Aku baru saja selesai mandi, dan akan menggoreng singkong ketika Hpku berbunyi. Jreng....pesan dari INDOSAT layanan Telpon Aku (TA) dari seorang teman. Dia meminta aku menghubunginya. Wah tumben sekali, biasanya aku yang selalu kirim TA, dan dia selalu balik menelponku. Ada apa gerangan ? Pasti ada sesuatu yang penting dan pulsanya benar-benar kosong, pikirku dalam hati.
Dan benar, dia sedang kesulitan. Dia memintaku menghubungi teman yang lain untuk segera menjemputnya di asrama haji. Aku memenuhi permintaannya.
“ Bg kiki, bg mul mintak jemput d asrama haji skrg. Cptn katenye. Ok.”
SMS yang sama kukirimkan ke dua nomor, Simpati dan IM3, sebab Kiki, temanku yang lain ini memiliki dua kartu. Sempat pending hingga 1 jam kemudian. Lalu SMS ke Simpati terkirim pukul 21.02.00 sedangkan IM3 gagal.
Setelah itu, aku lalu melanjutkan pekerjaanku, menggoreng singkong, kami menyebutnya ubi. Sebagai anak yang dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia, tentu saja ubi menjadi salah satu makanan favoritku, melebihi keju atau burger yang aku tak tahu mengapa banyak orang bilang enak, padahal di lidahku terasa aneh. Hm... mungkin saja memang lidahku yang salah, tapi mungkin juga lidah mereka yang tak jujur karena keju atau burger memiliki prestise yang lebih tinggi, terkontaminasi-lah selera makannya.
Aku lalu menghidangkan ubi gorengku ke dalam piring putih dengan motif buah-buahan berwarna hijau dan membuat teh di gelas yang besar. Lumayan cantik juga penyajian si ubi goreng, pikirku, kemudian aku membawanya ke ruang tengah untuk dicicipi anggota keluargaku yang lain. Ada nenek dan mak yang sedang menonton sinetron di RCTI, sedangkan adikku sedang having fun bersama temannya di teras rumah. Bapak sedang pergi, biasanya ngobrol bersama teman-temannya di depan rumah atau di masjid ujung komplek. Satu fungsi baru masjid, tempat kongkow bapak-bapak komplek.......
Aku duduk sambil menyandarkan tubuhku di dinding. Map berisi kliping tulisanku yang pernah dimuat di media massa aku singkirkan. Tak asik kalau di klipingku kemudian membekas minyak ubi. Aku tengah menikmati makanan favoritku itu ketika Hpku lagi-lagi berbunyi. Aku segera beranjak dan menghampiri Hp biru yang tergeletak cantik diatas kursi. Aku pikir SMS dari Bang Kiki, Nisa, Ambar, atau Bang Mul, tapi ternyata salah.
“ Ti, kamu gilee abis.” Sender Papah. 21:27:11
Ha......??? aku terbengong sambil melongo. Kalau soal gila, ya aku tahu sekali aku memang tak waras, bahkan teman-temanku setuju bahwa aku emang gila. But, Papah bilang aku gila ? Hehehe...., ada apa nian ? Aku tertawa sendiri sambil memencet keypad HPku
“ Kok gile, pak ?” delivered to Papah 21.29.28
“ Sy br baca blogmu. Wow, terpukau. Hebat. Caramu menulis, mendeskripsi, luar biasa. Papah kagum abis.” Sender Papah 21:31:41
Aih, aku kaget, bukan karena dipuji. Waduh gawat neh, berarti Papah baca semua dunk. Mana banyak yang nyeleneh, ada pula tentang dia, teman-teman dan semuanya. Bahkan ada tulisan yang kubuat saat kesal sekali padanya. Aku menaikkan kakiku ke kursi hijau di ruang tamu, Hpku masih diisi. Ubi gorengku ketinggalan di ruang tengah.
“ Itu Cuma ctatan hrian,agar tak lupa. Jgn diolok pa,byk yg nyeleneh jg tuh,ape agk watu nulisx agk sangsot. Hehe. Makasi ya,blog pa jg tmpiln bru kan?keren abis.” Delivered to Papah 21.59.11
Aku merujuk pada tampilan blognya yang baru diedit, dan tampak banyak sekali penambahan-penambahan. Aku membacanya kemarin.
Tak beberapa lama ku dengar tetangga-tetanggaku agak ribut dan keluar rumah. Aku memperhatikan lewat jendela. Mak lewat sambil memberikan sepiring ubi gorengku tadi, tepat pada saat itu Hpku berbunyi kembali.
“Kalau sangsot nulisnya segitu, ape gek kalo normal ya. Ya mau buat jg cttn ttg yanti malam ini. Mg2 bsok jadi.” Sender Papah 22.01.59
Aku keluar rumah setelah membaca pesan singkat itu. Di belakang rumah tetanggaku tampak cahaya merah, sementara itu aku mendengar raungan suara sirine mobil.
“ Ade kebakaran.... “ ujar salah seorang tetanggaku keliatan agak panik.
