Saturday, March 15, 2008

Aku Hari Ini...

Hari ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kantor Madanika, tempat pengungsian sementara kru P3M setelah beberapa lama tak kemari. Rindu rasanya melihat wajah-wajah orang yang selama ini mengisi hari-hariku dengan segudang canda, tawa, sebel dan juga ilmu. Mereka yang tak kukenal lewat kampus dan sekolah, tapi memberikan begitu banyak hal yang takkan kudapatkan di tempat-tempat itu.

Ah, lama sekali rasanya. Begitu tiba didepan pintu, aku melihat Bang Deni dan Bang Ratno. Wajah mereka ternyata tak berubah sama sekali (gila' lo.....baru juga beberapa minggu gak ketemu...). Bang Deni tetap saja dengan wajah imutnya yang usil. Bang Ratno masih berpenampilan yang konon Kak Indah bilang seksi, senyum simpul dan komentarnya masih saja sama.

Di ruang tengah ada Kak Indah dan Kak Bene. Kak Indah masih tomboy, tapi akhir-akhir ini dia lebih lembut, mungkin lagi jatuh cinta. Kak Bene tetap manis dan keibuan, ah....aku suka sekali padanya. Dia pintar, cerdas, lembut, penampilannya sederhana dan dia adalah produsen buku bacaan yang luar biasa (tempat meminjam buku yang asyik, bukunya bagus, terutama novel sebab seleranya terhadap buku sangat tinggi).

Tak lama kemudian, bang Hasan datang. Dia orang Madanika yang kerap singgah ke P3M, lucu tapi dewasa. Caranya bercanda juga asyik, kadang malah aneh, tapi dia baiiiiiiiikkkkk sekaliiiiii. Lalu Bang Didin bangun tidur, lantas mandi. Dia teknisi P3M, lama juga tak melihat wajahnya yang super cool......

Masih banyak yang belom ketemu, Apri, Bg Cangak, Bg Dimas, dll yang tak dapat disebutkan satu per satu. Hoa......jadi kangen sama suasana P3M yang dulu. But, biarkanlah semua menjadi kenangan yang paling indah, seperti kakak sekoteng yang mengenang P3M dengan mengganti nama sekotengnya menjadi sekoteng 'WARNET' meskipun sekarang dia tak lagi berjualan didepan warnet P3M. Yah....P3M memang akan menjadi hal yang terlalu indah untuk dilupakan oleh semua orang yang pernah singgah ke sana. Sampai kapanpun, mungkin........

Tuesday, March 4, 2008

Kekerasan Dalam Pendidikan


Oleh : Hardianti

Akhir-akhir ini, ibu pertiwi kembali menangisi kelakukan tak pantas dari putra-putrinya. Belum selesai penanganan bencana alam di berbagai wilayah Indonesia, juga belum tuntas permasalahan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, sekarang, giliran dunia pendidikan yang dilibas bencana. Jika tahun 1966, kaum muda bersatu padu menumbangkan kekuasaan Orde Lama, begitu juga dengan tahun 1998 ketika meruntuhkan keangkuhan Orde Baru, maka dalam era reformasi, segelintir kaum muda malah mencoreng wajah dunia pendidikan Indonesia.

Dimulai dengan berita-berita yang menyiarkan pelecehan oleh guru terhadap sejumlah muridnya, kemudian dilanjutkan dengan tawuran dan konflik fisik yang melibatkan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Kini, giliran mahasiswa APDN berebut merampas nyawa orang lain. Tidak puas dengan menganiaya juniornya hingga tewas, mereka malah lebih berani lagi melakukan penganiayaan di luar kampus. Akibatnya seorang pemuda harus meregang nyawa. Ironis memang, karena kasus-kasus itu justru dilakukan oleh mereka yang dipersiapkan untuk menjadi pemimpin negeri ini dan dilatarbelakangi oleh alasan yang sepele. Lantas, dari sejumlah kasus tersebut, timbul pertanyaan ada apa dengan dunia pendidikan Indonesia ?

