"Seperti orang putus asa gitu, jangan pesimis, masih bayak yang bisa kamu berikan pada kami..." kata seorang teman memberikan motivasi ketika ku katakan terlalu banyak pertanyaan 'tolol' yang sedang menghantuiku. "Bukan putus asa, tapi pertanyaan-pertanyaan itu datang begitu saja, dan tak terkendali", kataku menjawab e-mailnye. Dia teman baikku, dia adalah sahabat yang selalu mencoba untuk mengerti jalan pikiranku yang lebih sering lari dari rel yang seharusnya. Pikiran yang terlalu liar, komentar seorang teman lama.
Sebenarnya, ini bukan soal pesimistis atau putus asa, ini adalah soal pertanyaan 'tolol' yang sering mengahantui orang-orang yang sering tak mengikuti arus pemikiran normal. Aku mendapatkan beasiswa belajar Bahasa Inggris selama dua bulan di Amerika Serikat. Aku tahu benar, itu menghabiskan puluhan juta rupiah, mungkin sekitar lebih dari 60 juta jika dirupiahkan. Memang ini beasiswa dari pemerintah AS sendiri, tapi tentu bukan tanpa alasan dia memberikan itu pada mahasiswa-mahasiswa dari negara berkembang, Indonesia misalnya. Negara ini telah lama menjadi pasar untuk produk mereka, telah lama menguntungkan perekonomian mereka, bahkan mungkin menjadi sumber pendapatan negara mereka. Mungkin ini salah satu cara untuk membalas, meski juga tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan dan mereka akibatkan. Untukku, dengan kata lain, uang yang membiayai kepergianku dan mahasiswa Indonesia lainnya ini adalah uang rakyat kami juga, dan rakyat dari negara berkembang lainnya.
Pertanyaan yang kemudian muncul, apa yang bisa kuberikan untuk mereka ? Orang-orang yang telah memberikan uang puluhan juta ini kepadaku dengan cuma-cuma. Sekedar belajarkah ? Bukankah mereka tidak butuh orang-orang yang pintar untuk dirinya sendiri ? Lantas apa ? Berbagi dengan banyak orang, mengajari mereka, dan membuat perubahan yang lebih baik ? Dengan apa ? Bangaimana caranya ? Kapan ? Apa aku bisa ?
Itu pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul. Ini bukan masalah idealisme, karena aku bukan seorang idealis. Ini soal pertanggungjawaban moral kepada hutang yang abstrak. Tak ada hitam diatas putih yang dapat memaksa dan mengintervensiku untuk bertanggungjawab atas apa yang kuterima. Ini peruntungan karena aku mahasiswa, dari negara berkembang, dan memiliki nasib baik. Lantas kenapa aku harus pusing menjawabnya ?
Beasiswa dan kesempatan ini membuatku senang, tapi sama sekali tak membuatku merasa menang. Ada saat dimana aku merasa benar-benar beruntung, tapi beberapa saat dalam waktu yang amat sekejap, aku merasa begitu kecil dan penuh dengan rasa bersalah. Bahu dan otakku terasa benar-benar menyiksa. Ada beban disana, yang belum kutunaikan. Aku seperti pegawai negeri yang hanya mengisi absen dan kemudian mendapatkan sejumlah uang di awal bulan, tanpa dapat memberi apa-apa untuk rakyat yang membayar pajak agar gajinya dapat dibayar. Aku merasa seperti pejabat yang senang-senang berjalan dengan mobil dinas, dikawal ketat oleh pengawal yang justru menjauhkan dia dengan masyarakat yang memberinya jabatan dan segalanya. Orang-orang yang membunuh nuraninya untuk alasan kedamaian dan ketenangan hati. Agar tak terlalu risih dan tersiksa dengan pertanyaan pertanggungjawaban moral.
Saat pertanyaan itu datang dan aku memikirkannya, aku terlihat seperti orang tolol yang tersesat dalam arus zaman. Tapi ketika aku mencoba untuk melupakan dan mengabaikannya, aku merasa seperti orang pintar yang membunuh nuraninya. Maka, teman-teman dan Tuhan, ijinkan aku menjadi tolol, dan kemudian mati dalam kegilaan atas pertanyaan-pertanyaan 'tolol', sebelum aku memutuskan untuk membunuh nuraniku.
Corvallis...
Monday, February 2, 2009
Wednesday, January 28, 2009
Saat Ku Jauh...
'Jauh' menjadi kata yang sangat bermakna saat ini. Saat jarak dan waktu membentang di depan mata dan menjadi begitu luas. Di tempat yang asing dengan teman-teman, budaya, bahasa dan cara hidup yang sangat berbeda. Sungguh luar biasa, memberikan pelajaran baru yang belum kudapatkan. Disini aku belajar untuk memahami banyak kata yang selama ini tak begitu bermakna.
Ah, apa kabar orang-orang yang disana, di tanah tempatku dilahirkan ? Apa kabar orang-orang yang selalu menemani hari-hariku selama ini dan menjadi orang-orang yang menunggu kedatanganku. Aku mulai mengingat mereka, mulai ingin menemui mereka dan ingin mendengar tawa, canda, cerita dan kadang omelan mereka. Tuhan, apa aku mulai merindukan mereka ?
Di tengah-tengah ketidaksamaan ini, ada hal-hal yang membuatku bersemangat. Ada sesuatu yang mulai membuatku merasa nyaman. Membuatku berpikir bahwa waktu yang tersedia dalam sehari begitu pendek, hingga aku ingin cepat matahari bersinar yang menandai hari baru telah datang. Namun, disisi lain membuatku menoleh kebelakang dan bepikir 'mengapa hari begitu cepat?' Tuhan, apa aku mulai menikmati hidupku disini ?
Ada perasaan marah dan kesal, ketika orang-orang membicarakan negeriku seakan-akan hanya memandangnya dengan sebelah mata. Ada perasaan bangga yang membuncah dengan luar biasa, ketika rak-rak pakaian di mall terbesar di kota ini hampir semuanya berisi produksi negeriku. Juga ketika konsumen mencari dan menanyakan dimana produk negeriku, karena dia ingin membelinya. Ada semangat yaang keluar begitu saja, ketika ku bercerita tentang kampungku kepada siswa internasional lainnya, meski dengan bahasa inggris yang terbata-bata ? Tuhan, apa aku mulai mencintai negeriku ?
Aku mulai nyaman mempelajari dan mendengarkan pikiranku, mulai asik dengan hatiku untuk berusaha memahami apa yang kuinginkan secara jujur. Aku bergulat antara apa yang harus kulakukan, tak harus kulakukan, ingin kulakukan, tak ingin kulakukan, boleh dan tak boleh kulakukan. Tuhan, apa aku mulai mencari kebenaran dalam diriku?
Semua hadir, justru saat ku jauh. Jauh membuatku dan memberiku waktu untuk memahami dan merenungkan semuanya. Dan semunya terjadi justru saat ku jauh. Saat ku jauh..
Ah, apa kabar orang-orang yang disana, di tanah tempatku dilahirkan ? Apa kabar orang-orang yang selalu menemani hari-hariku selama ini dan menjadi orang-orang yang menunggu kedatanganku. Aku mulai mengingat mereka, mulai ingin menemui mereka dan ingin mendengar tawa, canda, cerita dan kadang omelan mereka. Tuhan, apa aku mulai merindukan mereka ?
Di tengah-tengah ketidaksamaan ini, ada hal-hal yang membuatku bersemangat. Ada sesuatu yang mulai membuatku merasa nyaman. Membuatku berpikir bahwa waktu yang tersedia dalam sehari begitu pendek, hingga aku ingin cepat matahari bersinar yang menandai hari baru telah datang. Namun, disisi lain membuatku menoleh kebelakang dan bepikir 'mengapa hari begitu cepat?' Tuhan, apa aku mulai menikmati hidupku disini ?
Ada perasaan marah dan kesal, ketika orang-orang membicarakan negeriku seakan-akan hanya memandangnya dengan sebelah mata. Ada perasaan bangga yang membuncah dengan luar biasa, ketika rak-rak pakaian di mall terbesar di kota ini hampir semuanya berisi produksi negeriku. Juga ketika konsumen mencari dan menanyakan dimana produk negeriku, karena dia ingin membelinya. Ada semangat yaang keluar begitu saja, ketika ku bercerita tentang kampungku kepada siswa internasional lainnya, meski dengan bahasa inggris yang terbata-bata ? Tuhan, apa aku mulai mencintai negeriku ?
Aku mulai nyaman mempelajari dan mendengarkan pikiranku, mulai asik dengan hatiku untuk berusaha memahami apa yang kuinginkan secara jujur. Aku bergulat antara apa yang harus kulakukan, tak harus kulakukan, ingin kulakukan, tak ingin kulakukan, boleh dan tak boleh kulakukan. Tuhan, apa aku mulai mencari kebenaran dalam diriku?
Semua hadir, justru saat ku jauh. Jauh membuatku dan memberiku waktu untuk memahami dan merenungkan semuanya. Dan semunya terjadi justru saat ku jauh. Saat ku jauh..
