Saturday, November 20, 2010

Rumah


Aku rindu rumahku
Sebuah tempat kecil di atas bukit kasih
Tempat kami duduk bersila untuk makan malam dengan lauk sederhana
Tertawa dan bercanda di atas tikar pandan yang mulai rekah termakan usia

Rumahku
Dipan-dipan kayu tempat kami bercerita tentang kepenatan hari
Duduk di bawah bulan sambil menggunting daun kamboja yang kering
Lalu membayangkan masa depan dengan menghitung bintang yang berserakan

Rumahku
Sebuah tempat yang kadang tak berpelita dalam gelap
rembesan air dan bocor atap ketika hujan di tengah malam
Terbangun bersama dan ter tawa menadah air dalam wadah

Dulu itu rumahku
Ketika semua derita akan berubah menjadi tawa saat melewati halaman
Segala perih terhapus dalam gelak canda di ruang tamu
dan kerinduan akan terbayar dalam kehangatan ruang keluarga

Kini, rumah itu tiada
Tempat kecil itu tenggelam bersama jasadnya di pekuburan tanah
Tercerabut bersama desah nafasnya yang patah
Kosong seketika seiring detak nadinya yang tak ada

Rumahku kini tiada
Tinggal aku yang seorang papa
Tanpa rumah
Tanpa pulang

Friday, June 25, 2010

KKL Selalu dan Selalu Saja....

Waktu makan malam di lokasi KKL... Ya ampu, kangen ya....


Tadi pagi, teman-teman berangkat KKL ke kabupaten Sanggau. Cukup jauh dari Kota Pontianak, karena bisa membuat badan pegal-pegal karena perjalanan. Aku datang ke kampus agak siang, hingga tak bisa melihat bis-bis yang mereka tumpangi berangkat dari kampus. Tapi aku bisa merasakan betapa hebohnya mereka tadi pagi, seperti betapa hebohnya aku dan teman-teman waktu berangkat KKL dulu. Uh, saat-saat luar biasa yang tak akan terlupakan seumur hidup. Pengalaman yang takkan terulang lagi dan waktu yang dapat dikenang saat tua nanti, lalu diceritakan pada anak cucu (baca: Jika Tuhan memberi kesempatan hidup lebih lama). KKL memang selalu menjadi peristiwa yang luar biasa, jauh lebih asyik dari ospek,malah lebih hebat dari ujian skripsi. Berbagai cerita menghiasi setiap peristiwa KKL mulai dari awal perjalanannya.

Ketika pembagian kelompok, setiap orang akan melihat dengan antusias siapa yang akan menjadi teman sekelompoknya selama 2 bulan. Ada yang tersenyum ceria, ada pula yang mencibir, dan ada yang datar-datar saja usai melihat nama-nama yang ditempel di papan pengumuman.Pembagian kerja, barang-barang yang dibawa dan belanja keperluan makanan selalu mengundang cibir dan tawa.

Saat keberangkatan juga tak kalah heboh. Mahasiswa ‘double’ dalam artian apapun akan merasakan khidmatnya waktu ini. Pasangan mereka melepaskan dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Tak jarang ada kekhawatiran. Sebab, KKL selalu saja dikaitkan dengan cinta lokasi. Untuk hal yang satu ini bukan sekedar isapan jempol. Banyak buktinya, meskipun kebanyakan tak berlanjut dan memang hanya berlangsung di lokasi KKL saja. Namanya juga CinLok. (hahaha, sepertinya aku mengingat sesuatu...)

Aku baru saja meng-SMS-i seorang teman yang ditinggal KKL ‘seseorangnya’. Kupikir asyik juga mengolok-oloknya saat ini.
“Dah kangen lom? Hehehe...” Delivered to : 08xxxx
“Iya.. dr tdi pas bis nye brgkt. He..” sender 08xxxx
“ Hahahaha. Tenang jak. Dh diancam tak boleh selingkuh. Eh balek ne kapn?” Delivered 08xxxx
“wkwkwkwk.. Ampe diancam? Mgkin awal agustus. Tak tw jg” sender 08xxxx
“ Iyelah... Oh, pasti kangen bgt tuh, mane disana tak de sinyal gek tuh... Sian ne...” delivered 08xxxx
“Ih die nih ngeracau... Iyelah, kalo berani macam-macam digunduli...” sender 08xxxx