Kekerasan dan pelecehan yang terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia akhir-akhir ini, bukanlah sesuatu yang muncul dengan tiba-tiba. Namun, semua itu telah tertanam kuat sejak dulu sebelum kemudian akhirnya meledak. Sebagai contoh, masyarakat yang pernah mengenyam dunia pendidikan tentu masih ingat benar dengan istilah MOS (Masa Orientasi Siswa) atau OSPEK (Orientasi Pengenalan Kampus) dengan berbagai nama lainnya. Kedua kegiatan tersebut senantiasa dilakukan setiap tahun untuk menyambut siswa dan mahasiswa baru. Tujuan awalnya adalah untuk memberikan pembekalan, baik materi maupun pengenalan lingkungan sekolah atau kampus kepada siswa maupun mahasiswa baru. Hal ini dianggap penting untuk membantu proses belajar mengajar sebagai kegiatan utama. Sayang, dalam pelaksaannya kedua kegiatan ini justru mengalami penyimpangan tujuan.

MOS dan OSPEK seringkali dijadikan ajang para senior untuk menunjukkan kekuasaan dan senioritasnya. Dalam kegiatan ini, tak jarang mereka melakukan tindakan kekerasan dan pelecehan pada junior. Hukuman seperti push up, lari keliling lapangan, atau di jemur di bawah terik matahari merupakan hal yang biasa. Ditambah lagi dengan bentakan para senior yang kerapkali membuat kecut hati siswa atau mahasiswa baru. Semua itu dilakukan dengan dalih untuk melatih kekuatan fisik dan mental. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, alasan sebenarnya hanyalah untuk bersenang-senang mengerjai junior dan balas dendam atas perlakukan senior terdahulu.

Maka, pada masa-masa awal tahun ajaran, tak jarang terdengar ungkapan "Aku jadi panitia ospek nih, lumayan bise ngerjekan anak baru, dapat baju kaos gratis agik". Tidak hanya sampai di situ, para senior juga mempermalukan juniornya dengan menyuruh membawa dan menggunakan dot bayi, mengikat rambut dengan pita warna-warni, memakai kaos kaki berlainan warna dan lain sebagainya. Semua atribut ini pada dasarnya tidak memiliki kaitan dengan tujuan awal di lakukannya MOS atau OSPEK, melainkan semata-mata sebagai alat untuk mengerjai junior, agar acara semakin meriah. Kedua kegiatan ini juga seringkali dirancang tanpa memperhatikan hal-hal penting yang mendukung aktivitas belajar, sehingga tidak dapat diandalkan untuk menjadi ‘acara pembuka’ yang baik dalam memulai aktivitas akademis.

Kekerasan dan pelecehan yang terkandung dalam kegiatan ini akan terus berulang setiap tahun apabila tidak segera dihentikan. Junior yang sekarang menjadi korban, akan mencari korban lain di tahun depan, terus dan akhirnya membentuk lingkaran setan yang tiada habisnya. Sangat patut disayangkan, kegiatan semacam ini justru telah menjadi tradisi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Tindakan kekerasan dan pelecehan dalam dunia pendidikan, disadari atau tidak, ibarat menanam bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Generasi muda yang terbiasa dengan kekerasan dan tindakan pelecehan akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang kekerasan pula. Maka, bukan hal yang mustahil kalau mereka akan menerapkan kekerasan dalam perilaku keseharian, terutama ketika menyelesaikan masalah. Inilah yang akhir-akhir ini terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia. Tidak hanya pada kegiatan MOS dan OSPEK, dalam aktivitas belajar mengajar yang dilakukan oleh guru dan dosenpun harus menjadi perhatian.