Friday, January 9, 2009
Aku di Corvallis.....
Aku lagi ada di Corvallis sekarang, sebuah kota di Oregon State, USA. Aku dan 19 orang teman serta seorang chaperone dari Indoensia sampai di bandara Portland, ibu kota Oregon State pada 4 januari sekitar pukul 22.20 waktu setempat ( di Indonesia udah tgl 5 januari sekitar pukul 13.00 WIB). Di sana sudah ada Alexis Siegel dan Shandy Riverman yang menjemput kami. Kami masih harus naik bus selama 2 jam untuk menuju Corvallis, kota dimana Oregon State University berdiri megah. Ketika keluar dari bandara, semua orang dari rombongan kami langsung terkejut. Udara di Portland luar biasa. Jika anda pernah memasukkan kepala anda di freezer dalam kulkas selama berjam-jam, maka seperti itulah suhu di Portland saat itu. Dalam sekejap, karena hanya menyeberang jalan saja, tanganku yang menggunakan sarung tangan tipis segera mati rasa, sampai-sampai aku tak bisa menekan pegangan travel bag-ku. So funtastic.
Di dalam bus, lumayan hangat. Suasana ramai di dalam bus, termasuk bercerita selama lebih dari 20 jam penerbangan hanya bertahan sekita 45 menit. Setelah itu suasana sepi, sebagian besar teman-teman tertidur. Aku sempat mengirim beberapa sms, ke teman, dan keluarga di rumah. Ah, betapa di tempat yang jauh, mereka terasa sangat dekat dan begitu berharga.......
Salju lebih menarik perhatianku dari pada tidur. Di sepanjang jalan-jalan di Portland, salju memamerkan keanggunannya dengan menutupi puncak-puncak tanaman nias, pohon dan atap-atap rumah, bahkan mobil yang sedang melajupun harus membawa salju di bagian atasnya. Putih dan luar biasa.
Sekitar pukul 00.30 waktu corvallis, kami tiba di asrama mahasiswa. Kami tinggal di Cauthorn Hall lantai 5. Jadi kami harus bolak-balik dengan menggunakan lift. Beberapa fasilitas tersedia di sini. Ada komputer dengan akses internet gratis di lantai bawah, meski cuma dua komputer dan menggunakannya harus antri. Sedangkan yang punya laptop dapat menggunakan koneksi di kamar dan temapt lainnya, juga gratis. Asik ya..... Beberapa hari kemudian kami juga menerima fasilitas telpon di setiap kamar, meskipun cuma bisa digunakan untuk menelpon di daerah lokal. tapi lumayan....
Di dalam bus, lumayan hangat. Suasana ramai di dalam bus, termasuk bercerita selama lebih dari 20 jam penerbangan hanya bertahan sekita 45 menit. Setelah itu suasana sepi, sebagian besar teman-teman tertidur. Aku sempat mengirim beberapa sms, ke teman, dan keluarga di rumah. Ah, betapa di tempat yang jauh, mereka terasa sangat dekat dan begitu berharga.......
Salju lebih menarik perhatianku dari pada tidur. Di sepanjang jalan-jalan di Portland, salju memamerkan keanggunannya dengan menutupi puncak-puncak tanaman nias, pohon dan atap-atap rumah, bahkan mobil yang sedang melajupun harus membawa salju di bagian atasnya. Putih dan luar biasa.
Sekitar pukul 00.30 waktu corvallis, kami tiba di asrama mahasiswa. Kami tinggal di Cauthorn Hall lantai 5. Jadi kami harus bolak-balik dengan menggunakan lift. Beberapa fasilitas tersedia di sini. Ada komputer dengan akses internet gratis di lantai bawah, meski cuma dua komputer dan menggunakannya harus antri. Sedangkan yang punya laptop dapat menggunakan koneksi di kamar dan temapt lainnya, juga gratis. Asik ya..... Beberapa hari kemudian kami juga menerima fasilitas telpon di setiap kamar, meskipun cuma bisa digunakan untuk menelpon di daerah lokal. tapi lumayan....
Wednesday, September 3, 2008
Ayo Menulis !

Membayangkan harus mengerjakan sebuah tulisan bukanlah hal yang menyenangkan untuk sebagian orang. Apalagi yang tidak terbiasa dengan aktivitas menulis, tentunya menjadi sebuah mimpi buruk yang menghantui. Dalam bayangan mereka, menulis merupakan rangkaian proses yang besar dan sangat panjang, mulai dari memikirkan ide, mengumpulkan fakta-fakta sampai menuangkannya dalam kalimat-kalimat. Jika demikian, jangankan untuk menulis, memikirkannya saja dapat membuat seperempat dari komposisi otak terasa begitu lelah. Alhasil, tal ada satu kalimatpun yang berhasil di selesaikan, kepala terasa pusing, dada menjadi sesak karena putis asa. Satu-satunya penyelesaian adalah bangun dari duduk, lalu ngeloyor pergi meninggalkan monitor computer yang pasrah membisu.
Tapi tahukah anda, sebenarnya menulis tidaklah serumit yang seringkali dibayangkan oleh banyak orang yang gagal menulis. Menulis itu adalah sebuah proses yang sangat sederhana, bahkan menyenangkan. Pernahkah anda membayangkan ada seorang teman yang begitu dengan sabar mendengarkan semua pembicaraan anda tanpa menyela satu kalipun ? atau seseorang yang mau menampung semua pikiran, dan perasaan anda tanpa protes sedikitpun ? Yah, mungkin ada, tapi rasanya sulit untuk menemukan orang-orang seperti itu.
Jangan khawatir, jika anda tak menemukannya, maka cobalah untuk menulis. Syaratnya, jangan biarkan otak anda dibodohi oleh perasaan malas dan sugesti bahwa menulis itu sulit. Persoalan dalam menulis hanyalah ‘apakah anda mau memulainya ?”. Jika anda menjawab ‘iya’ maka anda sudah membuat sebuah keputusan besar dan telah menyelesaikan masalah paling rumit dalam aktivitas menulis. Nah, selanjutnya hanyalah apa yang ingin ditulis. Bagi pemula jangan dulu membayangkan bahwa anda akan menulis catatan pinggir sebaik Gunawan Muhammad, cerpen seluwes Helvy Tiana Rosa, atau syair seimajinatif Chairil Anwar.
Namun, cobalah menulis dari hal-hal yang paling kecil dan dekat dengan kehidupan. Menulislah dengan hati. Tulis apasaja yang sedang anda rasakan, mungkin lebih tepat seperti sebuah buku harian. Jangan pedulikan dulu kaidah-kaidah yang membuat kepala mumet dengan aturan-aturan baku, tapi biarkan ide itu menjalar dengan perlahan dan santai, hingga dengan sendirinya membuat jemari menari indah diatas keyboard.
“ Aku kehilangan ide yang tadinya menumpuk-numpuk di kepalaku. Sebenarnya aku ingin menulis sebuah artikel yang bagus, tapi entah kenapa semuanya hilang begitu saja. Selain itu aku memang sedang kekurangan bahan untuk menulisnya, sudah beberapa hari ini, tak ada sebuah bukupun yang berhasiul kuselesaikan. Sebuah prestasi, ya, prestasi di puncak kemalasan seorang mahasiswi yang hamper benar-benar tersungkur dalam kemalasannya. Ironisnya, mahasiswi itu adalah aku.”
Jangan malu, menulis saja seperti itu. Tulisan yang demikian tidak menuntut penulisnya untuk berpikir keras, hanya sekedar menuliskan apa yang dirasakannya menjadi rangkaian kalimat, tepatnya seperti bicara atau bergumam. Tak perlu merasa rendah diri karena baru mampu menulis seperti buku harian. Malah tulisan-tulisan tersebut sangat penting untuk membiasakan diri menungakn ide dalam bentuk tulisan. Tulis saja apapun yang dilihat, didengar atau cita-cita yang diimpikan. Dengan begitu, anda telah membiasakan diri untuk akrab dengan bahasa tulis, sedikit-demi sedikit kepekaan anda dalam merangkai kalimat akan terbentuk dan terasah.
Jika anda mau berpikir sedikit lebih rumit, maka berpetualanglah. Kaitkan apa yang dirasakan dengan kondisi lingkungan masyarakat, keadaan politik atau ekonomi. Bebaskan saja otak untuk melakukan tugasnya. Jangan bebani dengan obsesi-obsesi lain. Apa yang dilihat atau didengar, tuangkan saja untuk melanjutkan tulisan yang telah dibuat.
“ Malas. Kata itu cukup sederhana, hanya berjumlah lima huruf, namun kata itu sangat mematikan, dan dapat melumpuhkan sebuah bangsa. Bayangkan saja, jika semua pemuda negeri ini mengatakan bahwa mereka malas menuntut ilmu, malas belajar dan berkerja membangun bangsa, apa yang akan terjadi ? Kehancuranlah yang akan menanti diujung perjalan bangsa ini. Padahal, pada hakikatnya pemuda adalah ujung tombak kemajuan masyarakat sekaligus sebagai pemegang panji-panji kepemimpinan Negara. Sejauh ini, racun malas telah membuktikan kebisaannya pada Indonesia. Banyak berita di TV dan Koran yang mengisahkan bagaimana oknum wakil-wakil rakyat merasa malas untuk memikirkan nasib bangsanya, sehingga mereka lebih memilih korupsi dari pada harus ikut-ikutan menderita bersama rakyat negeri ini. Lalu, para seniman yang malas melewati perjuangan panjang untuk sukses, sehingga mereka mengambil jalan pintas dengan tampil habis-habisan seksi agar mendapat banyak penggemar, meskipun kualitas seninya masih diragukan. Semuanya berawal dari malas.”