“ Tapi jaoh, mungkin di Ampera” kata yang lain menyambar
“ Tadak, bukan di Ampera, kayaknya lebeh dekatlah...” sambung yang lain lagi
“ Tengok jak yok...”
“ Saye ambek motor lok, pegi kite ramai-ramai...” kata mereka kemudian
Aku melihat beberapa orang tetanggaku pergi mengendarai motor untuk melihat lokasi kejadian. Aku tersenyum senang, artinya aku juga akan mendapatkan informasi tentang kebakaran itu, apalagi bapakku juga ikut. Sekitar beberapa menit kemudian listrik padam, mungkin ada hubungannya dengan peristiwa kebakaran itu. Tak lama kudengar suara tangis bocah laki-laki yang histeris memanggil orang tuanya. Ternyata suara itu berasal dari rumah tetangga depan rumahku. Vino, anak laki-laki yang baru berumur 5 tahun itu, terbangun dari tidurnya dan ketakutan karena keadaan rumah yang gelap gulita sementara dia tidak mendapati ibu dan ayah di dekatnya.
Ya, tentu saja demikian, ayahnya sedang pergi melihat lokasi kebakaran sedang ibunya keluar rumah melihat cahaya merah itu bersama tetangga-tetangga lainnya. Setelah mendengar suara Vino, barulah ibu Vino teringat bahwa dia mengingggalkan anak semata wayangnya di rumah. Tuhan....ibu-ibu zaman sekarang.........
Tak lama terdengar lagi suara teriakan, kali ini suara ibunya Vino. Dia tidak berani masuk ke dalam, karena takut gelap. Aku tertawa meskipun tidak meledak. Ibu sama anak kok teriak-teriakan...hehehehe... Akhirnya tetangga-tetangga menemaninya masuk, sementara Vino telah sampai di ruang tamu, berjalan sambil menangis. Aku teringat pada Hpku, ups...SMSnya belum dibalas.
“Amin smg cpt slsai, jd penasaran pengn tau kyk apa yanti dlm pikirn bpk. Tp yg jujur lo. O ya d dkt rmh Ti kyknya ada kebakaran neh,jl danau sentarum.” Delivered to Papah 22.13.23
Setelah mengirimkan pesan itu, aku baru sadar, ha...???? membuat catatan tentang aku ?? hihihi.........kayak apa ya aku dalam pikirannya ? dalam pikiran orang yang pernah sangat ditakuti teman-temanku ini, tapi orang yang juga mereka sayangi saat ini. Aku jadi ingat pertama kali mendengar namanya sebagai dosen PA-ku. Amalia Irfani, salah satu staf jurusan prodi KPI bilang, dia adalah doktor pertama di STAIN Pontianak, pinter dan disiplin. Setelah itu kucari informasi tentang dia lewat kakak-kakak tingkatku. Sebuah pernyataan yang cukup membuatku terperangah.
“Sangat ketat sekali, sangar, dan tidak mengenal kompromi dengan kata lain dosen killer, jangan buat masalah same pak Yus” kata mereka. Kemudian mereka bertanya kenapa aku menanyakan tentang dosen satu ini.
“ Bapak yang kate kakak sangar tuh, dosen PA Yanti ” jawabku datar, tapi terus terang aku penasaran sekali. Seperti apa orang ini. Iseng-iseng aku bertanya.
“ Cakep ndak ? ”
Kakak tingkat yang kutanyai malah menimpukku dengan buku
“ Woi...udah punye istri “
“ Ye....kalo cakep, biar punye istri ataupun sangar ‘kan tetap bikin betah “ jawabku sekenanya seraya pergi sambil tertawa. Mereka yang kutinggal hanya menyumpahiku sambil ikutan tertawa.
“ Gilenye anak baru sekok nih “ mungkin begitu pikir mereka.
Tapi terus terang dalam pikiranku, aku punya gambar tersendiri untuk orang satu ini, meskipun aku belum pernah melihatnya. Pasti badannya besar, hitam, agak ubanan dan mimik wajahnya keras. Lalu dia berjenggot, tidak berkumis, selalu pakai peci kemana-mana dengan baju koko dan celana panjang yang digulung sampai mata kaki, dan tak pernah tersenyum.
Aku punya alasan kenapa menggambarkannya seperti itu. Dia adalah doktor pertama di STAIN artinya dia pasti sudah tua. Disiplin dan tidak mengenal kompromi, artinya dia konvensional dan agak kolot, tentu berdampak pada caranya berpakaian. Dan Killer....??? Wah pasti ini didukung oleh penampilan fisiknya. Ya Tuhan selamatkan aku..........
Hari pertemuan pertama akan segera tiba, dia mengajar mata kuliah Bahasa Indonesia untuk semester 1. Waktu kuliahnya hari Kamis pukul 13.00, seharusnya kami bertemu dua minggu yang lalu, tapi dia tidak masuk. Kami, anak-anak baru yang telah mendengar riwayatnya, menunggu di depan kelas dengan pikiran dan gambaran masing-masing. Ada yang menyandarkan tubuhnya di dinding, duduk di kursi, sementara aku sendiri cekikikan dengan teman-teman yang ada didekatku.