Pelecehan sekecil apapun atau hukuman yang berlebihan turut andil menabur benih kekerasan dalam diri generasi muda. Karena itu, tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan harus sesegera mungkin di tiadakan, agar lingkaran setan yang menjadi bencana dunia pendidikan dapat segera terputus. Oleh sebab itu, semua pihak, baik pengajar, masyarakat, siswa dan mahasiswa maupun lembaga pendidikan harus benar-benar memperhatikan hal ini. Kontrol dan perhatian semua elemen masyarakat terhadap kebijakan pendidikan dapat menjadi tameng untuk menekan tumbuhnya kekerasan dan pelecehan dalam proses pendidikan.

Selain itu, untuk mewujudkan pendidikan yang sehat, maka diperlukan strategi pendidikan yang kuat dan cerdas. Kegiatan pengenalan sekolah dan kampus harus di tata sedemikian rupa dengan asas manfaat, yang benar-benar membantu dalam aktivitas akademis. MOS dan OSPEK diharapkan tidak lagi menjadi ketakutan tersendiri bagi siswa dan mahasiswa baru, namun dapat menjadi gerbang untuk mengasah potensi masing-masing. Lembaga pendidikan juga dituntut untuk proaktif dalam membina siswa dan mahasiswanya, serta mengontrol kegiatan-kegiatan yang dianggap memberikan peluang terjadinya kekerasan dan pelecehan.

Untuk siswa dan mahasiswa serta keluarganya, diharapkan tidak segan-segan untuk melaporkan penyimpangan-penyimpangan dalam proses belajar kepada lembaga pendidikan yang bersangkutan atau pihak yang berwajib. Semua ini penting untuk mencegah kembali terjadinya kekerasan dan pelecehan dalam pendidikan, mengingat pendidikan merupakan ujung tombak dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas demi terwujudnya pembangunan di Indonesia.

Semoga saja pada awal tahun ajaran kali ini dan seterusnya, tidak akan ada lagi siswa dan mahasiswa yang melakukan atau mengalami tindakan kekerasan dalam kegiatan pengenalan sekolah dan kampus. Para pengajar juga diharapkan untuk kembali pada hakikat pendidikan dan tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari tujuan pendidikan. Sehingga, sekolah dan kampus dapat menjadi tempat yang berfungsi sebagaimana mestinya, yakni pencetak sumber daya manusia yang berkualitas sebagai calon pemimpin bangsa, tanpa kekerasan dan pelecehan.
Borneo Tribune, lupa tglnya...

Mencermati Pemilihan Duta Lingkungan


Oleh : Hardianti


Pemilihan duta lingkungan diharapkan menjadi salah satu wujud kepedulian Pemerintah terhadap lingkungan hidup Kalimantan Barat (Kalbar). Hal itu sangat penting mengingat Kalbar memiliki kekayaan alam yang tidak sedikit. Hutan-hutan Kalbar merupakan hutan hujan tropis yang luas, sekaligus menyimpan kekayaan hayati yang sangat besar. Danau Sentarum, daerah rawa terunik di dunia dengan segala keragaman hayatinya, juga bertempat di Kalimantan Barat.
Semua kekayaan tersebut, bukan sekedar memberikan nama besar bagi provinsi yang berbatasan langsung dengan Malaysia ini, namun juga menuntut tanggung jawab yang besar dalam menjaganya. Sebab, banyak tangan-tangan rakus manusia yang tidak henti-hentinya mengeksploitasi alam tanpa memikirkan akibat yang akan dihadapi di masa datang. Bahkan mereka selalu siap mengintai peluang untuk merusak alam demi kepentingan ekonominya sendiri. Hutan yang terbentang di provinsi ini memang milik Indonesia, namun keberadaannya merupakan kelangsungan hidup bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini. Sebagai bagian dari paru-paru dunia, maka semua pihak wajib untuk turut menjaganya.