Sekarang tulisan itu tak sekedar sebuah ungkapan bahwa si penulis sedang malas, tetapi ada unsure lain yang mengikutinya. Penulis menjelaskan bahwa rasa malas menjadi sebuah awal dari kehancuran. Dia menjabarkannya dan mengakaitkannya dengan kondisi lingkungan masyarakat. Ada kepedulian dan pesan-pesan moral yang ingin disampaikan lewat tulisan itu. Sehingga tulisan yang awalnya sangat sederhana semakin berkembang menjadi bentuk lain yang lebih dari sekedar catatan harian.
Membuat tulisan sama seperti menyusun puzzle. Semakin anda mendapatkan kepingan-kepingannya, akqn semakin dibuatnya penasaran. Begitu pula dengan menulis. Semakin anda masuk ke dalamnya, maka akan banyak hal yang ditemui, tapi justru membuat anda merasa kurang. Anda tidak dapat berhenti sampai di situ saja, anda akan semakin tertentang untuk membuat bentuk-benatuk tulisan yang lain. Semua itu membuat penulis menggunakan seluruh inderanya dengan maksimal, bukan untuk mendapat ide, tapi untuk mengembangkan ide tersebut. Sebab, pada dasarnya setiap orang memiliki gagasan, hanya saja tak semua orang berhasil untuk mengembangkan gagasan tersebut dan menuangkannya dalam bahasa tulis. Bukan berarti mereka tak mampu, hanya saja apa mereka telah memulainya ? bagi orang-orang yang mau memulai, kini saatnya untuk bekerja.
Mengembangkan dan memperkaya gagasan memerlukan wawasan. Oleh sebab itu, seorang penulis harus rajin memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Selain itu, membaca buku adalah aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dengan menulis. Jangan memaksakan diri untuk menelan berbagai jenis buku sekaligus, tapi nikmati saja proses itu secara alami, meski jangan juga terlena dengan perasaan malas. Kebiasaan menulis dengan sendirinya akan membuat anda gemar membaca, karena anda selalu ingin mengetahui perkembangan dunia tulis menulis. Anda memerlukan pembanding, karena itu anda perlu untuk membaca tulisan orang lain, dengan begitu anda bisa mengevalusi tulisan dan mengembangkannya menjadi bentuk yang lebih matang.
Percaya atau tidak, aktivitas menulis juga membuat anda semakin peka dengan orang lain. Menulis membuat aktivisnya gemar memperhatikan dengan mengoptimalkan fungsi inderanya. Hingga tak heran jika banyak penulis yang lebih peka dengan masalah-masalah masyarakat dibandingkan dengan kelompok lain yang justru lebih berwenang. Menulis juga dapat menjadi sebuah ajang untuk memperjuangkan sebuah gagasan. Dampak yang ditimbulkan oleh sebuah tulisan, dapat negitu mencengangkan dan tidak terbayangkan. Jika sebuah tulisan telah tercipta, apalagi sampai dipublukasikan, maka dia telah menjadi milik semua orang. Tulisan dapat berbicara dengan bahasanya sendiri, mempengaruhi atau mengajak orang lain berpikir. Oleh sebab itu, menulislah, karena tulisan kita akan membuat kejutan-kejutan yang tak pernah kita bayangkan. Maka, teruslah menulis (*)
Monday, July 7, 2008
Aku, Nisa, Cinta dan Es Krim Coklat
Tadi siang aku dan Nisa jalan-jalan ke Sungai Jawi. Kami ingin membeli ikan peliharaan untuk teman Socra dan Filsa, dua ekor ikan yang telah lebih dulu kubeli, di akuarium mungilku yang kuberi nama ‘dunia ide’. Kami berhasil menemukan 4 ekor ikan yang kelihatan anggun dan manis, setelah cukup lama menimbang-nimbang kemungkinan-kemungkinan untuk membeli ikan yang lain.
Dua ekor lebih kecil, satu berwarna putih mengkilap sedangkan yang satunya lagi berwarna putih dengan totol-totol hitam. Dua ekor lainnya berukuran lebih besar dengan bentuk ekor lebar dan panjang. Dia kelihatan berenang dengan anggun.
Usai beli ikan, kami mencari es krim. Kami menemukan kedai es krim di JL. Putri Candramidi, namanya Es Krim Eskimo. Ada beberapa rasa, coklat, strawberry, cempedak, durian dan Vanilla. Tapi untukku dan Nisa tak ada pilihan lain, jika ada coklat.
Kami memesan dua porsi es krim kepada pemuda yang menunggui kedai itu.
Sambil menunggu pesanan, kami mencari nama untuk 4 ekor ikan cantik di kantong yang kupegang.
“ Yanti jak yang kasi name “ kata Nisa
“ Yang beask tuh namenye Rene same Karen, yang kecik Nisalah yang kasik name”
“ Udah, Yanti jak yang kasik name “
“ Iyelah, namenye Plato same Sophie”
“ Boleh “ jawab Nisa singkat. Wow....sekarang di dunia ide ku ada Socra, Filsa, Plato, Sophie, Rene dan Karen. Pasti menyenangkan.
Tak lama pesanan kami datang. Es krim coklat yang disajikan anggun di gelas yang memang khusus untuk es krim, transparan berbentu seperti gelas seloki. Kami makan sambil bercanda. Tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan 1 porsi es krim itu, karena kami memang penggila es krim, meskipun sempat pindah posisi duduk karena kepanasan terkena sinat\r matahari. Khatulistiwa.......
“ Tau dak Syah, hal yang paling enak di dunie tuh, es krim coklat” kataku
“ Setuju......eh, bile kite makan ayam di Mall ?”‘
" Nantiklah, liat kondisi keungan lok, agik pailit neh “
“ tenang kalo soal duet...”
“ agik kaye nih ceritenye ?”
“ Hehehe Nisa gitu loh......” katanya bangga.
“ Selase gimane ?” lanjutnya.
“ Boleh, hari senen yanti bise merampok lok”
“ Siape yang mok dirampok tuh ?”
“ Ade banyak...hehehehehe....” kami tertawa.
“ Makan es krim juga di Mall” Nisa berkomentar
“ Boleh, yang ade saus jagungnye, enak......”
“ Ok deh “ lagi-lagi kami tertawa.
Usai menghabiskan es krim kami, nisa segera beranjak membayar pesanan kami.
“ Mok dibungkus dak ?” katanya menawarkan
“ dak maok”
“ serius neh ?”
“ serius “
“ OK”
Kami lalu menuju tempat Nisa memarkir motornya. Menyapa abang penjaga kedai lalu tersenyum padanya.
“ Sini lagi lah “ katanya
“ OK deh, tenang jak bang” jawab Nisa.
“ Dah.......” kataku melambaikan tangan. Pemuda itu tersenyum dan membalas lambaianku.
“ Eh, syah, kalo dibuat cerpen kayaknye asyiklah “ kataku tiba-tiba.
“ ape die ?” tanya Nisa agak kaget
“ es krim coklat “
“ Ha...” dia menatapku
“ Ginik nih kalimat pertamenye ‘ Hidup itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya”
“ Oh ya...?’ Nisa menanggapi sambil tersenyum.
“ Eh, salah yang agak heboh sikitlah ye. Ginik jak lah ‘ Cinta itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya. Seperti itulah Cinta, tak selalu indah, dan ada sakit hatinya. Namun setiap rasa yang dihadirkannya justru membuat orang semakin dalam menghayatinya’ Gimane ? asyik kali ye.....”
Nisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Setelah itu kami meluncur pulang dan menyiapkan berbagai rencana untuk esok hari.
Cinta dan es krim coklat ? Mirip kali.......
07 Juli 2008
Pukul 00:03 WIB
Dua ekor lebih kecil, satu berwarna putih mengkilap sedangkan yang satunya lagi berwarna putih dengan totol-totol hitam. Dua ekor lainnya berukuran lebih besar dengan bentuk ekor lebar dan panjang. Dia kelihatan berenang dengan anggun.
Usai beli ikan, kami mencari es krim. Kami menemukan kedai es krim di JL. Putri Candramidi, namanya Es Krim Eskimo. Ada beberapa rasa, coklat, strawberry, cempedak, durian dan Vanilla. Tapi untukku dan Nisa tak ada pilihan lain, jika ada coklat.
Kami memesan dua porsi es krim kepada pemuda yang menunggui kedai itu.
Sambil menunggu pesanan, kami mencari nama untuk 4 ekor ikan cantik di kantong yang kupegang.