Seorang lelaki lewat, dia menggunakan kemeja berwarna biru, tampaknya dari bahan jeans atau bermotif jeans aku juga tak tahu, tapi seperti itulah. Celana panjang biru tua, dan menyandang ransel merah besar. Aku tak terlalu respek ketika dia masuk ke kelas. Tak lama di keluar lagi, menoleh ke arah kami yang bergerombol tak beraturan seraya bertanya :
“ Yang kuliah Bahasa Indonesia, mana ?”
Kami bengong. Mungkin dia mengerti, lalu berkata :
“ Yang ikut kuliah saya, bahasa Indonesia masuk ke kelas “ katanya seraya masuk lagi ke dalam kelas.
Oh Tuhan, dia dosen PA ku, masa’sih....
Kami semua masuk, duduk dan diam menatapnya. Dia memperkenalkan diri. Benar. Dia dosen PA-ku. Ha.......????? Kok tidak seperti yang kupikirkan ? Dia putih, bahkan untuk ukuran perempuan pun dia termasuk kategori memiliki kulit yang putih. Badannya sedang, dan rambutnya tidak ubanan. Tadi aku malah sempat berpikir kalau dia bukan dosen. Ya ampun.......orang ini yang katanya killer ??????
Hehehe.....aku tersenyum lagi mengingat pertemuan pertamaku dengan orang yang kelak ku panggil Papah. Di lain waktu, dia pernah membuat aku bolak balik beberapa kali ke prodi dan jurusan lalu ke ruangannya hanya untuk meminta tanda tangannya di buku putihku juga untuk pertama kalinya.
“ Kenapa saya harus tanda tangan ? Memangnya saya siapa ?” katanya cuek menanggapi permintaanku
“ Bapak dosen PA-saye Pak, kate prodi harus ade tanda tangan dosen PA di buku ini, baru dikumpulkan” jawabku menunjukkan buku putih itu.
“ Siapa yang bilang saya dosen PA-mu ?” tanyanya lagi. Duh nih orang....
“ Bu Amalia Irfani yang bilang, Bapak,pak Yusriadi kan ?”
“ Saya tidak dikasi tau kalau saya jadi dosen penasehat akademik kamu. Kalau saya memang PA kamu, seharusnya ada surat pemberitahuan dari prodi. Sampai sekarang saya belum menerimanya. Jadi saya tak bisa tanda tangan” jawabnya lagi. Ya Tuhan, nih orang, bahkan dia tidak menanyakan namaku...
“ Saya akan tanda tangan, kalau ada surat keputusannya, jadi kamu tanya dulu ke prodi dan minta suratnya “ jawabnya
“ Iya Pak, permisi “ kataku pasrah sambil berlalu. Kesalnya......
Sampai di prodi aku menanyakan surat itu. Kata ketua prodi, Pak Bambang, salinannya ada di jurusan. Dia turun tangan langsung mencarinya, tapi tak ditemukan. Waktu telah menunjukkan pukul satu siang saat itu. Aku tak tega melihat Pak Bambang mencarinya.
“ Udahlah Pak, besok jak “ kataku
“ Tapi surat itu ada, Har, surat penunjukkan dosen PA”
“ Ya, udah Pak, nanti saye bilang jak suratnye ade, agik dicarikan “ jawabku
“ Iya boleh “ kata pak Bambang
Aku kembali ke ruangan dosen PA-ku. Tapi hanya berdiri di depan pintu. Ah...sudahlah besok saja, kataku dalam hati. Aku berjalan melewati ruang Prodi, dan tiba-tiba kudengar suara Pak Bambang memanggil.
“ Har, udah ketemu suratnya “ katanya
“ Iye ke Pak ? Mane ?” kataku sambil menghampirinya.
Dia lalu memberikan dua helai kertas bertuliskan banyak sekali huruf yang distaples menjadi satu.
“ Tapi tak bisa dikasi untuk Pak Yus, itu arsip jurusan. Jadi kamu fotokopi, aslinya kembalikan ke saya” katanya mengingatkan
“ Iya Pak” kataku. Aku segera bergegas ke Kopma, memfotokopinya menjadi dua rangkap dan menyimpannya. Besok akan ku serahkan pada dosen PA-ku itu.
Esoknya, aku kembali meminta tanda tangan untuk buku putihku, kali ini berbekal fotokopi surat keputusan itu. Meskipun demikian, dia tak lantas menandatanganinya.
“ Namamu mana ?” katanya seraya memeriksa fotokopian itu
“ Itu, Pak” kataku seraya menunjuk tulisan namaku
“ Oh “ katanya. Dia lalu melipat dan mengantongi surat tersebut, baru kemudian membubuhkan tandatangan setelah lebih dulu memberikanku beberapa pertanyaan menyangkut mata kuliah yang kuambil.
