Saturday, January 30, 2010

Catatan Seorang Mahasiswa Tua

Sebuah keputusan sulit akhirnya dibuat. Aku ingin hengkang dari organ yang selama ini menemani hari-hariku, yang tak hanya sekedar tempat bernaung di kampus, tapi juga rumah yang memberiku banyak saudara. Rumah itu pula yang menjadi wadahku. Ah, sakit sekali rasanya. Aku seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku terlalu mencintainya dan menempatkannya di tempat yang sangat istimewa di hatiku. Aku sangat mencintainya. Sangat.

Tapi itu sebuah proses kehidupan, sebab aku tetap harus hengkang. Aku sadar benar bahwa setiap orang orang memiliki masanya sendiri. Kini masaku sudah berakhir dan harus digantikan oleh adik-adikku. Aku teringat perkataan seorang teman yang menyatakan bahwa kami memang sudah harus pergi dari kehidupan organ di kampus, secinta apapun kami pada organ itu. Keberadaan kami hanya akan memperlambat proses pendewasaan adik-adik kami. Mereka butuh sendiri untuk belajar bertanggungjawab atas kewajiban, posisi dan tugas mereka. Mereka harus memikul tanggungjawab itu di bahu mereka, tanpa kami.
Kini adik-adikku bertambah banyak. Senang rasanya kini rumah itu dihuni oleh banyak orang. Karya ciptanya pun ditunggu dan dibicarakan orang-orang di kampus ini. Bahagia rasanya pernah menjadi bagian dari perubahan citra itu.

Lebih membahagiakan lagi, pernah melihat pertumbuhan adik-adikku yang dulu imut dan nakal kini berubah menjadi pemimpin dan mahasiswa-mahasiswa yang keberadaannya diperhitungkan karena karya ciptanya, tulisan. Senang rasanya menjadi kakak mereka, meski aku tak berperan apapun dalam pertumbuhan mereka yang begitu sempurna. Masih segar dalam ingatanku ketika mereka melintasi kelasku tanpa menoleh saat kami belum kenal, mereka pun masih berstatus mahasiswa yang baru saja menyelesaikan masa Ospeknya. Saat itu aku tak pernah berpikir bahwa sosok-sosok itulah yang nantinya akan mengisi hari-hariku dan menempati hatiku dengan sangat dalam. Aku juga tak pernah membayangkan bahwa kami akan berkumpul dalam suka dan duka, kemudian seberat ini hatiku berpisah dari moment-moment indah itu.

Tapi waktu harus terus berjalan, dan kita tidak tercipta untuk cengeng menangisi perjalanannya yang tak akan pernah kembali. Tak ada yang perlu ku khawatirkan, sebab adik-adikku jauh lebih baik. Mereka memiliki semangat mudanya, komitmen dan kemampuan yang tak bisa dianggap remeh. Tak ada yang perlu ditakutkan. Ah tidak, bukan khawatir atau takut. Aku tak pernah takut atau khawatir untuk menyerahkan semuanya pada mereka, aku hanya belum siap untuk benar-benar melepaskan semuanya. Mereka dan rumah itu terlalu berarti untukku.

Namun, aku tahu bahwa mereka lebih berarti dari pada egoku untuk terus bersama mereka. Aku harus benar-benar menyerahkan semua urusan rumah itu secara utuh. Kini ku benar-benar pergi. Aku tahu, adik-adikku akan semakin dewasa, semakin kuat dan semakin cerdas tanpaku.
Hampa. Lagi-lagi perasaan ini muncul. Begini ternyata rasanya menjadi mahasiswa tua yang sedang berada diujung waktu keberadaannya di kampus. Oh, ternyata ini rasanya menjadi mahasiswa tua.

Ah, tak ada waktu untuk larut dalam perasaan, jalan masih begitu panjang. Skripsiku menunggu untuk diselesaikan, tugasku di Centre juga bertumpuk. Aku sedang belajar merajut masa depan sebagaimana yang aku cita-citakan. Aku sedang melangkah untuk impianku. Akhirnya harus kukatakan; Terimakasih untuk segala kenangan, cinta, tawa dan kesal yang pernah ada. Aku begitu menyayangi kalian. Hari ini dan selamanya...

Saat Menungguimu, Sobat....