“ Yanti jak yang kasi name “ kata Nisa
“ Yang beask tuh namenye Rene same Karen, yang kecik Nisalah yang kasik name”
“ Udah, Yanti jak yang kasik name “
“ Iyelah, namenye Plato same Sophie”
“ Boleh “ jawab Nisa singkat. Wow....sekarang di dunia ide ku ada Socra, Filsa, Plato, Sophie, Rene dan Karen. Pasti menyenangkan.
Tak lama pesanan kami datang. Es krim coklat yang disajikan anggun di gelas yang memang khusus untuk es krim, transparan berbentu seperti gelas seloki. Kami makan sambil bercanda. Tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan 1 porsi es krim itu, karena kami memang penggila es krim, meskipun sempat pindah posisi duduk karena kepanasan terkena sinat\r matahari. Khatulistiwa.......
“ Tau dak Syah, hal yang paling enak di dunie tuh, es krim coklat” kataku
“ Setuju......eh, bile kite makan ayam di Mall ?”‘
" Nantiklah, liat kondisi keungan lok, agik pailit neh “
“ tenang kalo soal duet...”
“ agik kaye nih ceritenye ?”
“ Hehehe Nisa gitu loh......” katanya bangga.
“ Selase gimane ?” lanjutnya.
“ Boleh, hari senen yanti bise merampok lok”
“ Siape yang mok dirampok tuh ?”
“ Ade banyak...hehehehehe....” kami tertawa.
“ Makan es krim juga di Mall” Nisa berkomentar
“ Boleh, yang ade saus jagungnye, enak......”
“ Ok deh “ lagi-lagi kami tertawa.
Usai menghabiskan es krim kami, nisa segera beranjak membayar pesanan kami.
“ Mok dibungkus dak ?” katanya menawarkan
“ dak maok”
“ serius neh ?”
“ serius “
“ OK”
Kami lalu menuju tempat Nisa memarkir motornya. Menyapa abang penjaga kedai lalu tersenyum padanya.
“ Sini lagi lah “ katanya
“ OK deh, tenang jak bang” jawab Nisa.
“ Dah.......” kataku melambaikan tangan. Pemuda itu tersenyum dan membalas lambaianku.
“ Eh, syah, kalo dibuat cerpen kayaknye asyiklah “ kataku tiba-tiba.
“ ape die ?” tanya Nisa agak kaget
“ es krim coklat “
“ Ha...” dia menatapku
“ Ginik nih kalimat pertamenye ‘ Hidup itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya”
“ Oh ya...?’ Nisa menanggapi sambil tersenyum.
“ Eh, salah yang agak heboh sikitlah ye. Ginik jak lah ‘ Cinta itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya. Seperti itulah Cinta, tak selalu indah, dan ada sakit hatinya. Namun setiap rasa yang dihadirkannya justru membuat orang semakin dalam menghayatinya’ Gimane ? asyik kali ye.....”
Nisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Setelah itu kami meluncur pulang dan menyiapkan berbagai rencana untuk esok hari.
Cinta dan es krim coklat ? Mirip kali.......
07 Juli 2008
Pukul 00:03 WIB
Agama Lokal dan Apa Saja
Sekarang jam di komputerku menunjukkan pukul 1.45 WIB, dini hari. Mataku lagi-lagi tak mau menyerah pada waktu. Ingin tidur rasanya, tapi apa boleh buat. Tak ada yang harus dipaksakan, dan tak boleh ada yang merasa dipaksa, biar saja semua mengalir apa adanya.
Beberapa saat setelah pergantian hari, aku mendapat pesan pendek dari seorang teman di sebrang lautan.
“ Dh tdr?” Sender +62857xxxxxxxx 00:23:3
“Blm. Kamu blm tdr jg?”
“Sama. Lg ngpain?” Sender +62857xxxxxxxx 00:29:01
“ Gak lg ngapa2in. Kmu?”
“ Hbs wawncra d hotel grand candi smg. Tau g, aq wwncra sama siapa?” Sender +62857xxxxxxxx 00:35:14
“Siapa dan ttg apa”
“ Engkus.orang jawa bart. Uniknya, d KTPnya, kolom agama diisi tanda strip (-). Tau knpa?” Sender +62857xxxxxxxx
“ Gak, emg napa ?”
“ Ia penghayat kpercyaan sunda wiwitan, agama buhun, agama asli orang sunda. Kbradaanmrka skrg trdskriminasi spt kaharingan” Sender +62857xxxxxxxx
Sunda wiwitan. Aku sedikit tahu tentang sunda Wiwitan, seperti Kaharingan, dia adalah agam lokal yang ada jauh sebelum masuknya agama di Indonesia. Namun, saat ini kurasa akan sulit sekali menemukan orang yang bertahan dengan agama ini. Aku jadi teringat dengan beberapa nama yang kutahu bergelut dalam penelitian agama-agam terutama agama Jawa. Clifford Gertz dan Mark R. Woodward. Salah satu buku Woodward bertengger manis di rak bukuku.
Meskipun tidak bicara tentang wiwitan tapi praktik Islam, namun ada beberapa hal yang kupikir berkaitan erat dengan agama-agama lokal. Sebab, mau tidak mau harus diakui bahwa tradisi agama lokal telah hidup dan mengakar pada masyarakat, sehingga kedatangan agama-agama baru tidak dapat begitu saja menghapus tradisi yang ada. Pada praktiknya, tidak sedikit tradisi agama lokal tersebut masuk ke dalam ajaran-ajaran agama baru yang datang kemudian.
Aku tak sabar menunggu dia mengetikkan huruf demi huruf dan menunggu rangkaian kalimat itu menyeberang terlalu lama. Aku segera menelponnya, tak peduli bahwa sekarang sudah hampir jam 1 dini hari.
‘Sunda Wiwitan itu agama asli orang Sunda.Ajarannya sangat bersahabat dengan alam. Mereka menghormati alam karena telah memberikan kehidupan, karena itu manusia harus berterima kasih pada alam dan tidak dapat berlaku sewenang-wenang. Mereka juga percaya bahwa segala sesuatu di alam memiliki jiwa dan kehidupan” jelasnya.
Dia bertanya padaku tentang Kaharingan. Ya, kaharingan. Aku pernah sedikit membaca tentang Kaharingan, agama asli masyarakat Borneo. Agamanya orang-orang Dayak.
Di Kalimantan Barat, ku pikir akan sulit mendapatkan orang yang mengaku bahwa dirinya menganut Kaharingan. Pertama, karena istilah ini memang hampir tak pernah digunakan di Kalbar.
“ Orang lebih suka menyebutnya agama lama. Ada yang menyebutnya animisme, tapi ada pula yang tidak menyukai sebutan ini” begitu kata dosenku, Dr. Yusriadi, ketika aku cek tentang istilah kaharingan setelah tulisan ini selesai kubuat..
Sebab lain, penyebaran agama telah masuk sampai ke pelosok-pelosok desa bahkan dusun. Sejak zaman penjajahan Belanda, para misionaris telah gencar melakukan ‘dakwah’nya, sedangkan Islam juga telah berkembang di beberapa wilayah, meskipun masih terbatas pada daerah-daerah kerajaan.
Kemudian, karena berbagai faktor dan kepentingan politik, setelah tahun 1960-an, Pemerintah mengeluarkan aturan yang mengharuskan masyarakat untuk memilih salah satu dari 5 agama yang diakui Undang-undang di Indonesia. Tak kuasa dengan berbagai hal yang akan menyulitkan kelak, masyarakatpun pasrah dengan aturan yang ada. Maka, ditanggalkanlah identitas agama asli mereka diganti dengan agama baru yang diakui. Apakah semuanya selesai ? Ternyata tidak.
Pada kenyataannya, agama lama itu tak pernah benar-benar mati. Semua itu terlihat jelas pada ritual-ritual adat yang masih hidup sampai tulisan ini kubuat. Ada beberapa buku yang kumiliki atau yang pernah kupinjam yang bicara soal Masyarakat Dayak dan Tuhan. Kutemukan beberapa versi cara pandang mereka kepada Sang Maha Pencipta, termasuk sebutannya, dari Jubata hingga Ne’.
Penciptaan manusia juga dikenal dalam beberapa ragam. Dalam buku yang ditulis oleh Manias M. Sood, aku menemukan bahwa ada versi penciptaan manusia yang mirip dengan penciptaan yang dikisahkan dalam ajaran Islam. Apakah ini murni dari ajaran mereka dan telah dipengaruhi oleh Islam ?, belom ada penelitian yang membahas tentang ini. Tapi, kurasa ini akan sangat menarik.
Kaharingan, dan agama lama pada prinsipnya mirip dengan ajaran Sunda Wiwitan yang di ceritakan oleh temanku. Kepercayaan ini sangat menghormati alam semeta. Semua yang berada di alam memiliki jiwa dan ruh. Manusia tidak boleh sembarangan dalam melakukan eksploitasi terhadap alam. Bukan sekedar etika memperlakukan alam, tapi ini lebih dari itu. Sebuah penyatuan dan penghargaan sebagai sesama makhluk Tuhan yang diciptakan untuk saling menopang dan menjaga keseimbangan hidup.