Ah...... aku rasanya ingin tertawa mengingat kejadian itu, sebuah kenangan lama tentang dosen ajaib yang kemudian kembali mengirimiku sebuah SMS
“Ok. Ne dah mulai. Judulnya Ti.” Sender Papah 22.15.23
Yah, saat aku bertemu pertama kali dengannya aku tak pernah berpikir bahwa suatu saat dia akan menjadi temanku, seorang teman yang sangat baik.Seorang teman yang mendukung dan menyemangatiku.
“ Makasih ya pa, selalu kasi Ti smngt, ksmpatan, dukungn, jg selalu m’hargai smua yg Ti lakukn. Makasi udh jd dosen skligus teman yg baik bwt Ti.” Delivered to Papah 22.24.32
Aku bayangkan dia mengerutkan keningnya dan kemudian tersenyum sambil geleng-geleng kepala membaca SMS ku itu, dan dapat kupastikan dia takkan menjawab lagi. Dia anti disanjung. Mataku mulai mengantuk dan kemudian listrik kembali menyala. Beberapa tetangga yang tadi pergi ke lokasi kebakaran telah kembali.
“ Ada dua orang yang melompat dari lantai 3 “ kata mereka. Ternyata yang terbakar adalah kos di depan STKIP Jl. Danau Sentarum Gg. Ilham.
Semoga tak ada korban, doaku. Setelah sedikit bertanya tentang kejadian itu, aku kembali melanjutkan aktivitasku mengkliping koran. Hingga pukul 23.35 aku baru memutuskan untuk tidur. 25 menit lagi hari akan segera berganti, dan inilah Saturday nightku minggu ini.....
Thursday, February 28, 2008
Thursday, January 31, 2008
Tuhan....
Tuhan…
Malam membuatku diam
Dia membuatku rindu
Getarnya membuatku terpaku
Ada apa dengan hatiku ?
Semuanya terasa begitu sendu
Aku terus membeku
Dalam lorong-lorong yang tak kukenal
Malam membuatku diam
Dia membuatku rindu
Getarnya membuatku terpaku
Ada apa dengan hatiku ?
Semuanya terasa begitu sendu
Aku terus membeku
Dalam lorong-lorong yang tak kukenal
Tuhan…
Jamah jiwaku dengan ujung jemariMu
Biar aku tak sendiri
Aku tak mau sunyi
Hancurkan seluruh ragaku
Luluh lantakkan kalbuku
Tapi sisakan aku setetes cintaMu
Dan biarkan aku tergila-gila dalam pelukMu
Tuhan…
Biarkan saja cahaya itu padam
Aku tak ingin terang
Karena Kau membuatku buta pada dunia
Aku hanya dapat memelukMu
mengenalMu dalam kebodohanku
Maka biar saja aku tercampak
Karena aku akan kembali dalam kasihMu
Aku hanya ingin menyentuhMu, Tuhan.
Saat seluruh jiwaku dipenuhi seluruh kerinduan padaMu, Robb
Jamah jiwaku dengan ujung jemariMu
Biar aku tak sendiri
Aku tak mau sunyi
Hancurkan seluruh ragaku
Luluh lantakkan kalbuku
Tapi sisakan aku setetes cintaMu
Dan biarkan aku tergila-gila dalam pelukMu
Tuhan…
Biarkan saja cahaya itu padam
Aku tak ingin terang
Karena Kau membuatku buta pada dunia
Aku hanya dapat memelukMu
mengenalMu dalam kebodohanku
Maka biar saja aku tercampak
Karena aku akan kembali dalam kasihMu
Aku hanya ingin menyentuhMu, Tuhan.
Saat seluruh jiwaku dipenuhi seluruh kerinduan padaMu, Robb
Warnet Ter Cinta (WTC) akan pindah......
Beberapa hari lagi WTC akan pindah, sedih juga rasanya meninggalkan tempat ini. Memang rumah yang kami tempat saat ini gak ada bagus-bagusnya. Atap bocor, lantai lepas-lepas, dinding terkupas. Belom lagi bagian-bagian lain dan ditambah dengan kebiasaan malasnya saudara-saudaraku yang semuanya laki-laki, makin tambah ancur.Tapi yah, beberapa tahun terakhir, inilah rumahku, tempat melepas lelah setelah bergelut dengan aktivitas kampus. Di sini juga tempatku menyelesaikan semua tugas, juga dari tempat ini banyak kisah hidupku dimulai. Tempat ini memberiku banyak teman, sahabat, bahkan saudara. Kenangan bahagia, tawa, sedih bahkan kesal terpahat menjadi satu dalam tiap lekuknya. Yah, inilah rumahku, setidaknya beberapa tahun terakhir ini.
Sedih rasanya, ketika kulihat calon pembeli tempat ini berkemas-kemas membersihkan karya-karya 'kejorokan' kami, agar kelak mereka nyaman menempatinya. Saat salah satu pohon kebanggaan (baca : Pohon cermai yang merana) kami ditebang. Ah....semuanya akan menjadi kenangan, sebentar lagi.........