Malam semakin larut, 00.56 Selasa 19 Januari 2010 dini hari WIB. Malam ini tak seperti malam-malam lainnya, sebab malam ini aku dan teman-teman sedang menemani Ari yang tertidur sehabis dioperasi tadi siang. Hanya sesekali dia terbangun dan tersenyum menatapku. Malam ini mengingatkanku pada malam-malam yang pernah kuhabiskan di rumah sakit tahun-tahun yang lalu.

Dinginnya dinding-dinding rumah sakit dan lantainya yang beku pernah menemani malam-malam ku, nyaris seperti malam ini. Ada rasa pedih yang rasanya melukis tiap inchi dinding-dinding itu. Trauma masa lalu tentang rumah sakit lagi-lagi terasa tergambar di kelopak mataku. Kini, lagi, sahabat kecil yang kusayang harus terbaring lemah di bangsal tua rumah sakit. Sementara kecemasan yang sombong tetap menyelimutinya dengan angkuh. Lagi-lagi seorang yang kusayang harus terpenjara di lengkung lengan besi si bangsal tua.

Ari demam. Sesekali bibirnya bergetar. Aku dan Icha memandangnya nanar. Kak Vita tersenyum menatap kami. Ari tak banyak membuka matanya. Hanya sesekali. Bibirnya agak memucat. Konon itu disebabkan pendarahan akibat operasi tadi. Ada sekantong kecil darah yang menyertai tabung infus besar yang akan segera menjadi tamu dalam tubuhnya. Ah, adik kecilku. Dia kembali tertidur.

Handphone ku bergetar. Nama seorang sahabat muncul di layar LCD. Tak ada basa-basi, khas gayanya.

“Kasi aku alasan ngape tak maok jadi menteri. Alasan konkret yang bise aku terima dengan logika aku. Aku tak maok alasan karena udah ketuean di kampus atau apelah. Aku maok alasan yang benar-benar konkret” ujarnya tepat di pokok permasalahan.

“Udah tak penting agik sekarang. Kan udah nak pelantikan,” jawabku

“Ini bukan soal pelantikan”

Terus buat ape? Emang dah tak penting agik”

“Terserah, buat aku penting”

“ Malam ini pikirkan, besok sebelum dzuhur aku tunggu jawabannye. Sekarang aku capek, baru balek darijeruju,”

Dia menutup teleponnya. Beberapa SMS kemudian kukirim dan kuterima yang membahas soal masalah di telepon. Aku masih menjawab sama. Tak penting untuk dibahas.

Pukul 01.19 dini hari. Kak Vita ke kamar mandi. Icha tertidur pulas di sisi kananku, sementara Hakim juga bergelut di alam mimpinya tepat di sebelah kiriku. Yos dan Budin sudah sejak tadi berhenti bercanda dan memilih beristirahat. Heri tetap sibuk dengan kerjaannya sambil sesekali mengunyah kacang atom garuda. Aku bergulat dengan laptop kesayangan Ari yang sejak semalam sudah ku sita, tentunya dengan tema kerjaan dua mingguanku, lay out dan sedikit editing. Aku mengerjap sejenak mengusir kantuk yang mulai datang. Aku sedang tak ingin melakukan apapun selain menulis. Lay out menjadi pekerjaan yang membosankan malam ini, tak seperti malam-malam lain yang selalu sukses meraih seluruh perhatianku. Editing juga sangat tak mengasikkan, padahal tulisan di depanku begitu asik untuk dibaca. Tapi aku sedang tak ingin. Itu masalah terbesarnya saat ini.

Aku melirik bangsal rumah sakit yang tepat berada di depanku. Tampaknya Ari terbangun. Aku melihat bibirnya bergetar menggeliat sakit. Ku buang wajahnya dari pandanganku. Miris. Sahabat baik hati yang terlihat sangat kesakitan, bahkan begitu jelas di depanku, rasanya begitu sakit. Aku melanjutkan kalimat demi kalimat yang mungkin dapat kutulis untuk mengusir penat sejenak. Tulisan selalu menjadi penghibur hati, saat segalanya sudah tak lagi menenangkan. Saat semuanya terasa begitu terlalu membosankan dan saat segalanya menjelma dalam sosok-sosok hitam kegelapan yang asing.