Tak heran, dengan pandangan demikian, ajaran agama lokal melahirkan banyak sekali ritual yang dilakukan untuk menghormati alam. Upacara yang paling banyak dilakukan adalah yang berkaitan dengan padi, sebab padi dianggap sebagai sumber kehidupan manusia. Mulai dari upacara pra tanam, menanam hingga panen dan pasca panen. Semuanya memiliki makna dan keindahannya masing-masing.
Tradisi Dayak juga mengganggap bahwa kehidupan manusia adalah siklus yang salng berkaitan dan tak dapat dipisahkan. Kelahiran, perkawinan dan kematian, menjadi titik fokus ritual yang berkaitan dengan manusia. Banyak kearifan yang terdapat dalam kepercayaan ini, dan masyarakat adat sampai sekarang masih banyak yang taat pada aturan tradisi yang bahkan tak tertulis ini. Aku melihat ini semua sebagai sebuah kekayaan dan keindahan negeriku yang memang menjadi indah apabila diperlakukan sebagaimana mestinya.
2 Juli 2008
Pukul 03:03 WIB
Beberapa saat setelah pergantian hari, aku mendapat pesan pendek dari seorang teman di sebrang lautan.
“ Dh tdr?” Sender +62857xxxxxxxx 00:23:3
“Blm. Kamu blm tdr jg?”
“Sama. Lg ngpain?” Sender +62857xxxxxxxx 00:29:01
“ Gak lg ngapa2in. Kmu?”
“ Hbs wawncra d hotel grand candi smg. Tau g, aq wwncra sama siapa?” Sender +62857xxxxxxxx 00:35:14
“Siapa dan ttg apa”
“ Engkus.orang jawa bart. Uniknya, d KTPnya, kolom agama diisi tanda strip (-). Tau knpa?” Sender +62857xxxxxxxx
“ Gak, emg napa ?”
“ Ia penghayat kpercyaan sunda wiwitan, agama buhun, agama asli orang sunda. Kbradaanmrka skrg trdskriminasi spt kaharingan” Sender +62857xxxxxxxx
Sunda wiwitan. Aku sedikit tahu tentang sunda Wiwitan, seperti Kaharingan, dia adalah agam lokal yang ada jauh sebelum masuknya agama di Indonesia. Namun, saat ini kurasa akan sulit sekali menemukan orang yang bertahan dengan agama ini. Aku jadi teringat dengan beberapa nama yang kutahu bergelut dalam penelitian agama-agam terutama agama Jawa. Clifford Gertz dan Mark R. Woodward. Salah satu buku Woodward bertengger manis di rak bukuku.
Meskipun tidak bicara tentang wiwitan tapi praktik Islam, namun ada beberapa hal yang kupikir berkaitan erat dengan agama-agama lokal. Sebab, mau tidak mau harus diakui bahwa tradisi agama lokal telah hidup dan mengakar pada masyarakat, sehingga kedatangan agama-agama baru tidak dapat begitu saja menghapus tradisi yang ada. Pada praktiknya, tidak sedikit tradisi agama lokal tersebut masuk ke dalam ajaran-ajaran agama baru yang datang kemudian.
Aku tak sabar menunggu dia mengetikkan huruf demi huruf dan menunggu rangkaian kalimat itu menyeberang terlalu lama. Aku segera menelponnya, tak peduli bahwa sekarang sudah hampir jam 1 dini hari.
‘Sunda Wiwitan itu agama asli orang Sunda.Ajarannya sangat bersahabat dengan alam. Mereka menghormati alam karena telah memberikan kehidupan, karena itu manusia harus berterima kasih pada alam dan tidak dapat berlaku sewenang-wenang. Mereka juga percaya bahwa segala sesuatu di alam memiliki jiwa dan kehidupan” jelasnya.
Dia bertanya padaku tentang Kaharingan. Ya, kaharingan. Aku pernah sedikit membaca tentang Kaharingan, agama asli masyarakat Borneo. Agamanya orang-orang Dayak.
Di Kalimantan Barat, ku pikir akan sulit mendapatkan orang yang mengaku bahwa dirinya menganut Kaharingan. Pertama, karena istilah ini memang hampir tak pernah digunakan di Kalbar.
“ Orang lebih suka menyebutnya agama lama. Ada yang menyebutnya animisme, tapi ada pula yang tidak menyukai sebutan ini” begitu kata dosenku, Dr. Yusriadi, ketika aku cek tentang istilah kaharingan setelah tulisan ini selesai kubuat..
Sebab lain, penyebaran agama telah masuk sampai ke pelosok-pelosok desa bahkan dusun. Sejak zaman penjajahan Belanda, para misionaris telah gencar melakukan ‘dakwah’nya, sedangkan Islam juga telah berkembang di beberapa wilayah, meskipun masih terbatas pada daerah-daerah kerajaan.
Kemudian, karena berbagai faktor dan kepentingan politik, setelah tahun 1960-an, Pemerintah mengeluarkan aturan yang mengharuskan masyarakat untuk memilih salah satu dari 5 agama yang diakui Undang-undang di Indonesia. Tak kuasa dengan berbagai hal yang akan menyulitkan kelak, masyarakatpun pasrah dengan aturan yang ada. Maka, ditanggalkanlah identitas agama asli mereka diganti dengan agama baru yang diakui. Apakah semuanya selesai ? Ternyata tidak.
Pada kenyataannya, agama lama itu tak pernah benar-benar mati. Semua itu terlihat jelas pada ritual-ritual adat yang masih hidup sampai tulisan ini kubuat. Ada beberapa buku yang kumiliki atau yang pernah kupinjam yang bicara soal Masyarakat Dayak dan Tuhan. Kutemukan beberapa versi cara pandang mereka kepada Sang Maha Pencipta, termasuk sebutannya, dari Jubata hingga Ne’.
Penciptaan manusia juga dikenal dalam beberapa ragam. Dalam buku yang ditulis oleh Manias M. Sood, aku menemukan bahwa ada versi penciptaan manusia yang mirip dengan penciptaan yang dikisahkan dalam ajaran Islam. Apakah ini murni dari ajaran mereka dan telah dipengaruhi oleh Islam ?, belom ada penelitian yang membahas tentang ini. Tapi, kurasa ini akan sangat menarik.
Kaharingan, dan agama lama pada prinsipnya mirip dengan ajaran Sunda Wiwitan yang di ceritakan oleh temanku. Kepercayaan ini sangat menghormati alam semeta. Semua yang berada di alam memiliki jiwa dan ruh. Manusia tidak boleh sembarangan dalam melakukan eksploitasi terhadap alam. Bukan sekedar etika memperlakukan alam, tapi ini lebih dari itu. Sebuah penyatuan dan penghargaan sebagai sesama makhluk Tuhan yang diciptakan untuk saling menopang dan menjaga keseimbangan hidup.
Tak heran, dengan pandangan demikian, ajaran agama lokal melahirkan banyak sekali ritual yang dilakukan untuk menghormati alam. Upacara yang paling banyak dilakukan adalah yang berkaitan dengan padi, sebab padi dianggap sebagai sumber kehidupan manusia. Mulai dari upacara pra tanam, menanam hingga panen dan pasca panen. Semuanya memiliki makna dan keindahannya masing-masing.
Tradisi Dayak juga mengganggap bahwa kehidupan manusia adalah siklus yang salng berkaitan dan tak dapat dipisahkan. Kelahiran, perkawinan dan kematian, menjadi titik fokus ritual yang berkaitan dengan manusia. Banyak kearifan yang terdapat dalam kepercayaan ini, dan masyarakat adat sampai sekarang masih banyak yang taat pada aturan tradisi yang bahkan tak tertulis ini. Aku melihat ini semua sebagai sebuah kekayaan dan keindahan negeriku yang memang menjadi indah apabila diperlakukan sebagaimana mestinya.
2 Juli 2008
Pukul 03:03 WIB
Hari-hari Itu............ (2)
Jum’at, 27 Juni 2008
Hari ini kepastian operasi juga belum ada. Artinya, aku bisa meninggalkan kakakku dan pergi ke kampus dan menghadiri kongres mahasiswa STAIN Pontianak ke VII. Aku sampai sekitar pukul 09.00 WIB, acara telah dimulai , bahkan telah membahas beberapa hal. Pesertanya ternyata tak begitu banyak, ku pikir tak sampai 100 orang, juga tak semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Belasan orang anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) berpakaian lengkap menjaga setiap sudut aula setiap kali digelar kongres, tapi tidak tahun ini. Tak ada seorangpun yang terlihat, mungkin hanya perwakilannya yang berada di dalam, itupun menggunakan pakaian biasa.
Kongres berjalan alot, membahas tata tertib sidang.. Suasana sempat panas. Seorang peserta kongres dari perwakilan salah satu UKM maju ke depan dan merampas microphone dari presidium sementara ke 2 dan menyerahkannya pada presidium pertama. Presidium kedua dianggap lancang karena langsung mengambil alih sidang tanpa melalui mekanisme yang benar, apalagi dia baru datang ke aula.