Yah, sebentar lagi rumah ini akan tenggelam dalam kenangan. Menjadi sebuah harta karun abstrak yang bertahta dalam ingatan. Keindahan perjalanan waktu di tempat ini yang membuatnya begitu berharga. Bagaimanapun, kelak aku akan tetap menoleh ketempat ini jika melewatinya, mesti yang terpampang bukan lagi papan nama WTC.
Ada hal yang tercipta tidak untuk dilupakan, dan mungkin termasuk tempat ini. Tanah ini mungkin suatu hari akan bercerita bahwa pernah ada sekumpulan manusia yang pernah hidup disini. Sebuah kehidupan yang penuh dengan dinamikanya sendiri.
Semuanya pasti akan sangat berharga dan lag-lagi waktulah yang akan bicara....................................
Saturday, January 26, 2008
Tentang Rindu
Biar malam ini aku terluka
biar tersayat atau tercincang sekalipun
Jika itu dapat membuatku terus melihat senyummu
Aku masih tak berhasil menghapus wajahmu di mataku
Biarkan saja bulan marah atau bintang meradang
Juga jangan halangi matahari untuk murka
Aku sudah terlalu beku dalam waktu yang diam
Pucuk-pucuk mahoni yang melayang pasrah
menyusuri lorong musim yang bisu
Biar saja semua dipangkas alunan irama untuk nada kesunyian
Tapi, Nada-nada itu brengsek
Dia tak mampu mengusik suaramu yang berdentang di kepalaku
Bagai lonceng yang memanggil hatiku untuk ada di dekatmu
Juga poster-poster bodoh yang membahana di seantero kota
Dan, apa itu senyum agung Monalisa ?
Nyatanya temaram lampu dan taman-taman yang redup
tak juga menghapus wajahmu
Aroma wangi sedap malam atau keangkuhan sekuntum mawar merah
Semuanya tak dapat menguraikan kenanganku akanmu.
Kenapa ?
Aku tak menemukan jawabannya
Pada akhirnya aku berdiri, sendiri dan terpaku
Aku benci dan sangat benci ketika harus menyerah
Bersimpu didepan angin malam yang menyesakkan
Seraya mengakui bahwa aku begitu merindukanmu
biar tersayat atau tercincang sekalipun
Jika itu dapat membuatku terus melihat senyummu
Aku masih tak berhasil menghapus wajahmu di mataku
Biarkan saja bulan marah atau bintang meradang
Juga jangan halangi matahari untuk murka
Aku sudah terlalu beku dalam waktu yang diam
Pucuk-pucuk mahoni yang melayang pasrah
menyusuri lorong musim yang bisu
Biar saja semua dipangkas alunan irama untuk nada kesunyian
Tapi, Nada-nada itu brengsek
Dia tak mampu mengusik suaramu yang berdentang di kepalaku
Bagai lonceng yang memanggil hatiku untuk ada di dekatmu
Juga poster-poster bodoh yang membahana di seantero kota
Dan, apa itu senyum agung Monalisa ?
Nyatanya temaram lampu dan taman-taman yang redup
tak juga menghapus wajahmu
Aroma wangi sedap malam atau keangkuhan sekuntum mawar merah
Semuanya tak dapat menguraikan kenanganku akanmu.
Kenapa ?
Aku tak menemukan jawabannya
Pada akhirnya aku berdiri, sendiri dan terpaku
Aku benci dan sangat benci ketika harus menyerah
Bersimpu didepan angin malam yang menyesakkan
Seraya mengakui bahwa aku begitu merindukanmu
Friday, January 25, 2008
Buku Mahal......Gilaaa...............
Malam ini aku pergi ke toko buku, dua buah toko buku yang cukup besar di kotaku. Aku tidak berniat untuk membeli buku, uang sakuku menipis, bahkan sudah sangat tipis. Aku hanya menemani seorang teman, dan tentu sambil mencari kesempatan untuk melahap buku, tanpa harus membelinya. Di toko buku pertama, aku sempat membaca buku berjudul “Off the Record”, sebuah buku yang menceritakan kejadian-kejadian seputar liputan dan meja redaksi wartawan media cetak. Kejadian yang tak pernah diberitakan, karena memang bukan untuk diberitakan.
Selesai dengan toko buku pertama, aku dan temanku beralih ke toko buku kedua. Jaraknya lumayan, 10 menit dengan mengendarai motor berkecepatan lambat. Kami memasuki toko buku di lantai yang terletak dilantai 1 itu, menggunakan eskalator dari lantai dasar.
Mataku lantas berhenti di barisan depan bertuliskan “ Buku Terlaris”. Ku ambil sebuah novel karya Habiburrahman El-Syirazy berjudul ‘Ketika Cinta Bertasbih 2’. “Rp. 61.000” tertulis dibelakang buku itu. Tuhan, aku terkesiap, betapa mahalnya buku di negeri ini, dengan tingkat ekonomi masyarakat yang seperti ini. Aku teringat bahwa di dalam tasku yang kutitipkan di depan toko ini juga ada buku yang sama. Aku telah habis membacanya tadi siang. Sayangnya, buku itu bukan milikku, aku meminjamnya kemarin.
