai makan gak...”&lt;/i&gt; katanya tersenyum seraya masuk ke kamar Ai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Ambar memilih untuk makan di depan TV, aku mengikutinya. Kami nonton acara Super Mama di Indosiar. Ambar selesai duluan, dia lalu mencuci piring dan gelasnya. Aku juga melakukan hal yang sama. Ketika sedang mencuci piring, lagi-lagi aku harus menghadapi ledekan Papah. Waduh, Pah yang benar saja masa’ gak bisa cuci piring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai mencuci piring, aku kembali ke ruang tengah dan duduk di samping Ambar seraya mencomot buah jeruknya yang tinggal setengah. Papah menawariku jeruk, aku menjawabnya dengan menunjukkan jeruk di tanganku. Tak lama kemudian, aku dan Ambar pamit pulang. Kami juga pamit pada Ai. Aku melihat Ai terbaring lemah. Ambar menyalaminya, aku mengikutinya. Ai menanyakan siapa aku pada Mbok yang berdiri di pintu kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Ini cucu Ai gak“&lt;/i&gt; katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt;Siapa”&lt;/i&gt; (dalam bahasa Hulu) Ai bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“ Yanti “&lt;/i&gt; jawab Mbok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“ Yanti siapa ?" &lt;/i&gt;  (dalam bahasa Hulu)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“ Adek Ambar “&lt;/i&gt; jawab Mbok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;i&gt; Oh adek Ambar “ &lt;/i&gt;katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum padanya. Ai melakukan percakapan itu, tanpa melepaskan tanganku. Dia terus menjabat tangan, dan menatapku. Ya, Ai menatapku, bahkan ketika dia bicara pada Mbok. Aku merasa tangan dan tatapannya begitu lembut dan hangat. Aku tak punya kakek sejak kecil, hanya ada seorang nenek yang tidak tinggal bersamaku. Mungkin karena itu, sosok Ai begitu membekas dalam ingatanku. Bahkan, hingga aku menyelesaikan tulisan ini beberapa hari setelahnya. Wajahnya masih dapat kuhapal dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengantarkan aku dan Ambar dengan tatapannya hingga hilang di depan pintu kamarnya. Aku dan Ambar menuju teras, kami diantar oleh Mbok, Papah, dan Bapak. Ternyata Papah juga berniat pulang, dia diantar oleh keponakannya, anak Mbok dengan mengendarai motor. Pantas saja aku dan Ambar tak menemukan motornya, ternyata dia pakai Oplet. Kami berpisah di depan Jl. Karet, aku dan Ambar melanjutkan perjalanan menuju Kota Baru, rumahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini aku mempelajari banyak hal, banyak sekali. Terima kasih Tuhan, telah membawa takdirku ke rumah itu, bertemu dengan keluarga yang hangat. Terima kasih untuk beberapa menit yang sangat luar biasa, dapat berjabat tangan dan berkenalan dengan seorang kakek yang telah membesarkan sekaligus mendidik dosen dan teman yang begitu baik, seperti Papah. Seseorang yang peduli dan mengerti cita-citaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku bersyukur, memiliki teman-teman yang luar biasa, Ambar salah satunya. Dia membuatku tidak merasa sendirian ketika menggantungkan cita-cita yang amat tinggi. Harvard dan Sorbonne adalah jembatan impian kami. Sesuatu yang sangat tinggi, untuk mahasiswa-mahasiswa seperti kami. Tapi kami tak pernah peduli, kami terus bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tak boleh mendahului takdir dengan menyatakan bahwa semua itu tak mungkin. Apa yang tak mungkin bagi Tuhan ? Untuk kami, mimpi adalah bagian dari nyawa yang menopang kehidupan kami.  Saat ini, kami sama-sama berjuang mewujudkan mimpi kami, membentuk atmosfer persaingan dalam prestasi, tapi saling berbagi dalam keseharian untuk saling menguatkan. Jika Aceh terkenal dengan perempuan-perempuannya yang kuat, maka kami adalah perempuan Kalbar yang liat dalam menghadapi tantangan untuk mencapi impian kami. Tuhan, inilah kami.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;Tamat&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7944655788219583799?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7944655788219583799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7944655788219583799' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7944655788219583799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7944655788219583799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/beberapa-jam-di-tahun-baru-hijriah2.html' title='Beberapa Jam di Tahun Baru Hijriah....(2)'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4yaGsiT9uI/AAAAAAAAAD0/zsJbMs_Bimk/s72-c/pena.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1785161962066015964</id><published>2008-01-15T18:14:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T18:22:24.969+07:00</updated><title type='text'>Beberapa Jam di Tahun Baru Hijriah... (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4yXOMiT9tI/AAAAAAAAADs/lFgJ7bc9Bpk/s1600-h/PENA+2.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4yXOMiT9tI/AAAAAAAAADs/lFgJ7bc9Bpk/s200/PENA+2.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5155661943571478226" /&gt;&lt;/a&gt;Kamis, 10 Januari 2008 M bertepatan dengan 1 Muharram 1429 H. Pukul 08.30 WIB, aku mendapatkan telepon undangan untuk menghadairi rapat mengenai bulletin dewan dakwah. Undangan itu sebenarnya telah sampai beberapa hari yang lalu lewat SMS teman-teman yang juga bergabung disana. Acaranya di Jl. Silat Baru pukul 12-an atau ba’da sholat Dzuhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I&lt;i&gt;ya Pak, saya usahakan, nanti saya juga akan hubungi teman-teman yang lain”&lt;/i&gt; ujarku menutup pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera menghubungi ketiga temanku via SMS. Dapat jawaban, satu orang diantara kami, Erni, tak bisa menghadiri undangan tersebut karena harus menjadi panitia dalam kegiatan menyambut tahun baru Islam. Akhirnya, hanya aku, Hanisa Agustin dan Fikri Akbar yang akan pergi menghadirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.45 WIB, Hanisa datang menjemputku. Aku belum siap dan dia menungguku. Kami berangkat sekitar pukul 12.20 WIB. Dalam perjalanan, beberapa kali SMS masuk ke Hpku dari teman-teman. Hanisa sempat bilang bahwa kami harus singgah dulu di kampus untuk menjemput Fikri, dia janjian di kampus. Kami berhenti di jalan Letjend. Suprapto, belum sampai di kampus. Hanisa memutuskan untuk menelpon Fikri, menanyakan posisinya saat ini. Dia masih di rumah menunggu motornya yang sedang digunakan kakaknya. Akhirnya aku dan Hanisa memutuskan untuk pergi lebih dulu, dan nanti akan disusul oleh Fikri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki jalan Silat, aku dan Hanisa sempat salah memilih jalur. Kami menyusuri jalur kiri, sementara tempat yang kami tuju ada di jalur kanan. Kami segera menyadarinya ketika melihat urutan nomor rumah yang tersusun lebih kecil dan sempat bingung karena urutannya yang agak kacau. Sesuatu yang biasa terjadi dalam perumahan masyarakat, urutan nomor rumah yang kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai kami disambut oleh Pak Fakhrudin, dan di ruang tamu sudah ada Bang Deman, Bang Sujadi, Bang Jumadi, Pak Bastaman, dan seorang lagi yang belakangan ku tahu bernama Heri. Kami duduk di kursi sebelah kiri ruangan (jika posisi menghadap jalan). Sementara yang lain duduk di sofa. Tak lama kemudian, kami dipersilahkan untuk makan siang sambil menunggu yang lain. Satu per satu tamu-tamu lain berdatangan. Pak Nas, dia datang usai memberi kuliah untuk mahasiswanya. Dia menolak dengan halus tawaran Pak Fakh untuk makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Saya sudah terlanjur makan, gak baik kalau terlalu kenyang”&lt;/i&gt; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Rizky yang kemudian datang, disusul dengan Rudy. embicaraan mengenai masalah buletin pun dimulai. Pak Fakh yang membuka pembicaraan disusul dengan Pak Bastaman sebagai pimpinan perusahaan, dan Bang Sujadi sebagai pimpinan Redaksi. Lalu Pak Nas sebagai penanggung jawab keseluruhan. Semuanya bergantian mengeluarkan pendapatnya. Bang Deman memilih banyak diam, dan menuliskan sesuatu di buku catatan kecilnya. Heri benar-benar diam. Bang Jumadi sesekali menimpali dengan komentar atau menambahkan pembicaraan. Nisa dan Fikri lebih suka mendengar. Rizky dan Rudy nimbrung dalam pembicaraan. Aku lebih suka memperhatikan mimik wajah setiap orang yang bicara. Mungkin aku terpengaruh dengan artikel psikologi yang biasa ku baca sambil memperhatikan bahasa yang mereka gunakan (kalau yang ini ketularan kebiasaan Papah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 14.45 HP ku berbunyi dari seseorang dari Jakarta. Beberapa hari yang lalu aku dan temanku, Ambar sempat menjawab tantangannya untuk membuat laporan panjang. Dia lantas menanyakan tema laporan yang ingin kami tulis. Mungkin tentang anak-anak putus sekolah, jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Tidak menarik, sudah banyak yang bikin”&lt;/i&gt; katanya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu menyarankan untuk membuat sebuah laporan kejadian yang baru-baru ini terjadi di Kalbar. Agak berbau etnisitas memang. Menarik, dan aku bilang kami akan berusaha. Usai menerima telponnya, aku kembali masuk ke ruang tamu rumah Pak Fakh untuk melanjutkan rapat DD yang sempat kutingglkan. Aku kembali pada perbincangan yang terjadi di depanku sambil menikmati pisang goreng dan kue nangka dengan adonan tepung beras yang enak sekali, asli buatan Bu Fakh dari hasil kebun sendiri di belakang rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rapat itu, aku sempat menghubungi Ambar, pukul 15.05 WIB, aku SMS Ambar tentang kabar terbaru rencana laporan kami. Akhirnya kami janjian di P3M Cyber, pukul 16.45 WIB.&lt;br /&gt;Rapat masih berlangsung, berbagai pendapat telah dilontarkan, semua sepakat untuk mempertahankan tabloid DD dengan cara kerja yang lebih profesional. Ada catatan lain, kami harus kembali bertemu untuk mempersatukan visi dan misi tabloid ini ke depannya. Minggu, 27 Januari ditetapkan sebagai hari pertemuan berikutnya. Aku agak kecewa dengan rapat kali ini. Beberapa produk tabloid gagal, dan karena itu, ada seseorang yang sangat disudutkan dan dianggap sebagai sumber masalah. Dan orang itu tak hadir hari ini. Kupingku agak panas mendengarnya, tapi aku sama sekali tak bicara soal itu. Biar saja dulu, dengan ini aku bisa menilai bagaimana dan seperti apa orang-orang yang akan menjadi teman kerjaku.  Perkenalan itu penting.....Pertemuan ini diakhiri sekitar pukul 16.15 WIB. Ada 30 menit waktu yang tersisa untuk meluncur ke P3M guna menepati janji pada Ambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sampai di P3M, aku melihat Apri di meja billing yang tersenyum usil, khas gaya anak bungsu P3M ini. Aku sholat Ashar di lantai 2. Ketika selesai Ambar telah menungguku di ruang depan. Aku membawanya masuk ke ruang tengah dan membicarakan tentang laporan kami. Lalu kami berdua memutuskan untuk berkonsultasi dengan Papah kami, (Ambar menulis Ayah~Y di Hp untuk nomor Hp papah dan aku menulis dengan nama pendeknya). Ambar menelponnya. Awalnya, kami berencana menemuinya di kantor, tapi ternyata dia ada di rumah Mbok (panggilan untuk kakak perempuan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kesana, TPI (bukan Televisi Pendidikan Indonesia, ini nama sebuah tempat di Pontianak) lumayan jauh dari P3M. Kami tiba sekitar pukul 17 lewat, aku lupa melihat jam saat itu, mungkin sekitar 17.30 WIB. Ambar sempat lupa rumahnya, motor kami berjalan lambat, untuk melihat motor Papah yang kemungkinan parkir di halaman rumah Mbok. Tapi tak kami temukan. Untung saat itu, seorang lelaki yang dikenali Ambar sebagai suami Mbok, yang kemudian kusapa dengan Bapak, berdiri di teras rumahnya. Kami berhenti dan mengucapkan salam. Dia mempersilahkan kami masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambar segera masuk, dan langsung ke ruang dalam. Dia memang dekat dengan keluarga ini. Dia dan Papah masih memiliki hubungan keluarga dan sempat tinggal di rumah Papah, sehingga dia mengenal dengan baik keluarga Papah, maupun kakak dan adik-adik serta orang tuanya. Tinggallah aku yang terbengong sendirian, tidak tahu harus kemana. Tak sopan rasanya jika harus masuk ke dalam, sedangkan aku orang asing di sini. Untung Papah segera keluar, dia yang menemaniku di ruang tamu sambil bercakap-cakap tentang laporan itu. Sore itu, dia mengenakan kaos putih dengan berbagai tulisan berwarna merah, dan salah satu tulisan yang kuingat berbunyi “EQUATOR”. Sebuah kenangan lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaos itu dipadankannya dengan celana panjang berwarna abu-abu. Tak lama, Mbok keluar dengan membawa dua gelas syrup rasa Lychee. Kami berkenalan, dia wanita yang sangat ramah. Papah memperkenalkannya sebagai aktivis WARTA zaman dia kuliah dulu. Wow, senang bertemu dengan pendahuluku. Dia dan Papah kuliah di kampus yang sama denganku sekarang. Sikap dan sinar matanya yang bersahabat membuatku nyaman. Dia sempat berbicara denganku sebentar, lalu masuk kedalam, karena ayahnya sedang sakit. Papah mendengarkan ceritaku, lalu memberikan komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Laporan itu beresiko”&lt;/i&gt; katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Ambar bergabung denganku dan Papah di ruang tamu. Papah mengingatkanku dan Ambar tentang apa yang kemungkinan akan kami hadapi sebagai ganti laporan ini. Resiko yang memang tak kecil untuk ukuran kami yang masih kuliah dan dalam tahap belajar. Dia mengenal orang-orang yang akan menjadi nara sumber kami, juga orang yang menyarankan tema itu pada kami. Dia tidak melarangku dan Ambar untuk menulis laporan itu, khas sikapnya, dia bilang silahkan kalau ingin mencoba. Tapi kami bisa merasakan bahwa dia lebih senang jika kami mencari tema lain. Banyak hal yang dibicarakannya, dan kami menangkap bahwa dia mengajari kami untuk lebih selektif dalam memilih tema laporan. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, juga termasuk faktor keselamatan yang dari tadi membuatnya kelihatan agak keberatan dengan tema laporan kami. Kami mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;i&gt;Bersambung.....&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1785161962066015964?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1785161962066015964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1785161962066015964' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1785161962066015964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1785161962066015964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/beberapa-jam-di-tahun-baru-hijriah-1.html' title='Beberapa Jam di Tahun Baru Hijriah... (1)'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4yXOMiT9tI/AAAAAAAAADs/lFgJ7bc9Bpk/s72-c/PENA+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4566054056501193309</id><published>2008-01-09T18:08:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T18:49:46.454+07:00</updated><title type='text'>Tahun Baru, Siapkan Rencana...</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4Sr78iT9sI/AAAAAAAAADg/45jDFXuN2fE/s1600-h/New+Years+Fire+Works+-+1024x768.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5153432919969363650" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" height="163" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4Sr78iT9sI/AAAAAAAAADg/45jDFXuN2fE/s200/New+Years+Fire+Works+-+1024x768.jpg" width="322" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selamat Tahun baru 1429 hijriah semuanya.......................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya senang sekali menyambut tahun baru ini, tahun baru Masehi, juga Hijriah. Kedatangan mereka menjadi sebuah momentum untuk kembali menyusun tekad dan jalan baru yang harus mulai kutempuh. Aku tak boleh sama seperti yang kemarin, aku harus lebih baik hari ini dan lebih baik lagi esok hari. Tuhan telah begitu baik dengan memberiku banyak kesempatan yang tak dimiliki oleh semua orang. Tentu saja aku tak boleh menyia-nyiakannya. Tak ada lagi waktu untuk aku bermain dan bermalas-malasan. Waktu tak dapat menunggu, apalagi kembali. Itu artinya aku juga tak boleh diam. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada agenda-agenda yang harus segera kulaksanakan. Di tahun ini, aku harus bisa menggapai semua yang telah aku rencanakan, tentunya dengan ridho Allah, Sang Pemberi inspirasi. Aku benar-benar ingin menempa kemampuanku, telah habis rasanya waktu untuk mempermainkan masa depan. Sekarang waktunya berpikir dan berbuat. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, di semester 6, aku harus berhasil mempertahankan proposal skripsiku, dan untuk seterusnya menyusun skripsi. Aku harus benar-benar melakukan penelitian dan membuatnya menjadi karya tulis terbaikku. Skripsi bukan hanya sebuah tulisan panjang sebagai syarat memperoleh gelar sarjana, tapi lebih dari itu. Untukku skripsi adalah tulisan dimana aku harus bisa berpikir, melihat, merasakan, mendengar fenomena sosial masyarakatku, untuk kemudian menemukan, menganalisa dan menuliskannya, lalu mempertahankannya sebagai suatu gejala yang memang patut untuk mendapatkan perhatian. Itu semua adalah langkahku untuk memahami realitas masyarakat di sekitarku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini, aku harus menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi. Aku harus mampu menulis tiap sudut yang terlupakan, kisah orang-orang kecil yang tak dianggap dan membuat orang sadar bahwa semua itu adalah pelajaran berharga. Aku harus berkarya, berkarya dan berkarya. Aku yakin aku bisa menemukan apa yang disebut dengan jalan takdir, dan aku akan menemukan takdirku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Robb, beri aku kekuatan untuk menjadi apa yang aku inginkan, dan berikan aku kelembutan untuk selalu menyadari kekuranganku dan bersandar pada Mu. Tolong berikan aku semangat untuk mengejar mimpi-mimpiku, tapi beri juga aku kesadaran untuk memahami kehidupan. Biarkan aku terbang dan menjemput bintangku diangkasa, tapi tolong jangan membuatku lupa untuk kembali membumi. Terimakasih, Pelindungku. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4566054056501193309?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4566054056501193309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4566054056501193309' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4566054056501193309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4566054056501193309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2008/01/tahun-baru-siapkan-rencana.html' title='Tahun Baru, Siapkan Rencana...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R4Sr78iT9sI/AAAAAAAAADg/45jDFXuN2fE/s72-c/New+Years+Fire+Works+-+1024x768.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5504878033211702459</id><published>2007-12-31T22:37:00.000+07:00</published><updated>2007-12-31T23:04:58.141+07:00</updated><title type='text'>Akhir Tahun 2007</title><content type='html'>Entah apa yang ingin kutulis. Aku sedang tak ingin berpikir rumit, aku tak ingin merusak rencana ku untuk istirahat berpikir rumit malam ini. Malam akhir tahun 2007. Malam ini mengingatkanku pada setahun yang lalu. Waktu itu, aku merasa tuts keyboardku terasa begitu keras untuk ditekan, ketika aku menuliskan kata perpisahan untuk tahun 2006. Saat itu, aku menulisnya di tgl 30 desember. Ada banyak sekali hal yang tak ingin ku tinggalkan. Ada kisah-kisah yang belum selesai dalam bahasaku. Yah...sangat benci rasanya ketika harus menyadari bahwa aku berada di penghujung tahun. Memang ada banyak cerita yang kuawali dan hingga tahun berakhir belum juga ku tuliskan akhirnya. Itu membuatku jengah, dan aku begitu ingin berontak. Waktu memang tak berperasaan, dia tak mau dan memang tak bisa mengerti, apapun yang terjadi, toh dia tetap harus berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak malam ini. Semua cerita dan kisah itu telah selesai, selesai dengan sangat indah dalam tahun ini. Maka, tak ada hal yang harus memberatkanku menyambut suatu hari yang disebut tahun baru 2008. Bahkan aku baru saja memulai, bukan sebuah kisah atau cerita, tapi sebuah perjalanan yang akan menentukan arah kompas hidupku, dan hari akan semakin menantang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan aku tahun 2007, kelegaan ini bukan berati bahwa kau sama sekali tak berarti. Justru sebaliknya, kau membuatku benar-benar merasa dewasa. Kau tidak hanya menorehkan kenangan yang amat berarti, tapi kau juga mengajariku untuk memberi dan menerima. Lebih dari itu, kau mengajariku untuk merelakan dan mempertahankan. Kau mengajari bagaimana menjadi dewasa karena masalah, dan semuanya begitu berarti. Semua pelajaran itu yang dapat membuatku begitu lega meninggalkanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih telah menjadi tahun yang indah, meski aku tahu masih ada banyak kepedihan yang aku torehkan, untuk semua itu pastinya belum terbayar tuntas. Tapi aku ingin menyongsong hari tanpa beban. Biarkan saja semuanya mengalir apa adanya, dan aku harus tetap melangkah maju, itu pesan yang kau berikan untukku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5504878033211702459?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5504878033211702459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5504878033211702459' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5504878033211702459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5504878033211702459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/12/akhir-tahun-2007.html' title='Akhir Tahun 2007'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4694076328483010087</id><published>2007-12-28T11:03:00.000+07:00</published><updated>2007-12-28T11:29:13.798+07:00</updated><title type='text'>Suaraku Gak Mau Keluar...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R3R7hsiT9rI/AAAAAAAAADY/Fo4U4Uze6NU/s1600-h/demamua7.