Itulah sepotong percakapanku dengan teman yang sedang ‘ditinggal’. Ah, bukan cuma dia, masih ada yang lain yang juga merasakan hal yang sama. KKL sekali lagi membuat para pasangan menjadi was-was. Memang beralasan kalau mereka was-was. Beberapa kakak tingkat kami membuktikan bahwa cinta KKL bukan cuma sekedar cinlok. Mereka melabuhkan cinta itu di pelaminan. Ada yang cintanya nyangkut dengan warga di lokasi, ada pula dengan teman sekelompok, malah ada yang dengan anggota kelompok lain. Ada yang jatuh cinta tanpa beban, karena masih single, namun tak jarang ‘terpaksa berkhianat’. Tapi toh, cinta itu terlanjur tercipta.

Aku jadi ingat beberapa kata yang kurangkai untuk cerpenku yang belum selesai. “Cinta itu berhubungan dengan perasaan dan ‘hati’. Tak ada yang bisa menolaknya, juga tak diminta. Dia datang begitu saja tanpa mau tahu dimana, siapa atau mengapa. Intinya,cinta itu tak dapat ditolak. Tapi, apakah cinta itu kemudian membuat kita bersama dengan orang yang kita cintai, itu adalah pilihan. Ada banyak sekali pilihan. Ada yang mencintai, tapi memilih untuk diam dan ada pula yang mencintai lalu memilih mengatakannya. Ada yang saling mencintai dan memilih untuk hidup bersama. Tapi ada pula yang saling mencintai, tapi memilih tidak bersama, lalu membiarkan orang lain mengisi hidupnya meskipun bukan untuk mencintai lagi. Ada juga yang saling mencintai, namun memilih untuk tidak bersama dan menutup hatinya untuk siapapun. Toh, semuanya adalah pilihan, dan masih banyak lagi pilihan yang lain”. Kenyataannya, memang masih banyak pilihan lain.

Tiba di lokasi, akan ada cerita hebat lainnya yang masih menunggu. Menunggu untuk dilewati. Teman baru, keluarga baru dan kisah baru. Ada cemburu, ada sinis, tapi ada tawa dan senyum yang nantinya akan sulit dilupakan. Aku masih ingat kisah-kisah KKL ku yang membuatku tersenyum saat mengingatnya. Seorang teman sangat cemburu padaku. Konon kata temanku yang lain, dia selalu membongkar isi pesan di Hpku, membolak-balik halaman buku catatanku yang dengan ceroboh kutinggal begitu saja di kamar kami (baca: aku tak pernah berpikir ada orang yang tertarik untuk membaca isi pesan dan tulisan di catatanku)

Di catatanku, dia tak menemukan apapun, tapi di inbox HP ku dia menemukan banyak pesan yang menjadi bensin untuk bara kecemburuannya (aku paling malas menghapus pesan di HP, biasany sampai pesan lain tak bisa masuk). Aku sempat naik darah, tapi tak meledak. Kejadian yang sama sempat terulang lagi.

Ada hal yang tak pernah kulupakan. Di KKL itu, aku menambah teman yang kemudian menjadi sahabat. Sahabat yang luar biasa. Banyak kesamaan, tapi tak sedikit perbedaan dan kami bisa menyatukan semuanya menjadi hal yang hebat. Sangat hebat. Bahkan sampai sekarang pun, saat waktu-waktu itu telah lama berlalu, kami tetap menjadi sahabat yang unik dan luar biasa (untuk kami). Aku juga menambah teman yang selalu membelaku, di depan atau di belakangku. Juga mengingatkanku. Senangnya.

Cinlok? Pasti. Meski aku dan teman-teman tak pernah menganggapnya sebagai cinta. “Kebersamaan yang lebih dekat” itu adalah pelengkap. Seperti gorengan saat jedah mata kuliah. Seperti ‘sedikit mengerjai dosen’ waktu di kelas. Hanya sebagai pelengkap agar semuanya tak terasa hambar, supaya kenangan itu menjadi semakin layak untuk dikenang. Kami semua dengan sadar bisa membedakan mana yang harus kami lanjutkan dan mana yang harus berakhir pada saatnya dan memang harus berakhir begitu kami kembali pada kehidupan masing-masing nantinya.