Gadis itu terdiam ketika microphone di tangannya diambil paksa. Dia duduk dengan wajah merah. Sementara yang mengambil paksa, lantas duduk sambil menggerutu dengan wajah masam setelah menyerahkan microphone pada presidium pertama.
Aku dan beberapa teman yang duduk di belakang tersenyum, sebuah tontonan, sayang bukan contoh yang dapat diteladani.
Kami kembali asyik dengan aktivitas kami, memperhatikan setiap gerak-gerik peserta kongres. Banyak hal yang kami dapatkan, paling tidak sebuah kenyataan bahwa tidak semua mahasiswa dapat menggunakan otak, etika dan ilmunya dengan seimbang. Menjelang waktu dzuhur, kongres ditunda agar peserta dapat menunaikan shalat dzuhur dan makan siang.
“ Kecelakaan sejarah neh, menu kongres kayak ginik” kata seorang teman dari salah satu HMJ.
“ Ye ke ....?” tanyaku seraya membuka bungkusan nasi di hadapanku.
Nasi putih, bakwan jagung, sambal tempe dan kuah santan, tak jelas apa sayurnya. Sedangkan Hanisa, temanku, mendapatkan menu yang sama, hanya saja bakwan jagung diganti dengan telur goreng mata sapi. Aku dan Nisa tersenyum, ini bukan hal yang luar biasa untuk kami.
Di LPM, kami terbiasa berpusing-pusing ria untuk membagi uang yang seadanya agar dapat meng-cover seluruh kegiatan dengan baik, yah meskipun menunya tak pernah separah ini, paling tidak ikan goreng lah.... Tapi apa artinya ? jika lapar, toh habis juga, atau jika tak selera, kita semua bisa beli sendiri, sehari-harinya juga begitu.
Kita sama-sama tahu tentang minimnya dana untuk kegiatan mahasiswa di sebuah sekolah tinggi seperti kampus ini. Kita semua tahu, bahwa di negara ini,anggaran dana pendidikan memang menyedihkan, jadi jangan lagi permasalahkan tentang menu dalam kegiatan mahasiswa. Salahkan saja pembuat kebijakan yang memandang bahwa gaji anggota dewan lebih penting untuk dibengkakkan dari pada dana pendidikan generasi muda Indonesia.
Pukul 1.30 siang, kongres di lanjutkan. Dengan agenda masih membahas tatib dilanjutkan dengan agenda sidang dan setelah istirahat shalat Ashar dilajutkan dengan membahas UU KBM. Peserta sempat mempertanyakan kinerja MPM pada saat membahas tentang UU. MPM dinilai tidak bekerja dengan semestinya.
Beberapa hal yang dijadikan bukti, MPM memberikan kopian UU kepada HMJ dan UKM pada saat diujung kepengurusannya. Kedua, pada kopian UU itu terdapat dua ayat yang salah fatal dan tidak sesuai dengan hasil kongres tahun lalu, yakni pasal 6 yang tidak memuat ayat 4 yang seharusnya ada dan pasal 29 ayat 4 yang memabahas tentang SK dan pelantikan UKM. Ketiga, fungsi pengawasan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dinilai juga diabaikan oleh MPM, dan LPJ BEM serta kongres yang terkesan tidak siap. Hal ini melahirkan wacana tentang kemungkinan dibubarkannya MPM.
“ Gimana pendapatmu kalau MPM dibubarkan ?” tanya seorang teman.
“ Ha......? yang benar jak. Masa’ mok dibubarkan, tak biselah. Bise sangsot kehidupan oragnisasi mahasiswa di kampus kite ni “ jawabku
“ Ade pun tak dirasekan mahasiswa ” katanya lagi.
“ Itu bukan masalah MPMnye tapi disfungsi orang-orang di dalamnye. Yanti yakin semuenye bise lebih baik kedepannye, kalo memang maok. Kayak kite gak, UKM same HMJ” jawabku.
“ Hehehehehe” dia duduk di sebelahku.
Kongres untuk hari ini selasai pukul 5 sore dan akan dilanjutkan besok pagi. Aku pulang dengan Dian, peserta utusan LPM, sekaligus pimpinan redaksi WARTA. Dia cukup vokal dalam kongres tadi. Sementara, aku lebih suka duduk di belakang, mendengarkan, dan menikmati segepok cemilan yang dibawa Hanisa dari rumahnya, dan tentunya bercanda dengan beberapa teman yang juga gila-gilaan di belakang.
“ Malas, banyak yang sekedar cari sensasi” kata mereka.
Sabtu, 28 Juni 2008
Malam tadi, dokter telah memastikan bahwa hari ini operasi pengangkatan usus buntu kakakku dapat dilaksanakan. Pukul 09.00 WIB. Aku tak bisa ke kampus untuk mengikuti kongres lanjutan, operasi kakakku lebih penting untukku saat ini. Maaf, teman-teman. Tadi malam aku juga tak tidur semalaman, untung seorang teman bersedia menemaniku meskipun hanya suaranya yang terdengar di seberang sana. Lumayan, dia dapat mengisi kekosongan dan kebosanan di lorong rumah sakit yang kaku ini.
Pagi, aku keluar dari ruang perawatan, karena sudah waktunya petugas kebersihan untuk membersihkan kamar pasien. Keluarga pasien diperbolehkan masuk lagi pada pukul 09.00 WIB. Aku menunggu di ujung lorong, sendirian. Abangku, yakni suami kakak, sudah menyatakan bahwa dia tak bisa menemani istrinya. Dia tak tega melihat wanita yang telah menjadi ibu dari kedua gadis kecilnya itu terbaring lemah di bawah pengaruh obat bius, atau menyaksikan bagaimana pucatnya wanita cantik itu ketika di dorong menuju ruang operasi. Aku saja tak tega, tapi kenyataan seringkali memaksa kita untuk memenangkan pertempuran melawan perasaan.
Pukul 08.30 WIB, aku melihat seorang perawat mendorong kakak yang telah duduk di kursi roda, lengkap dengan baju operasinya menuju ke arahku. Wajahnya pucat, kakak sama sekali tak tersenyum, tapi bibirnya terbuka sedikit. Sorot matanya sendu menatapku. Tuhan, aku tak berkata apa-apa, selain mengikuti gerak langkah perawat itu menuju ruang operasi.
Kakak segera di dorong masuk ke ruangan itu, sementara aku ditahan di luar.
“ Sampai sini ya mbak “ kata perawat.
“ Iya “ jawabku pasrah.
Di depan ruangan itu, mungkin sekitar 30 an orang duduk berjejer, hingga kursi yang disediakan tak dapat menampungnya. Aku berdiri, tak berminat untuk memulai pembicaraan dengan siapapun. Di samping ruang operasi itu ada sebuah tangga menuju lantai I, lalu ruang ICU. Orang-orang yang banyak ini mungkin bukan hanya keluarga pasien yang dioperasi, tapi juga ada yang menunggui keluarganya di ICU. Seorang wanita duduk di sampingku dengan dua anak perempuannya, yang satu berusia sekitar 17 tahun, dan satunya lagi mungkin sekitar 5 tahunan. Dari pembicaraannya, aku mengetahui bahwa wanita itu sedang menunggui ibunya yang belum sadarkan diri di ruang ICU karena kecelakaan tabrakan.
Beberapa belas menit kemudian, aku melihat seorang wanita muda dari etnis Tiong Hoa yang juga di dorong ke ruang operasi. Dia berbaring dengan wajah kesakitan, dan kelihatan merah. Perutnya besar, dia akan melakukan operasi caesar.
Satu jam kemudian, aku menyaksikan seorang bayi laki-laki yang digendong ibunya juga menuju ruang yang sama. Ditangannya yang kecil dilekatkan pipa infus dan tepat didepan pintu ruang operasi, seorang perawat meminta si ibu menyerahkan bayi mungil itu. Si Ibu pasrah melepas gendongannya dan menyerahkan si mungil pada perawat. Hanya selang beberapa menit, seorang lelaki dengan pakaian lengkap dinas operasi keluar dari ruangan operasi menghampiri si ibu. Dia membawa topi dan kaus kaki rajutan bayi, lalu menyerahkan pada ibu bayi itu. Sebuah pemandangan yang mengharukan buatku. Seorang ibu harus melepaskan bayinya yang begitu kecil dan lemah memasuki ruang yang terkesan ‘ganas’ untuk menghadapi berbagai bentuk pisau bedah. Bukan sebuah hal yang mudah untuk dihadapi.
“ Kak, belom selesai ke ?” sebuah suara mengejutkanku. Adik dan bapakku datang dan menghampiriku. Mereka baru saja dari Universitas Tanjungpura, calon kampus adikku. Dia sedang mengurusi berkas-berkas yang diperlukannya untuk mendaftar dan mengikuti ujian masuk UNTAN.
“ belom” kataku singkat
Aku melirik penunjuk waktu di layar HP, sekitar pukul 09.15 WIB. Waktu terasa lama sekali. Tak lama kemudian, HP ku berdering. Telpon dari teman yang tadi malam ikut begadang bersamaku.