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5148876092812293810" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R3R7hsiT9rI/AAAAAAAAADY/Fo4U4Uze6NU/s200/demamua7.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aduh, gawat banget neh permasalahan yang sedang kuhadapi. Suaraku gak mau keluar, gak tau juga gara-gara apa, mungkin panas dalam. Sebenarnya masalah bukan ada pada suara, karena keadaannya mungkin akan berbeda kalau besok aku tidak ikut seminar. Besok aku jadi pemakalah untuk seminar Penelitian Islam di Kalimantan Barat yang diadakan di kampusku. Gimana bisa ngomong kalo suaranya gak keluar. Udah berbagai macam cara kulakukan sejak kemarin (Kamis-red). Dari minum obat panas dalam, sampai nelan air jahe dua mangkuk dijabanin, tapi masih tetap ajah suaranya gak genah. Agak lumayanan sih, keluar dikit, tapi gak optimal.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari ini udah minum Adem Sari, nenggak tablet vit C dosis tinggi, sampe akhirnya ngeborong jeruk nipis, dan permen fisherman. Waduh gila-gilaan dah, agak khawatir sama maagku, tapi apa boleh buat ding, besok seminar. Masa' gagal gar-gara suara gak keluar, mana udah bikin makalah, temanya asyik pula. Ya Allah tolong hambaMu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi apapun yang terjadi gak boleh menyerah sampai detik terakhir !!!! Semangat..............&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cayo Yanti......Cayo............&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4694076328483010087?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4694076328483010087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4694076328483010087' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4694076328483010087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4694076328483010087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/12/suaraku-gak-mau-keluar.html' title='Suaraku Gak Mau Keluar...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R3R7hsiT9rI/AAAAAAAAADY/Fo4U4Uze6NU/s72-c/demamua7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-9175042946352604338</id><published>2007-12-18T14:50:00.000+07:00</published><updated>2007-12-18T15:24:07.783+07:00</updated><title type='text'>Sampai Saat Itu Tiba...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R2eDBciT9oI/AAAAAAAAAC4/yd-soEUahP0/s1600-h/oscar+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145225160157296258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R2eDBciT9oI/AAAAAAAAAC4/yd-soEUahP0/s200/oscar+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Aku ingin pergi, mengembara untuk menemukan segala hal yang tak pernah kulihat, kurasakan dan kusentuh. Mencari semua jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam kepalaku. Banyak hal yang belum aku tahu, dan aku ingin tahu tentang banyak hal, karena itu aku mencari. Aku tak mau terkungkung dalam lingkaran yang hanya membuatku berlari berputar-putar. Aku benar-benar ingin melihat negeriku, dengan segala permasalahan dan penderitaan, bahkan aku ingin melihat dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyedihkan, ketika menyadari bahwa aku tak mengetahui apa-apa tentang tanah dimana aku dilahirkan. Lebih menyedihkan, saat aku tahu aku belum berbuat apa-apa untuk saudara-saudaraku yang membutuhkan. Lihatlah di perempatan jalan raya itu !!! Dan tanyalah apa yang telah aku lakukan untuk mereka ! Maka, dapatilah aku terdiam seribu bahasa, tertunduk malu dan beku dalam kesunyian. Aku belum berbuat apa-apa, dan itu adalah jawaban yang paling menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tanyalah padaku, tentang bahasa daerahku. Satu demi satu bahasa itu punah. Dari ratusan sub etnik Dayak, entah tinggal berapa lagi bahasa yang masih lestari. Bahasa yang masih adapun hanya menyisakan sedikit sekali penuturnya. Tanya padaku, dimana aku saat itu ? Tanya lagi padaku, tentang hutan-hutan Kalbar yang hagus terbakar, menyisakan asap yang perih dimata dan kenangan yang pedih di hati. Kemana aku saat itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada yang kuperbuat, hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu aku ingin pergi. Melintasi hutan, sungai dan lembah daerahku. Aku ingin mencari kayu bakar, memanen jagung, juga menanam sayur di ladang-ladang yang tak subur. Aku ingin hidup di tengah-tengah mereka yang paling susah, mereka yang selalu berjuang untuk makan sore nanti, lebih dari keluargaku yang juga pas-pasan. Agar ketika aku pulang nanti, aku tahu apa yang harus kuperjuangkan. Tapi jangan berharap aku akan menenteng pengeras suara dan berteriak di depan gedung DPRD atau Gubernur. Tenggorokanku tak kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jangan pula berharap aku akan mengadakan dialog kebijakan politik, atau beraudiensi dengan para pejabat untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Aku alergi dengan ruangan berAC, aku juga tak kuat lama-lama duduk dalam ruangan. Kakiku tak pernah bisa diam, makanya aku selalu terlambat masuk kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku dianugerahi Tuhan 10 jari tangan yang sehat, dan cukup kuat untuk menekan tuts-tuts keyboard dari komputer tua ini. Maka, aku akan mulai mengukir satu demi satu huruf untuk kupajang menjadi sebuah kalimat, paragraf, dan terus berkembang. Lalu aku akan mengirimkannya pada media massa, biar dimuat dan dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kalau aku tak bisa berjuang dengan cara lain. Karena aku tak akan mengkhianati isi kepala dan hatiku. Aku berpikir bahwa ini adalah jalanku, caraku dan hidupku. Maka aku akan berjalan seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya biarkan aku pergi. Mengembara dan mencari semua yang ingin aku temukan. Jangan halangi, apalagi hanya dengan alasan bahwa aku perempuan. Aku sudah dewasa, aku akan menjaga diriku sebaik aku menjaga keyakinanku. Aku kuat dengan doa. Aku tak akan lemah dengan ridhoNya, dan aku akan melangkah dengan mimpi-mimpiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat akan tiba waktunya, aku akan benar-benar pergi mencari semua jawaban atas pertanyaanku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-9175042946352604338?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/9175042946352604338/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=9175042946352604338' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/9175042946352604338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/9175042946352604338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/12/sampai-saat-itu-tiba.html' title='Sampai Saat Itu Tiba...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R2eDBciT9oI/AAAAAAAAAC4/yd-soEUahP0/s72-c/oscar+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8773438376691498975</id><published>2007-12-17T18:51:00.000+07:00</published><updated>2007-12-17T19:15:20.932+07:00</updated><title type='text'>Seminar Bahasa Dalam Media dan Aku...</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R2Zn58iT9nI/AAAAAAAAACs/RkGR66xQIPE/s1600-h/charashinichi9lb.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144913869517616754" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R2Zn58iT9nI/AAAAAAAAACs/RkGR66xQIPE/s200/charashinichi9lb.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Hari ini aku jadi pembicara dalam seminar umum dengan tema Bahasa Dalam Media yang diselenggarakan atas kerjasama banyak pihak. Sempat asik juga sih waktu liat jadwal seminar. Semua nama pake embel-embel di depan dan di belakang. Ah... asik nih, merasa muda bo'.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma ada dua pembicara yang masih berstatus mahasiswa, aku dan adik tingkatku Ambar. Selain itu, peneliti, dosen dan entah siapa lagi. Banyak wartawan, dari berbagai media, dari yang cetak hingga elektronik. Aku tampil pada sesi pertama, sebagai pembicara terakhir. Bahasan makalahku, tentang bahasa sastra dalam pemberitaan media cetak. Aku sedang tergila-gila dengan laporan bergaya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika telah duduk di tempat para pembicara, aku sempat kirim sms pada si Boss&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"Wow... Ti deg-degan neh, boss. Ade 2 dosen jurnalistik Ti agk"&lt;/em&gt; (08.43.56)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lihat dia tersenyum dari dari tempat duduknya, di depan sebelah kananku di kursi barisan ke 5. Lalu dia mengetik tuts-tuts keypad pada HP nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Jangan khawatir. Di sebelahmu org jg br jd pemakalah"&lt;/em&gt; (08.45.19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi gantian senyum melihatnya. Berdebar ??? Iya, tapi takut ??? Tentu tidak. Aku sangat menikmati tiap detik waktu yang berjalan. Jantung yang berdebar, waktu yang semakin dekat, aku selalu menikmatinya. Aneh ? mungkin, aku mungkin memang termasuk dalam komunitas orang aneh. Dan tak menjadi masalah yang besar bagiku, karena bahkan aku tak pernah memikirkan semua keanehan yang aku miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian aku melihat si Boss mengeluarkan botol minumnya. Dia menawariku minum dari tempat ia duduk, karena dia tahu benar bahwa kami memiliki kebiasaan yang sama, yakni membawa sebotol air minum dari rumah. Aku membalasnya dengan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, peserta semakin banyak yang hadir, wartawan juga makin berdatangan. Kali ini seorang TVRI dan kamerawannya masuk ke ruangan. Si Reporter tampak rapi dengan jas yang dipadankan dengan blus dan celana panjang yang berwarna senada, biru. Rambutnya lurus mencapai bahu, dibiarkannya tergerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menghampiri dua wanita cantik di meja registrasi untuk mendapatkan panduan seminar. Yang mencolok di mataku adalah tahi lalat yang agak besar di pipinya. Dia tampak manis dengan asesoris alam itu. Sedangkan sang kamerawan tampil seadanya, jeans, bersepatu dan kaus oblong, serta meneteng kamera yang kukira cukup berat kalau aku yang membawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reporter itu kemudian menghampiri Dedy Ari Asfar, dan Budi Miank, dedengkot seminar ini untuk wawancara. Dedy adalah peneliti dari Pusat Studi Bahasa dan Masyarakat Borneo (PSBMB), sedangkan Budi menjabat ketua dalam Forum Bahasa Media Massa (FBMM). Dedy dan Budi tunjuk-tunjukkan. Aksi tersebut diakhiri dengan kesepakatan bahwa dua-duanya ikut si repoter cantik. Aku sempat melihat mereka di luar ruangan, lewat sebuah jendela dengan kaca yang transparan. Mereka masih saja tunjuk-tunjukkan. Aku tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Asyik sekali gaya mereka, sangat alami dan manusiawi. Seperti anak-anak cowok SMA yang malu-malu berkenalan dengan seorang gadis, tapi tentu saja mereka tak kuasa menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, Dedy masuk ke ruangan. Dia menghampiri meja registrasi dan membawa dua kotak kue, lantas keluar ruangan lagi. Aku menduga kotak kue tersebut untuk reporter dan kamerawannya. Setelah selesai dengan urusannya, Dedy dan Budi kembali ke ruangan dan duduk manis di kursinya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku dipanggil. Wow...saatnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memaparkan apa yang aku tahu tentang bahasanku. Dengan sedikit mengadopsi berbagai teori jurnalistik dan ilmu komunikasi, serta tentu saja hasil tebakan mahasiswa yang selalu terlambat setiap harinya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit berlalu, presentasi selesai. Tiba waktunya untuk sesi tanya jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 pertanyaan untuk pemakalah pertama, 1 untuk pemakalah kedua, tentang bahasa inggris, 1 untuk pemakalah keempat yang membahas tentang kolom sastra di koran, dan 1 untukku. Pemakalah ketiga bebas pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Boss kelihatan kaget, mendengar ada satu pertanyaan untukku, apalagi dia tahu benar bahwa yang bertanya adalah seorang doktor dari Universitas Tanjungpura. Dia lalu keluar meninggalkan ruangan. Tak lama, dia kembali lagi duduk di kursinya, lalu memberi isyarat agar aku membaca pesannya di Hpku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 detik, HP ku berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Beri contoh berita yg pk js dan strigh news.yg lain2 tak usah jawab langsung, blg aja akan dilengkapi.”&lt;/em&gt; (10.23.52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum melihat pesan itu, juga melihat ekspresi wajahnya yang cemas. Aku jadi ingat tulisan Andreas Harsono yang menyatakan wajah si Boss pucat saat tragedi Equator terjadi tahun lalu. Tidak, dia tidak pucat, tapi kulitnya memang putih, hanya ekspresi wajahnya yang seakan-akan menggambarkan kalau mahasiswanya ini akan dilemparkan ke persemayaman buaya untuk menjadi korban ritual aliran sesat. Tak separah itu Boss....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Makasih Boss. Tp nebak2 sikit boleh kan? Hehehe”&lt;/em&gt; (10.29.49)&lt;br /&gt;Aku membalas SMSnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Tak usah. Merendah pd doktor untan tu tak apa.”&lt;/em&gt; (10.30.49)&lt;br /&gt;Katanya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba giliranku menjawab. Aduh Boss, maaf, aku gak bisa sepenuhnya mengikuti saranmu dengan hanya memberi contoh dan selanjutnya mengatakan “nanti akan saya lengkapi”. Aku tampil disini membawa nama kampus, juga namamu. Aku tak akan menyerah kalah begitu saja. Dia memang hebat Boss, karir dan gelar akademiknya jauh melampauiku, tapi aku mahasiswamu. Aku ingin wajahmu tetap tegak di forum ini, sebagai dosenku. Aku tak akan menyerah begitu saja, dan lihatlah Boss, aku akan menjawab setiap pertanyaannya, untuk kebanggaanmu dan untuk kampus kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan khawatir Boss, kamu tak pernah mendidikku untuk sombong, dan aku juga takkan membangkang perintahmu. Nanti Boss, setelah kujawab semua pertanyaannya aku akan menambahkan diakhir kalimatku “nanti untuk lebih jelasnya akan saya lengkapi makalah saya, Pak”, bahkan aku akan menambahkan kalau aku adalah “seorang anak yang sedang belajar”, dan akan ku”cari teori-teori lain dari buku perpustakaan”, meskipun sudah 3 semester aku tak pernah menginjakkan kaki di perpustakaan kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boss, aku senang saat jawabanku diterima oleh mereka semua. Tapi aku lebih bahagia melihatmu tersenyum dari kursimu. Tahu kenapa ??? Karena kamulah orang yang paling mengerti betapa aku mencintai dunia penulisan, dan kamu selalu percaya padaku, kamu percaya pada mimpi-mimpiku, Boss. Kamu juga selalu membuat aku percaya pada kemampuan dan cita-citaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kamu menjabat tanganku, dan mengucapkan selamat atas jawabanku, aku tahu bahwa aku selalu ingin melihat senyum itu, senyum kebanggaanmu. You are my best Papah, Boss. Always.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;15 Desember 2007&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8773438376691498975?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8773438376691498975/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8773438376691498975' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8773438376691498975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8773438376691498975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/12/seminar-bahasa-dalam-media-dan-aku.html' title='Seminar Bahasa Dalam Media dan Aku...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/R2Zn58iT9nI/AAAAAAAAACs/RkGR66xQIPE/s72-c/charashinichi9lb.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5904383862991423414</id><published>2007-11-06T15:43:00.000+07:00</published><updated>2007-11-06T16:29:04.300+07:00</updated><title type='text'>Syair Kesunyian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RzAzfwaWRAI/AAAAAAAAACQ/GgaO0_iKuy0/s1600-h/pray.JPG"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RzAzfwaWRAI/AAAAAAAAACQ/GgaO0_iKuy0/s200/pray.JPG" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5129656596239369218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku mohon…………&lt;br /&gt;Belah saja hatiku lalu tusuk jantungku&lt;br /&gt;Agar lenyap semua penat ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu peluk nyawaku dengan tangan kasihMu&lt;br /&gt;Biar tercerabut semua bimbang&lt;br /&gt;Yang membuatku keluh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biar aku menikmati kesakitan dengan caraku sendiri&lt;br /&gt;Membiarkan langkahku menempuh tapak-tapak kesunyian&lt;br /&gt;Melewati semua kesendirian&lt;br /&gt;Dan mengabadikan kesenyapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan semua suara menghilang&lt;br /&gt;Karena aku menikmati kehampaan&lt;br /&gt;Merasakan kegelapan dan kebiasuan dalam dimensi jiwa yang berbeda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak lagi membutuhkan tawa&lt;br /&gt;Sebab aku mendamba air mata&lt;br /&gt;Membiarkan luka mengoyak semua lara&lt;br /&gt;Membunuh segala asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin lebur dalam jemariMu&lt;br /&gt;Meniadakan keberadaanku&lt;br /&gt;Mematikan semua kehidupanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu biarkan aku membuang dunia&lt;br /&gt;Dan menggenggam kehampaan&lt;br /&gt;Sebab aku ingin luruh bersamaMu&lt;br /&gt;Dalam keyakinan yang disebut kegilaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5904383862991423414?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5904383862991423414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5904383862991423414' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5904383862991423414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5904383862991423414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/11/syair-kesunyian.html' title='Syair Kesunyian'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RzAzfwaWRAI/AAAAAAAAACQ/GgaO0_iKuy0/s72-c/pray.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7461346490808415930</id><published>2007-10-04T13:45:00.000+07:00</published><updated>2007-10-04T14:21:24.710+07:00</updated><title type='text'>Makhluk Berpikir</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RwSTjgqwTEI/AAAAAAAAACI/Sse1F219RCc/s1600-h/kenshin2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117377314873691202" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RwSTjgqwTEI/AAAAAAAAACI/Sse1F219RCc/s200/kenshin2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kadangkala aku merasa bahwa menjadi makhluk yang berpikir itu melelahkan. Setiap kali membuka mata, maka kita akan selalu berpikir sampai tak ada waktu untuk berhenti dan menikmati kekosongan, bahkan untuk membayangkan berhenti saja, kita tetap harus berpikir.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tiap detik melahirkan keinginan, gagasan dan ambisi yang lagi-lagi menyita waktu dan tenaga. Bahkan tak hanya itu, kerapkali pikiran-pikiran memaksa kita bertarung dengan kenyataaan dan kegagalan, serta tak jarang mengiris hati dengan kekecewaan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Memang perih, namun seperih apapun luka yang diakibatkan oleh proses berpikir, tetap saja tak ada yang dapat menghentikannya kecuali Tuhan dengan takdir kematian. Aku memang kadangkala merasa bahwa menjadi makhluk yang berpikir itu melelahkan, tapi aku yakin menjadi makhluk yang tak berpikir akan sangat menyakitkan dan menyiksaku......................&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;2 Oktober 2007, Saat semuanya terasa melelahkan&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7461346490808415930?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7461346490808415930/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7461346490808415930' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7461346490808415930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7461346490808415930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/10/makhluk-berpikir.html' title='Makhluk Berpikir'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RwSTjgqwTEI/AAAAAAAAACI/Sse1F219RCc/s72-c/kenshin2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1259658219881229772</id><published>2007-10-02T16:27:00.000+07:00</published><updated>2007-10-02T16:47:00.860+07:00</updated><title type='text'>Acha............</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RwISegqwTCI/AAAAAAAAAB4/RY-1syoBI4M/s1600-h/Gambar(8).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5116672442020940834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RwISegqwTCI/AAAAAAAAAB4/RY-1syoBI4M/s320/Gambar(8).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari ini telat ke kampus gara-gara main sama Acha, abis manis banget sih. Nisa tuh kalo udah ketemu sama Acha, aduh...gawat gak bisa diajak kemana-mana, maunya nempel sama Acha. Nama panjangnya Pasya Janiar tapi dipanggil Acha, umurnya 9 bulan, tapi ya ampun nakalnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dah ............Acha.......................&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1259658219881229772?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1259658219881229772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1259658219881229772' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1259658219881229772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1259658219881229772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/10/hari-ini-telat-ke-kampus-gara-gara-main.html' title='Acha............'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RwISegqwTCI/AAAAAAAAAB4/RY-1syoBI4M/s72-c/Gambar(8).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-507484992793640279</id><published>2007-08-07T14:15:00.000+07:00</published><updated>2007-08-07T14:22:57.636+07:00</updated><title type='text'>Sorry...................