Haru dan tangis menjadi penutup saat KKL berakhir. Warga desa yang baik, ramah dan sederhana manjadi salah satu pemicunya. Aku ingat saat aku dan teman-teman diantar dengan tangis dan doa oleh warga. Anak-anak TPA semuanya menginap di posko kami. Ibu, remaja dan bapaknya pagi-pagi sekali telah berkumpul di tempat kami. Mereka membawakan makanan, buah atau souvenir untuk kami, bahkan ada yang memberi uang, meski tak banyak. Kata mereka, kami harus membawa sesuatu dari tempat itu untuk dibawa pulang ke rumah. Mungkin sebagai salam mereka untuk orang-orang yang menunggu kami di rumah. Tapi semuanya tak berakhir begitu saja. Hingga saat ini pun kami semua masih saling mengingat. Warga di sana juga kerap berkirim kabar dengan kami di sini. Ikatan itu tak putus begitu saja, meskipun kata temanku ada hal yang harus diakhiri hanya sampai saat perpisahan (hahaha, setuju !!!!!). Yah, KKL sekali lagi membuat kisah dan setiap tahunnya akan selalu mengukir kisah baru dengan keistimewaannya sendiri-sendiri....

Saturday, January 30, 2010

Catatan Seorang Mahasiswa Tua

Sebuah keputusan sulit akhirnya dibuat. Aku ingin hengkang dari organ yang selama ini menemani hari-hariku, yang tak hanya sekedar tempat bernaung di kampus, tapi juga rumah yang memberiku banyak saudara. Rumah itu pula yang menjadi wadahku. Ah, sakit sekali rasanya. Aku seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku terlalu mencintainya dan menempatkannya di tempat yang sangat istimewa di hatiku. Aku sangat mencintainya. Sangat.

Tapi itu sebuah proses kehidupan, sebab aku tetap harus hengkang. Aku sadar benar bahwa setiap orang orang memiliki masanya sendiri. Kini masaku sudah berakhir dan harus digantikan oleh adik-adikku. Aku teringat perkataan seorang teman yang menyatakan bahwa kami memang sudah harus pergi dari kehidupan organ di kampus, secinta apapun kami pada organ itu. Keberadaan kami hanya akan memperlambat proses pendewasaan adik-adik kami. Mereka butuh sendiri untuk belajar bertanggungjawab atas kewajiban, posisi dan tugas mereka. Mereka harus memikul tanggungjawab itu di bahu mereka, tanpa kami.
Kini adik-adikku bertambah banyak. Senang rasanya kini rumah itu dihuni oleh banyak orang. Karya ciptanya pun ditunggu dan dibicarakan orang-orang di kampus ini. Bahagia rasanya pernah menjadi bagian dari perubahan citra itu.

Lebih membahagiakan lagi, pernah melihat pertumbuhan adik-adikku yang dulu imut dan nakal kini berubah menjadi pemimpin dan mahasiswa-mahasiswa yang keberadaannya diperhitungkan karena karya ciptanya, tulisan. Senang rasanya menjadi kakak mereka, meski aku tak berperan apapun dalam pertumbuhan mereka yang begitu sempurna. Masih segar dalam ingatanku ketika mereka melintasi kelasku tanpa menoleh saat kami belum kenal, mereka pun masih berstatus mahasiswa yang baru saja menyelesaikan masa Ospeknya. Saat itu aku tak pernah berpikir bahwa sosok-sosok itulah yang nantinya akan mengisi hari-hariku dan menempati hatiku dengan sangat dalam. Aku juga tak pernah membayangkan bahwa kami akan berkumpul dalam suka dan duka, kemudian seberat ini hatiku berpisah dari moment-moment indah itu.

Tapi waktu harus terus berjalan, dan kita tidak tercipta untuk cengeng menangisi perjalanannya yang tak akan pernah kembali. Tak ada yang perlu ku khawatirkan, sebab adik-adikku jauh lebih baik. Mereka memiliki semangat mudanya, komitmen dan kemampuan yang tak bisa dianggap remeh. Tak ada yang perlu ditakutkan. Ah tidak, bukan khawatir atau takut. Aku tak pernah takut atau khawatir untuk menyerahkan semuanya pada mereka, aku hanya belum siap untuk benar-benar melepaskan semuanya. Mereka dan rumah itu terlalu berarti untukku.