Oleh sebab itu adanya sosok duta lingkungan, benar-benar diharapkan menjadi motor bagi pemerintah, terutama masyarakat untuk menyelamatkan kelestarian lingkungan. Dia dituntut untuk mampu berinteraksi dengan masyarakat dan pemerintah, mampu melihat keadaan alam yang harus diperjuangkan kelestariannya. Semua itu tidak sekedar membutuhkan pengetahuan umum yang didapatkan dari browsing di internet, atau buku-buku penunjang. Dia harus benar-benar melihat kondisi lingkungan masyarakat, alam Kalimatan Barat, serta mengetahui sikap dan kendala yang dihadapi dalam upaya pelestarian. Masyarakat menantikan seorang duta lingkungan yang memiliki kesadaran, inisiatif, dan keinginan yang besar dalam memperjuangkan kelestarian alam.

Namun betapa kecewanya ketika melihat pemilihan duta lingkungan oleh Badan Penanggulangan Dampak Lingkungan Daerah Kalimantan Barat (Bapedalda Kalbar) yang diselenggarakan Sabtu, 21 Juli 2007 lalu. Pemilihan duta lingkungan dilakukan bak kontes pemilihan Miss Universe. Mereka semua terdiri dari gadis-gadis muda yang cantik, berlenggak-lenggok diatas panggung dengan menggunakan baju adat dan didandani layaknya peragawati.

Sebagai pembuka, mereka, 16 orang gadis kandidat duta lingkungan Kalbar menari dengan anggunnya di atas panggung, sesuatu yang mengingatkan saya pada sebuah ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi. Mereka kemudian dipanggil secara bergantian untuk memperkenalkan diri. Saya kecewa, diantara mereka tidak ada yang memperkenalkan diri sebagai aktivis lingkungan, justru mereka lebih senang memperkenalkan diri sebagai pelajar yang baru lulus SMA, mahasiswa atau bekerja di instansi tertentu. Dalam perkenalan itu, beberapa dari mereka yang menggunakan bahasa Inggris, sesuatu yang memiliki point plus bagi seorang duta lingkungan. Namun, harus diingat bahwa orang pertama yang harus dirangkul dalam upaya menjaga alam adalah masyarakat sekitar, mereka jauh lebih mengerti himbauan yang menggunakan bahasa ibu.

Para kandidat lalu di persilahkan untuk menjawab pertanyaan yang telah disediakan, juga pertanyaan yang diajukan oleh para juri yang sebagian besar berasal dari Bapedalda dan mantan peserta Putri Indonesia dari Kalimantan Barat. Para juri hanya bertanya "Apa yang akan anda lakukan untuk……..", bukan " Apa yang telah anda lakukan untuk..". Sungguh pertanyaan yang sangat teoritis, padahal jika kembali pada upaya pelestarian alam, maka kita akan berhadapan dengan sesuatu yang tidak sekesar teori.

Saya sempat terpaku, ketika para kandidat duta lingkungan menjawab pertanyaan dengan sangat gemulai. Kemudian muncul pertanyaan dalam benak saya, mengapa mereka sama sekali tidak terlihat bersemangat ketika menyampaikan ide tentang pelestarian alam ? Mereka begitu gemulai, seperti menjaga penampilan mereka di mata penonton, sekali lagi saya bertanya pada diri saya, benarkah ini pemilihan duta lingkungan, pemilihan sosok yang akan menjadi ikon upaya pelestarian alam, sebuah pekerjaan yang tidak gampang dan menuntut semangat serta perjuangan yang besar.