</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RrgdgvBsjmI/AAAAAAAAABw/c4yvDXqhmls/s1600-h/my+white+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095855426586316386" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RrgdgvBsjmI/AAAAAAAAABw/c4yvDXqhmls/s200/my+white+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aduh...gak sengaja kemaren malam aku bikin seorang teman tersinggung. Aku benar2 gak bermaksud bikin dia gak enak hati. Sumpah......... murni becanda doang, tapi tiba-tiba dia kesal beneran.&lt;br /&gt;Aku juga sih yang salah, seharusnya aku lebih peka sama teman-temanku. Selera humor orang kan beda2, tapi aku nyantai aja becanda, ato mungkin emang akunya kalik ya yang nyebelin banget. Gak tahu deh, pokoknya sekarang ini bener2 lagi gak enak. Aku kan gak tahan diem2an sama orang, ditambah aku bukan orang yang bisa membujuk, makin parah jadinya.&lt;br /&gt;Udah berencana mo minta maaf, tapi gak tahu mesti gimana bilangnya. Pusing banget nih, gak tahu mesti ngapain. pelajaran juga sih buat aku, lain kali jangan becanda sembarangan !!!&lt;br /&gt;Dari hati yang paling dalam dan ketulusan yang berhasil aku kumpulkan, aku cuma mo ngucapin : " Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu kesal kemarin, hari ini dan selamanya "&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-507484992793640279?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/507484992793640279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=507484992793640279' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/507484992793640279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/507484992793640279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/08/sorry.html' title='Sorry...................'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RrgdgvBsjmI/AAAAAAAAABw/c4yvDXqhmls/s72-c/my+white+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7860490744167227384</id><published>2007-07-21T16:10:00.000+07:00</published><updated>2007-07-21T16:19:19.960+07:00</updated><title type='text'>Rumah Sahabatku...</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RqHPZ_BsjdI/AAAAAAAAAAo/h4blCApy4B0/s1600-h/mechanical_key.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5089577099227598290" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RqHPZ_BsjdI/AAAAAAAAAAo/h4blCApy4B0/s200/mechanical_key.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari ini dia datang lagi, dan berada di dekatku, seorang sahabat yang amat istimewa. Aku suka sosok wajahnya yang lembut dan bersahaja, matanya yang jernih, juga senyumnya yang sumringah, tulus seperti anak kecil. Aku selalu suka kata-kata dan nada bicaranya yang manja dan sopan, kelakuannya dan kesederhanaannya.&lt;br /&gt;Kali ini dia datang dan kembali tersenyum. Kemudian aku membuka pintu rumahnya, kutemukan luka yang menghiasi dinding, sederetan lukisan keperihannya terpampang dengan amat teratur. Aku mencoba untuk masuk lebih dalam, namun kali ini dia memegang kunci pintu yang lain. Dia tak mau memberikannya padaku, dia masukkan kunci itu dalam genggamannya. Dan kembali membiarkanku berputar-putar di dalam rumahnya, melihat-lihat apa yang telah dia bangun, ada harapan, ada do'a, atau cuma sekedar catatan pinggiran kesehariannya.&lt;br /&gt;Namun sekali lagi dia membatasi wilayah yang boleh ku masuki, kunci itu tetap digenggamnya begitu erat................................................................ &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7860490744167227384?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7860490744167227384/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7860490744167227384' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7860490744167227384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7860490744167227384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/07/rumah-sahabatku.html' title='Rumah Sahabatku...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_u_MwDiikKdo/RqHPZ_BsjdI/AAAAAAAAAAo/h4blCApy4B0/s72-c/mechanical_key.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7140838178059802068</id><published>2007-07-13T18:39:00.000+07:00</published><updated>2007-07-13T18:54:41.390+07:00</updated><title type='text'>Aku Bertanya</title><content type='html'>Mengapa ....&lt;br /&gt;Hari ini terasa begitu jengah&lt;br /&gt;Matahari seolah membakar kepala&lt;br /&gt;Tanahpun seakan tak rela menjadi tempat berpijak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ....&lt;br /&gt;Hari ini belaian angin tak lagi mesra&lt;br /&gt;Dingin menusuk dalam luka yang menganga&lt;br /&gt;Dan semua masih terpaku di tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada apa .....&lt;br /&gt;Hingga asa terasa patah&lt;br /&gt;Meninggalkan kata-kata tanya&lt;br /&gt;Dan Senyum tak lagi merekah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah yang kurasa .....&lt;br /&gt;Suara hati begitu sayup&lt;br /&gt;Pelan dan semakin tak terdengar&lt;br /&gt;Kegalauan kian menggila menanamkan sejuta lara&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7140838178059802068?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7140838178059802068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7140838178059802068' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7140838178059802068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7140838178059802068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/07/aku-bertanya.html' title='Aku Bertanya'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-6959448062263087033</id><published>2007-07-07T16:45:00.000+07:00</published><updated>2007-07-07T16:52:00.931+07:00</updated><title type='text'>Pluralitas dan Hubungan Etnis di Kalimantan Barat</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Kalimantan Barat (Kalbar) memiliki tingkat pluralitas yang sangat tinggi. Berbagai orang dari agama, dan etnis serta kebudayaan yang berbeda menetap di daerah ini. Namun demikian, Kalbar juga dikenal sebagai salah satu daerah yang rawan terhadap konflik antar etnis. Hal ini terbukti dengan seringnya terjadi konflik yang melibatkan etnik di Kalimantan Barat, diantaranya pada tahun 1967 yang melibatkan etnis Dayak dengan Tionghoa, tahun 1979, 1996/1997 antara etnis Dayak dengan Madura, kemudian tahun 1999 yang melibatkan etnis Melayu dan Dayak dengan etnis Madura. Kejadian-kejadian tersebut memakan korban yang tidak sedikit, baik nyawa manusia maupun harta benda. Hal itulah yang kemudian membuat Kalbar, terutama bagi masyarakat luar identik dengan konflik antar etnis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun jika dilihat lebih jauh dari akar budaya masyarakat di Kalbar, perdamaian dan harmoni memegang peranan penting. Pluralitas atau keberagaman yang sering dianggap sebagai pemicu konflik justru tidak bisa dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Semua konflik yang terjadi, pada dasarnya bukanlah merupakan penolakan terhadap pluralitas etnik, namun lebih dipacu oleh ketidakpahaman masyarakat terhadap budaya-budaya lain yang ada di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Prasangka-prasangka negatif  yang berkembang di kalangan masyarakat membuat kesempatan terjadinya konflik berkepanjangan semakin terbukan lebar. Hal ini terjadi karena tidak efektifnya komunikasi antar budaya dalam masyarakat. Oleh sebab itu, penting kiranya pluralitas dan hubungan antar etnik mendapat perhatian khusus dan ditinjau lebih dalam dari segi akademik guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya tingkat pluralitas di Kalbar, diantaranya ; keadaan geografis dan kebijakan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Keadaan Geografis&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalbar merupakan salah satu provinsi di Indonesia, dimana Indonesia sendiri terdiri atas beribu-ribu pulau yang terpisah oleh lautan. Keadaan yang demikian, apalagi dengan kedudukan Indonesia yang menjadi daerah transit dari berbagai benua, membuat masyarakat Indonesia memiliki berbagai cara hidup yang berbeda. Dengan latar belakang yang demikian lahirlah berbagai kebudayaan dan tradisi yang berbeda pula. Hal ini lebih diperkuat dengan penyerapan budaya-budaya dari luar Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalbar juga mengalami hal yang sama. Sebagai daerah yang berada dalam jalur perdagangan Internasional pada masa lalu, Kalbar menjadi tempat bertemunya berbagai budaya, baik yang datang maupun budaya masyarakat asli. Tak jarang para pendatang ikut menetap untuk selamanya di Kalbar. Hal inilah yang kemudian mendorong tingginya tingkat pluralitas di provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kebijakan Pemerintah&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kebijakan Pemerintah juga menjadi salah satu penyebab pluralitas budaya di Kalbar. Kebijakan yang dimaksud salah satunya adalah transmigrasi, yaitu perpindahan penduduk dari tempat yang padat penduduknya ke daerah yang jumlah penduduknya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kalbar telah menjadi daerah tujuan transmigrasi sejak dulu. Menurut hasil statistik, jumlah penduduk daerah ini memang relatif rendah, sehingga Pemerintah menjadikannya sebagai tujuan bagi transmigran yang berasal dari daerah padat, seperti pulau Jawa dan Madura. Perpindahan tersebut menambah keberagaman budaya di Kalimantan Barat, setelah kedatangan penduduk dari daerah lainnya, termasuk masyarakat etnis Tiong Hoa.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pluralitas yang tinggi memiliki peluang besar terjadinya konflik apabila tidak disikapi dengan bijaksana. Arogansi kebudayaan pada setiap kelompok masyarakat akan berakibat fatal apabila tidak dapat dibendung dan dikomunikasikan dengan berbagai budaya yang ada. Hal ini merupakan realitas kehidupan yang perlu disikapi secara tepat. Tidak selamanya pluralitas menimbulkan dampak yang negatif bagi kehidupan masyarakat. Bagi setiap manusia yang lahir ke dunia, keberadaannya dalam suatu etrnis tertentu bukanlah sebuah pilihan. Pada dasarnya setiap etnik mengajarkan nilai-nilai kearifan pada masyarakatnya. Selain rawan terhadap konflik, keberagaman ini juga memiliki nilai positif. Keberagaman ini merupakan salah satu aset negara yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam kehidupan sehari-hari sebenarnya banyak orang dari berbagai suku yang bekerjasama dan bahkan bersahabat. Hal ini dapat dilihat di pusat-pusat keramaian, seperti di pasar. Setiap orang bekerjasama dengan tujuan yang sama pula, yakni memenuhi kebutuhan hidup. Namun di beberapa tempat juga terjadi konflik akibat masyarakat yang sama-sama tidak memahami kebudayaan di sekitarnya. Sebagai contoh, di daerah-daerah tertentu umumnya masyarakat tidak begitu menyukai kebiasaan orang Madura yang selalu membawa clurit ke mana-mana. Mereka menganggap hal itu sebagai wujud pamer kekuatan dan tidak wajar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Namun jika dilihat dari sudut pandang orang Madura, membawa celurit merupakan suatu kebiasaan yang telah menjadi tradisi, layaknya keris bagi para bangsawan Jawa. Seperti keris, celurit juga merupakan pelengkap dalam berpakaian, selain untuk menjaga diri dari perbuatan jahat orang lain. Jadi penggunaan celurit dari sisi ini tidak menunjukkan sikap kesombongan, namun lebih cenderung pada kebiasaan dan tradisi yang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Hal ini juga terjadi pada etnis-etnis lainnya. Anggapan yang salah dan terus berkembang di masyarakat membuat hubung an antar etnis yang seharusnya dapat rukun menjadi tersulut konflik. Pandangan yang menyatakan bahwa orang-orang Tiong Hoa selalu korupsi dan bermuka dua, membuat masyarakat etnis lainnya tidak mempercayai mereka. Padahal jika dikaji lebih jauh, masyarakat Tiong Hoa memegang peranan penting dan turut berjasa dalam pertumbuhan ekonomi di Kalbar.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anggapan lainnya, seperti orang-orang Melayu yang memiliki sifat malas, dan Dayak yang terbelakang turut memperparah keadaan yang rawan akan konflik. Semua anggapan dan pandangan ini sebenarnya tidak dapat dibuktikan secara empirik. Sayangnya, pandangan-pandangan negatif ini terus bekembang hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anggapan-anggapan dan kecurigaan antar etnis di Kalbar harus segera ditangani lebih serius. Hal ini jika didiamkan hanya akan membawa akibat buruk bagi kesejahteraan dan keamanan masyarakat. Semua itu dapat ditanggulangi dengan membuka forum komunikasi antar etnis dan mengaktifkan kegiatan-kegitan yang berorientasi pada keberagaman etnik. Selain itu masyarakat juga harus membuka wahana berpikirnya lebih luas, untuk memahami kearifan yang tersimpan dalam budaya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam hal ini, pemerintah juga dituntut untuk ikut serta secara aktif. Pemerintah lewat aparat penegak hukumnya harus mewujudkan supremasi hukum secara tegas. Hal ini penting untuk menindak setiap kejahatan, agar tidak terjadi kecurigaan yang kemudian berakhir dengan kemarahan masyarakat. Sikap keterbukaan, perlakuan yang adil dan pengetahuan luas akan dapat menjembatani semua keberagaman yang hidup, bahkan semakin membuat Kalimantan Barat menjadi kaya akan budaya, tanpa adanya kerusuhan dan korban jiwa. Semoga.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;dipublikasikan : Pontianak Post, 7 Juli 2007&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-6959448062263087033?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/6959448062263087033/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=6959448062263087033' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6959448062263087033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6959448062263087033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/07/pluralitas-dan-hubungan-etnis-di.html' title='Pluralitas dan Hubungan Etnis di Kalimantan Barat'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8015302572564937012</id><published>2007-06-25T19:09:00.000+07:00</published><updated>2007-06-25T19:11:48.167+07:00</updated><title type='text'>Aku dan Asa</title><content type='html'>Aku adalah pena yang terluka&lt;br /&gt;Dengan tinta yang membanjiri meja&lt;br /&gt;Menciptakan noda-noda dalam kertas yang terkoyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kabarkan derita mereka&lt;br /&gt;Kanak-kanak yang tidur dengan rasa lapar&lt;br /&gt;Tangan-tangan kecil yang menghiba&lt;br /&gt;Dalam kegarangan surya tak terlara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tuliskan kebejatan binatang jalang&lt;br /&gt;Yang memperkosa gadis-gadis cantik kita&lt;br /&gt;Dalam malam pertama kebengisan&lt;br /&gt;Dengan darah dan air mata keperawanan yang terkoyak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih terus membanjiri meja dengan tinta yang merah&lt;br /&gt;Mengabarkan pada dunia segala yang terluka&lt;br /&gt;Sampai aku layu dalam kerentaan&lt;br /&gt;Dan mati dalam asa yang terus membara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku wariskan kerja keabadian&lt;br /&gt;Pada pemegang panji masa depan&lt;br /&gt;Sampai mereka menjadi manusia&lt;br /&gt;Dalam wujud segala bangsa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8015302572564937012?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8015302572564937012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8015302572564937012' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8015302572564937012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8015302572564937012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/06/aku-dan-asa.html' title='Aku dan Asa'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7258459250947562650</id><published>2007-06-25T16:54:00.000+07:00</published><updated>2007-06-25T17:02:10.539+07:00</updated><title type='text'>Sebuah Kepenatan</title><content type='html'>Setumpuk permasalahan pers di kampusku benar-benar terasa menyesakkan dan berkumpul dalam kepala yang terasa hampir mau pecah. Tadi pagi datang terbitan dari BEM FKIP Untan. Tulisan mereka bagus, dan tampilannya berwarna. Timbul rasa iri dalam hati, kapan WARTA seperti itu ???? Bukan tulisannya yang membuatku iri, meski agak narsis tapi aku yakin teman-temanku bisa menulis, sangat bisa. Mereka punya kemampuan untuk itu, hanya perlu latihan dan mereka akan terbentuk sebagai penulis-penulis yang membanggakan.&lt;br /&gt;Yang membuat aku iri adalah tampilan terbitan mereka yang berwarna dan tertulis gratis. Kapan WARTA akan seperti itu ? Bukannya tak berusaha, tapi dana untuk itu benar-benar tak ada pada kami. Sampai saat ini WARTA terus hidup dari hasil penjualan yang hanya 1000 rupiah, tak ada dana lain, kecuali uang dosen-dosen yang biasanya membayar lebih. Tak jarang uang pribadi kamipun harus masuk kesana. Hari ini simpanan WARTA tak lebih 200 ribu, sedangkan biaya cetak naik dari 240 ribu menjadi 270 ribu. Sampai saat ini masih terjadi perdebatan, apakah bulan ini WARTA dapat terbit ? Dengan konsekwensi apabila terbit, maka tak ada dana untuk penerbitan bulan depan, padahal bulan depan adalah penerimaan mahasiswa baru. Kalau tak terbit, kasihan para wartawan yang telah mengejar berita, apalagi mereka adalah orang-orang yang baru saja bergabung dengan LPM. Penerbitan bulan ini akan sangat berarti untuk mereka. Permasalahan bertambah saat kamera rusak, otomatis kami tak bisa memotret apapun.&lt;br /&gt;Pernah kami mencoba pinjam di jurusan Dakwah, alhasil seorang temanku di ceramahi habis-habisan ketika mengembalikannya. Padahal tak ada satu komponenpun yang rusak. Aku jadi ingat perkataan Pak Yus yang kesal dengan pagelaran musik dikampus. Dia berkata mengapa kampus ini lebih suka memberikan uang untuk pagelaran musik yang berteriak-teriak dari untuk penerbitan koran kampus.&lt;br /&gt;Iri, ku akui sangat iri. Saat melihat kampus ini mengeluarkan puluhan juta untuk Radio dan TV, bukankah koran kampus juga media pembelajaran ?  Bagaimana mungkin Fakultas Keguruan memiliki media dengan tampilan dan dukungan dana yang lebih besar dibandingkan dengan Jurusan yang memiliki program studi Komunikasi dengan spesifikasi Jurnalistik ? Bagaimana aku tidak iri melihat tower panjat dinding yang menjulang dengan tongkat-tongkat bajanya, sementara untuk berjalan saja WARTA masih terseok ?&lt;br /&gt;Tak banyak yang ingin ku pinta, andai saja aku boleh meminta. Aku hanya ingin terbitan WARTA berwarna, halaman depan dan belakang saja.... dan sebuah kamera. Cuma itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7258459250947562650?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7258459250947562650/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7258459250947562650' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7258459250947562650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7258459250947562650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/06/sebuah-kepenatan.html' title='Sebuah Kepenatan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-6086111980599680672</id><published>2007-06-23T16:54:00.000+07:00</published><updated>2007-06-23T17:01:51.563+07:00</updated><title type='text'>Jauh</title><content type='html'>diam....&lt;br /&gt;hening....&lt;br /&gt;bisu dan tak berkata...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bahkan tak mampu menatap bening matamu&lt;br /&gt;hanya punggung yang terlihat semakin menjauh&lt;br /&gt;terjarak dengan dinding kaca&lt;br /&gt;tersapu dalam waktu yang berburu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini kau tiada...&lt;br /&gt;dan akupun semakin maya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-6086111980599680672?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/6086111980599680672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=6086111980599680672' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6086111980599680672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6086111980599680672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/06/jauh.html' title='Jauh'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7405448623411635686</id><published>2007-06-09T18:34:00.000+07:00</published><updated>2007-06-09T19:07:25.195+07:00</updated><title type='text'>Besok Umurku Berkurang Setahun.............</title><content type='html'>Besok 10 Juni, aku ulang tahun. Setiap kali tanggal ini datang aku selalu saja seperti anak kecil, deg-degan dan menunggu-nunggu matahari terbit. Sama seperti ini waktu kelas 3 SD dulu. Betap rasanya waktu cepat sekali berlalu, umurku akan berkurang lagi setahun. Itu artinya, makin sedikit waktuku untuk berbuat sesuatu.&lt;br /&gt;Harapan ??? Entahlah... Aku terlalu banyak memiliki harapan dan mimpi, sampai aku tak tahu mana harapan yang khusus ku buat ketika hari ulang tahunku. Aku merasa Allah benar-benar Maha baik, dia memberikan banyak sekali sketsa harapan untukku teruskan menjadi jalan hidupku. Tanpa itu, mungkin aku hanya sebuah patung yang takkan bergerak. Nafasku adalah impian, dan detak jantungku adalah harapan maka aku hidup sebagai seorang manusia. Terimakasih ???&lt;br /&gt;Tentu saja, banyak sekali orang di dunia itu yang harus aku berterimakasih padanya. Orang tuaku, sahabat-sahabatku, guru-guruku, saudara-saudaraku, teman-temanku dan semua orang yang menyisihkan sedikit waktu, pikiran, cacian atau pujian untukku. Mereka semua harus menerima terima kasihku.&lt;br /&gt;Maaf ???&lt;br /&gt;Yah...pastilah....Aku cuma manusia yang takkan terlepas dari khilaf. Semuanya.... ku mohon maafkan aku, atas semua dan segala yang telah kulakukan. Aku juga ingin meminta maaf pada orang2 yang kusakiti. Sekali lagi, Maafkan aku............&lt;br /&gt;Harapan ???&lt;br /&gt;Tadi kau telah menanyakannya'kan ??? Baiklah aku akan menjawab, harapanku yang pertama, aku diijinkan untuk terus menulis... dan ...terus menulis...sampai Allah mengutus malaikatNya untuk membawaku pergi dari dunia ini. Aku ingin mati di jalan yang aku yakini benar. Aku juga ingin dapat membahagiakan orang-orang, minimal mereka yang kucintai. Lalu, aku ingin orang-orang yang telah membuatku kehilangangan diri mereka kembali seperti dulu, aku ingin mereka bahagia. Lalu..,..,..,..,...,...,...................................................................................................................