“ Gimana kakak ?” terdengar suaranya dari seberang sana.
“ Lagi dioperasi, nih lagi di depan ruang operasinya”
‘ Udah sarapan blom ?”
“ Belom dak sempat, eh, udah, udah sih tadi makan roti. ‘kan banyak tuh di tempat kakak “ jawabku.
“ Makan di jaga, ntar kamu yang sakit, iya tho “
“ Iye, cerewet “
Dia protes aku bilang cerewet. Dia lalu bercerita tentang temannya yang juga pernah mengalami penyakit yang sama seperti kakakku yang juga harus menghadapi tajamnya pisau bedah. Pembicaraan kami sempat terputus, karena aku dipanggil. Lalu kembali kami sambung, dan akhirnya harus disudahi karena dia akan sarapan.
Pukul 10....11....kakak tak juga keluar. Padahal bayi yang ibunya dioperasi caesar sudah keluar, tak lama ibunya juga keluar. Kami mulai gelisah, apalagi abangku, yang katanya tak mau menemani, tapi ternyata sejak pagi sudah mondar-mandir di sekitar ruang operasi tanpa sepengetahuanku. Pukul 11.45 melalui pintu ruang ICU, kakakku keluar. Dia terbaring tak sadarkan diri di dorong oleh dua perawat muda. Kami semua mengikutinya. Di sisi tempat tidur dorong itu, terlihat sebuah botol kecil seperti tempat cottombud. Di dalamnya diisi cairan alkohol dan.....ah.....,ada usus kakakku yang diangkat dalam operasi itu.
Kami sekeluarga mengikuti perawat tadi, namun harus berpisah di persimpangan lift. Mereka menguunakan lift pasien, sedangkan kami menggunakan lift umum. Kami kembali bertemu di ruang perawatan. Letih rasanya, aku ingin tidur. Tapi belum bisa. Aku masih harus menunggu instruksi dari dokter atau perawat tentang kakak.
“ belum boleh duduk apalagi berdiri, dan minum sampai jam 12 malam nanti. Kalo berbalik boleh, tapi di bantu. Setelah jam 1 malam boleh minum, tapi cuma 1 sendok makan setiap jam. Kalo makan jangan dulu” kata perawat.
“ Kalo buang air boleh dak mbak ?” tanya adikku konyol
“ Boleh, tapi gak boleh jalan, nanti pake pispot aja” jelas sang perawat. Adikku hanya senyum-senyum.
Sekitar 12 an kakakku sadar, tapi tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia hanya menatap kami satu-persatu. Tapi kemudian, sedikit demi sedikit dia mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Sekitar pukul 14.30 aku pulang kerumah. Aku langsung merebahkan diri di lantai ruang tengah. Dingin. Lega rasanya dapat membaringkan tubuhku. Tak lama aku melihat Hpku, ada SMS dari teman-teman di kampus. Mereka menanyakan apakah aku bisa datang ke kampus atau tidak. Aku ingin membalasnya, namun tertidur. Sore sekali, baru terbangun. Aku harus kemas-kemas, kasian ibuku, beliau juga tak boleh terlalu lelah. Malam ini aku akan tidur di rumah
Minggu, 29 Juni 2008
Ternyata cucian benar-benar menumpuk. Pakaianku, sedikit titipan dari ibu dan bapak, lalu segepok titipan dari abangku. Tulangku gempor. Semalam aku tidur subuh, meski di rumah tapi tetap saja tak bisa tidur. Insomnia. Kembali seorang teman menemaniku begadang. Terimakasih Tuhan.....
Siang, setelah semua selesai, aku ke rumah sakit menjenguk kakak, tapi tak lama. Sore aku sudah harus pulang kerumah. Malam ini juga tidur di rumah. Tidak malam, tapi subuh. Karena sekarangpun sudah subuh, tapi aku belum tidur....................
Abies...
29 Juni 2008
Menjelang subuh, tapi pikiranku masih asyik dengan dirinya.
Special thanks to ; orang-orang yang telah menemaniku begadang.
Hari ini kepastian operasi juga belum ada. Artinya, aku bisa meninggalkan kakakku dan pergi ke kampus dan menghadiri kongres mahasiswa STAIN Pontianak ke VII. Aku sampai sekitar pukul 09.00 WIB, acara telah dimulai , bahkan telah membahas beberapa hal. Pesertanya ternyata tak begitu banyak, ku pikir tak sampai 100 orang, juga tak semeriah tahun-tahun sebelumnya.
Belasan orang anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) berpakaian lengkap menjaga setiap sudut aula setiap kali digelar kongres, tapi tidak tahun ini. Tak ada seorangpun yang terlihat, mungkin hanya perwakilannya yang berada di dalam, itupun menggunakan pakaian biasa.
Kongres berjalan alot, membahas tata tertib sidang.. Suasana sempat panas. Seorang peserta kongres dari perwakilan salah satu UKM maju ke depan dan merampas microphone dari presidium sementara ke 2 dan menyerahkannya pada presidium pertama. Presidium kedua dianggap lancang karena langsung mengambil alih sidang tanpa melalui mekanisme yang benar, apalagi dia baru datang ke aula.
Gadis itu terdiam ketika microphone di tangannya diambil paksa. Dia duduk dengan wajah merah. Sementara yang mengambil paksa, lantas duduk sambil menggerutu dengan wajah masam setelah menyerahkan microphone pada presidium pertama.
Aku dan beberapa teman yang duduk di belakang tersenyum, sebuah tontonan, sayang bukan contoh yang dapat diteladani.
Kami kembali asyik dengan aktivitas kami, memperhatikan setiap gerak-gerik peserta kongres. Banyak hal yang kami dapatkan, paling tidak sebuah kenyataan bahwa tidak semua mahasiswa dapat menggunakan otak, etika dan ilmunya dengan seimbang. Menjelang waktu dzuhur, kongres ditunda agar peserta dapat menunaikan shalat dzuhur dan makan siang.
“ Kecelakaan sejarah neh, menu kongres kayak ginik” kata seorang teman dari salah satu HMJ.
“ Ye ke ....?” tanyaku seraya membuka bungkusan nasi di hadapanku.
Nasi putih, bakwan jagung, sambal tempe dan kuah santan, tak jelas apa sayurnya. Sedangkan Hanisa, temanku, mendapatkan menu yang sama, hanya saja bakwan jagung diganti dengan telur goreng mata sapi. Aku dan Nisa tersenyum, ini bukan hal yang luar biasa untuk kami.
Di LPM, kami terbiasa berpusing-pusing ria untuk membagi uang yang seadanya agar dapat meng-cover seluruh kegiatan dengan baik, yah meskipun menunya tak pernah separah ini, paling tidak ikan goreng lah.... Tapi apa artinya ? jika lapar, toh habis juga, atau jika tak selera, kita semua bisa beli sendiri, sehari-harinya juga begitu.
Kita sama-sama tahu tentang minimnya dana untuk kegiatan mahasiswa di sebuah sekolah tinggi seperti kampus ini. Kita semua tahu, bahwa di negara ini,anggaran dana pendidikan memang menyedihkan, jadi jangan lagi permasalahkan tentang menu dalam kegiatan mahasiswa. Salahkan saja pembuat kebijakan yang memandang bahwa gaji anggota dewan lebih penting untuk dibengkakkan dari pada dana pendidikan generasi muda Indonesia.
Pukul 1.30 siang, kongres di lanjutkan. Dengan agenda masih membahas tatib dilanjutkan dengan agenda sidang dan setelah istirahat shalat Ashar dilajutkan dengan membahas UU KBM. Peserta sempat mempertanyakan kinerja MPM pada saat membahas tentang UU. MPM dinilai tidak bekerja dengan semestinya.
Beberapa hal yang dijadikan bukti, MPM memberikan kopian UU kepada HMJ dan UKM pada saat diujung kepengurusannya. Kedua, pada kopian UU itu terdapat dua ayat yang salah fatal dan tidak sesuai dengan hasil kongres tahun lalu, yakni pasal 6 yang tidak memuat ayat 4 yang seharusnya ada dan pasal 29 ayat 4 yang memabahas tentang SK dan pelantikan UKM. Ketiga, fungsi pengawasan kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dinilai juga diabaikan oleh MPM, dan LPJ BEM serta kongres yang terkesan tidak siap. Hal ini melahirkan wacana tentang kemungkinan dibubarkannya MPM.
“ Gimana pendapatmu kalau MPM dibubarkan ?” tanya seorang teman.
“ Ha......? yang benar jak. Masa’ mok dibubarkan, tak biselah. Bise sangsot kehidupan oragnisasi mahasiswa di kampus kite ni “ jawabku
“ Ade pun tak dirasekan mahasiswa ” katanya lagi.
“ Itu bukan masalah MPMnye tapi disfungsi orang-orang di dalamnye. Yanti yakin semuenye bise lebih baik kedepannye, kalo memang maok. Kayak kite gak, UKM same HMJ” jawabku.
“ Hehehehehe” dia duduk di sebelahku.