Ajang pemilihan duta lingkungan adalah sebuah ajang bergengsi. Tidak itu saja, kegiatan ini juga merupakan wujud kepedulian terhadap pelestarian alam. Orang yang terpilih menjadi duta lingkungan akan mendapatkan penghargaan, sekaligus kesempatan untuk dihargai pendapatnya secara lebih besar oleh instansi pemerintah dan swasta maupun masyarakat. Mengapa apreasiasi sebesar ini tidak diberikan pada pemuda dan pemudi yang benar-benar telah bekerja dan berupaya untuk melestarikan alam ? Ada begitu banyak aktivis lingkungan atau pemuda-pemudi daerah yang telah berjuang demi kelangsungan kelestarian hutan. Bukankah dengan penghargaan sebesar ini akan memudahkan mereka melangkah dan menjalankan program pelestarian alam.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana masyarakat adat Kayaan berjuang mempertahankan kelangsungan hutan di daerah Kapuas Hulu dari tajamnya chinsaw PT. TBS yang mengantongi izin untuk pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Mereka melakukannya bukan sekedar untuk kompetisi, tapi karena kecintaan mereka akan hutan dan lingkungannya. Mengapa gelar duta lingkungan tidak dianugerahkan kepada pemuda atau pemudi masyarakat Kayaan atas perjuangan mereka. Bukankah para generasi mudanya tentu ikut serta dalam perjuangan itu ? Atau mereka, aktivis lingkungan yang berjuang keras untuk membantu masyarakat dalam menjaga hutan dan kekayaan alam lainnya.

Bukankah mereka telah begitu banyak mengorbankan waktu, tenaga dan pemikiran mereka untuk alam. Mereka tidak hanya sekedar tahu tentang Kalpataru atau Adipura yang menjadi pertanyaan para juri pemilihan duta lingkungan, tetapi mereka benar-benar tahu tentang masalah pelestarian hutan, bahkan telah melakukan lebih dari apa yang bisa kita lakukan. Mereka adalah orang-orang yang menanamkan tenaga dan pikirannya serta seluruh pengetahuannya pada upaya pelestarian alam. Mereka bukan hanya baru berpikir tentang ‘apa yang akan’ tetapi mereka ‘telah melakukan’ upaya pelestarian, jauh sebelum kompetisi ini dilakukan, bahkan mungkin jauh sebelum kompetisi pemilihan duta lingkungan ini direncanakan.

Saya berharap semoga prosedur pemilihan duta lingkungan Kalbar dapat kembali dicermati, agar benar-benar kembali pada hakikat upaya pelestarian alam. Sekaligus menjadikan ajang ini sebagai penghargaan terhadap orang-orang yang sungguh-sungguh bekerja untuk kepentingan seluruh umat manusia. Namun, pemilihan duta lingkungan Kalbar 2007, telah dilakukan. Semoga saja duta-duta ini mampu belajar dan berbuat lebih baik untuk alam, mampu memberikan ide-ide cemerlang dan bekerja keras untuk upaya pelestrian alam. Tidak sekedar menjadi pelaksana program pemerintah, namun dapat ikut berjuang bersama masyarakat untuk mempertahankan kelestarian alam.
Borneo Tribune, lupa tglnya...

Kekuatan Tulisan


Oleh : Hardianti

"Kalau kamu mencurahkan tenaga untuk menulis, seluruh dunia akan mendukungmu"
Kata-kata itu lahir pena Pramudya Ananta Toer, seseorang yang telah matang ditempa pahit dan manisnya masa-masa sebagai penulis. Berlebihan mungkin, karena tak selamanya seluruh dunia akan mendukung lahirnya sebuah tulisan. Apalagi tulisan itu berpotensi untuk merobohkan sebuah bangunan birokrasi atau pemerintahan yang pada dasarnya telah bobrok nilai. Terlalu banyak kepentingan-kepentingan yang akan bermain dan menghalagi lahirnya sebuah tulisan. Keadaan ini dimengerti benar, bahkan dialami sendiri oleh Pram, yang menulis ungkapan tersebut.

Namun, bukanlah tanpa alasan seorang Pramudya Ananta Toer menulis frase yang seakan-akan menyanjung seorang penulis hingga ke atas awan tersebut. Dukungan dunia, bukanlah hal pertama yang diperlukan dalam menulis. Ada begitu banyak nama-nama penulis dalam sejarah Indonesia yang tetap memilih untuk menulis meski tanpa dukungan dan berada dalam keadaan terkekang. Ide-ide brillian mereka justru terlahir saat mereka merasakan dinginnya sel penjara, kejamnya tempat-tempat pembuangan atau ditengah pahitnya menjadi orang yang diasingkan. Bahkan dapat dikatakan bahwa ide pendirian, bahkan pendiri negeri ini sendiri berasal dari mereka yang telah begitu terbiasa berkarya dalam keterkekangan, tanpa dukungan.