&lt;br /&gt;Dan sudahlah,....jangan bertanya lagi, bukankah hari itu, 10 Juni itu hanya 24 jam sama seperti hari lainnya...................................................................&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7405448623411635686?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7405448623411635686/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7405448623411635686' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7405448623411635686'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7405448623411635686'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/06/besok-umurku-berkurang-setahun.html' title='Besok Umurku Berkurang Setahun.............'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5505123989651167064</id><published>2007-05-09T15:45:00.000+07:00</published><updated>2007-05-09T16:02:00.046+07:00</updated><title type='text'>Jawaban Yang Mulai Ku Ragukan</title><content type='html'>Pernah ada seorang bertanya padaku " Seperti apakah persahabatan untukmu ?"&lt;br /&gt;Tanpa ragu sedikitpun aku menjawab " Hubungan yang terlalu suci untuk didefinisikan, karena ia begitu bebas memilih. Hanya ada hati di sana, tanpa intervensi alam. Hubungan yang dilandasi dengan kesadaran, dan pamrih yang tak seberapa"&lt;br /&gt;Lalu ia bertanya lagi " Seperti apa yang ingin kau lakukan untuk temanmu ?"&lt;br /&gt;"Aku ingin selalu ada untuknya, terutama saat-saat mereka membutuhkanku dan kalaupun aku harus pergi, aku ingin meninggalkannya dalam kebahagiaan"&lt;br /&gt;" Lalu seperti apa teman-temanmu saat ini ?"&lt;br /&gt;" Seperti apa yang ingin ku lakukan untuk mereka"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, saat ini aku mulai ragu dengan apa yang kukatakan. Aku mulai merasa kalau semua itu hanya pikiran egoisku. Entak kenapa ????&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5505123989651167064?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5505123989651167064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5505123989651167064' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5505123989651167064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5505123989651167064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/05/jawaban-yang-mulai-ku-ragukan.html' title='Jawaban Yang Mulai Ku Ragukan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2014482715472900777</id><published>2007-05-01T14:29:00.000+07:00</published><updated>2007-05-01T15:16:06.752+07:00</updated><title type='text'>Ya Allah......</title><content type='html'>Ya Allah, Emakku sakit. Rasanya perih sekali melihat wanita yang paling kucintai memuntahkan darah dari mulutnya. Semakin menyakitkan saat dia selalu mencoba kelihatan kuat didepan anak-anaknya. Dia berjalan menuju dapur, dia tersenyum, lalu bercanda dengan cucu-cucunya. dia tak mau kelihatan lemah, dia tak mau mencemaskan anak-anaknya, bahkan dia tak mengizinkanku untuk menelpon abang yang sedang bekerja. Ya Allah, sakit sekali........&lt;br /&gt;Namun tubuhnya tak dapat berbohong tatkala dia kembali memuntahkan darah, kini semuanya darah. Ya Allah, sebelah nyawaku serasa terbang bersama angin yang begitu dingin. aku tak pernah merasakan dinginnya angin yang benar-benar menusuk tulangku, seperti sore ini. Dia terlihat begitu pucat, hari ini aku melihat ibuku begitu tua, kurus dan lemah. Tapi itu hanya fisiknya, karena aku masih bisa melihat ketenangan di matanya, di mata wanita yang paling tabah sedunia, di mata wanita paling tegar sedunia. Dia menenangkan adikku, dan kakak-kakakku yang menangis histeris, kemudian bapakku yang langsung menghampirinya usai sholat Ashar. Akhirnya tinggal aku sendiri yang masih sanggup berada di sisinya, melihat darah-darah itu keluar dari mulutnya. Melihat betapa seluruh tenaganya terkuras setelah semua kejadian itu. Ya Allah, terima kasih tetap membuatku bisa mengingatMu, karena hanya itu yang benar-benar bisa membuatku tegar.&lt;br /&gt;Dan akupun harus tetap tegar kala menemani wanita yang kuanggap rahmatMu itu untuk menuju rumah sakit. Santo Antonius, nama rumah sakit itu. Bismillah, aku mulai perjuangan ini ya Allah, dan aku yakin dengan KuasaMu, emakku akan baik-baik saja. Tiada daya dan kekuatan tanpa tanpa kuasaMu. Dalam tiap inchi harapanku yang panjang telah tertanam dengan subur sebuah keyakinan bahwa Engkau takkan pernah meninggalkanku, meski cuma sepersejuta detik, takkan pernah, Engkau takkan memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan makhlukMu. La tahzan. Jangan takut, jangan sedih sesungguhnya Allah bersama kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2014482715472900777?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2014482715472900777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2014482715472900777' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2014482715472900777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2014482715472900777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/05/ya-allah.html' title='Ya Allah......'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5039411076473038296</id><published>2007-04-17T17:49:00.000+07:00</published><updated>2007-04-17T17:54:39.003+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Teman..............</title><content type='html'>Hidup benar-benar seperti mimpi. Banyak peristiwa yang terjadi tanpa dapat di duga atau bahkan terlintas. Kemarin malam (16/4) aku mendapat kabar mengejutkan dari Andreas, adik kelasku di SMA dulu. Dia mengabarkan bahwa senior kami di SISPALA SMANSA angkatan XI yang bernama Emelya Sari mengalami kecelakaan. Kak Emel meninggal !!!........&lt;br /&gt;Tuhan, sesaat aku merasa waktu berhenti. Sosok  Kak Emel begitu lekat rasanya dalam ingatanku. Entah kenapa kenangan-kenangan saat di SMA dulu dan peristiwa-peristiwa tentang Sispala kembali berkelebat, seperti baru terjadi kemarin. Hingga saat aku menulis sekarang ini, senyumnya masih saja terasa membingkai mataku. Dia begitu manis, dan baik, mungkin karena dia dan temanku, Mitra bertetangga hingga rasanya dia selalu memperhatikan kami.&lt;br /&gt;Aku bahkan masih ingat peristiwa ketika acara buka puasa bersama SISPALA yang digelar di rumah Mitra. Menjelang sore, belum ada seorangpun yang datang. Aku dan Mitra mulai panik apalagi teman-teman seangkatan kami tidak ada yang membantu, hanya kami berdua. Lalu kami berjalan menuju rumah Kak Emel dan mengendap-endap untuk memastikan apakah kakak2 kelas kami sudah datang atau sebaliknya, karena sebelum ke rumah Mitra kami yakin mereka pasti akan berkumpul dulu di rumah Kak Emel. Sialnya, saat itu kami ketahuan. Tanpa berpikir panjang, kami segera melarikan diri, dengan meninggalkan mereka yang kebingungan. Tuhan, peristiwa itu seperti baru saja terjadi………………&lt;br /&gt;Mungkin kematiannya memang membuatku sedih, tapi peristiwa di balik kematiannya membuatku benar-benar terluka. Menurut keluarganya, Kak Emel pergi bersama keponakannya yang baru berusia 8 tahun. Kemudian di perjalanan dia di jambret, dia bersikeras mengejar penjambret itu. Sayang, dia diserempet, kemudian terjatuh dan terjadilah kecelakaan maut itu. Dia digilas oleh kendaraan lain. Ironisnya, setelah dalam keadaan sekarat seperti itupun, masih saja ada orang yang memanfaatkannya untuk melucuti perhiasan Kak Emel. Ya Allah…. terbuat dari apakah hati orang itu ?? ataukah hati mereka telah mati seiring dengan matinya moral di dada. &lt;br /&gt;Tak ada lagi rangkaian kata yang sanggup untukku tulis, aku tak tahu harus menulis apa. Di otakku terasa banyak sekali hal yang ingin kutuliskan, tapi aku benar-benar kehabisan kata. Ya Allah, hanya dengan kuasaMu semua ini terjadi, hanya dengan kebesaranMu semua ini akan menjadi pelajaran bagi banyak orang, Ya Allah dengan segala kelemahanku aku memohon kepadaMu, Terimalah dia Ya Allah, terimalah jiwanya di sisiMu, ampunilah dia dan terimalah segala aml ibadahnya. Amin…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5039411076473038296?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5039411076473038296/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5039411076473038296' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5039411076473038296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5039411076473038296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/04/selamat-jalan-teman.html' title='Selamat Jalan Teman..............'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2034505889955528690</id><published>2007-04-07T15:43:00.000+07:00</published><updated>2007-04-07T16:42:12.286+07:00</updated><title type='text'>Hari Yang Menyebalkan</title><content type='html'>Duh.... hari ini menyebalkan.&lt;br /&gt;Pertama aku gak suka mata kuliahnya.&lt;br /&gt;Kedua, males banget liat papah hari ini. Aku minta tulisanku yang kemaren dikoreksi, trus dia bilang kalo aku gak tulus minta koreksian, dia bilang aku ngarapin yang laen. Aduh... ngarapin apa coba ????????. Dia bilang kalo dia bersedia buat ngoreksi tulisan aku, tapi mesti tulisan yang laen, bukan yang itu. Emang sih tulisan itu dapet juara waktu lomba KarIl kemaren, tapi'kan aku butuh koreksiannya buat bahan pembanding untuk tulisanku berikutnya. Dalam tulisan itu aku bikin analisis, nah struktur analisis itu yang pengen aku minta koreksiannya, apanya yang kurang dalam pendekatannya, karena untuk tulisan berikutnya aku butuh struktur analisis yang benar. Cuma itu kok, gak lebih. Bener-bener kecewa banget sama papah hari ini, sangat kecewa...........&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2034505889955528690?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2034505889955528690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2034505889955528690' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2034505889955528690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2034505889955528690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/04/hari-yang-menyebalkan.html' title='Hari Yang Menyebalkan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7974655150209107058</id><published>2007-03-30T16:53:00.000+07:00</published><updated>2007-03-30T17:54:27.835+07:00</updated><title type='text'>Hujan...</title><content type='html'>Di luar hujan deras, deras sekali ada deru angin yang terasa dingin ditambah suara guntur dan sesekali ada kilatan cahaya. Satu perangkat gejala alam yang maha dahsyat. Luar biasa. Aku suka melihat titik-titik air yang jatuh kebumi dengan cepatnya, berbenturan dengan tanah, kemudian membentuk lompatan-lompatan kecil. Ada warna putih air yang dimainkan oleh angin menciptakan siluet cahaya seperti selendang seorang bidadari. Lalu ada daun-daun palem yang panjang dan ramping mengikuti gerakan angin dengan jemarinya, menari gemulai seperti seorang ballerina diatas panggung. Aku selalu percaya bahwa hujan adalah pesta dansa paling indah yang pernah tercipta di bumi.&lt;br /&gt;Aku suka hujan, Karena hujan selalu menghadirkan sebuah kerinduan akan kenangan yang terkubur jauh dalam ingatanku. Dalam sekejap aku merasa seperti pernah memiliki sesuatu yang sangat berharga, meski aku sendiri tak mampu untuk mengingatnya. Warna suram yang ditampilkan hujan selalu menambah kerinduan akan itu. Dingin suasana membuat semuanya terasa begitu nyata. Hujan membantuku untuk menghanyutkan semua hal yang tak ingin ku simpan, membawaku ke pintu rahasia untuk masuk ke dunia lain, menggandengku sebentar, meski akhirnya aku tetap harus kembali pada kehidupan nyata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7974655150209107058?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7974655150209107058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7974655150209107058' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7974655150209107058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7974655150209107058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/hujan.html' title='Hujan...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1987112109585592386</id><published>2007-03-24T17:32:00.000+07:00</published><updated>2007-03-24T17:33:05.991+07:00</updated><title type='text'>Waktu Pelatihan</title><content type='html'>Duh bosan banget neeh…&lt;br /&gt;Materinya motivasi menulis, tapi kok aku malah gak semangat, dan malah lagi gak dapat motivasi. Kayaknya kalo pematerinya Papah ato Om Unoi bakalan keren deh. Soalnya mereka paling cerewet dan banyak menghabiskan waktunya untuk menulis, ato mungkin akunya aja yang gak respek sama materinya.&lt;br /&gt;Tapi ngomong-ngomong soal Papah, dia kenapa ya ? Soalnya kemaren Papah juga ngasi materi, tapi kok rasanya gak nyambung sama tema yang dibawakan. Terus alat-alat bantu yang di pake Papah juga pada jadi aneh-aneh, slidenya kebalik, infocus nya juga gak genah, Papah napa ya ? mungkin lagi banyak urusan kali ya ? Soalnya Papah harus ngajar,trus juga harus mempersiapkan koran barunya. Pasti semua itu gak mudah dan bikin pusing. Tapi apapun itu semoga Papah selalu sukses dan tetap jadi Papah kami yang terhebat………………&lt;br /&gt;O iya, kemaren pagi si Honey sempat SMSan sama Papah, dia minta ijin buat dia, aku, ibu Negara, sama si penyiar gaul untuk gak ikutan mata kuliah news, soalnya kita;kan ikut pelatihan, trus Papah balas SMS si Honey, gini neeh “OK, belajar yg bener ya”. Hehehehehe waktu itu sama si Honey seneng banget, kerasa kalo Papah tuh peduli sama kita-kita. Kata Honey, dia kayak papa kita beneran. Hehehehehehe dia’kan emang Papah kita……….&lt;br /&gt;Terus sorenya Papah ngasi materi, kejadian deh kayak yang tadi. Waktu Papah ngasi materi si Honey sempat sedih, soalnya Papah tuh nyinggung soal buku harian, trus bilang siapa yang mok jadi penulis tapi gak punya buku harian sama aja bo’ong. Nah kita’kan gak punya buku harian, tentu saja protes, meski Cuma dalam hati. Ah Papah……………&lt;br /&gt;Gara-gara itu mukanya si Honey langsung sedih. Kok Papah ngomongnya gitu sih, katanya. Kalo buku harian, bukannya gak mok nulis tapi kita emang anti sama benda satu itu. Tapi gak papalah yang penting kita tau Papah gak bener-bener bilang gitu sama kita. Dan Papah juga tau itu……………………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1987112109585592386?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1987112109585592386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1987112109585592386' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1987112109585592386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1987112109585592386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/waktu-pelatihan.html' title='Waktu Pelatihan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-458101635960374644</id><published>2007-03-17T17:54:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:55:47.346+07:00</updated><title type='text'>Akhir Februari...</title><content type='html'>Hari ini tanggal 28 februari 2007, akhir bulan februari.&lt;br /&gt;bulan ini pergi dengan meninggalkan banyak peristiwa bagiku. Mulai dari kepergian ke Gombang yang melahirkan begitu banyak pelajaran dari orang-orang yang baru sekali kutemui, workshop yang menaruh kenangan berharga, sampai pada perjuangan kecilku juga liburan anehku. banyak hal yang terjadi di bulan februari, banyak sekali. tidak hanya padaku tapi juga pada banyak orang. Tragedi Kapal Levina 1 juga mewarnai bulan yang hanya berumur 28 hari ini. Bagi keluarga kedua kamerawan yang jadi korban tenggelamnya kapal jenis roro itu, bulan februari pasti takkan pernah terlupakan, juga bagi yang lainnya.&lt;br /&gt;Februari menambah rentetan kecelakaan transportasi ditanah air. setelah KM.senopati, Adam air kini Levina. Aku jadi teringat lelucon yang menyatakan bahwa di Indonesia nyawa manusia lebih murah daripada barang elektronik di Jepang dan di Amerika. Mungkin ada benarnya. Kemarin waktu aku menonton berita di TV, dikatakan bahwa pihak Levina akan memberikan biaya tanggungan pengobatan pada penumpang yang dirawat, lalu bagi penumpang lainnya akan diberikan ganti rugi senilai 4 kali harga tiket, atau sekitar 500 ribu rupiah. Nyawa manusia di Indonesia hanya seharga 500 ribu ? atau harga nyawa orang miskin ? karena siapapun tahu orang-orang yang menumpang kapal kebanyakan mereka yang ekonominya rendah. bagaimana dengan ganti rugi penumpang peasawat ? apa di negeri yang terkenal santun ini harga manusia miskin dan kaya pun harus dibedakan ? setelah strata sosial, pendidikan, harta dan kebangsawanan mengkotak-kotakkan manusia, ternyata setelah mati nyawapun harus harus dikotak-kotakkan berdasarkan alat transportasi tempat seseorang meninggal. Ironis.................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 28, 2007 at 11:46 PM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-458101635960374644?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/458101635960374644/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=458101635960374644' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/458101635960374644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/458101635960374644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/akhir-februari.html' title='Akhir Februari...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5499099965719077809</id><published>2007-03-17T17:51:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:54:35.136+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan yang Kedua....</title><content type='html'>Hari ini dipanggil sama papah Yuchy, disuruh ikut sama rombongan dosen yang lagi mok pergi ke Senaken. Ada kegiatan disana. Senang pasti, tapi kayak biasalah papah bilang blom tentu ada tempat buat aku dan Nisa, dia emang biasanya nyuruh salah satu doang. Biasa papah usil…………….. Tapi bukan kami namanya kalo putus asa :-P Nisa lantas lobi-lobi Bu Cucu, dan berhasil. Tempat buat Nisa beres. Dan buat aku, itu jadi urusannya Papah. Masih ada satu lagi, kerjaan di WTC. Nggak juga mudah sih, tapi my boss baik bangget, pasti boleh pergi asal ada yang gantikan. Nah, buat yang gantikan kayaknya harus minta tolong sama teman hehehehehehehehe Berarti sekarang harus cari pengganti neeh, terus pulang dan beres-beres buat besok. Agak-agak seram sih dengerin ceritanya Nisa soal tempatnya. Bayangkan gak ada kamar mandi, gak ada WC plus gak ada warung, pasti bener-bener lengkap tuh penderitaan. Gimana mok mandinya?????????????? Tapi gak mungkin dong mundur gara-gara itu. Justru semuanya akan lebih berkesan saat kita berada dalam situasi kekurangan, dapat belajar dan memahami kehidupan mereka. Jadi ingat ungkapannya Gie “ Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat” . Aku kan orang Indonesia, mereka juga orang Indonesia. Tapi jadi kepikiran, betapa lambatnya kemajuan negeri ini. Di tahun 2007, masih ada desa yang tidak punya WC dan kamar mandi ????? harus buang air didalam hutan. Gila… kenyataan ini kok keliatan bertentangan dengan hotel-hotel dan pusat-pusat perbelanjaan yang kian bertambah megah. Di Infotaiment seorang artis tak segan-segan menghabiskan uang belasan juta hanya untuk membeli kostum yang akan dipakainya saat menghadiri acara penganugerahan piala citra. Sedangkan disisi lain ada banyak manusia yang rela tubuhnya dibanjiri keringat dan debu seharian hanya untuk beberapa belas ribu rupiah. Begitu juga dengan koruptor yang memerah negera ini trilyunan rupiah, kasusnya tak selesai-selesai sampai saat ini, banyak pertimbangan dan l;ain sebagainya. Sedangkan maling ayam harus meringkuk berbulan-bulan dipenjara plus biru lebam bekas bogem mentah ketika pulang kerumah. Semuanya seperti dua dunia yang amat berbeda namun terjadi dalam satu tanah, tanah Indonesia, dengan pelaku yang sama pula, anak negeri ini. Aku jadi ingat ungkapan ‘indopahit’nya Andreas Harsono, mungkin benar terlalu banyak kepahitan yang terjadi di negeri ini, hingga memang pantas kalo negeri cantik yang tak lagi anggun ini menyandang nama Indopahit. Tapi tetap saja, ini adalah negeriku, tumpah darahku. Negeri ini adalah ibuku, yang terus akan kubela dan kujaga sampai desah nafas terakhir, dan masih cita-cita yang sama indonesiaku akan menjadi negeri terbaik didunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 09, 2007 at 12:43 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5499099965719077809?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5499099965719077809/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5499099965719077809' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5499099965719077809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5499099965719077809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/perjalanan-yang-kedua.html' title='Perjalanan yang Kedua....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1278447164802616372</id><published>2007-03-17T17:50:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:51:30.247+07:00</updated><title type='text'>Anak-Anakku...</title><content type='html'>Tanggal 21 januari 007 kemaren si Baby satu lagi lahir, alhamdulillah selamat dan sempurna. Sempat deg-deg an juga, soalnya kalo sampe tanggal 22 si Baby gak lahir maka kakak harus di operasi hi………………………..&lt;br /&gt;Tapi alhamdulillah pertolongan Allah selalu datang. Lahir lah si Baby. Seperti harapan kakak, kali ini anaknya cewek. Beratnya 3,2 kg dengan panjang 49 cm. udah langsung di kasi nama, Nasyifah Umar. Lucu ya……. Panggilannya ifah………….&lt;br /&gt;Lengkap sudah nikmat Allah untukku diawal tahun ini. Empat ponakan yang super manis akan mewarnai duniaku.&lt;br /&gt;Oh ya si Dedek Putri (ponakan pertama) udah bisa main olahop, padahal baru dibeli tuh. Jadi seneng banget ngeliat dia asyik main, Cuma kadang-kadang sampe lupa waktu. Khawatir juga sih, kalo gara-gara olahop badan gembulnya bakalan kurus, tapi yah gak papalah, itu kan juga olahraga. Lagian dia seneng banget.