Kongres untuk hari ini selasai pukul 5 sore dan akan dilanjutkan besok pagi. Aku pulang dengan Dian, peserta utusan LPM, sekaligus pimpinan redaksi WARTA. Dia cukup vokal dalam kongres tadi. Sementara, aku lebih suka duduk di belakang, mendengarkan, dan menikmati segepok cemilan yang dibawa Hanisa dari rumahnya, dan tentunya bercanda dengan beberapa teman yang juga gila-gilaan di belakang.
“ Malas, banyak yang sekedar cari sensasi” kata mereka.
Sabtu, 28 Juni 2008
Malam tadi, dokter telah memastikan bahwa hari ini operasi pengangkatan usus buntu kakakku dapat dilaksanakan. Pukul 09.00 WIB. Aku tak bisa ke kampus untuk mengikuti kongres lanjutan, operasi kakakku lebih penting untukku saat ini. Maaf, teman-teman. Tadi malam aku juga tak tidur semalaman, untung seorang teman bersedia menemaniku meskipun hanya suaranya yang terdengar di seberang sana. Lumayan, dia dapat mengisi kekosongan dan kebosanan di lorong rumah sakit yang kaku ini.
Pagi, aku keluar dari ruang perawatan, karena sudah waktunya petugas kebersihan untuk membersihkan kamar pasien. Keluarga pasien diperbolehkan masuk lagi pada pukul 09.00 WIB. Aku menunggu di ujung lorong, sendirian. Abangku, yakni suami kakak, sudah menyatakan bahwa dia tak bisa menemani istrinya. Dia tak tega melihat wanita yang telah menjadi ibu dari kedua gadis kecilnya itu terbaring lemah di bawah pengaruh obat bius, atau menyaksikan bagaimana pucatnya wanita cantik itu ketika di dorong menuju ruang operasi. Aku saja tak tega, tapi kenyataan seringkali memaksa kita untuk memenangkan pertempuran melawan perasaan.
Pukul 08.30 WIB, aku melihat seorang perawat mendorong kakak yang telah duduk di kursi roda, lengkap dengan baju operasinya menuju ke arahku. Wajahnya pucat, kakak sama sekali tak tersenyum, tapi bibirnya terbuka sedikit. Sorot matanya sendu menatapku. Tuhan, aku tak berkata apa-apa, selain mengikuti gerak langkah perawat itu menuju ruang operasi.
Kakak segera di dorong masuk ke ruangan itu, sementara aku ditahan di luar.
“ Sampai sini ya mbak “ kata perawat.
“ Iya “ jawabku pasrah.
Di depan ruangan itu, mungkin sekitar 30 an orang duduk berjejer, hingga kursi yang disediakan tak dapat menampungnya. Aku berdiri, tak berminat untuk memulai pembicaraan dengan siapapun. Di samping ruang operasi itu ada sebuah tangga menuju lantai I, lalu ruang ICU. Orang-orang yang banyak ini mungkin bukan hanya keluarga pasien yang dioperasi, tapi juga ada yang menunggui keluarganya di ICU. Seorang wanita duduk di sampingku dengan dua anak perempuannya, yang satu berusia sekitar 17 tahun, dan satunya lagi mungkin sekitar 5 tahunan. Dari pembicaraannya, aku mengetahui bahwa wanita itu sedang menunggui ibunya yang belum sadarkan diri di ruang ICU karena kecelakaan tabrakan.
Beberapa belas menit kemudian, aku melihat seorang wanita muda dari etnis Tiong Hoa yang juga di dorong ke ruang operasi. Dia berbaring dengan wajah kesakitan, dan kelihatan merah. Perutnya besar, dia akan melakukan operasi caesar.
Satu jam kemudian, aku menyaksikan seorang bayi laki-laki yang digendong ibunya juga menuju ruang yang sama. Ditangannya yang kecil dilekatkan pipa infus dan tepat didepan pintu ruang operasi, seorang perawat meminta si ibu menyerahkan bayi mungil itu. Si Ibu pasrah melepas gendongannya dan menyerahkan si mungil pada perawat. Hanya selang beberapa menit, seorang lelaki dengan pakaian lengkap dinas operasi keluar dari ruangan operasi menghampiri si ibu. Dia membawa topi dan kaus kaki rajutan bayi, lalu menyerahkan pada ibu bayi itu. Sebuah pemandangan yang mengharukan buatku. Seorang ibu harus melepaskan bayinya yang begitu kecil dan lemah memasuki ruang yang terkesan ‘ganas’ untuk menghadapi berbagai bentuk pisau bedah. Bukan sebuah hal yang mudah untuk dihadapi.
“ Kak, belom selesai ke ?” sebuah suara mengejutkanku. Adik dan bapakku datang dan menghampiriku. Mereka baru saja dari Universitas Tanjungpura, calon kampus adikku. Dia sedang mengurusi berkas-berkas yang diperlukannya untuk mendaftar dan mengikuti ujian masuk UNTAN.
“ belom” kataku singkat
Aku melirik penunjuk waktu di layar HP, sekitar pukul 09.15 WIB. Waktu terasa lama sekali. Tak lama kemudian, HP ku berdering. Telpon dari teman yang tadi malam ikut begadang bersamaku.
“ Gimana kakak ?” terdengar suaranya dari seberang sana.
“ Lagi dioperasi, nih lagi di depan ruang operasinya”
‘ Udah sarapan blom ?”
“ Belom dak sempat, eh, udah, udah sih tadi makan roti. ‘kan banyak tuh di tempat kakak “ jawabku.
“ Makan di jaga, ntar kamu yang sakit, iya tho “
“ Iye, cerewet “
Dia protes aku bilang cerewet. Dia lalu bercerita tentang temannya yang juga pernah mengalami penyakit yang sama seperti kakakku yang juga harus menghadapi tajamnya pisau bedah. Pembicaraan kami sempat terputus, karena aku dipanggil. Lalu kembali kami sambung, dan akhirnya harus disudahi karena dia akan sarapan.
Pukul 10....11....kakak tak juga keluar. Padahal bayi yang ibunya dioperasi caesar sudah keluar, tak lama ibunya juga keluar. Kami mulai gelisah, apalagi abangku, yang katanya tak mau menemani, tapi ternyata sejak pagi sudah mondar-mandir di sekitar ruang operasi tanpa sepengetahuanku. Pukul 11.45 melalui pintu ruang ICU, kakakku keluar. Dia terbaring tak sadarkan diri di dorong oleh dua perawat muda. Kami semua mengikutinya. Di sisi tempat tidur dorong itu, terlihat sebuah botol kecil seperti tempat cottombud. Di dalamnya diisi cairan alkohol dan.....ah.....,ada usus kakakku yang diangkat dalam operasi itu.
Kami sekeluarga mengikuti perawat tadi, namun harus berpisah di persimpangan lift. Mereka menguunakan lift pasien, sedangkan kami menggunakan lift umum. Kami kembali bertemu di ruang perawatan. Letih rasanya, aku ingin tidur. Tapi belum bisa. Aku masih harus menunggu instruksi dari dokter atau perawat tentang kakak.
“ belum boleh duduk apalagi berdiri, dan minum sampai jam 12 malam nanti. Kalo berbalik boleh, tapi di bantu. Setelah jam 1 malam boleh minum, tapi cuma 1 sendok makan setiap jam. Kalo makan jangan dulu” kata perawat.
“ Kalo buang air boleh dak mbak ?” tanya adikku konyol
“ Boleh, tapi gak boleh jalan, nanti pake pispot aja” jelas sang perawat. Adikku hanya senyum-senyum.
Sekitar 12 an kakakku sadar, tapi tak bisa menggerakkan tubuhnya. Dia hanya menatap kami satu-persatu. Tapi kemudian, sedikit demi sedikit dia mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Sekitar pukul 14.30 aku pulang kerumah. Aku langsung merebahkan diri di lantai ruang tengah. Dingin. Lega rasanya dapat membaringkan tubuhku. Tak lama aku melihat Hpku, ada SMS dari teman-teman di kampus. Mereka menanyakan apakah aku bisa datang ke kampus atau tidak. Aku ingin membalasnya, namun tertidur. Sore sekali, baru terbangun. Aku harus kemas-kemas, kasian ibuku, beliau juga tak boleh terlalu lelah. Malam ini aku akan tidur di rumah
Minggu, 29 Juni 2008
Ternyata cucian benar-benar menumpuk. Pakaianku, sedikit titipan dari ibu dan bapak, lalu segepok titipan dari abangku. Tulangku gempor. Semalam aku tidur subuh, meski di rumah tapi tetap saja tak bisa tidur. Insomnia. Kembali seorang teman menemaniku begadang. Terimakasih Tuhan.....
Siang, setelah semua selesai, aku ke rumah sakit menjenguk kakak, tapi tak lama. Sore aku sudah harus pulang kerumah. Malam ini juga tidur di rumah. Tidak malam, tapi subuh. Karena sekarangpun sudah subuh, tapi aku belum tidur....................
Abies...
29 Juni 2008
Menjelang subuh, tapi pikiranku masih asyik dengan dirinya.
Special thanks to ; orang-orang yang telah menemaniku begadang.
Subscribe to:
Posts (Atom)