Di beberapa bagian persendianku masih terasa pegal, hadiah survei lokasi pengukuhan anggota baru rumah kami, hari Minggu kemarin. Aku sempat mencoba hampir semua tantangan outbond di sana, meskipun peralatan pengamanan belum dipasang. Toh, aku dan teman-teman tak peduli dengan pengaman-pengaman itu. Aku ingin. Itu faktornya.

Aku melirik Hakim sebentar. Dia memunggungiku. Tak terlihat seperti apa wajahnya saat tertidur, tapi wajah inilah serta wajah 8 orang teman seangkatannya yang begitu lekat akhir-akhir ini di mataku. Bukan karena mereka lebih baik atau lebih kusayang. Tapi, mereka sangat membanggakanku. Akhir-akhir ini mereka harus bekerja lebih berat, karena beberapa musibah yang mendera kakak dan abang mereka. Banyak hal yang harus mereka lewati akhir-akhir ini. Aku begitu bangga karena mereka justru semakin kuat dan dewasa. Sosok mereka membuatku sadar bahwa mereka memang pantas menjadi yang terpilih. Mereka membuatku begitu optimis bahwa rumah kami akan tetap bersinar.

Ah, mereka yang dulu kami panggil “bayi-bayi” pers mahasiswa, kini telah tumubuh begitu dewasa dan kuat sebagai garda depan penerbitan dan sinar dalam rumah kami. Tak sia-sia rasanya mereka ditetaskan di atas bukit Rel dan belajar mandi bersama-sama anak kodok di kolam bawah bukit. Juga tak sia-sia rasanya belajar berjalan di antara pekuburan di tengah malam. Mereka dewasa dengan cepat dan menjadi begitu kuat. Sebentar lagi, kami akan kembali menetaskan bayi-bayi pers mahasiswa yang lain. Sepuluh orang lagi. Meski tempat menetas mereka berbeda, aku berharap bayi-bayi baru ini akan sekuat kakak-kakaknya.

Ah, malam semakin larut. Heri sudah merapikan pekerjaannya. Mengambil tempat di sisi Budin dan kemudian merebahkan diri. Pukul 0.2.15 WIB, malam lebih larut lagi. Malam ini akan kuakhiri sampai di sini. Cukup sampai di sini, karena esok masih ada kisah-kisah lain yang sudah menanti untuk diselesaikan.

Monday, February 2, 2009

Ijinkan Aku Menjadi Tolol

"Seperti orang putus asa gitu, jangan pesimis, masih bayak yang bisa kamu berikan pada kami..." kata seorang teman memberikan motivasi ketika ku katakan terlalu banyak pertanyaan 'tolol' yang sedang menghantuiku. "Bukan putus asa, tapi pertanyaan-pertanyaan itu datang begitu saja, dan tak terkendali", kataku menjawab e-mailnye. Dia teman baikku, dia adalah sahabat yang selalu mencoba untuk mengerti jalan pikiranku yang lebih sering lari dari rel yang seharusnya. Pikiran yang terlalu liar, komentar seorang teman lama.

Sebenarnya, ini bukan soal pesimistis atau putus asa, ini adalah soal pertanyaan 'tolol' yang sering mengahantui orang-orang yang sering tak mengikuti arus pemikiran normal. Aku mendapatkan beasiswa belajar Bahasa Inggris selama dua bulan di Amerika Serikat. Aku tahu benar, itu menghabiskan puluhan juta rupiah, mungkin sekitar lebih dari 60 juta jika dirupiahkan. Memang ini beasiswa dari pemerintah AS sendiri, tapi tentu bukan tanpa alasan dia memberikan itu pada mahasiswa-mahasiswa dari negara berkembang, Indonesia misalnya. Negara ini telah lama menjadi pasar untuk produk mereka, telah lama menguntungkan perekonomian mereka, bahkan mungkin menjadi sumber pendapatan negara mereka. Mungkin ini salah satu cara untuk membalas, meski juga tak sebanding dengan apa yang mereka dapatkan dan mereka akibatkan. Untukku, dengan kata lain, uang yang membiayai kepergianku dan mahasiswa Indonesia lainnya ini adalah uang rakyat kami juga, dan rakyat dari negara berkembang lainnya.