&lt;br /&gt;Yang paling bikin gembira, dia udah nemuin cita-citanya, padahal masuk SD aja rencananya juli depan. Dia pengen jadi dokter, mudah-mudahan kesampaian. Aku bilang sama dia supaya rajin belajar biar pinter dan dapat bea siswa. Soalnya jadi dokter mesti pinter dan banyak biayanya, dengan bea siswa dia bisa jadi dokter yang mandiri yang gak kegantung ama orang tua. Dan dokter hebat mesti mandiri. Hehehehehe lucu juga sih, ngomongnya udah kayak sama orang dewasa aja, padahal dia ngerti aja blom. Tapi aku pengen menanamkan nilai-nilai itu sejak dia masih kecil dan kelak pada ponakanku yang lain. Ya ……….Allah bahagianya menyaksikan mereka tumbuh, tertawa dan membuat sejarah baru di dunia. Terimakasih untuk waktu yang telah engkau berikan wahai Dzat Pemilik kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;February 09, 2007 at 12:38 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1278447164802616372?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1278447164802616372/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1278447164802616372' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1278447164802616372'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1278447164802616372'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/anak-anakku.html' title='Anak-Anakku...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5536172820163953513</id><published>2007-03-17T17:48:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:49:46.849+07:00</updated><title type='text'>Hari Ini..............</title><content type='html'>Hari ini sukses menyelesaikan buku “Jurnalisme Sastrawi”, setelah sekian hari tertunda, dan sekaligus menjadikan hari ini sebagai hari libur tugas yang indah. Lagi benar-benar gak pengen ngerjain tugas apapun setelah seminggu benar-benar capek dikerjain sama tugas kampus, maklum akhir semester. Sistem pendidikan’kan masih seperti yang dulu, giliran gak ada tugas, semua mata kuliah gak ada tugas, pas lagi waktunya ngasi tugas, semuanya ngasi tugas. Gak efektif sekali…..konsentrasi manusia bakal kepecah-pecah kalo kek gitu, dan yang pasti hasilnya gak optimal. Kapan majunya dong…..&lt;br /&gt;Ada tugas bikin konsep ceramah, makalah dan laen-laen. Tapi yang paling menonjol, dan hampir bikin seisi kelas frustasi adalah tugas jurnalistik. Disuruh wawancara sama wartawan dan anggota DPRD. Praktis, semua kalang kabut, kebanyakan mikirnya susah ketemu sama anggota dewan. Eh.. ternyata ketemu wartawan jauh lebih sulit. Gila..yang namanya wartawan kalo udah jam kerja bakalan raib, kayak ditelan bumi. Ketemu sih mungkin dijalan, tapi gimana ngenalinnya ? gak ada tanda2nya. Beda sama anggota dewan……&lt;br /&gt;Abis itu, banyak kawan-kawan yang udah ketemu wartwannya dan wawancara, eh malah dikerjain….. ada yang ngasih informasi asal, malah ada yang pake nama samaran. Kekekek ……. Pas ceritakan kembali didepan dosen, tuh Papah malah senyum-senyum, dia tahu kalo mahasiswanya dikerjain. Untung aku sama Nisa ketemu sama wartawan yang punya tanggung jawab atas generasi muda. Jangankan dikerjain, kita malah dibekali ilmu begitu keluar dari ruangannya. Itulah bedanya mahasiswa yang bernasib mujur dan mahasiswa yang bernasib apes.&lt;br /&gt;Di rumah ada kabar baik. Si Cantik udah punya nama. Pasyha Janiar, namanya cantik kayak si Cantik. Si Baby satu lagi juga hampir lahir, tapi kayak biasa proses persalinan kakakku yang satu ini rada-rada angker. Sekarang aja udah dua kali ganti klinik. Mudah-mudahan dia dan bayinya baik-baik aja. Amin…..&lt;br /&gt;Oya, aku sama Nisa dapet tawaran untuk ikut dalam rombongan peneliti dosen, tapi cuma salah satu dari kami. Sampe kemaren kami berdua blom memutuskan siapa yang akan pergi, karena kami sama-sama mau pergi. Kita sama-sama gak mau melewatkan kesempatan ini, tapi apa boleh buat yang pergi hanya salah satu antara kami. Nisa bilang kita akan pergi sama-sama, atau nggak ada yang pergi sama sekali. Yah.. aku pikir untuk sebuah kesetiakawanan itu keputusan terbaik, tapi ditinjau dari kesempatan kedepan itu merupakan keputusan yang terlalu tergesa-gesa. Kalau sampai itu kami lakukan, maka kedepannya kesempatan untuk ikut dalam penelitian bakalan sirna. Sedangkan mereka punya agenda penelitian yang gak sedikit. Itu artinya kesempatan emas bakalan kami lewatkan begitu saja. Ya gak lah………….&lt;br /&gt;Akhirnya setelah melewati beberapa jam berdebat dengan cewek keras kepala itu, aku berhasil meyakinkan kalau salah satu dari kami harus tetap pergi, dan orang itu adalah dia, Nisa. Tapi aku membebaninya dengan mengharuskan dia merekan dan menuliskan semua kejadian yang ketika aku membacanya bisa membuatku seolah-olah merasakan suasana yang sama. Ayolah teman…... Ingat… kita gak akan melewatkan kesempatan untuk menimba ilmu dan pengalaman seluas-luasnya kemudian berbagi dengan dunia lewat tulisan kita (hehehehehe dunia bo’, gak papa kali namanya juga cita-cita)&lt;br /&gt;January 19, 2007 at 01:54 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5536172820163953513?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5536172820163953513/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5536172820163953513' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5536172820163953513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5536172820163953513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/hari-ini.html' title='Hari Ini..............'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-3830398846886902431</id><published>2007-03-17T17:47:00.001+07:00</published><updated>2007-03-17T17:47:59.578+07:00</updated><title type='text'>Untuk Sakit Ini</title><content type='html'>Hari ini untuk kesekian kalinya sakit kepala lagi. Kok malah makin sering ya ? Kayaknya udah hampir tiap hari mana makin sakit lagi.... uh............ Padahal kalo lagi sakit rasanya minta ampun..... pandangan mata jadi gak bener otak juga rasanya seperti mau keluar, pokoknya benar-benar gak enak. lagian kalo sakit bawaannya ngatuk dan malas... itu tuh yang paling menyebalkan. Tapi nikmatin ajalah............ Toh rasa sakit itu adalah sebagian dari bumbu kehidupan. Dengan rasa sakit, manusia bisa merasakan nikmatnya kesehatan, dan bersyukur atas itu. Banyak hal yang sering kita lupakan ketika kita merasakan kenikmatan, namun pada kondisi yang terbalik kita baru menyadari semuanya. Memang seringkali penyesalan atau kesadaran selalu datang terlambat, kadang bahkan tak pernah datang. Hari ini aku menulis ketika kepalaku benar-benar sakit, dan ternyata memang lebih sulit. Menulis ketika kita merasakan perasaan asing, kekuatan tidak hanya terfokus untuk rasa ingin menulis namun juga terbagi untuk mengatasi rasa sakit dan semua itu melahirkan sebuah fantasi yang berbeda. Aku jadi berpikir apa aku bisa terus menulis seperti mereka-mereka yang terus menggoreskan penanya atau mengetik keyboardnya saat rasa sakit yang teramat dalam mulai tumbuh. Bagaimana saat Anna Palitkovskaya terus saja menulis padahal sebagai manusia dia juga takut untuk dibunuh. Bagaimana dengan Pramoedya, dan yang lainnya ??? Entahlah, tapi kupikir jawabannya ada pada kepuasan. Seorang penulis hanya akan puas bila melihat idenya, pikirannya, cita-citanya, pandangannya, dan perjuangannya telah tumpah dalam deretan kata-kata. Itulah sebuah kepuasan.Bukan rasa sakit, bukan ketakutan, yang ada hanya sebuah perjuangan untuk meraih eksistensi dirinya, bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain, namun untuk dirasakan hatinya sendiri. ‘Ketakutan takkan pernah menyentuh jiwa-jiwa yang merdeka, tidak oleh rasa lapar atau pucuk-pucuk senapan yang dingin’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;January 08, 2007 at 03:28 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-3830398846886902431?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/3830398846886902431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=3830398846886902431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3830398846886902431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3830398846886902431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/untuk-sakit-ini.html' title='Untuk Sakit Ini'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8359642221016085528</id><published>2007-03-17T17:45:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:46:50.096+07:00</updated><title type='text'>Awal Thun 007</title><content type='html'>Hari ini pertama kali nulis buat blog untuk tahun 2007, lagis malasss sekali……………………&lt;br /&gt;Oh ya, kado awal tahun kali ini keren banget, 2 bayi imut bakal menyemarakkan rumah. Yang satunya udah lahir, cewek, cantik sekali tapi blom punya nama, makanya aku panggil ‘cantik’. Yang satunya mungkin beberapa hari lagi. Masih nunggu….. mudah2an cewek juga, soalnya kakakku pengen anaknya cewek, yang pertama’kan udah cowok. Tapi cewek ato cowok sama aja. Mereka tetap saja manusia yang memiliki potensi diatas segala kelemahan dan kelebihannya. Generasi penerus yang nantinya akan menggantikan pemimpin hari ini, dan meneruskan cita-cita perjuangan.&lt;br /&gt;Tadi pagi sebelum ke kampus nyempatin ngejenguk Cantik, ya ampun … si cantik bau banget, ternyata dia lagi BAB, plus bau obat tali puser nya. Tapi dia tidur dengan nyenyak, nggak kebayang bisa tidur dengan keadaan kayak gitu. Cantik… cantik…&lt;br /&gt;Tak lama si Cantik senyum sendiri, kata orang dia bukan senyum sama kita, gak tahu juga senyum sama siapa….&lt;br /&gt;Yang pasti senyum si Cantik mengingatkanku pada kasus yang sering terjadi beberapa tahun ini. Apalagi kalo bukan pembunuhan dan pembuangan bayi. Aku gak pernah berpikir orang seperti apa yang dapat membunuh makhluk kecil yang tak berdosa selucu Cantik. Aku bahkan tak tega untuk menggendongnya, karena tubuh kecilnya begitu rapuh, betapa tubuh kecil itu memerlukan kasih sayang. Tapi ada saja orang yang rela memasukkannya ke dalam kantong plastic dan menghayutkan atau membuangnya ke tempat sampah….&lt;br /&gt;Aku percaya tak ada orang di dunia ini yang dilahirkan dengan hati yang jahat, semuanya dilahirkan dalam keadaan suci, namun keadaan dan kondisi yang membuat seringkali orang kehilangan nuraninya sebagai manusia. Begitu pula dengan mereka yang membunuh darah dagingnya sendiri. Tekanan hidup dan pandangan miring masyarakat turut menjadi pembunuh kehidupan bayi-bayi mungil itu. Kadang aku berpikir bahwa sekian persen kekejian yang dilakukan orang lain adalah kesalahan kita semua sebagai masyarakat. Andai saja kita punya waktu yang kita luangkan untuk medengarkan jeritan mereka, andai saja kita punya kelapangan hati untuk membantu mereka meraih hari esok yang lebih baik, andai saja kita punya kebesaran jiwa untuk bersama-sama memperbaiki segala kesalahan mereka, mungkin bayi-bayi itu akan dapat menginjakkan kakinya di bumi pertiwi. Tapi ternyata tidak…. Kita hanya bisa memvonis orang lain, tanpa memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Akhirnya mereka tak mau ambil resiko untuk menjadi terkucil dan namanya dicatat dalam sejarah masyarakat sebagai pembuat aib, dan si mungil lah yang harus membayar kesombongan kita semua dengan kehidupannya. Padahal kita tak pernah tahu, mungkin saja diantara mayat-mayat kecil itu ada Habibie kecil yang jenius, ada miniature Diponegoro yang gagah berani atau Theresia junior yang berhati lembut. Semuanya mungkin, namun menjadi mustahil ketika kehidupan mereka harus berakhir didalam kardus atau kantong plastic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;January 06, 2007 at 12:53 AM&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8359642221016085528?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8359642221016085528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8359642221016085528' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8359642221016085528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8359642221016085528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/awal-thun-007.html' title='Awal Thun 007'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5539034443797562406</id><published>2007-03-17T17:42:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:44:18.800+07:00</updated><title type='text'>Catatan di Penghujung Tahun...</title><content type='html'>Ini hari terakhirku ada di depan komputer untuk tahun 2006, karena besok aku gak bisa datang ke warnet tercinta. Entah kenapa rasanya waktu cepat sekali berlalu. Aku masih ingat suasana yang sama setahun lalu ketika menyambut tahun 2006. Begitu banyak peristiwa yang akan ku tinggalkan dan menjadi kenangan, sementara kakiku belum mau beranjak. Andai saja waktu bisa ku tahan, maka aku ingin dia jangan berlalu dan tetap duduk manis di tempatnya. Paling tidak sampai aku mengikhlaskan semuanya menjadi kenangan. Ada kado indah di awal tahun dari Sang Pemilik Kehidupan untukku, ada kisah-kisah tak selesai yang masih menunggu di lembaran kertasku, dan masih banyak janji yang belum ku tepati. Tapi sekali lagi manusia tidak pernah dapat berkata tidak siap dalam menjalani kehidupan. Ketika tangis kecil telah mewarnai bumi, maka tak ada waktu untuk melangkah ke belakang, hanya dapat maju dan terus maju. Entahlah apa yang akan terjadi padaku tahun depan, yang pasti umurku akan semakin bertambah. Itu artinya jatah waktuku untuk tinggal di bumi semakin sedikit. Aku tak pernah meminta dianugerahi umur yang panjang. Entah kenapa …………… Aku juga tak pernah bermimpi tentang masa tuaku, karena sejak kecil aku selalu berkata pada teman-teman bahwa aku mungkin tak akan memiliki masa tua. Aku juga tak tau kenapa pikiran seperti itu bisa muncul di otak seorang anak kecil, bahkan sampai kini aku masih merasakan hal yang sama. Umur panjang bukanlah yang penting untukku, yang selalu aku impikan adalah dapat menyisakan hal terbaik ketika aku menghembuskan nafas yang terakhir. Dapat membuat orang lain tersenyum, dapat menjadi seseorang yang memegang erat tangan orang lain saat mereka terluka, dapat menuliskan kisah-kisah berharga yang menjadi pelajaran bagi orang lain adalah harapanku. Tak peduli sependek apapun waktuku untuk hidup, atau sepanjang apapun waktu yang kuperlukan untuk semua itu. Aku hanya tak ingin menjadi manusia yang menyia-nyiakan kehidupannya. Allah telah memberiku waktu dan aku ingin mempertanggungjawabkannya dengan baik. Bukan untuk surgaNya atau nerakaNya, aku hanya merasa bertanggungjawab atas waktu yang telah Dia berikan. Andai hidup adalah lukisan aku ingin melukis dengan warna-warna terbaik yang bisa aku dapatkan. Terima kasih Ya Allah atas segalanya atas segala-gala yang telah Engkau berikan…. Waktu, teman-teman yang menyenangkan, saudara, orang tua, guru, keyakinan, dan sahabat-sahabat yang selalu ada untukku. Terimakasih untuk semuanya dan terimakasih untuk warnet tercintaku……….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 30, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5539034443797562406?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5539034443797562406/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5539034443797562406' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5539034443797562406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5539034443797562406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/ini-hari-terakhirku-ada-di-depan.html' title='Catatan di Penghujung Tahun...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1586409228130696264</id><published>2007-03-17T17:40:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:42:33.817+07:00</updated><title type='text'>Masih Belum Terbangun...</title><content type='html'>Hari ini masih sama seperti hari kemarin, duduk didepan komputer dengan ditemani beberapa buah buku yang menunjang kuliahku. Mengetik dan mengutip kata-kata orang yang bahkan tak pernah ku kenal. Hari ini masih sama seperti kemarin di otakku penuh dengan tugas-tugas kuliah, tema-tema berita yang harus kucari untuk warta kampus, searching artikel di internet untuk referensi tulisan, dan beberapa masalah lainnya. Hari ini aku benar-benar baru sadar ternyata aku sama sekali tak punya waktu, atau yang lebih tepat, tak pernah mencoba meluangkan sedikit waktu untuk memikirkan hal lain di sekelilingku. Di lampu merah masih banyak anak-anak kecil yang mengulurkan tangannya dibawah terik matahari, di kampus ada teman-teman yang tempat keramatnya hanya berkisar antara kantin dan kelas, masih ada ayam-ayam kampus yang bertebaran, dan masih banyak masalah yang sebenarnya jauh lebih menarik dari sekedar apa yang aku bayangkan.Hari ini aku sadar betapa naifnya aku yang berpikir bahwa aku punya ide, gagasan, jalan untuk mengubah dunia menjadi lebih baik, sementara 24 jam ku bahkan tak cukup untuk memikirkan masalah pribadi. Kapan ?? Kapan aku mulai bergerak untuk memikirkan bangsaku, agamaku, duniaku, padahal untuk memikirkan orang-orang di sekelilingku pun aku tak sanggup. Bagaimana aku dapat menjadi pena masyarakat, sementara untuk menuliskan masalah terkecil dalam lingkungan pergaulan pun aku tak bisa. Padahal dalam setiap untaian kata yang diketik pada monitor adalah lidah dari banyak orang yang tak mampu untuk bicara. Tuhan…. Beri aku kekuatan………&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;December 07, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1586409228130696264?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1586409228130696264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1586409228130696264' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1586409228130696264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1586409228130696264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/masih-belum-terbangun.html' title='Masih Belum Terbangun...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8711232924627433060</id><published>2007-03-17T17:39:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:40:34.548+07:00</updated><title type='text'>Tak Berjudul....</title><content type='html'>Benar-benar banyak yang mo ditulis, tapi sampe sekarang gak tau harus mulai dari mana.......... semuanya udah campur aduk gak karuan.......................................................................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 16, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8711232924627433060?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8711232924627433060/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8711232924627433060' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8711232924627433060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8711232924627433060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/tak-berjudul.html' title='Tak Berjudul....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2515757917378879339</id><published>2007-03-17T17:35:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:39:04.326+07:00</updated><title type='text'>Tentang Papah...</title><content type='html'>Aduh.......seumur idup kayaknya blom pernah ketemu orang yang sekeras kepala dia. Benar-benar keras kepala, dan tak tercairkan............. Gila.... 1 jam lebih berusaha membujuknya buat bilang "iya" tapi hasilnya Nol........... Memang beliau punya alasan yang masuk akal kenapa beliau menolak, dan aku ngerti itu. Tapi masalahnya aku belum menemukan orang yang mampu mengantikan posisinya, yah....siapapun pasti setuju kalau dia memang memiliki kemampuan untuk itu, tapi keras kepalanya itu loh...................................Yah.... untuk saat ini emang kayaknya harus nyerah dulu........ tapi bukan berarti kalah........&lt;br /&gt;Aku hanya ingin aku dan teman-teman maju, dan tentu saja di bawah bimbingannya, karena dia memang hebat dan pantas untuk itu. Lagian jadi tantangan juga'kan berkarya dibawah bimbingan orang perfectionis, keras kepala, dan cerdas kayak dia. Sumpah......... dia yang terbaik dan hadiah terindah dari NPK. Banyak orang yang tak menyukainya karena sifatnya, mereka bilang dia terlalu kaku, gak bisa kompromi, keras kepala, terlalu memegang prinsip dll. Tapi... justru itu yang membuat dia lebih istimewa dibanding yang lainnya. Dia gak mudah dipermainkan, dia punya cita-cita untuk maju dan memajukan orang lain. Dia banyak mengajarkan aku dan Honey tentang hakikat dan prinsip hidup, dia memberikan semangat saat kami tak punya siapa-siapa yang dapat membangunkan kami dari kelalaian. Dia juga yang selalu mengajarkan padaku agar jangan pernah menjadikan materi sebagai alasan utama dalam menulis. Dia selalu berkata "Jangan jadikan materi sebagai alasan untuk menulis, tapi menulislah karena ada yang sesuatu yang kita yakini dan kita perjuangkan di dalamnya dan itu adalah sebuah kebenaran". Dia adalah guru, motivator, dan sahabat terbaikku. Semoga dia selalu dapat berjalan diatas prinsip yang dia yakini.....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 11, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2515757917378879339?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2515757917378879339/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2515757917378879339' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2515757917378879339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2515757917378879339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/tentang-papah.html' title='Tentang Papah...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7323525770239404893</id><published>2007-03-17T17:33:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:35:32.331+07:00</updated><title type='text'>Kehabisan Judul...