Namun, aku tahu bahwa mereka lebih berarti dari pada egoku untuk terus bersama mereka. Aku harus benar-benar menyerahkan semua urusan rumah itu secara utuh. Kini ku benar-benar pergi. Aku tahu, adik-adikku akan semakin dewasa, semakin kuat dan semakin cerdas tanpaku.
Hampa. Lagi-lagi perasaan ini muncul. Begini ternyata rasanya menjadi mahasiswa tua yang sedang berada diujung waktu keberadaannya di kampus. Oh, ternyata ini rasanya menjadi mahasiswa tua.

Ah, tak ada waktu untuk larut dalam perasaan, jalan masih begitu panjang. Skripsiku menunggu untuk diselesaikan, tugasku di Centre juga bertumpuk. Aku sedang belajar merajut masa depan sebagaimana yang aku cita-citakan. Aku sedang melangkah untuk impianku. Akhirnya harus kukatakan; Terimakasih untuk segala kenangan, cinta, tawa dan kesal yang pernah ada. Aku begitu menyayangi kalian. Hari ini dan selamanya...

Saat Menungguimu, Sobat....

Malam semakin larut, 00.56 Selasa 19 Januari 2010 dini hari WIB. Malam ini tak seperti malam-malam lainnya, sebab malam ini aku dan teman-teman sedang menemani Ari yang tertidur sehabis dioperasi tadi siang. Hanya sesekali dia terbangun dan tersenyum menatapku. Malam ini mengingatkanku pada malam-malam yang pernah kuhabiskan di rumah sakit tahun-tahun yang lalu.

Dinginnya dinding-dinding rumah sakit dan lantainya yang beku pernah menemani malam-malam ku, nyaris seperti malam ini. Ada rasa pedih yang rasanya melukis tiap inchi dinding-dinding itu. Trauma masa lalu tentang rumah sakit lagi-lagi terasa tergambar di kelopak mataku. Kini, lagi, sahabat kecil yang kusayang harus terbaring lemah di bangsal tua rumah sakit. Sementara kecemasan yang sombong tetap menyelimutinya dengan angkuh. Lagi-lagi seorang yang kusayang harus terpenjara di lengkung lengan besi si bangsal tua.

Ari demam. Sesekali bibirnya bergetar. Aku dan Icha memandangnya nanar. Kak Vita tersenyum menatap kami. Ari tak banyak membuka matanya. Hanya sesekali. Bibirnya agak memucat. Konon itu disebabkan pendarahan akibat operasi tadi. Ada sekantong kecil darah yang menyertai tabung infus besar yang akan segera menjadi tamu dalam tubuhnya. Ah, adik kecilku. Dia kembali tertidur.

Handphone ku bergetar. Nama seorang sahabat muncul di layar LCD. Tak ada basa-basi, khas gayanya.

“Kasi aku alasan ngape tak maok jadi menteri. Alasan konkret yang bise aku terima dengan logika aku. Aku tak maok alasan karena udah ketuean di kampus atau apelah. Aku maok alasan yang benar-benar konkret” ujarnya tepat di pokok permasalahan.

“Udah tak penting agik sekarang. Kan udah nak pelantikan,” jawabku

“Ini bukan soal pelantikan”

Terus buat ape? Emang dah tak penting agik”

“Terserah, buat aku penting”

“ Malam ini pikirkan, besok sebelum dzuhur aku tunggu jawabannye. Sekarang aku capek, baru balek darijeruju,”

Dia menutup teleponnya. Beberapa SMS kemudian kukirim dan kuterima yang membahas soal masalah di telepon. Aku masih menjawab sama. Tak penting untuk dibahas.

Pukul 01.19 dini hari. Kak Vita ke kamar mandi. Icha tertidur pulas di sisi kananku, sementara Hakim juga bergelut di alam mimpinya tepat di sebelah kiriku. Yos dan Budin sudah sejak tadi berhenti bercanda dan memilih beristirahat. Heri tetap sibuk dengan kerjaannya sambil sesekali mengunyah kacang atom garuda. Aku bergulat dengan laptop kesayangan Ari yang sejak semalam sudah ku sita, tentunya dengan tema kerjaan dua mingguanku, lay out dan sedikit editing. Aku mengerjap sejenak mengusir kantuk yang mulai datang. Aku sedang tak ingin melakukan apapun selain menulis. Lay out menjadi pekerjaan yang membosankan malam ini, tak seperti malam-malam lain yang selalu sukses meraih seluruh perhatianku. Editing juga sangat tak mengasikkan, padahal tulisan di depanku begitu asik untuk dibaca. Tapi aku sedang tak ingin. Itu masalah terbesarnya saat ini.