Pertanyaan yang kemudian muncul, apa yang bisa kuberikan untuk mereka ? Orang-orang yang telah memberikan uang puluhan juta ini kepadaku dengan cuma-cuma. Sekedar belajarkah ? Bukankah mereka tidak butuh orang-orang yang pintar untuk dirinya sendiri ? Lantas apa ? Berbagi dengan banyak orang, mengajari mereka, dan membuat perubahan yang lebih baik ? Dengan apa ? Bangaimana caranya ? Kapan ? Apa aku bisa ?

Itu pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul. Ini bukan masalah idealisme, karena aku bukan seorang idealis. Ini soal pertanggungjawaban moral kepada hutang yang abstrak. Tak ada hitam diatas putih yang dapat memaksa dan mengintervensiku untuk bertanggungjawab atas apa yang kuterima. Ini peruntungan karena aku mahasiswa, dari negara berkembang, dan memiliki nasib baik. Lantas kenapa aku harus pusing menjawabnya ?

Beasiswa dan kesempatan ini membuatku senang, tapi sama sekali tak membuatku merasa menang. Ada saat dimana aku merasa benar-benar beruntung, tapi beberapa saat dalam waktu yang amat sekejap, aku merasa begitu kecil dan penuh dengan rasa bersalah. Bahu dan otakku terasa benar-benar menyiksa. Ada beban disana, yang belum kutunaikan. Aku seperti pegawai negeri yang hanya mengisi absen dan kemudian mendapatkan sejumlah uang di awal bulan, tanpa dapat memberi apa-apa untuk rakyat yang membayar pajak agar gajinya dapat dibayar. Aku merasa seperti pejabat yang senang-senang berjalan dengan mobil dinas, dikawal ketat oleh pengawal yang justru menjauhkan dia dengan masyarakat yang memberinya jabatan dan segalanya. Orang-orang yang membunuh nuraninya untuk alasan kedamaian dan ketenangan hati. Agar tak terlalu risih dan tersiksa dengan pertanyaan pertanggungjawaban moral.

Saat pertanyaan itu datang dan aku memikirkannya, aku terlihat seperti orang tolol yang tersesat dalam arus zaman. Tapi ketika aku mencoba untuk melupakan dan mengabaikannya, aku merasa seperti orang pintar yang membunuh nuraninya. Maka, teman-teman dan Tuhan, ijinkan aku menjadi tolol, dan kemudian mati dalam kegilaan atas pertanyaan-pertanyaan 'tolol', sebelum aku memutuskan untuk membunuh nuraniku.


Corvallis...

Wednesday, January 28, 2009

Saat Ku Jauh...

'Jauh' menjadi kata yang sangat bermakna saat ini. Saat jarak dan waktu membentang di depan mata dan menjadi begitu luas. Di tempat yang asing dengan teman-teman, budaya, bahasa dan cara hidup yang sangat berbeda. Sungguh luar biasa, memberikan pelajaran baru yang belum kudapatkan. Disini aku belajar untuk memahami banyak kata yang selama ini tak begitu bermakna.

Ah, apa kabar orang-orang yang disana, di tanah tempatku dilahirkan ? Apa kabar orang-orang yang selalu menemani hari-hariku selama ini dan menjadi orang-orang yang menunggu kedatanganku. Aku mulai mengingat mereka, mulai ingin menemui mereka dan ingin mendengar tawa, canda, cerita dan kadang omelan mereka. Tuhan, apa aku mulai merindukan mereka ?

Di tengah-tengah ketidaksamaan ini, ada hal-hal yang membuatku bersemangat. Ada sesuatu yang mulai membuatku merasa nyaman. Membuatku berpikir bahwa waktu yang tersedia dalam sehari begitu pendek, hingga aku ingin cepat matahari bersinar yang menandai hari baru telah datang. Namun, disisi lain membuatku menoleh kebelakang dan bepikir 'mengapa hari begitu cepat?' Tuhan, apa aku mulai menikmati hidupku disini ?

Ada perasaan marah dan kesal, ketika orang-orang membicarakan negeriku seakan-akan hanya memandangnya dengan sebelah mata. Ada perasaan bangga yang membuncah dengan luar biasa, ketika rak-rak pakaian di mall terbesar di kota ini hampir semuanya berisi produksi negeriku. Juga ketika konsumen mencari dan menanyakan dimana produk negeriku, karena dia ingin membelinya. Ada semangat yaang keluar begitu saja, ketika ku bercerita tentang kampungku kepada siswa internasional lainnya, meski dengan bahasa inggris yang terbata-bata ? Tuhan, apa aku mulai mencintai negeriku ?