</title><content type='html'>Terlalu banyak hal yang telah terlewati dalam kehidupan. Kekalahan demi kekalahan berlalu dengan menyisakan luka dan pelajaran, kemudian satu persatu kemenangan terjalin indah dalam rantai kebahagiaan, meski tak jarang mengundang kehancuran yang jauh lebih suram. Entahlah... apakah kekakalahan itu adalah kemenangan yang tertunda seperti yang sering dikatakan orang, atau justru sebaliknya kememenangan merupakan kekalahan yang belum menemukan saatnya. Tapi kekalahan dan kemenangan adalah dua sisi yang saling melengkapi dan tak terpisahkan dengan kehidupan. Banyak orang yang terpuruk ditengah samudera kehidupan karena bahtera yang membawanya tak kuasa menahan terjangan badai, namun tak sedikit pula orang yang merasa telah menemukan hakikat kehidupannya di tengah gemuruh kemenangan dan pilu kekalahan kemudian merajut sebuah asa yang berakhir dengan kebahagiaan. Ah.... kebahagiaan...siapa yang mampu menerjemahkan kata sederhana itu di tengah kedalaman maknanya. Bukan kekayaan, kecerdasan, kepopuleran atau kesempurnaan hanya sebuah hati yang tersimpul dalam jalinan rasa tak terjemahkan. Semua manusia berusaha memaknainya, mengejarnya dengan cara yang mereka pilih, tak jarang cara itu pula yang menyakiti manusia lain.&lt;br /&gt;Yah...... kehidupan memang sering menghadapkan manusia pada pilihan menyakiti atau disakiti. Tak banyak yang menetapkan hatinya pada pilihan kedua, karena terlalu tidak manusiawi jika manusia memilih disakiti. Namun manusia yang berada disisi lain meyakini bahwa menyakiti jauh lebih membuatnya sengsara. Namun apapun itu kita tak pernah bisa mengelak bahwa sampai hari ini kita dapat menikmati kehidupan karena ada banyak manusia yang mati. Kita bisa dicinta dan menikmati cinta karena ada orang yang dibenci dan terlebur dalam kebencian. Kita bisa bahagia karena disisi lain ada yang menangis. Itulah kehidupan... tidak... tapi itulah manusia. Namun bukan berarti tidak ada kemungkinan dalam hidup yang singkat ini kita juga dapat membuat orang lain bahagia. Semua adalah pilihan, karena kehidupan memang merupakan kumpulan dari setiap pilihan atas persoalan. Tinggal kita yang memutuskan apa yang harus kita jalani, meski Tuhan yang menentukan, namun kita punya hak untuk memilih apa yang Tuhan tetapkan untuk kita. Yang penting apapun pilihan itu, kita harus memiliki keyakinan atas kebenaran didalamnya, karena pilihan itu yang akan kita pertanggungjawabkan.......................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;October 31, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7323525770239404893?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7323525770239404893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7323525770239404893' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7323525770239404893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7323525770239404893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/kehabisan-judul.html' title='Kehabisan Judul...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5057123760800769512</id><published>2007-03-17T17:24:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:33:11.788+07:00</updated><title type='text'>'Met Idul Fitri Semuah.............</title><content type='html'>' Selamat Idul Fitri semuanya................... Maafkan segala salah dan dosaku yah..................'&lt;br /&gt;Waduh.. ngomong soal dosa kayaknya udah menggunung dan tak terkalkulasikan lagi. Dirumah sering bikin kesal keluarga, My Bunda tercinta paling sering teriak-teriak gara2 aku telat bangun dan gak nyuci piring. Bapak tersayang, sering ngomel gara-gara gerah nganterin ke kampus soalnya aku lelet banggets.................... Adekku termanis, ini nih yang paling gawat,........" Kok Lia terus sih ?!!!!!!!!, Kak Yanti kok tak pernah disuruh kemas-kemas rumah ?!!!!!!! " katanya jengkel seraya dihinggapi keputus asaan yang amat dalam. hehehehehehehehe...............&lt;br /&gt;So, dikampus ???? Gak kalah jeleknya.........Paling sering gangguin si Ira, sampe teriak2 tuh anak. Barengan sama si Nisa sering bikin si Wiwid tersipu malu, truss, Ngubah nama si Ishaq jadi si Ndut, Mbak Erni jadi Mak Erot, Rahim jadi Om Ubi, n banyak hal yang laen......Kalo dipihak dosen, sering ngomongin si Bapak ngotot, truss suka minta bakwan bang Imi, suka meratiin pak Baim sampe bingung tuh orang diperatiin, ngerumpi sama kak Fani, trus rese' banget sama si Mr.M.Pede, dan yang paling penting sering bikin repot Papah Yuchyku. Ah... Papah Kangen banget nih.........................Maaf atas segala khilaf ya Pah....&lt;br /&gt;Di Pe Three EMLha justru disini nih aku paling banyak dosanya..... soalnya waktunya kan paling banyak disini. Kayaknya aku adalah makhluk yang paling bikin gerah semua orang seantero PeThreeEm (nyadar rupanya....... ya iyalah....hehehehehe). Absen dulu dosanya.......Sering gusur si Apri, Fariz, sama Agung, terus datangnya juga sering telat, sering gak nulis jumlah uang, jadinya bang Nico yang repot, kalo minum gelasnya kadang-kadang gak dicuci, kan kasian Bang Romi. Sering ngerepotin Bang Eri, abis kompinya rewel, Kalo Bang Deni mah jangan diitung, seluruh dunia bahkan tahu kalau beliau adalah orang yang paling aku buat susah dari pertama kali aku di PeThreeEm sampe sekarang dan gak tahu sampai kapan....... Maap bang..... Trus Bang Didin, kayaknya salah aku tuh banyak banget sama temanku yang satu ini, dari masalah komputer sampe koneksi internet yang putus...., bahkan kalo dia lagi gak ada, malah ditelpon.... sadis amat ya......hehehehe tapi mok gimana lagi............. Kan mumpung lebaran bisa minta maap, Maap yang sebesar-besarnya buat bang didin........ Maap juga tuk bang Iwan, Kak Ochie, Bang Bima, Kak Nani, Bang Yoyon, dan semuanya yang tak terabsen...........&lt;br /&gt;Trusss masih banyak lagi kayaknya...... sering bikin Puji ngambek, bahkan sekarang aja dia lagi ngambek gara-gara aku duh..............., truss bikin kesal Dewi, gak nelpon Mitra dan laen sebagainya................................... Tapi meskipun dosanya banyak, kan ada lebaran, makanya minta Maap hehehehehehehe....&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;"MAAP ATAS SEGALA KEKHILAFAN YANTI BUAT SEMUA ORANG YANG PERNAH MERASA KESAL, TERSAKITI, KECEWA DAN LAEN-LAEN..."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;October 30, 2006&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5057123760800769512?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5057123760800769512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5057123760800769512' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5057123760800769512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5057123760800769512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/met-idul-fitri-semuah.html' title='&apos;Met Idul Fitri Semuah.............'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-6742991948944975887</id><published>2007-03-17T17:16:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:22:41.321+07:00</updated><title type='text'>Ketika Tuhan Berkata "TIDAK"</title><content type='html'>Ya Allah ambillah kesombongan dariku&lt;br /&gt;"TIDAK, bukan AKU yang mengambil, tapi kau sendiri yang harus menyerahkan kesombongan itu"&lt;br /&gt;Ya Allah berilah aku kesabaran&lt;br /&gt;" TIDAK, kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan. AKU tidak memberikan kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri"&lt;br /&gt;Ya Allah berilah aku kebahagiaan&lt;br /&gt;"TIDAK, AKU memberi keberkatan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepada dirimu sendiri"&lt;br /&gt;Ya Allah jauhkan aku dari kesusahan&lt;br /&gt;" TIDAK, penderitaan akan menjauhkanmu dari jeratan duniawi dan mendekatkanmu pada KU"&lt;br /&gt;Ya Allah berikan aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat&lt;br /&gt;"TIDAK, Aku berikan akal dan kalbu serta Al Qur'an supaya kau dapat menikmati kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini aku kutip dari buku Living Genius, yang ku pinjam dari Papah Yuchy, dosenku.  Makasih Pah................... Banyak hal yang ku pelajari dari buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;October 18, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-6742991948944975887?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/6742991948944975887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=6742991948944975887' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6742991948944975887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/6742991948944975887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/ketika-tuhan-berkata-tidak.html' title='Ketika Tuhan Berkata &quot;TIDAK&quot;'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8450164228588202888</id><published>2007-03-17T17:14:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:15:46.834+07:00</updated><title type='text'>Marhaban Ya Ramadhan</title><content type='html'>Selamat datang bulan suci. Kayaknya banyak banget harapan dibulan Ramadhan kali ini. Mudah-mudahan jiwaku kali ini benar-benar siap buat bertarung dengan sebelah hati yang hitam. Semoga ampunan Allah dapat kuraih, dan nuansanya mampu mencerahkan sepotong jiwaku yang lelah. Mengobati sepenggal hati yang sakit karena dosa. Ya Allah terlalu jauh ku melangkah dengan melupakan Mu...........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 23, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8450164228588202888?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8450164228588202888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8450164228588202888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8450164228588202888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8450164228588202888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/marhaban-ya-ramadhan.html' title='Marhaban Ya Ramadhan'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-3108499528317575157</id><published>2007-03-17T16:56:00.000+07:00</published><updated>2007-03-17T17:14:28.782+07:00</updated><title type='text'>Pelajaran Malam Ini</title><content type='html'>Malam ini aku meneguk pelajaran baru tentang hal yang selalu terpinggirkan dalam kancah pemikiranku. SEX dengan segala tipe pergaulan yang menuju padanya. Ternyata dunia memang telah semakin tua dan mulai kehilangan kekuatan untuk menjadi teladan bagi anak-anak bumi. Pergaulan muda-mudi kian tak mengenal batas dan akhirnya kebablasan. Tingkat perkosaan sampai pada aborsi makin jadi…. Aku jadi berpikir kalau tak berani bertanggung jawab kenapa mereka mesti melakukan hal-hal seperti itu, apa nggak mikir kali ya, kalau akibatnya akan sangat fatal. Yang paling gila, bayinya yang udah lahir malah dibuang. Cuma satu kata “keterlaluannnnnnnnnn…………………”.&lt;br /&gt;Aku bukan tipe orang yang anti pacaran ( salah satu mode gaul remaja yang paling ngetrend ) karena itu menyangkut ruang privacy orang lain. Aku pikir semua juga tahulah tentang hal-hal yang tak patut untuk dilakukannya. Tapi teoriku ternyata banyak salahnya dibanding benernya. Mungkin setiap orang tahu benar apa yang tak boleh dilakukan, meski pada kenyataannya tetap saja dilakukan. Bukannya 1 ato 2 orang, tapi pergaulan bebas sudah seperti budaya bagi pergaulan muda-mudi ( bahkan ada yang tua juga lho, woiiii ingat kubur…..), nggak semua juga sih, ada juga yang baik. Dari hasil pembicaraan dengan kawan2, aku mendapatkan pepatah baru, tiada cinta tanpa kiss. ???????????????? . Kayaknya akhir2 ini cinta udah kehilangan harkat dan martabat. Berhubungan sex dibilang bercinta, iya kalau yang udah nikah, nah yang belom ????? Masa’ zina dibilang cinta sih , belom lagi nafsu yang dikatakan cinta membara. sembarangan…………….. Truss yang mok disalahkan siapa ?????&lt;br /&gt;Kayaknya terlalu egois kalau laki2 bilang “salainlah cewek, soalnye yang bikin nafsu tuh cewek. Liatlah die punye bajuk tuh, rok mini, dadenye kebuka, siape yang tak napsu liat kaki mulus, badan montok dll, ape agik gayenye …………………………….., makenye jadi cewek tuh bajunye yang sopan kalau tak maok bikin napsu “. Enak kalik lempar kesalahan ke orang lain. Meski  ceweknya kayak cacing kepanasan kalo cowoknya kagak mau, nggak bakalan kejadian.&lt;br /&gt;Si cewek juga gila’ sih yang bilang “ Yeeeeeeeee salainlah cowok, kite pake rok mini kan suke2 kite, badan2 kite. Sewot jak. Kalau tak maok napsu tuh tutop jak matenye “ Pada kenyataannya emang ada yang bakalan jalan sambil tutup mata. So, yang paling masuk akal, dua-duanya mesti jaga diri. Yang cowok mesti tau kalo yang namanya napsu dan keinginan ngesex memang manusiawi, tapi kita sebagai manusia yang bermoral dan diberikan martabat yang konon lebih baik daripada makhluk berkaki empat, ’kan punya cara yang terhormat untuk menyalurkannya. Nggak mau dong disamain sama kambing yang nggak boleh liat cewek nganggur. Lalu yang cewek mesti sadarlah kalo dirinya itu mengandung keindahan yang luar biasa, karena itu mata yang memandang tubuhnya akan tergoda. Cobalah untuk menutupinya, keindahan nggak selamanya tercipta untuk dipamerkan didepan umum. Ngga’ mau kan disamain sama barang-barang di etalase toko. Meskipun bagus tapi nggak ada kharismanya karena dengan mudah bisa dipandangin semua orang, bahkan penjahat sekalipun yang nggak sengaja lewat, malah bisa disentuh dan dicicipi oleh sembarang orang. So, kalau udah kayak gini, bagaimana kamu menjawab ketika seseorang bertanya padamu, ‘Apa milikmu yang berharga yang bisa kamu berikan untuk laki-laki yang kamu cintai, untuk seseorang yang menggandengmu didunia dan akhirat ? Apa yang istimewa dari dirimu kini, jika kamu tak lebih dari pemandangan yang bisa didapat dijalanan dengan sangat mudah ?????? Dan...Bersiaplah untuk terdiam, Sobat……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 11, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-3108499528317575157?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/3108499528317575157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=3108499528317575157' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3108499528317575157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3108499528317575157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/pelajaran-malam-ini.html' title='Pelajaran Malam Ini'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-99009578689552115</id><published>2007-03-14T15:33:00.000+07:00</published><updated>2007-03-14T15:42:24.612+07:00</updated><title type='text'>Surat Untuk Dia Yang Tertidur Selamanya</title><content type='html'>Selamat Malam, Sobat..........&lt;br /&gt;Malam ini aku teringat padamu Entahlah kenapa ..........................&lt;br /&gt;Mungkin karena angin yang berhembus semilir dan dingin yang membuatku rindu akan kehangatan persahabatan kita. Apa kabarmu malam ini ? Aku hanya berharap dinginnya bumi tempatmu terbaring saat ini dapat membuatmu tenang, hingga kau dapat melihat dengan jelas apa-apa yang terjadi pada negeri kita hari ini.&lt;br /&gt;Seperti katamu teman, negeri ini adalah surganya para pejuang. Karena itu kita harus mempersiapkan segalanya untuk menjadi bagian dari perubahan besar itu. Kau bilang padaku bahwa negeri kita adalah negeri yang merdeka karena perjuangan dan pengorbanan para pemudanya. Oleh sebab itu kita tak boleh berdiam diri apalagi menyerah dan hidup dengan menerima apa yang telah ada. Lalu dengan tersenyum dan mengusap pipiku kau berkata " Kita harus memberontak, kita harus melawan setiap ketidak adilan yang kita terima. Tidak seorang manusiapun yang tercipta untuk dianiaya dan menderita”.&lt;br /&gt;Kau mengajarkanku untuk membuat perubahan yang lebih baik, sekecil apapun itu. Pemikiran kita bisa mengubah dunia, dan tak akan ada yang mampu menghalangi kita untuk berpikir, tidak rasa lapar, tidak pula pucuk-pucuk senapan yang dingin. Ketakutan tidak akan pernah tercipta di jiwa-jiwa yang merdeka “. Oh ya... satu lagi, aku ingat saat itu kau menawariku segelas susu hangat, padahal kau tahu benar, aku tak menyukai minuman berwarna putih itu. Namun kau berkata " Aku tahu kau tak menyukainya, tapi cobalah untuk merasakan kenikmatan dalam tiap regukan. Cobalah untuk meneguknya dengan membayangkan wajah-wajah kuli peternakan yang letih. Mereka yang terus saja memerah meskipun senja telah menggantung di ufuk barat. Mereka yang terus melakukannya demi memperjuangkan kelanjutan hidup dari buah hati dan kekasih tercinta, maka kau akan tahu betapa kenikmatan itu menyatu dengan ketulusan perjuangan dalam segelas susu hangat ini, meski tak jarang juga bercampur dengan keserakahan para tengkulak dan tuan tanah. Tapi sekali lagi cobalah. Lagi pula susu adalah minuman para Nabi, bukankah kau sangat mengagumi mereka ? " ujarmu seraya memainkan ujung pensil yang merupakan kebiasaanmu.&lt;br /&gt;Hmmmmm...... Sobat, sampai saat ini aku masih minum susu, bahkan setiap hari. Aku sendiri tak tahu, apakah itu karena aku mulai menyukai rasanya atau hanya seperti katamu, aku mencoba mencari kenikmatan dalam regukannya. Tapi yang jelas, jika dulu aku minum susu sambil membayangkan wajah-wajah kuli peternakan yang lelah, saat ini dan mungkin sampai seterusnya, aku meneguk minuman putih itu dengan mengingat wajahmu yang tersenyum padaku untuk terakhir kali, sebelum kau tertidur untuk selama-lamanya. Saat ini aku baru mengerti maksud perkataanmu waktu itu, ‘Sore ini biarkan aku menggegam tanganmu sejenak, karena esok mesti kau minta, aku takkan pernah menyentuhmu lagi. Bukan karena aku tak menyayangimu, tapi bumi tak akan mau berbagi denganmu, dia hanya ingin aku tidur dalam pelukannya, tanpamu dan tanpa siapapun, Maaf ya sayang…….’&lt;br /&gt; Selamat malam, makhluk terindah, semoga kau senantiasa tersenyum dipelukan bumi. Dan terima kasih telah membuatku minum susu. Tanpamu mungkin sampai saat ini aku takkan pernah menyentuh segelas susu hangat. Sekali lagi terimakasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September 11, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-99009578689552115?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/99009578689552115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=99009578689552115' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/99009578689552115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/99009578689552115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/surat-untuk-dia-yang-tertidur-selamanya.html' title='Surat Untuk Dia Yang Tertidur Selamanya'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8863509505631550734</id><published>2007-03-14T15:04:00.000+07:00</published><updated>2007-03-14T15:29:18.686+07:00</updated><title type='text'>Usai Nonton Gie........</title><content type='html'>Aku abis nonton Gie...............Keren buanggetttttttttt&lt;br /&gt;Emangnya ada jaman sekarang sosok pemuda kayak Gie&lt;br /&gt;" Kau tak ingin mengganti namamu Gie ?"&lt;br /&gt;" Tidak, .........." katanya&lt;br /&gt;" namaku Soe Hok Gie " jawabnya&lt;br /&gt;" Politik adalah sesuatu yang amat kotor, seperti lumpur yang sangat kotor, namun akan datang masanya dimana kita harus terjun kedalam lumpur yang kotor itu "&lt;br /&gt;" Dimana-mana ada kesengsaraan, ada pengkhiatan yang mewarnai sejarah. Apakah sejarah memang harus ditulis dengan kesengsaraan dan pengkhiatan ??, apakah sejarah memang tidak akan pernah tercipta tanpa kesengsaraan dan pengkhiatan ???"&lt;br /&gt;" Nasib yang paling beruntung adalah orang yang tak pernah lahir kedunia ini, lalu orang yang lahir namun mati muda, dan orang yang paling sial adalah orang yang lahir kedunia ini lalu mati dalam usia lanjut "&lt;br /&gt;Untuk yang satu ini aku tak setuju, menurutku orang yang paling sial adalah orang yang tak pernah lahir ke dunia ini, orang yang tak beruntung adalah orang yang lahir namun mati dalam keadaan yang sia-sia, dan orang yang beruntung adalah orang yang lahir kemudian memberi manfaat dan mati dalam keyakinannya akan kebenaran.&lt;br /&gt;" Banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan berziarah ke Makkah&lt;br /&gt;Banyak orang yang menghabiskan waktunya di meja judi demi rasa&lt;br /&gt;Namun aku ingin menghabiskan waktuku disisimu, Sayangku...&lt;br /&gt;Bercerita tentang anjing2 kita yang nakal&lt;br /&gt;atau bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tentara Amerika yang mati tertembak didanau&lt;br /&gt;Banyak bayi-bayi yang mati karena kelaparan&lt;br /&gt;Tapi aku ingin mati disisimu, Sayangku.........................."&lt;br /&gt;Baris terakhirnya lupa, 'kan baru sekali nonton...............&lt;br /&gt;Aku kecewa sekali soalnya Gie harus mati di akhir kisah, bahkan saat kisah itu belum berakhir. Tapi mok gimana lagi itu'kan kisah nyata, lagi pula takdir Gie yang mati muda adalah sebuah kebetulan yang indah, karena paling tidak, sampai pada kematiannya sekalipun, dia tetap pada keyakinannya untuk tegak berdiri sebagai dirinya sendiri. Dan dia tetap menjadi orang yang merdeka, karena tidak datang kepadanya masa yang harus memaksanya untuk "terjun ke lumpur yang kotor" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 Desember 1969, Soe Hok Gie meninggal di Puncak Gunung Semeru dipangkuan Herman Lantang, sahabatnya, dalam usia 27 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 18, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8863509505631550734?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8863509505631550734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8863509505631550734' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8863509505631550734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8863509505631550734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/usai-nonton-gie.html' title='Usai Nonton Gie........'