Aku melirik bangsal rumah sakit yang tepat berada di depanku. Tampaknya Ari terbangun. Aku melihat bibirnya bergetar menggeliat sakit. Ku buang wajahnya dari pandanganku. Miris. Sahabat baik hati yang terlihat sangat kesakitan, bahkan begitu jelas di depanku, rasanya begitu sakit. Aku melanjutkan kalimat demi kalimat yang mungkin dapat kutulis untuk mengusir penat sejenak. Tulisan selalu menjadi penghibur hati, saat segalanya sudah tak lagi menenangkan. Saat semuanya terasa begitu terlalu membosankan dan saat segalanya menjelma dalam sosok-sosok hitam kegelapan yang asing.

Di beberapa bagian persendianku masih terasa pegal, hadiah survei lokasi pengukuhan anggota baru rumah kami, hari Minggu kemarin. Aku sempat mencoba hampir semua tantangan outbond di sana, meskipun peralatan pengamanan belum dipasang. Toh, aku dan teman-teman tak peduli dengan pengaman-pengaman itu. Aku ingin. Itu faktornya.

Aku melirik Hakim sebentar. Dia memunggungiku. Tak terlihat seperti apa wajahnya saat tertidur, tapi wajah inilah serta wajah 8 orang teman seangkatannya yang begitu lekat akhir-akhir ini di mataku. Bukan karena mereka lebih baik atau lebih kusayang. Tapi, mereka sangat membanggakanku. Akhir-akhir ini mereka harus bekerja lebih berat, karena beberapa musibah yang mendera kakak dan abang mereka. Banyak hal yang harus mereka lewati akhir-akhir ini. Aku begitu bangga karena mereka justru semakin kuat dan dewasa. Sosok mereka membuatku sadar bahwa mereka memang pantas menjadi yang terpilih. Mereka membuatku begitu optimis bahwa rumah kami akan tetap bersinar.

Ah, mereka yang dulu kami panggil “bayi-bayi” pers mahasiswa, kini telah tumubuh begitu dewasa dan kuat sebagai garda depan penerbitan dan sinar dalam rumah kami. Tak sia-sia rasanya mereka ditetaskan di atas bukit Rel dan belajar mandi bersama-sama anak kodok di kolam bawah bukit. Juga tak sia-sia rasanya belajar berjalan di antara pekuburan di tengah malam. Mereka dewasa dengan cepat dan menjadi begitu kuat. Sebentar lagi, kami akan kembali menetaskan bayi-bayi pers mahasiswa yang lain. Sepuluh orang lagi. Meski tempat menetas mereka berbeda, aku berharap bayi-bayi baru ini akan sekuat kakak-kakaknya.

Ah, malam semakin larut. Heri sudah merapikan pekerjaannya. Mengambil tempat di sisi Budin dan kemudian merebahkan diri. Pukul 0.2.15 WIB, malam lebih larut lagi. Malam ini akan kuakhiri sampai di sini. Cukup sampai di sini, karena esok masih ada kisah-kisah lain yang sudah menanti untuk diselesaikan.

Monday, February 2, 2009

Ijinkan Aku Menjadi Tolol

"Seperti orang putus asa gitu, jangan pesimis, masih bayak yang bisa kamu berikan pada kami..." kata seorang teman memberikan motivasi ketika ku katakan terlalu banyak pertanyaan 'tolol' yang sedang menghantuiku. "Bukan putus asa, tapi pertanyaan-pertanyaan itu datang begitu saja, dan tak terkendali", kataku menjawab e-mailnye. Dia teman baikku, dia adalah sahabat yang selalu mencoba untuk mengerti jalan pikiranku yang lebih sering lari dari rel yang seharusnya. Pikiran yang terlalu liar, komentar seorang teman lama.