Aku mulai nyaman mempelajari dan mendengarkan pikiranku, mulai asik dengan hatiku untuk berusaha memahami apa yang kuinginkan secara jujur. Aku bergulat antara apa yang harus kulakukan, tak harus kulakukan, ingin kulakukan, tak ingin kulakukan, boleh dan tak boleh kulakukan. Tuhan, apa aku mulai mencari kebenaran dalam diriku?

Semua hadir, justru saat ku jauh. Jauh membuatku dan memberiku waktu untuk memahami dan merenungkan semuanya. Dan semunya terjadi justru saat ku jauh. Saat ku jauh..

Friday, January 9, 2009

Aku di Corvallis.....

Aku lagi ada di Corvallis sekarang, sebuah kota di Oregon State, USA. Aku dan 19 orang teman serta seorang chaperone dari Indoensia sampai di bandara Portland, ibu kota Oregon State pada 4 januari sekitar pukul 22.20 waktu setempat ( di Indonesia udah tgl 5 januari sekitar pukul 13.00 WIB). Di sana sudah ada Alexis Siegel dan Shandy Riverman yang menjemput kami. Kami masih harus naik bus selama 2 jam untuk menuju Corvallis, kota dimana Oregon State University berdiri megah. Ketika keluar dari bandara, semua orang dari rombongan kami langsung terkejut. Udara di Portland luar biasa. Jika anda pernah memasukkan kepala anda di freezer dalam kulkas selama berjam-jam, maka seperti itulah suhu di Portland saat itu. Dalam sekejap, karena hanya menyeberang jalan saja, tanganku yang menggunakan sarung tangan tipis segera mati rasa, sampai-sampai aku tak bisa menekan pegangan travel bag-ku. So funtastic.
Di dalam bus, lumayan hangat. Suasana ramai di dalam bus, termasuk bercerita selama lebih dari 20 jam penerbangan hanya bertahan sekita 45 menit. Setelah itu suasana sepi, sebagian besar teman-teman tertidur. Aku sempat mengirim beberapa sms, ke teman, dan keluarga di rumah. Ah, betapa di tempat yang jauh, mereka terasa sangat dekat dan begitu berharga.......
Salju lebih menarik perhatianku dari pada tidur. Di sepanjang jalan-jalan di Portland, salju memamerkan keanggunannya dengan menutupi puncak-puncak tanaman nias, pohon dan atap-atap rumah, bahkan mobil yang sedang melajupun harus membawa salju di bagian atasnya. Putih dan luar biasa.
Sekitar pukul 00.30 waktu corvallis, kami tiba di asrama mahasiswa. Kami tinggal di Cauthorn Hall lantai 5. Jadi kami harus bolak-balik dengan menggunakan lift. Beberapa fasilitas tersedia di sini. Ada komputer dengan akses internet gratis di lantai bawah, meski cuma dua komputer dan menggunakannya harus antri. Sedangkan yang punya laptop dapat menggunakan koneksi di kamar dan temapt lainnya, juga gratis. Asik ya..... Beberapa hari kemudian kami juga menerima fasilitas telpon di setiap kamar, meskipun cuma bisa digunakan untuk menelpon di daerah lokal. tapi lumayan....

Wednesday, September 3, 2008

Ayo Menulis !




Membayangkan harus mengerjakan sebuah tulisan bukanlah hal yang menyenangkan untuk sebagian orang. Apalagi yang tidak terbiasa dengan aktivitas menulis, tentunya menjadi sebuah mimpi buruk yang menghantui. Dalam bayangan mereka, menulis merupakan rangkaian proses yang besar dan sangat panjang, mulai dari memikirkan ide, mengumpulkan fakta-fakta sampai menuangkannya dalam kalimat-kalimat. Jika demikian, jangankan untuk menulis, memikirkannya saja dapat membuat seperempat dari komposisi otak terasa begitu lelah. Alhasil, tal ada satu kalimatpun yang berhasil di selesaikan, kepala terasa pusing, dada menjadi sesak karena putis asa. Satu-satunya penyelesaian adalah bangun dari duduk, lalu ngeloyor pergi meninggalkan monitor computer yang pasrah membisu.