Aku lalu berpikir tentang mahasiswa-mahasiswa sepertiku, dan mereka yang tingkat ekonominya mungkin lebih tinggi sedikit atau malah yang lebih mengenaskan. Bagaimana kami harus membeli buku, sedangkan untuk biaya kuliah saja, harus banting-bantingan. Bagaimana mungkin kami dapat membeli novel dan buku-buku lainnya, semntara untuk membeli buku utama penunjang mata kuliah saja udah bikun sesak nafas. Ah ... aku jadi merindukan para pelaku pembajakan, mereka yang membajak buku dengan kualitas kertas yang lebih rendah dan tentunya harga yang sangat miring.
Bukannya aku tidak tidak mengharagai hak cipta, ide itu memang mahal. Tapi negeri ini butuh pembaharuan, semua itu hanya akan tercipta jika para pemudanya memiliki kualitas akhlaq, ilmu dan pengetahuan yang memadai. Lantas, ketika buku-buku begitu mahal, bagaimana kami dapat menjadi pemuda yang berkualitas ? Jujur, jika ada pembajak buku, aku akan memilih terbitan mereka daripada penerbit buku resminya. Bahkan sebagian besar orangpun mungkin akan melakukan hal yang sama. Buku resmi terlalu mahal untukku.
Meskipun tentunya aku masih punya banyak cara, diantaranya pinjam, misalnya. Harus aku akui bahwa para peberbit alternatif (aku suka menyebutnya begitu, daripada pembajak) merupakan salah satu unsur yang mencerdaskan bangsa ini. Berapa banyak para sarjana dan ilmuwan yang terlahir dari buku bajakan. Itu memang pencurian terhadap hak cipta, tapi kami-kami yang miskin juga ingin pintar. Kalau aku jadi penulis suatu saat kelak (Amin Ya Allah....), aku takkan marah jika banyak penerbit alternatif membajak bukuku, kalau memang terbukti sangat mahal untuk masyarakat.
Silahkan saja, yang penting kalian pintar dan cerdas, aku halalkan ideku untuk kemajuan bangsa ini. Asal jujur saja mengakui ideku, kalau tidak, namanya plagiat murni. Aku mengutuk plagiat seperti itu. Ideku adalah milikku, tapi silahkan jika ingin memperbanyak bukuku.
Toh, aku juga sering melakukan hal yang sama. Aku tahu rasanya, memasuki toko buku, melihat buku-buku di rak, lantas hanya tersenyum kecut melihat harganya. Sumpah, rasanya aku ingin mengutuk angka-angka itu. Aku benar-benar dendam pada hal ini. Tunggulah suatu haru, semoga Tuhan mendengar do’aku. Aku akan punya perpustakaan yang super besar untuk orang-orang sepertiku, haus ilmu tapi kantong kerucut. Tunggulah akan kubalas toko-toko itu.
Aku mengatakan hal ini pada temanku.
Aku mengatakan hal ini pada temanku.
Mereka berkata “ pendidikan tuh mahal Yan, ilmu juga mahal, wajar jak kalau buku juga mahal”
Aku langsung nyeletuk “ Kalo gitu memang wajar kalau negeri ini takkan maju-maju sampai hari kiamat” ujarku kesal
“Jangan salahkan kalau negeri ini selalu tertinggal, yang punye ilmu pelittt....” lanjutku
Teman-temanku hanya tertawa.
“Ya udah, kalau maok murah, bikin sendiri”
“Amin....suatu hari” jawabku.
Thursday, January 17, 2008
Laskar Bintang...
Beberapa hari ini aku bahagia sekali. Ada beberapa informasi yang kudapatkan, lalu kuteruskan pada teman-temanku di kampus. Mereka sangat antusias, mulai penulisan cerpen dari litekha hingga pertukaran pemuda yang diadakan oleh british council. Mereka semangat, dan aku sangat menyukainya. Aku menyukai semangat muda yang menggelora, semangat yang membuat negeri ini sedikit tersenyum. Aku tak peduli, apakah itu Indonesia, atau Indopahit. Dan inilah negeriku...Suasana kampus kembali dinamis, tak terlepas dari teman-temanku yang kian hari kian bersemangat. Mereka membangun mimpi mereka, seperti aku membangun mimpiku. Tak ada lagi penghalang untuk terus bercita-cita. Aku ingin memiliki laskar, seperti yang dimiliki Andrea Hirata, teman-teman yang selalu menjadi inspirasi. Tapi aku tak mau laskar pelangi, aku ingin laskar bintang. Aku ingin agar kami semua dapat bersinar seperti bintang di langit, tak ada yang redup, semuanya mampu memberi cahaya. Tak ada Lintang, yang harus mengorbankan mimpi dan kecerdasannya demi sebuah kenyataan hidup. Yang ada hanyalah kami yang terus berjuang menggapai mimpi kami.