Sebenarnya, ini bukan soal pesimistis atau putus asa, ini adalah soal pertanyaan 'tolol' yang sering mengahantui orang-orang yang sering tak mengikuti arus pemikiran normal. Aku mendapatkan beasiswa belajar Bahasa Inggris selama dua bulan di Amerika Serikat. Aku tahu benar, itu menghabiskan puluhan juta rupiah, mungkin sekitar lebih dari 60 juta jika dirupiahkan. Memang ini beasiswa dari pemerintah AS sendiri, tapi tentu bukan tanpa alasan dia memberikan itu pada mahasiswa-mahasiswa dari negara berkembang, Indonesia misalnya. Negara ini telah lama menjadi pasar untuk produk mereka, telah lama menguntungkan perekonomian mereka, bahkan mungkin menjadi sumber pendapatan negara mereka. Mungkin ini salah satu cara untuk membalas, meski juga tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan dan mereka akibatkan. Untukku, dengan kata lain, uang yang membiayai kepergianku dan mahasiswa Indonesia lainnya ini adalah uang rakyat kami juga, dan rakyat dari negara berkembang lainnya.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apa yang bisa kuberikan untuk mereka ? Orang-orang yang telah memberikan uang puluhan juta ini kepadaku dengan cuma-cuma. Sekedar belajarkah ? Bukankah mereka tidak butuh orang-orang yang pintar untuk dirinya sendiri ? Lantas apa ? Berbagi dengan banyak orang, mengajari mereka, dan membuat perubahan yang lebih baik ? Dengan apa ? Bangaimana caranya ? Kapan ? Apa aku bisa ?

Itu pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul. Ini bukan masalah idealisme, karena aku bukan seorang idealis. Ini soal pertanggungjawaban moral kepada hutang yang abstrak. Tak ada hitam diatas putih yang dapat memaksa dan mengintervensiku untuk bertanggungjawab atas apa yang kuterima. Ini peruntungan karena aku mahasiswa, dari negara berkembang, dan memiliki nasib baik. Lantas kenapa aku harus pusing menjawabnya ?

Beasiswa dan kesempatan ini membuatku senang, tapi sama sekali tak membuatku merasa menang. Ada saat dimana aku merasa benar-benar beruntung, tapi beberapa saat dalam waktu yang amat sekejap, aku merasa begitu kecil dan penuh dengan rasa bersalah. Bahu dan otakku terasa benar-benar menyiksa. Ada beban disana, yang belum kutunaikan. Aku seperti pegawai negeri yang hanya mengisi absen dan kemudian mendapatkan sejumlah uang di awal bulan, tanpa dapat memberi apa-apa untuk rakyat yang membayar pajak agar gajinya dapat dibayar. Aku merasa seperti pejabat yang senang-senang berjalan dengan mobil dinas, dikawal ketat oleh pengawal yang justru menjauhkan dia dengan masyarakat yang memberinya jabatan dan segalanya. Orang-orang yang membunuh nuraninya untuk alasan kedamaian dan ketenangan hati. Agar tak terlalu risih dan tersiksa dengan pertanyaan pertanggungjawaban moral.

Saat pertanyaan itu datang dan aku memikirkannya, aku terlihat seperti orang tolol yang tersesat dalam arus zaman. Tapi ketika aku mencoba untuk melupakan dan mengabaikannya, aku merasa seperti orang pintar yang membunuh nuraninya. Maka, teman-teman dan Tuhan, ijinkan aku menjadi tolol, dan kemudian mati dalam kegilaan atas pertanyaan-pertanyaan 'tolol', sebelum aku memutuskan untuk membunuh nuraniku.


Corvallis...

Wednesday, January 28, 2009

Saat Ku Jauh...

'Jauh' menjadi kata yang sangat bermakna saat ini. Saat jarak dan waktu membentang di depan mata dan menjadi begitu luas. Di tempat yang asing dengan teman-teman, budaya, bahasa dan cara hidup yang sangat berbeda. Sungguh luar biasa, memberikan pelajaran baru yang belum kudapatkan. Disini aku belajar untuk memahami banyak kata yang selama ini tak begitu bermakna.

Ah, apa kabar orang-orang yang disana, di tanah tempatku dilahirkan ? Apa kabar orang-orang yang selalu menemani hari-hariku selama ini dan menjadi orang-orang yang menunggu kedatanganku. Aku mulai mengingat mereka, mulai ingin menemui mereka dan ingin mendengar tawa, canda, cerita dan kadang omelan mereka. Tuhan, apa aku mulai merindukan mereka ?