Tapi tahukah anda, sebenarnya menulis tidaklah serumit yang seringkali dibayangkan oleh banyak orang yang gagal menulis. Menulis itu adalah sebuah proses yang sangat sederhana, bahkan menyenangkan. Pernahkah anda membayangkan ada seorang teman yang begitu dengan sabar mendengarkan semua pembicaraan anda tanpa menyela satu kalipun ? atau seseorang yang mau menampung semua pikiran, dan perasaan anda tanpa protes sedikitpun ? Yah, mungkin ada, tapi rasanya sulit untuk menemukan orang-orang seperti itu.

Jangan khawatir, jika anda tak menemukannya, maka cobalah untuk menulis. Syaratnya, jangan biarkan otak anda dibodohi oleh perasaan malas dan sugesti bahwa menulis itu sulit. Persoalan dalam menulis hanyalah ‘apakah anda mau memulainya ?”. Jika anda menjawab ‘iya’ maka anda sudah membuat sebuah keputusan besar dan telah menyelesaikan masalah paling rumit dalam aktivitas menulis. Nah, selanjutnya hanyalah apa yang ingin ditulis. Bagi pemula jangan dulu membayangkan bahwa anda akan menulis catatan pinggir sebaik Gunawan Muhammad, cerpen seluwes Helvy Tiana Rosa, atau syair seimajinatif Chairil Anwar.

Namun, cobalah menulis dari hal-hal yang paling kecil dan dekat dengan kehidupan. Menulislah dengan hati. Tulis apasaja yang sedang anda rasakan, mungkin lebih tepat seperti sebuah buku harian. Jangan pedulikan dulu kaidah-kaidah yang membuat kepala mumet dengan aturan-aturan baku, tapi biarkan ide itu menjalar dengan perlahan dan santai, hingga dengan sendirinya membuat jemari menari indah diatas keyboard.

“ Aku kehilangan ide yang tadinya menumpuk-numpuk di kepalaku. Sebenarnya aku ingin menulis sebuah artikel yang bagus, tapi entah kenapa semuanya hilang begitu saja. Selain itu aku memang sedang kekurangan bahan untuk menulisnya, sudah beberapa hari ini, tak ada sebuah bukupun yang berhasiul kuselesaikan. Sebuah prestasi, ya, prestasi di puncak kemalasan seorang mahasiswi yang hamper benar-benar tersungkur dalam kemalasannya. Ironisnya, mahasiswi itu adalah aku.”

Jangan malu, menulis saja seperti itu. Tulisan yang demikian tidak menuntut penulisnya untuk berpikir keras, hanya sekedar menuliskan apa yang dirasakannya menjadi rangkaian kalimat, tepatnya seperti bicara atau bergumam. Tak perlu merasa rendah diri karena baru mampu menulis seperti buku harian. Malah tulisan-tulisan tersebut sangat penting untuk membiasakan diri menungakn ide dalam bentuk tulisan. Tulis saja apapun yang dilihat, didengar atau cita-cita yang diimpikan. Dengan begitu, anda telah membiasakan diri untuk akrab dengan bahasa tulis, sedikit-demi sedikit kepekaan anda dalam merangkai kalimat akan terbentuk dan terasah.
Jika anda mau berpikir sedikit lebih rumit, maka berpetualanglah. Kaitkan apa yang dirasakan dengan kondisi lingkungan masyarakat, keadaan politik atau ekonomi. Bebaskan saja otak untuk melakukan tugasnya. Jangan bebani dengan obsesi-obsesi lain. Apa yang dilihat atau didengar, tuangkan saja untuk melanjutkan tulisan yang telah dibuat.

“ Malas. Kata itu cukup sederhana, hanya berjumlah lima huruf, namun kata itu sangat mematikan, dan dapat melumpuhkan sebuah bangsa. Bayangkan saja, jika semua pemuda negeri ini mengatakan bahwa mereka malas menuntut ilmu, malas belajar dan berkerja membangun bangsa, apa yang akan terjadi ? Kehancuranlah yang akan menanti diujung perjalan bangsa ini. Padahal, pada hakikatnya pemuda adalah ujung tombak kemajuan masyarakat sekaligus sebagai pemegang panji-panji kepemimpinan Negara. Sejauh ini, racun malas telah membuktikan kebisaannya pada Indonesia. Banyak berita di TV dan Koran yang mengisahkan bagaimana oknum wakil-wakil rakyat merasa malas untuk memikirkan nasib bangsanya, sehingga mereka lebih memilih korupsi dari pada harus ikut-ikutan menderita bersama rakyat negeri ini. Lalu, para seniman yang malas melewati perjuangan panjang untuk sukses, sehingga mereka mengambil jalan pintas dengan tampil habis-habisan seksi agar mendapat banyak penggemar, meskipun kualitas seninya masih diragukan. Semuanya berawal dari malas.”