Ada Linda Puji Rahayu, Dian Kartika Sari, Hanisa Agustin, Erny Purwanti, Badliana, Ira Humaira, Widia, Ambaryani dan Aku. Kami memulai tiap waktu kami dengan segala dinamika kehidupan. Ada kesedihan, ada kebahagiaan, ada canda, ada tangisan, ada cita-cita dan semuanya menjadi satu kesatuan dalam suasana kampus kecil yang selalu kami cintai, STAIN Pontianak, jurusan Dakwah, prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).
Sebuah kehidupan yang akan sulit sekali dilupakan, mungkin hingga kami tua nanti. Dan suatu saat, kami akan menceritakan semua itu kepada anak-anak dan cucu kami kelak. Setiap pagi, kami rebutan meminjam koran di kantor Prodi, juga meminta air putih untuk diisi ke botol-botol minum kami. Atau datang kesana untuk sekedar ngobrol dengan dosen. Yah, dosen dan tenaga administrasi KPI, juga menjadi suatu elemen yang membuat kami bersemangat. Ada DR. Yusriadi, Ria Hayatunnur Taqwa, M.Si, Bambang Slamet Riyadi, M.Ag, Ahmad Jais, M.Ag, Syarifah Aminah, M.Si, Ibrahim. MS, M. Si, Amalia Irfani, S. Sos.I dan Baharuddin Idsa, S.Sos.I. Mereka adalah orang-orang turut mewarnai hari-hari kami dan menjadikannya sangat indah. Kami belajar untuk terus berjalan dan menjadi wanita-wanita yang kuat, lebih dari itu, kami ingin membuat negeri kami bersinar terang.
Laskar bintang teruslah bersemangat….
Saat posting di lab computer STAIN Pontianak, mumpung gratis.
Tuesday, January 15, 2008
Beberapa Jam di Tahun Baru Hijriah....(2)

Setelah pembicaraan usai, Ambar mengajak pulang, bersamaan dengan suara adzan yang berkumandang. Papah menawarkan kami untuk sholat dulu, kami menerima tawarannya, mengingat jarak yang akan kami tempuh tidak dekat. Aku dan Ambar berwudhu di samping rumah, dan menaiki tong-tong semen untuk menyipan air, kami menyebutnya tempayan.
“Ati-ati jatok, Kak” kata Ambar.
“Ini keren” jawabku.
Berjalan diatas tempayan punya memori tersendiri dalam hidupku. Sejak kecil aku menyukai air. Karena rumahku tidak di dekat laut, maupun sungai, maka tempayan menjadi alternatif terakhir untukku bermain air. Aku seringkali merendam kepalaku di dalam tempayan sambil berlatih pernafasan. Dan setiap kali Ibuku tahu, dia akan mengomeliku berjam-jam karena ulah gilaku tadi.
Setelah berwudhu, aku dan Ambar sholat Maghrib di lantai atas, di depan kamar anak keluarga ini. Wow...aku mengagumi kamarnya yang luas, ada beberapa tempat tidur yang tertata didalamnya. Dua TV dan playstation didepan TV, serta setrika dan alasnya berada diantara kedua TV tersebut. Beberapa sepatu tertata rapi diatas rak yang ditempatkan di depan kamar itu.
Aku dan Ambar sholat bergantian, Ambar duluan. Aku turun ke bawah, karena Hpku berbunyi, ada yang menelpon. Aku membawa tasku dan ambar ke atas. 18.35 WIB, Kusairi, temanku di Jogja miskol.
“ Knp, Ri” SMS ku
“Indak ado. Cuma mau menyatukan dua hati yang terpisahkan oleh samudra indonesia. Makmane kabr Pntianak?Ucpnmu t’nyta bnr, Yan. Ak kmbli mrindkn bauya bumi Borneo” (18.38.13)
“Ptk baek2 jak, Ri. Cm ade riak2 kecik jak. Rindu same bumi borneo or orgnye.Siape tau sempt jatok ati same ank ptk,nanti Ti sampaikan. Hehehehe” balasku.
Dia tak menjawab lagi.
Setelah selesai sholat, aku dan Ambar turun ke bawah. Kami bersiap akan pulang, ketika Mbok dan Bik Te, adik Mbok mengajak kami makan bersama. Kami sempat menolak, tapi tak berhasil. Aku dan Ambar segera bergabung dengan Bik Te dan Mbok di dapur. Kerjaan pertamaku adalah memotong kol. Sementara Ambar memotong bawang.
Aku lebih banyak mengajak Bik Te ngobrol dari pada membantunya. Tak berapa saat aku mendengar komentar Papah dari ruang tengah yang berhadapan dengan dapur.
“Ah...Yanti jadi masak di dapok. Pandai masakkah Ti ?” tanya Papah meledekku
“Tak pandai Pak, ganggu jak” jawabku pasrah, menghadapi ledekannya.
“Yanti tak pandai masak ?? Waduh susahlah nih.....” Mbok menambahi gurauan Papah.
“Pandai, masak Indomie, itu pun angus” ujarku sekenanya.
Dan dalam sekejap jadilah aku pusat ejekan. Gara-gara papah neh....hehehehehehe.