Di tengah-tengah ketidaksamaan ini, ada hal-hal yang membuatku bersemangat. Ada sesuatu yang mulai membuatku merasa nyaman. Membuatku berpikir bahwa waktu yang tersedia dalam sehari begitu pendek, hingga aku ingin cepat matahari bersinar yang menandai hari baru telah datang. Namun, disisi lain membuatku menoleh kebelakang dan bepikir 'mengapa hari begitu cepat?' Tuhan, apa aku mulai menikmati hidupku disini ?

Ada perasaan marah dan kesal, ketika orang-orang membicarakan negeriku seakan-akan hanya memandangnya dengan sebelah mata. Ada perasaan bangga yang membuncah dengan luar biasa, ketika rak-rak pakaian di mall terbesar di kota ini hampir semuanya berisi produksi negeriku. Juga ketika konsumen mencari dan menanyakan dimana produk negeriku, karena dia ingin membelinya. Ada semangat yaang keluar begitu saja, ketika ku bercerita tentang kampungku kepada siswa internasional lainnya, meski dengan bahasa inggris yang terbata-bata ? Tuhan, apa aku mulai mencintai negeriku ?

Aku mulai nyaman mempelajari dan mendengarkan pikiranku, mulai asik dengan hatiku untuk berusaha memahami apa yang kuinginkan secara jujur. Aku bergulat antara apa yang harus kulakukan, tak harus kulakukan, ingin kulakukan, tak ingin kulakukan, boleh dan tak boleh kulakukan. Tuhan, apa aku mulai mencari kebenaran dalam diriku?

Semua hadir, justru saat ku jauh. Jauh membuatku dan memberiku waktu untuk memahami dan merenungkan semuanya. Dan semunya terjadi justru saat ku jauh. Saat ku jauh..

Friday, January 9, 2009

Aku di Corvallis.....

Aku lagi ada di Corvallis sekarang, sebuah kota di Oregon State, USA. Aku dan 19 orang teman serta seorang chaperone dari Indoensia sampai di bandara Portland, ibu kota Oregon State pada 4 januari sekitar pukul 22.20 waktu setempat ( di Indonesia udah tgl 5 januari sekitar pukul 13.00 WIB). Di sana sudah ada Alexis Siegel dan Shandy Riverman yang menjemput kami. Kami masih harus naik bus selama 2 jam untuk menuju Corvallis, kota dimana Oregon State University berdiri megah. Ketika keluar dari bandara, semua orang dari rombongan kami langsung terkejut. Udara di Portland luar biasa. Jika anda pernah memasukkan kepala anda di freezer dalam kulkas selama berjam-jam, maka seperti itulah suhu di Portland saat itu. Dalam sekejap, karena hanya menyeberang jalan saja, tanganku yang menggunakan sarung tangan tipis segera mati rasa, sampai-sampai aku tak bisa menekan pegangan travel bag-ku. So funtastic.
Di dalam bus, lumayan hangat. Suasana ramai di dalam bus, termasuk bercerita selama lebih dari 20 jam penerbangan hanya bertahan sekita 45 menit. Setelah itu suasana sepi, sebagian besar teman-teman tertidur. Aku sempat mengirim beberapa sms, ke teman, dan keluarga di rumah. Ah, betapa di tempat yang jauh, mereka terasa sangat dekat dan begitu berharga.......
Salju lebih menarik perhatianku dari pada tidur. Di sepanjang jalan-jalan di Portland, salju memamerkan keanggunannya dengan menutupi puncak-puncak tanaman nias, pohon dan atap-atap rumah, bahkan mobil yang sedang melajupun harus membawa salju di bagian atasnya. Putih dan luar biasa.
Sekitar pukul 00.30 waktu corvallis, kami tiba di asrama mahasiswa. Kami tinggal di Cauthorn Hall lantai 5. Jadi kami harus bolak-balik dengan menggunakan lift. Beberapa fasilitas tersedia di sini. Ada komputer dengan akses internet gratis di lantai bawah, meski cuma dua komputer dan menggunakannya harus antri. Sedangkan yang punya laptop dapat menggunakan koneksi di kamar dan temapt lainnya, juga gratis. Asik ya..... Beberapa hari kemudian kami juga menerima fasilitas telpon di setiap kamar, meskipun cuma bisa digunakan untuk menelpon di daerah lokal. tapi lumayan....