Sekarang tulisan itu tak sekedar sebuah ungkapan bahwa si penulis sedang malas, tetapi ada unsure lain yang mengikutinya. Penulis menjelaskan bahwa rasa malas menjadi sebuah awal dari kehancuran. Dia menjabarkannya dan mengakaitkannya dengan kondisi lingkungan masyarakat. Ada kepedulian dan pesan-pesan moral yang ingin disampaikan lewat tulisan itu. Sehingga tulisan yang awalnya sangat sederhana semakin berkembang menjadi bentuk lain yang lebih dari sekedar catatan harian.
Membuat tulisan sama seperti menyusun puzzle. Semakin anda mendapatkan kepingan-kepingannya, akqn semakin dibuatnya penasaran. Begitu pula dengan menulis. Semakin anda masuk ke dalamnya, maka akan banyak hal yang ditemui, tapi justru membuat anda merasa kurang. Anda tidak dapat berhenti sampai di situ saja, anda akan semakin tertentang untuk membuat bentuk-benatuk tulisan yang lain. Semua itu membuat penulis menggunakan seluruh inderanya dengan maksimal, bukan untuk mendapat ide, tapi untuk mengembangkan ide tersebut. Sebab, pada dasarnya setiap orang memiliki gagasan, hanya saja tak semua orang berhasil untuk mengembangkan gagasan tersebut dan menuangkannya dalam bahasa tulis. Bukan berarti mereka tak mampu, hanya saja apa mereka telah memulainya ? bagi orang-orang yang mau memulai, kini saatnya untuk bekerja.

Mengembangkan dan memperkaya gagasan memerlukan wawasan. Oleh sebab itu, seorang penulis harus rajin memperhatikan keadaan di sekelilingnya. Selain itu, membaca buku adalah aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dengan menulis. Jangan memaksakan diri untuk menelan berbagai jenis buku sekaligus, tapi nikmati saja proses itu secara alami, meski jangan juga terlena dengan perasaan malas. Kebiasaan menulis dengan sendirinya akan membuat anda gemar membaca, karena anda selalu ingin mengetahui perkembangan dunia tulis menulis. Anda memerlukan pembanding, karena itu anda perlu untuk membaca tulisan orang lain, dengan begitu anda bisa mengevalusi tulisan dan mengembangkannya menjadi bentuk yang lebih matang.

Percaya atau tidak, aktivitas menulis juga membuat anda semakin peka dengan orang lain. Menulis membuat aktivisnya gemar memperhatikan dengan mengoptimalkan fungsi inderanya. Hingga tak heran jika banyak penulis yang lebih peka dengan masalah-masalah masyarakat dibandingkan dengan kelompok lain yang justru lebih berwenang. Menulis juga dapat menjadi sebuah ajang untuk memperjuangkan sebuah gagasan. Dampak yang ditimbulkan oleh sebuah tulisan, dapat negitu mencengangkan dan tidak terbayangkan. Jika sebuah tulisan telah tercipta, apalagi sampai dipublukasikan, maka dia telah menjadi milik semua orang. Tulisan dapat berbicara dengan bahasanya sendiri, mempengaruhi atau mengajak orang lain berpikir. Oleh sebab itu, menulislah, karena tulisan kita akan membuat kejutan-kejutan yang tak pernah kita bayangkan. Maka, teruslah menulis (*)

Monday, July 7, 2008

Aku, Nisa, Cinta dan Es Krim Coklat

Tadi siang aku dan Nisa jalan-jalan ke Sungai Jawi. Kami ingin membeli ikan peliharaan untuk teman Socra dan Filsa, dua ekor ikan yang telah lebih dulu kubeli, di akuarium mungilku yang kuberi nama ‘dunia ide’. Kami berhasil menemukan 4 ekor ikan yang kelihatan anggun dan manis, setelah cukup lama menimbang-nimbang kemungkinan-kemungkinan untuk membeli ikan yang lain.