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-23304860957253347</id><published>2007-03-14T14:55:00.000+07:00</published><updated>2007-03-14T15:03:48.450+07:00</updated><title type='text'>Dirgahayu Negeri ku</title><content type='html'>Hari ini telah lepas satu hari dimana negeriku merayakan kebebasannya. Kemerdekaan yang diraih bukan karena pemberian atau hadiah dari penjajah, negeriku memperoleh kemerdekaannya karena keberanian dan ketulusan perjuangan putra-putrinya. Aku bangga bahkan benar-benar bangga. Ditengah kemelut yang dihadapi negeriku, bencana, keterpurukan moral dan ekonomi, bahkan politik yang belum mampu menunjukkan kemapanannya, rakyat negeriku masih dapat tersenyum dan merasakan segenggam semangat kemerdekaan. Meski luka itu masih terasa. Yah... negeriku..... saat ini memang banyak kekacauan banyak kemelut dan pergolakan, namun aku yakin ini adalah bagian dari perjalanan sejarah bangsa yang besar. bangsaku saat ini sedang bergerak maju, sedang mendaki untuk mencapai ke puncak kejayaan. Kemajuan memang bukan hal yang dapat diraih secara instan, tak ada bangsa yang lahir lalu dapat dengan sekejap menjadi besar, begitu juga dengan bangsaku semuanya membutuhkan proses. Perbaikan-perbaikan yang sedang diusahakan bangsaku saat ini juga takkan mungkin langsung dapat menyentuh semua aspek kehidupan. Satu-satu hingga semuanya benar-benar tuntas.....&lt;br /&gt;Sikap generasi muda bangsaku. Ada sebagian yang tidak peduli dengan keadaan bangsanya, mereka sibuk dengan mode, dengan gemerlap cahaya masa muda yang menyilaukan dan dengan berbagai permasalahan pribadinya seputar cinta dan entah apalagi................ Kemudian sebagian yang lain peduli akan bangsanya, dan dengan kepedulian itu, mendirikan atau masuk kedalam berbagai wadah, namun justru luntur ditengah hiruk pikuk diplomasi kosong, toh pada akhirnya hanya akan sibuk dengan persaingan antar wadah. Kegiatan dilakukan atas dasar idealisme membela bla bla bla namun tanpa menanggalkan bendera dan atribut-atribut wadahnya. Berkoar-koar dan seolah berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling peka dengan masalah hari ini tapi masih dengan segala tetek bengek wadahnya. Aku bertanya kapan manusia2 muda ini melakukan sesuatu dengan tulus tanpa maksud-maksud dan intrik2 tersembunyi, benar-benar melakukannya bukan karena kepentingan golongan, wadah atau apalah namanya, hanya benar-benar untuk kepentingan bangsa ini, hanya untuk negeri ini. Wadah itu memang penting dalam sebuah perjuangan, namun bukan berarti wadah itulah yang menguasai para pejuangnya, ia hanyalah fasilitas untuk menaungi orang-orang yang punya kepedulian, tak lebih dari itu. Yah... jika hari ini begitu banyak orang mempertanyakan apa yang diberikan negeri ini padanya, maka selama-lamanya negeri ini hanya akan menjadi bahan cemoohan. Sekarang cobalah bertanya pada diri sendiri apa yang pernah kita berikan untuk negeri tercinta ini ?????? semua akan terdiam, hening dan sunyi. Sekarang bergeraklah....... ambil penamu sang penulis dan menulislah......... tanamkan apa yang kita yakini pada anak2 kita pada adik2 kita bahwa bangsa kita akan terus maju....... namun untuk itu bergeraklah.......&lt;br /&gt;" DIRGAHAYU NEGERIKU "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 18, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-23304860957253347?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/23304860957253347/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=23304860957253347' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/23304860957253347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/23304860957253347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/dirgahayu-negeri-ku.html' title='Dirgahayu Negeri ku'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2987228293182630401</id><published>2007-03-10T15:46:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T15:50:38.038+07:00</updated><title type='text'>Berikan Aku Waktu</title><content type='html'>Aku hanyalah seorang manusia yang tak memiliki kekuatan apapun, namun aku ingin menjadi sayap yang dapat menerbangkan dunia menuju sebuah ruang yang bernama KEDAMAIAN&lt;br /&gt;Aku hanyalah sosok yang bodoh, namun aku ingin menjadi lembutnya embun yang menyadarkan dunia akan indahnya rasa yang kunamai CINTA&lt;br /&gt;Aku hanyalah manusia biasa, namun aku ingin menjadi bunga hingga dapat memperkaya dunia dengan warna-warna yang kusebut KEINDAHAN&lt;br /&gt;Aku hanyalah sosok lemah, namun aku ingin menjadi kehangatan mentari yang dapat mencairkan semua kebekuan hati yang kumaknai KESOMBONGAN&lt;br /&gt;Aku ingin membawa dunia bersama nyanyian kasih sayang, aku ingin menyelimuti dunia dengan perasaan saling menghargai, aku ingin menerbangkan dunia dalam mimpi cintaku. Namun jika aku tak dapat melakukannya, berikan aku waktu untuk melakukan yang terbaik bagi orang-orang yang kucintai.................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 16, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2987228293182630401?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2987228293182630401/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2987228293182630401' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2987228293182630401'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2987228293182630401'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/berikan-aku-waktu.html' title='Berikan Aku Waktu'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8306828661867443891</id><published>2007-03-10T15:42:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T15:46:40.281+07:00</updated><title type='text'>Adoehhhhhhhhhhhhhh.......................................</title><content type='html'>Dari judulnya juga udah ketauan kalo ini sebuah catatan keluhan. Yah mok gimana lagi, namanya juga idup......, mana ada yang mulus-mulus doang, pasti ada tanjakan dan bebatuan. makanya ngeluh........ truss keluhannya apa aja ? jawabannya buanyaakkkkkk banggettttttttttt. Neeh ya tak kasi tau :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. BOKEX&lt;br /&gt;gara-gara daftar ulang, semua duitku tersedot kesana. Bayangkan aja idupku 2 bulan ini. Untung masih ada tabungan bulan kemaren, kemaren dan kemarennya lagi ( hehehehehehehehehehehe ). Yah..... namanya juga cari ilmu harus ada pengorbanan dunkzzzz. Sebenarnya sih mau dibayarin sama ortu, but aku kan gede....... harus bisa ngebuktiin dunkz kalo aku udah bisa mandiri. JAdi kagak dianggap kayak anak kecil lagi.......................hehehehehehehe. Pokoke semua yang bisa dikerjain 'ndiri harus dikerjain. Tapi biar bokek, bulan ini masih sempat beli baju baru, kaos baru lho...., sama apalagi ya .. banyak dech ( mak...... boke' apaan tuhhhhhh ???? ......) :-0&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. LAGI KENA VIRUS MALAS&lt;br /&gt;Ya ampun neeh virus sangat mematikan. Perlu perang gerilya yang teramat dahsyat untuk menghadapinya. Karena kalo kagak, ancur deh semuanya...... bayangkan saja, soal kebersihan kamar jd tanggung jwab aku sekarang, karena lagi kagak kuliah, biasanya tugas adekku, trussss jadi koki dirumah ( hehehehehehe kebanyakan sih jadi asistennya koki, abiss bunda tercinta yang masak, 'kan aku bantuin ambil aer doang ), lalu lap keu WTC, waiiiii yang satu ini pentuiiiiiiiing banggetttttttt, kemudian banyak lagi deh. Makanya virus malasnya harus dibasmi..................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. LAGI KANGEN SAMA TEMAN2&lt;br /&gt;Kangen bangget sama teman2ku. Koq si honey lama bangget ya pulangnya ???? jangan-jangan tuh cewek ketelan mpek-mpek kalik ya................ Auk deh.......cepet pulang dong neng, banyak yang mok diceritain neeh.... eh jangan lupa oleh2nya ya.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. PANGGILAN MPOK NORI SEMAKIN MENJAMUR&lt;br /&gt;Tobat..........., Tobattttttttttttttttttttttt, neeh panggilan kok jadi menjamur kemana-mana sih ????? sekarang malah si puji anteng-anteng bilang ' mpok Nori...........'aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii&lt;br /&gt;Neeh gara-gara si spongebob awalnya, dilanjutkan sama sahabat kentalnya Patrick, lalu deh kemana-mana. Tapi lucu juga ya, masa' sih bang Nico kupanggil Patrick, 'kan nggak ada mirip2nya sama sekali. Dia mah terlalu jenius untuk Patrick. Tapi mok gimana lagi ????? siapa suruh bilang Mpok Nori.&lt;br /&gt;Udah ah.................. capek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 12, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8306828661867443891?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8306828661867443891/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8306828661867443891' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8306828661867443891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8306828661867443891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/adoehhhhhhhhhhhhhh.html' title='Adoehhhhhhhhhhhhhh.......................................'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1171498970826339940</id><published>2007-03-10T15:20:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T15:41:47.377+07:00</updated><title type='text'>Aku Menamainya Cinta</title><content type='html'>Aku mengenal seorang ibu muda, dia tinggal bersama anak semata wayangnya, setelah suami meninggal dunia. Teguh dan selalu berusaha tersenyum dalam menapaki hidup, itu yang selalu ia lakukan, meski gurat-gurat kepedihan tetap tegambar dalam bening matanya. Dengan membuka warung kecil, ia berusaha menutupi kebutuhan hidup mereka berdua. Yah.... dimanapun janda muda yang cantik selalu mendapat cobaan, bahkan ia pernah dilecehkan oleh seorang mahasiswa, yang seharusnya merupakan bagian dari kaum intelektual yang mampu menghormati masyarakat. Namun ketegaran terlalu kuat untuk dihancurkan oleh kenyataan yang genit. Sampai saat ini ketegaran itu pula yang selalu menemaninya untuk menjalani takdir, sedikit demi sedikit ia dapat diterima dilingkungan tempat tinggalnya yang sekarang. Namun hidup tak sampai disitu, ia harus memikirkan biaya sekolah anaknya yang semakin melangit, kebutuhan hidup yang semakin tak bisa diajak kompromi, dan semua hal yang harus ditanggung sendiri. Aku terpana saat dia berkata,&lt;br /&gt;" Sepedih ape nasebku yan, tak bise aku nangis didepan anakku " ujarnya dengan logat sambas yang kental. Bukannya dia manusia yang tak punya hati hingga tak dapat menangis, namun menangis adalah acara ritualnya ditengah malam dalam bentangan sajadah. Atau seringkali menangis dilakukannya tanpa suara ditemani bantal yang bisu. Aku kagum dengan cara yang ia lakukan untuk mendidik anaknya, yang baru berusia 9 tahun. Dalam usia sebelia itu, dia selalu mengajaknya berdiskusi tentang langkah yang akan mereka tempuh selanjutnya. Dia membiarkan anaknya dewasa, tanpa harus membuang masa kecilnya. Dia ajarkan kepada anaknya bahwa hidup bukan untuk ditangisi, namun untuk dijalani. Dia mencintai buah hatinya, namun dia tidak memanjakannya, karena dia yakin hidup tidak akan pernah memanjakan seorang manusia. Belaian dan timangannya dia simpan menjadi do'a yang akan dia panjatkan untuk lelaki kecil itu. Terusss seperti itu, kadang ia lelah untuk tegar, namun ketegaran bukan sebuah pilihan, baginya ketegaran adalah satu-satunya jalan. Air matanya tak jua tumpah saat sang buah hati mesti jauh darinya. Si kecil ia kirim untuk bersekolah ke Bogor, karena disana menyediakan pondok pesantren khusus untuk anak yatim. Mereka dapat bersekolah dengan fasilitas yang memadai tanpa harus memikirkan biaya. Ia tabah, bahkan benar-benar tabah saat harus menjalani hidup dalam kesendirian tanpa bintang yang selama ini menjadi sumber ketabahannya.&lt;br /&gt;“ Kakak nih kejam, anak masih kecil bah dikirim jauh-jauh “ kata temanku&lt;br /&gt;“ Boy, aku malah kejam kalau membiarkan anakku disini “ ucapnya&lt;br /&gt;“ Aku harus cari nafkah, tak ade waktu nak ngajarnye, ngaji, sekolah, kalo kubiarkan die dekatku terus, ape jadinye budak tuh. Aku yang malah maok menang sendiri namenye “ lanjutnya masih dengan logat daerah jeruk itu.&lt;br /&gt;“ Jangan kau Tanya soal sedih, sedih aku Boy, tapi die anakku, aku tak maok kalo die tak senonoh hidupnye “ ujarnya&lt;br /&gt;Boy diam saat itu, seraya melanjutkan menikmati bakwan yang tinggal setengah ditangannya.&lt;br /&gt;“ Aku cuma maok die berhasil hidupnye Yan, tadak kayak aku ngan abahnye almarhum “ katanya lagi seakan meminta persetujuanku akan tindakannya. Aku tersenyum padanya. Aku tak perlu mengatakan kalau aku tahu semua yang ia lakukan adalah untuk kebaikan si kecil. Dia telah mengorbankan apapun yang dia miliki untuk anaknya. Dia mengorbankan kebahagiaan pribadinya, ia memutuskan untuk tidak menikah lagi demi menjaga perasaan dan kasih sayangnya untuk sikecil. Segala yang ia miliki semata-mata hanya untuk si kecil. Saat ini dia berusaha mati-matian untuk mencari uang dan mengumpulkannya agar dapat datang menengok si kecil di daerah yang bahkan belum terjamah oleh mimpinya.&lt;br /&gt;“ Kak Si Adek adalah anak yang paling beruntung, karena meski abahnya meninggal, tapi dia tidak pernah kehilangan figur ayah. Ayah dan ibunya menjadi satu dalam sosok wanita yang amat tegar. Yakinlah Allah tidak akan pernah membuatnya kesepian dan merasa sebagai anak yatim “ ucapku.&lt;br /&gt;Wajahnya tertunduk namun aku yakin hatinya saat itu mendongak menatap bintang di angkasa seakan mengatakan ‘ Wahai Bintang, katakan pada Penciptamu bahwa aku menyerahkan perlindungan atas anakku seutuhnya hanya padaNya ‘. Aku meninggalkan warung kecilnya untuk pulang kerumah. Terimakasih Ya Allah, hari ini telah Engkau berikan pelajaran berharga untuk hambaMu yang bodoh ini. Andai ibu tegar ini tak punya nama, maka aku akan menamainya ‘CINTA’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 12, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1171498970826339940?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1171498970826339940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1171498970826339940' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1171498970826339940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1171498970826339940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/aku-menamainya-cinta.html' title='Aku Menamainya Cinta'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-1351075991227480343</id><published>2007-03-10T15:14:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T15:20:19.343+07:00</updated><title type='text'>Belajar Tentang Hidup</title><content type='html'>Hidup itu bukan hanya di saat kita bisa menghirup segarnya udara pagi, mampu merasakan hangatnya belaian mentari atau dapat menghitung detak jantung kita. Hidup adalah di saat kita dapat berbagi dengan orang lain, mampu merasakan kehadiran mereka dan bisa membuat mereka merasakan kehadiran kita, bukan sebagai orang yang dikasihani, tapi sebagai sosok manusia yang pantas dicintai.................&lt;br /&gt;Hidup hanya sebuah tempat persinggahan yang bangga dengan kafanaan, hanyalah sebuah jembatan menuju keabadian yang sempurna. Hidup tak lebih dari waktu singkat untuk bermimpi tentang keindahan yang maya. Namun bukan berarti hidup adalah kertas putih kosong yang pantas dilalui dengan kesia-siaan. Andai hidup adalah lukisan, maka warnailah dengan warna-warna hati dari kuas ketulusan, agar tercipta keharmonisan yang mengunci mati makna. Karena lukisan itualah yang akan menentukan awal dari episode keabadian yang sesungguhnya.....&lt;br /&gt;Aku diajarkan untuk tidak mencintai kehidupan dan jangan pernah mencintai hidup, namun aku tidak diajarkan menyia-nyiakan hidup dan membenci kehidupan .....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;August 05, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-1351075991227480343?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/1351075991227480343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=1351075991227480343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1351075991227480343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/1351075991227480343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/belajar-tentang-hidup.html' title='Belajar Tentang Hidup'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-930806078243069266</id><published>2007-03-10T15:10:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T15:14:48.665+07:00</updated><title type='text'>Orang Aneh.....</title><content type='html'>Ini gara-gara orang paling aneh................ yang pernah aku temui, walhasil karena keusilannya hampir semua makhluk di WTC memanggilku ' Mpok Nori ' waiiiiiiiiiiiiii&lt;br /&gt;Dasar Aneeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeehhhhhhhhhhhhhhh.&lt;br /&gt;Tuh orang emang sodare-sodare......................................&lt;br /&gt;But dia baekkkk banget, cuma usilnya itu lohhhhhh kagak ketulungan...........................&lt;br /&gt;Jadi ingat pertama kali ketemu neeh orang, ngomongnya teriak-teriak kirain nagajak perang, e nyatanya gaya ngomongnya emang gituuuuuuuu ( wakakakakakakakak )&lt;br /&gt;Pokoke nih orang langka banget kagak bisa ditemuin dimana-mana selain di WTC kekekekekek. Tapi yakin, dia akan menjadi teman yang sangat baikkkkkkkkkkkk karena emang dia baikkkkk, meskipun aneh, usil, dan kalo jalan bikin lantai WTC berdisko ria wakakakakakakak&lt;br /&gt;Udah ah capek........o iya aku memanggilnya Spongebob.  Selamat malam spongebob aneh and sukses ya.............................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July 13, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-930806078243069266?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/930806078243069266/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=930806078243069266' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/930806078243069266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/930806078243069266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/orang-aneh.html' title='Orang Aneh.....'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5404117288072041009</id><published>2007-03-10T15:06:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T15:10:09.313+07:00</updated><title type='text'>Aku Belum Jadi Apa-apa</title><content type='html'>Ada bacaan neeh !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, "Abi ceritakan padaku tentang Akhwat sejati?"&lt;br /&gt;Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.&lt;br /&gt;Anakku...Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya. Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya. Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu. Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan. Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.&lt;br /&gt;Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya."Lantas apa lagi Abi?" sahut putrinya.&lt;br /&gt;Ketahuilah putriku...Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya. Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari Kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda. Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.&lt;br /&gt;Dan ingatlah...Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.&lt;br /&gt;Setelah itu sang anak kembali bertanya, "Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?"&lt;br /&gt;Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, "Pelajarilah mereka!" Sang anak pun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan "Istri Rasulullah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang diatas itu bukan tulisanku, aku membacanya disebuah situs Islam, tulisan yang membuatku tersadar aku ini bukan siapa-siapa, dan belum memiliki apa-apa. Alangkah indah akhlaq yang diajarkan Islam, tapi aku justru menyia-nyiakan keindahan itu. Tingkah dan perilakuku, kata-kataku, pemikiranku, perasaanku semuanya belum dapat ku kontrol dengan baik. Banyak hal yang selalu saja berhasil membuatku bergeser dari rel yang seharusnya kulewati. Ya Robb....................... berikan aku cinta Mu.............................. maafkan hamba....................... dan mudahkanlah jalan untukku...................amin.....................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July 13, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5404117288072041009?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5404117288072041009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5404117288072041009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5404117288072041009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5404117288072041009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/aku-belum-jadi-apa-apa.html' title='Aku Belum Jadi Apa-apa'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-2269176574551198413</id><published>2007-03-10T14:56:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T15:06:10.869+07:00</updated><title type='text'>IP koe........... oh............. IP koe</title><content type='html'>Wai...................................HAncurrrrrrrr IP koe semester ini............................... :-(&lt;br /&gt;Ushul Fiqh palingan dapat ' B 'Yang laen blom terindentifikasi.... ( cieeeee bahasa langit bo' )&lt;br /&gt;Tapi untuk mata kuliah Mr. Rapi Banget sich sukses....... :-)&lt;br /&gt;Sejarah Dakwah tinggal ujian, Mrs. Awet Muda bakalan menggunakan jurus mautnya, yaitu "TULISKAN AYAT DAKWAH YANG BERKAITAN DENGAN KONSEP 'AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR, LENGKAP HAROKATNYA DAN TERJEMAHKAN SERTA JELASKAN PENAFSIRANNYA ! "Waiiiii.......................................... :-()        Mok nulis ape neeehhhhhhhh ???Aduhhhhhh gimane neechhh sodare-sodare, kayaknya bakalan diomelin sama papah Yuchy neeh.......&lt;br /&gt;------&gt;&gt;&gt;&gt; Satu masalah lagi, PIQ......Waduh kalo yang satu ini gagal juga nggak papa, 0 SKS pun. Abis itu bertekad bakalan ngulang...............hihihihihihihihi&lt;br /&gt;Bentar lagi liburan.........., si honey bakalan pulang, kagak ketemu sama bayi sehat plus masaupnye, ms. sky's language, and de el el, papah juga.......Mr. Rapi Banget juga.........&lt;br /&gt;tapi kan masih ada teman-teman di WTC.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July 13, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-2269176574551198413?