“Ti, waktu di Gombang sekelompok same siape ?” tanya Papah mengingatkanku pada peristiwa setahun yang lalu ketika STAIN mengadakan Kuliah Kerja Sosial (KKS) di Gombang, kabupaten Landak.
“ Same Pak Wajidi” jawabku merujuk pada nama dosen tafsir di STAIN.
Lalu kudengar Papah menjelaskan tentang kegiatan KKS kami pada Bapak dan Mbok.
Setelah semua masakan selesai, kami mengelilingi meja makan di ruang tengah. Ada Papah, Bapak, lalu Ambar dan aku. Mbok lewat di depan meja makan sambil membawa piring berisi nasi dan lauk. Ambar mengajaknya makan, tapi dia menolak. Dia sedang membawakan Ai (sebutan kakek, ayahnya yang sedang sakit) makanan. Kami makan dengan tangan, tanpa sendok.
“Kite makan, Ai makan gak...” katanya tersenyum seraya masuk ke kamar Ai.
Tak lama Ambar memilih untuk makan di depan TV, aku mengikutinya. Kami nonton acara Super Mama di Indosiar. Ambar selesai duluan, dia lalu mencuci piring dan gelasnya. Aku juga melakukan hal yang sama. Ketika sedang mencuci piring, lagi-lagi aku harus menghadapi ledekan Papah. Waduh, Pah yang benar saja masa’ gak bisa cuci piring.
Selesai mencuci piring, aku kembali ke ruang tengah dan duduk di samping Ambar seraya mencomot buah jeruknya yang tinggal setengah. Papah menawariku jeruk, aku menjawabnya dengan menunjukkan jeruk di tanganku. Tak lama kemudian, aku dan Ambar pamit pulang. Kami juga pamit pada Ai. Aku melihat Ai terbaring lemah. Ambar menyalaminya, aku mengikutinya. Ai menanyakan siapa aku pada Mbok yang berdiri di pintu kamar.
“Ini cucu Ai gak“ katanya
“Siapa” (dalam bahasa Hulu) Ai bertanya.
“ Yanti “ jawab Mbok
“ Yanti siapa ?" (dalam bahasa Hulu)
“ Adek Ambar “ jawab Mbok
“ Oh adek Ambar “ katanya.
Aku tersenyum padanya. Ai melakukan percakapan itu, tanpa melepaskan tanganku. Dia terus menjabat tangan, dan menatapku. Ya, Ai menatapku, bahkan ketika dia bicara pada Mbok. Aku merasa tangan dan tatapannya begitu lembut dan hangat. Aku tak punya kakek sejak kecil, hanya ada seorang nenek yang tidak tinggal bersamaku. Mungkin karena itu, sosok Ai begitu membekas dalam ingatanku. Bahkan, hingga aku menyelesaikan tulisan ini beberapa hari setelahnya. Wajahnya masih dapat kuhapal dengan baik.
Dia mengantarkan aku dan Ambar dengan tatapannya hingga hilang di depan pintu kamarnya. Aku dan Ambar menuju teras, kami diantar oleh Mbok, Papah, dan Bapak. Ternyata Papah juga berniat pulang, dia diantar oleh keponakannya, anak Mbok dengan mengendarai motor. Pantas saja aku dan Ambar tak menemukan motornya, ternyata dia pakai Oplet. Kami berpisah di depan Jl. Karet, aku dan Ambar melanjutkan perjalanan menuju Kota Baru, rumahku.
Hari ini aku mempelajari banyak hal, banyak sekali. Terima kasih Tuhan, telah membawa takdirku ke rumah itu, bertemu dengan keluarga yang hangat. Terima kasih untuk beberapa menit yang sangat luar biasa, dapat berjabat tangan dan berkenalan dengan seorang kakek yang telah membesarkan sekaligus mendidik dosen dan teman yang begitu baik, seperti Papah. Seseorang yang peduli dan mengerti cita-citaku.
Dan aku bersyukur, memiliki teman-teman yang luar biasa, Ambar salah satunya. Dia membuatku tidak merasa sendirian ketika menggantungkan cita-cita yang amat tinggi. Harvard dan Sorbonne adalah jembatan impian kami. Sesuatu yang sangat tinggi, untuk mahasiswa-mahasiswa seperti kami. Tapi kami tak pernah peduli, kami terus bermimpi.
Kami tak boleh mendahului takdir dengan menyatakan bahwa semua itu tak mungkin. Apa yang tak mungkin bagi Tuhan ? Untuk kami, mimpi adalah bagian dari nyawa yang menopang kehidupan kami. Saat ini, kami sama-sama berjuang mewujudkan mimpi kami, membentuk atmosfer persaingan dalam prestasi, tapi saling berbagi dalam keseharian untuk saling menguatkan. Jika Aceh terkenal dengan perempuan-perempuannya yang kuat, maka kami adalah perempuan Kalbar yang liat dalam menghadapi tantangan untuk mencapi impian kami. Tuhan, inilah kami.....
Tamat
Subscribe to:
Posts (Atom)