Dua ekor lebih kecil, satu berwarna putih mengkilap sedangkan yang satunya lagi berwarna putih dengan totol-totol hitam. Dua ekor lainnya berukuran lebih besar dengan bentuk ekor lebar dan panjang. Dia kelihatan berenang dengan anggun.

Usai beli ikan, kami mencari es krim. Kami menemukan kedai es krim di JL. Putri Candramidi, namanya Es Krim Eskimo. Ada beberapa rasa, coklat, strawberry, cempedak, durian dan Vanilla. Tapi untukku dan Nisa tak ada pilihan lain, jika ada coklat.

Kami memesan dua porsi es krim kepada pemuda yang menunggui kedai itu.
Sambil menunggu pesanan, kami mencari nama untuk 4 ekor ikan cantik di kantong yang kupegang.

“ Yanti jak yang kasi name “ kata Nisa

“ Yang beask tuh namenye Rene same Karen, yang kecik Nisalah yang kasik name”

“ Udah, Yanti jak yang kasik name “

“ Iyelah, namenye Plato same Sophie”

“ Boleh “
jawab Nisa singkat. Wow....sekarang di dunia ide ku ada Socra, Filsa, Plato, Sophie, Rene dan Karen. Pasti menyenangkan.

Tak lama pesanan kami datang. Es krim coklat yang disajikan anggun di gelas yang memang khusus untuk es krim, transparan berbentu seperti gelas seloki. Kami makan sambil bercanda. Tak memerlukan waktu lama untuk menghabiskan 1 porsi es krim itu, karena kami memang penggila es krim, meskipun sempat pindah posisi duduk karena kepanasan terkena sinat\r matahari. Khatulistiwa.......

“ Tau dak Syah, hal yang paling enak di dunie tuh, es krim coklat” kataku

“ Setuju......eh, bile kite makan ayam di Mall ?”‘

" Nantiklah, liat kondisi keungan lok, agik pailit neh “

“ tenang kalo soal duet...”

“ agik kaye nih ceritenye ?”

“ Hehehe Nisa gitu loh......” katanya bangga.

“ Selase gimane ?” lanjutnya.

“ Boleh, hari senen yanti bise merampok lok”

“ Siape yang mok dirampok tuh ?”

“ Ade banyak...hehehehehe....” kami tertawa.

“ Makan es krim juga di Mall” Nisa berkomentar

“ Boleh, yang ade saus jagungnye, enak......”

“ Ok deh “ lagi-lagi kami tertawa.

Usai menghabiskan es krim kami, nisa segera beranjak membayar pesanan kami.

“ Mok dibungkus dak ?” katanya menawarkan

“ dak maok”

“ serius neh ?”

“ serius “

“ OK”


Kami lalu menuju tempat Nisa memarkir motornya. Menyapa abang penjaga kedai lalu tersenyum padanya.

“ Sini lagi lah “ katanya

“ OK deh, tenang jak bang” jawab Nisa.

“ Dah.......” kataku melambaikan tangan. Pemuda itu tersenyum dan membalas lambaianku.

“ Eh, syah, kalo dibuat cerpen kayaknye asyiklah “ kataku tiba-tiba.

“ ape die ?” tanya Nisa agak kaget

“ es krim coklat “

“ Ha...” dia menatapku

“ Ginik nih kalimat pertamenye ‘ Hidup itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya”
“ Oh ya...?’ Nisa menanggapi sambil tersenyum.

“ Eh, salah yang agak heboh sikitlah ye. Ginik jak lah ‘ Cinta itu seperti es krim coklat. Tak terlalu manis, dan ada rasa pahitnya. Tapi, justru kombinasi rasa unik itu yang membuat orang ketagihan dan terus ingin mencicipinya. Seperti itulah Cinta, tak selalu indah, dan ada sakit hatinya. Namun setiap rasa yang dihadirkannya justru membuat orang semakin dalam menghayatinya’ Gimane ? asyik kali ye.....”

Nisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Setelah itu kami meluncur pulang dan menyiapkan berbagai rencana untuk esok hari.

Cinta dan es krim coklat ? Mirip kali.......


07 Juli 2008
Pukul 00:03 WIB