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/2269176574551198413/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=2269176574551198413' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2269176574551198413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/2269176574551198413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/ip-koe-oh-ip-koe.html' title='IP koe........... oh............. IP koe'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-3064796833632164208</id><published>2007-03-10T14:52:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T14:56:43.879+07:00</updated><title type='text'>Catatan di Malam Tugas Bertumpuk</title><content type='html'>Lagi banyak tugas.........&lt;br /&gt;Hampir semua mata kuliah tak ujian, sebagai gantinya satu kata yang menyebalkan 'MAKALAH'. Sukses..... bikin lebih dari 9 makalah plus menghapal lebih dari 15 surah dalam 2 minggu...................................blom lagi yang laen-laen, (itu semua karena aku malas bikin tugas, jadinya numpuk di akhir semester)&lt;br /&gt;Ya Allah...........................&lt;br /&gt;But, hari-hari terakhir kuliah bikin semangat juga sih........tapi bikin sedih juga.............&lt;br /&gt;Si Honey liburan ini berlayar ke "empek-empek's world"&lt;br /&gt;Papah Yuchy lanjut dengan korannya.....&lt;br /&gt;Mr Rapi Banget..... ya.... kagak ketemu deh.......kekekekekekekekek&lt;br /&gt;Mr RAjin sekalee dan semuanya........&lt;br /&gt;selamat liburan.......................................................&lt;br /&gt;makhluk-makhluk paling ok didalam negeri pencari kebenaran..............&lt;br /&gt;Harapanku semoga nilai di Mr. Rapi BAnget A semua&lt;br /&gt;And Mr. Rapi Banget smile dunkzzzzzz, cheeersssssss&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July 06, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-3064796833632164208?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/3064796833632164208/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=3064796833632164208' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3064796833632164208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/3064796833632164208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/catatan-di-malam-tugas-bertumpuk.html' title='Catatan di Malam Tugas Bertumpuk'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-7483652495935248181</id><published>2007-03-10T14:46:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T14:51:39.090+07:00</updated><title type='text'>Selamat Jalan Sahabat...</title><content type='html'>Yah... mungkin sudah saatnya teman.... saat bagimu untuk pergi. Seperti yang selalu kukatakan setiap orang memiliki jalan masing-masing. Dan aku juga yakin kalau kita memiliki jalan kita sendiri. Hari ini kepergianmu diiringi awan putih dan langit biru yang cerah. Sedih memang saat aku merasakan sosokmu semakin menjauh, tapi aku berharap kau sampai dengan selamat ketujuanmu. Hati-hati di jalan, dan jangan menoleh kebelakang jika itu membuatmu semakin berat untuk melangkah. Sahabat sekali lagi selamat jalan......, terimakasih untuk waktu, kenangan yang indah dan persahabatan yang lucu yang tak pernah kudapatkan dari siapapun dan semuanya yang telah kau berikan. Selamat Jalan Sahabat...................................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;July 05, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-7483652495935248181?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/7483652495935248181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=7483652495935248181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7483652495935248181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/7483652495935248181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/selamat-jalan-sahabat.html' title='Selamat Jalan Sahabat...'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4828136700043417009</id><published>2007-03-10T14:36:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T14:46:26.528+07:00</updated><title type='text'>Di Balik Tatap Mata Temanku</title><content type='html'>Aku memberinya julukan Ms. Sky's Language, alasannya sederhana setiap kali dia berbicara di kelas selalu saja menggunakan bahasa-bahasa intelek yang sukar dimengerti plus dengan penempatan yang kadang kurang pas hingga kan lebih sulit lagi dimengerti. Aku selalu saja memprotesnya untuk satu hal terakhir itu, kalimat yang menjadi jurusku " I am so sorry pren, I tak ngerti ape yang you katelah " dan teman-temanku selau berteriak " Huuuuuuuuuuuuuu ", dia hanya tersenyum sambil berkata " Afwan, kebiasaan ". Di luar kelas, aku sering bercanda dengannya walau tentu saja tak banyak waktu untuk itu, karena memang kami tidak terlalu dekat. Dan masalah pun selesai. Begitulah caraku berinteraksi dengannya, sangat tidak lazim memang. Aku ingat pertama kali ketika bertemu dengannya, dia terlihat sangat sederhana dan bersahaja, dia paling sopan dan pendiam, iya waktu itu di adalah sosok yang menyejukkan 'propinsi kicauan lontar'. Ada beberapa temanku yang pernah sempat dekat sekali dengannya, namun waktu seperti pedang yang memisahkan kedekatan mereka. Bahkan beberapa "mantan" teman dekatnya itu kini seperti orang asing baginya. Entahlah siapa yang salah, aku tidak tahu dan tak pernah ingin tahu, karena memang itulah sifatku. Selama aku tidak merasa terganggu, aku tak punya niat untuk mengetahui apa-apa tentang orang lain termasuk siapa yang salah. Aku hanya mendengar dari teman-teman lain bahwa dia terlibat banyak sekali skandal. Hal itulah yang beberapa waktu terakhir ini mulai mengerogoti nama baiknya sebagai seorang aktivis yang cerdas, dan jujur. Aku sempat merasakan perbuatannya, juga beberapa temanku yang lain, tapi sekali lagi sikap cuek jauh lebih menguasaiku dari pada benci, dendam atau simpati. Jika banyak sudah teman-teman dari 'kicauan lontar' yang membencinya, maka aku bersikap seperti biasa, walau memang ku akui ada beberapa hal yang tak lagi kupercayakan ditangannya. Kadang aku tak habis pikir mengapa sosok seperti dia dapat melakukan hal-hal seperti itu, mungkin pikiran yang sama juga bermunculan dari otak teman-temanku yang lain. seperti sebuah mimpi, tapi saat ini kita bermain dalam kenyataan, walaupun aku tak pernah benar-benar tahu mana yang nyata dan mana yang maya. Apa ini yang namanya manusia ?, tak pernah ada yang sempurna dalam sosok seorang manusia. Entahlah......Tapi terlepas dari semua itu, aku sering kali menangkap tatapan yang begitu kosong dari matanya, tatapan kesendirian yang seperti tanpa ujung dari matanya yang cerdas. Dia sering terlihat hanyut dalam do'a dan tenggelam dalam tangisnya, itupun dikatakan sebagai topeng oleh beberapa teman, yah aku sendiri tidak terlalu peduli tentang itu. Aku lebih memaknai do'a bukan sebagai ajang penggeraian air mata didepan umum, makanya aku tak pernah suka jika diajak bermuhasabah massal. Bisa setuju, bisa tidak, kalau itu dikatakan topeng, aku tak mau ambil pusing soal itu. Tapi aku sangsi apakah tatapan itu juga topeng. Aku merasa tatapan mata itu bukan hal yang disengaja, malah hal yang ingin dia sembunyikan namun tak cukup terampil untuk menutupinya. Tapi apakah ada orang lain yang merasakan tatapan itu ??? memaknainya dan mencoba menelusurinya ??? sekali lagi jawabanku, entahlah.......Tapi satu hal yang pasti untuk saat ini, andai saja dia mau kembali seperti dulu dia butuh perjuangan keras untuk meyakinkan banyak orang karena dirinya telah terlanjur menempati black list. Tapi tidak ! Aku rasa dia tak perlu meyakinkan orang lain, dia hanya perlu meyakinkan dirinya sendiri, justru hal itulah yang paling sulit. Lalu muncul pertanyaan baru, dalam menghadapi hal yang sulit seperti itu, siapa yang rela untuk mendampingi dan membantunya, kembali mengobarkan semangatnya, dan menegurnya ???? Entahlah.........................................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;June 27, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4828136700043417009?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4828136700043417009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4828136700043417009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4828136700043417009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4828136700043417009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/di-balik-tatap-mata-temanku.html' title='Di Balik Tatap Mata Temanku'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-4751555413526688608</id><published>2007-03-10T14:29:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T14:35:49.191+07:00</updated><title type='text'>Harga Bahagia</title><content type='html'>Aku sepakat dengan buku yang baru saja kubaca kalau bahagia itu tidak sulit. Dia tidak memerlukan hal-hal yang "wah" untuk dapat tercipta dihati manusia, bahkan cenderung hanya membutuhkan sesuatu yang sangat sederhana. Yah... keegoisan manusia itu sendiri yang membuatnya seperti gunung es yang tak mungkin dipindahkan ke Indonesia dari kutub Selatan sono. Tapi mau tidak mau manusia itu sendiri harus mengakui tak mudah untuk menekan keegoisan. Kadang kala kita mengetahui dengan baik andai saja kita mau sedikit mengalah maka kebahagiaan bukan hal besar yang harus dengan susah payah diangkat dan ditebus dengan pertumpahan darah. Kebahagiaan malah akan tercipta lewat hal-hal kecil yang dapat kita bagi bersama orang lain, sebuah senyuman yang mengartikan betapa orang lain itu berarti buat kita atau dengan sedikit kejujuran bahwa kita sangat menyayangi orang lain dan mengharapkan kehadirannya. Sedikit kejujuran, sedikit mengalah dan sedikit senyuman ternyata mampu untuk mngantarkan kita menuju apa yang disebut bahagia. Tapi sekali lagi ketiga hal tersebut memang sangat sederhana, namun bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena makhluk yang bernama keegoisan akan terus berkata bahwa semua itu hanya akan merendahkan harga diri. Bahkan sebuah ucapan "Selamat Ulang Tahun" pun sulit untuk dikatakan, padahal kalimat yang hanya terdiri dari 3 kata itu dapat membuat orang lain merasa kalau keberadaannya dihargai dan diingat. Namun kalimat sederhana yang ajaib itu juga tak kunjung terucap, bukan karena lupa atau merasa orang itu tak penting, tapi lebih oleh sebuah kata yang bernama keegoisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Berbahagialah Selalu Sahabatku dan Jadilah Dirimu Sendiri Seperti Yang Kau Inginkan *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;June 24, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-4751555413526688608?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/4751555413526688608/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=4751555413526688608' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4751555413526688608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/4751555413526688608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/harga-bahagia.html' title='Harga Bahagia'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-8854652144995917656</id><published>2007-03-10T14:19:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T14:29:24.612+07:00</updated><title type='text'>Rumah Langit</title><content type='html'>Seorang gadis kecil duduk dibawah pohon rindang tempat dia biasa menyendiri dan berkhayal setelah dimarahi oleh orang tuanya. Kali ini dia benar-benar sedih, dia merasa bahwa tak seorang pun didunia ini yang mengerti akan dirinya, keinginannya atau mimpi-mimpinya. Dia tak pernah benar-benar merasa kalau di dunia ini dia memiliki seseorang tempat berbagi atau tempat dia bercerita tentang segala hal yang dia pikirkan. Semua orang hanya ingin agar dia menjadi yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;"Aku tak meminta banyak" katanya.&lt;br /&gt;" Aku cuma ingin sedikit kebebasan" ucapnya lagi. Dia memandangi tiap gerakan alam disekitarnya, terus menatap dan akhirnya tersenyum.&lt;br /&gt;" Betapa indah dan senangnya mereka" pikir anak itu lagi. Dia lebih merasa bahagia dengan belaian angin, berada di tengah rumput-rumput yang bergoyang dan harum bunga-bunga, dari pada berada ditengah-tengah keluarganya. Kemudian dia mendongak ke langit dan dengan takjub dia memandangi sekelompok awan putih yang berarak tenang tepat diatas kepalanya. Ia tersenyum dan bergumam,&lt;br /&gt;“ Ya Tuhan, aku ingin mempunyai rumah di sana, dibalik kumpulan putih itu. Rumah dimana tak seorangpun yang akan menggangguku “ katanya tulus sambil nengadahkan tangannya. Gadis kecil itupun segera mengkhayal tentang rumah langitnya. Ada rumah mungil yang sederhana, taman bunga mawar putih kesukaannya dan air terjun mungil. Dia juga membayangkan berdiri diatas awan dan pelangi yang selalu dikaguminya. Tanpa disadari matahari terus bergerak dan mengundang senja untuk memeluk bumi, dia baru tersadar ketika kumpulan putih yang dikaguminya itu perlahan-lahan berubah memerah. Dia mengalihkan pandangan karena dia tak pernah menyukai warna merah, “ warna itu terlalu angkuh “ pikirnya, mungkin dia teringat akan dongeng bawang merah dan bawang putih. Sejak saat itu si gadis kecil selalu saja mengunjungi tempat “meditasi”nya, tidak hanya ketika dia dimarahi oleh orang tua, tetapi setiap apapun yang dialaminya, dia selalu saja kesana. Suatu hari dia mendengar bahwa rumah saudara tetangganya roboh diterpa angin, dia panik dan berlari menuju pohon rindangnya, sambil menengadahkan tangan ia berdo’a,&lt;br /&gt;“ Ya Tuhan, tancapkan tiang yang amat kuat pada rumah lagitku, agar takkan pernah roboh walau apapun yang terjadi “ setetes air mata jatuh di pipi mungilnya. Dan gadis kecil itupun semakin asyik dengan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;Saat ini gadis kecil itu telah tumbuh dewasa, dia memiliki banyak teman dan berada ditengah tengah keluarga yang menyayanginya. Namun dia masih seperti gadis kecil yang dulu, terbiasa bergelut dengan permasalahannya sendiri. Tak biasa berbagi, meskipun dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya. Kalaupun dia ingin bercerita dia tak tahu harus memulainya darimana. Kadang dia menangis sendiri, dan menyesali do’anya. Mungkin ini jawaban atas do’a yang pernah ia panjatkan dulu. Ternyata tiang rumah langitnya benar-benar tertancap kuat, hingga kasih sayang disekitarnya tak mampu merobohkan kesendirian yang ia rasakan. Dia baru mengerti bahwa ternyata perdebatan dan tangis dalam kebersamaan, jauh lebih membahagiakan dari pada tawa dalam kesendirian. Sayangnya kesendirian itu telah begitu tertanam kuat dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;June 03, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-8854652144995917656?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/8854652144995917656/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=8854652144995917656' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8854652144995917656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/8854652144995917656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/rumah-langit.html' title='Rumah Langit'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1256944349390644014.post-5356220972574790769</id><published>2007-03-10T13:56:00.000+07:00</published><updated>2007-03-10T14:14:24.453+07:00</updated><title type='text'>Aku, si Honey dan Papah Kami.......</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hari ini sebelum pulang ke WTC, mau nggak mau harus singgah dulu ke "gedung keramat". Awalnya sih lumayan semangat, tapi begitu ngeliat diparkiran nggak ada motornya " papah Yuchy " mulai deh virus malasnya menyerang. Kalo dipikir-pikir, emang neeh gedung nggak ada icon-icon yang bisa bikin semangat, kecuali satu "ruangan cahaya" disebelah kiri pintu samping. Heehehehehehehe.... itu'kan ruangan kerjanya papah yuchy n mister rapi banget. cuma dua makhluk itu yang bikin gedung keramat ini agak terangan dikit. Ye...... emang lampu........Tapi buat beberapa turinasi, lantai atas yaitu ruangan White King lebih menjanjikan, soalnya lahan basah bo'...... gitu katanya. Ku langkahkan kakiku dengan gontai menyusuri koridor, tanpa menoleh kekiri or kanan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Woi, ade papah Yuchy tuh " ujar Honey disebelahku dengan logat kental pontianaknya, meski nih makhluk datang dari negeri asalnya empek2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Ha...... mana..." sontak aku langsung berhenti n menoleh. Wah.... kulihat papah Yuchy-ku sedang duduk manis di kursinya seraya melayani beberapa pencari kebenaran yang sedang konsultasi. Tapi yang bikin lumayan kesal ada makhluk yang kepedean berdiri didepan papah, jadi nggak keliatan deh..... dasar neeh orang.....sedetik kemudian si honey menarik tanganku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" mok balek cepat ndak ???? katenye mok ke WTC agak awalan dikit biar bise makan dolok " ujarnya lagi. Wah neeh anak kagak bisa liat orang senengan dikit, padahal hari ini papah Yuchy-ku keliatan cakep banget dengan kemeja batiknya, pokoke nggak keliatan kayak bapak dari 4 anak dech........" iya..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Eh di ruang kerakyatan ternyata ada mr. Rapi Banget, tumbenan neeh orang pake nangga segala, biasanya betah aja didepan laptopnya sampe nggak keluar-keluar dari ruang cahaya. Seperti biasanya, nggak banyak omong, dan cuma nyumbangin sedikit senyum saat ngeliat kami dateng. Selesai dari ruang kerakyatan, aku dan sobatku, Honey menuju markas kami yang baru. E nyempatin diri lewat ruang cahaya. Tuh orang masih sibuk dengan para pencari kebenaran, sedangkan mr. Rapi Banget udah balik lagi ke ruang cahaya dan duduk manis didepan laptopnya. Wah tak disangka tiba-tiba papah Yuchy melambaikan tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Sini " katanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" papah manggel kite tuh " tanya honey seraya menoleh kekanan dan kekiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Manggil dinding kalee......." jawabku asal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Wakakakakakak " tawanya meledak. Waduh neeh anak ketawanya kagak liat sikon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Iya, Pak " jawabku sopan. Hehehehehehe nggak mungkin sesopan ini deh kalo sama yang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Kemaren ada Lomba, kok nggak ikut ??? Saya nyuruh si xxxxx nyari namamu. Tapi katanya namamu nggak terdaftar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Yang dimana Pak ?? " tanyaku lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Saya nggak tahu pasti, soalnya saya baru denger juga. Tapi menurut saya kan sayang banget kalo kamu nggak ikut. Tadinya saya berharap bisa liat karyamu nongol" ujarnya sewot. Neeh makhluk atu emang terkenal sewot n angker kalo lagi ngomel, diantara ribuan rakyat, tapi aku dan si honey merasa neeh orang asyik banget.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" saya kan nggak tahu Pak, tapi kalo yang diadakan sama -----------, saya ikut Pak " jawabku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Gimana hasilnya ? " tanya beliau penasaran.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Lumayan ----- --- " jawabku agak bangga'an dikit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" OK deh tos dulu dong " katanya bersemangat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Plakk" wakaakakakakakakaka tos-an deh kita. ( itu bunyi tos, atau ditampar sih ??)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Dasar orang aneh " kataku dalam hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Ya udah sana pulang " usirnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Pak, kalo ada informasi lagi, kasi tau ya !!!!" pintaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Oh.. masih doyan nulis nehh, kirain udah mau berhenti " ujarnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ya nggak lah Pak " &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Dia kan lagi sibuk Pak " ujar honey membelaku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Sesibuk apapun kalian, tugas utama kalian sekarang adalah menulis, OK" dia memperingatkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Saya nggak mau kalian menyia-nyiakan waktu untuk sesuatu yang tak berarti apa-apa" tambahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Iya Pak, tengkyu, ass " ujarku seraya keluar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;" Wass" jawabnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Aku dan honey melanjutkan perjalanan ke markas sambil membicarakan papah Yuchy dan mr Rapi banget yang cool abiss. Alhamdulillah ternyata didunia ini ada banyak hal yang aku miliki........ benar-benar nggak sendirian............Kalau dipikir-pikir kenapa ya Papah Yuchy itu dinobatkan sebagai makhluk paling angker ????, padahal baik gitu. Menurut aku mungkin banyak dari rakyat negeri pencari kebenaran yang nggak mau melihat atau mengenal beliau lebih dekat, atau mencoba untuk memahami aturan-aturan beliau. udah ah.... lagi males mikir......Tengkyu banyak-banyak deh buat papah Yuchy yang selalu meyakin aku bahwa saat ini aku tidak sedang berkhayal, tapi sedang berjalan menggapai cita2 koe. Thanks buat hari ini, kemaren, dan hari2 sebelumnya............. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;May 26, 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1256944349390644014-5356220972574790769?l=hardianti.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hardianti.blogspot.com/feeds/5356220972574790769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1256944349390644014&amp;postID=5356220972574790769' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5356220972574790769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1256944349390644014/posts/default/5356220972574790769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hardianti.blogspot.com/2007/03/aku-si-honey-dan-papah-kami.html' title='Aku, si Honey dan Papah Kami.......'/><author><name>yanti</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05716646330200733355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://bp1.blogger.com/_u_MwDiikKdo/R3NmXciT9qI/AAAAAAAAADQ/ZW2G1tVBsSc/S220/Untitled-2.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