Lantas apa yang utama dalam menulis ? Pram telah menjawab dalam kalimatnya yang pertama "mencurahkan tenaga untuk menulis". Hal yang paling utama adalah kesadaran untuk mencurahkan tenaga dan pikiran dalam proses kelahiran sebuah tulisan. Layaknya persalinan, selalu ada kesakitan dan dampak yang akan dihadapi sang penulis. Namun, kebahagiaan setelah melihat janin itu berwujud menjadi sesuatu yang lebih besar dan bermakna akan menghapus semua ketakutan pada sebuah proses. Sebab, tulisan bukan hanya deretan kata-kata kosong yang berbaris dalam lembar-lembar kertas, tapi tulisan mempunyai jiwa yang memiliki makna dalam setiap pilihan diksinya. Dengan sendirinya, tulisan itu akan berjuang untuk mencapai tujuan yang telah dititipkan sang penulis, kini tujuan telah menjadi tanggung jawab tulisan itu sendiri.

Penulis dengan tulisannya memiliki cara sendiri dalam berjuang. Hal itu telah dibuktikan dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Dalam membangun kesadaran kebangsaan, dapat dikatakan bahwa para penulis merupakan pondasi sekaligus pilar yang menegakkannya, bahkan menjadi rahim yang melahirkan ide-ide nasionalisme. Tentu bukan sesuatu yang berlebihan, jika kita kembali membaca kisah hidup seorang R.M.Tirto Adhi Surjo, yang dikenal sebagai Bapak Pers Nasional. Dalam hidupnya, dia pernah menjadi orang yang paling diawasi oleh pemerintah kolonial Belanda, bahkan dia adalah lelaki yang harus dibuang dan dijauhkan dari kehidupan bangsanya. Bukan karena dia dengan gagah berani mengangkat senjata dan meledakkan gudang-gudang persenjataan Belanda. Bahkan dia adalah seorang lelaki dengan ukuran tubuh yang relatif lebih kecil dari teman-teman pribuminya. Alasannya hanya satu, penanya menghasilkan tulisan yang mampu membuat rakyat pribumi terbangun dari tidur lelapnya. Tulisannya dengan mudah menjalar dan mengobrak-abrik mimpi indah masyarakat pribumi tentang kekayaan alam Nusantara. Dia menyadarkan mereka bahwa saat ini alam itu sedang dijarah oleh kekuatan asing, bahkan bukan hanya alam, kemerdekaan dan martabat merekapun sedang dirampas.

Tulisan Tirto dengan sendirinya melakukan fungsinya sebagai alat perjuangan. Layaknya penyebaran virus, kekuatan kolonial sekalipun tidak mampu membendung terjangan tulisan Tirto. Sedikit demi sedikit rakyat pribumi mulai terbangun dan sadar, kemudian bergerak melawan, melampaui batas etnik, budaya dan agama, hingga melahirkan pergerakan.

Contoh serupa juga diberikan dengan sangat manis oleh seorang R.M. Soewardi Surjaningrat lewat tulisannya yang berjudul "Ik eens Nederland Was" (Seandainya Saya Seorang Belanda). Sebuah tulisan yang dengan tajam mengkritik cara berpikir pemerintah kolonial Belanda. Tulisan itu menentang kebijakan pemungutan pajak yang dibebankan kepada rakyat pribumi untuk membiayai peringatan kemerdekaan Belanda yang ke 100 tahun. Tulisan Soewardi ini selain disajikan dengan nada yang provokatif, juga dinilai memuat kesadaran politik dan sosial yang tinggi terhadap kebijakan Pemerintah serta keadaan masyarakat pribumi. Bahkan dianggap sebagai esay paling tajam yang pernah ditulis hingga waktu penerbitannya. Sama seperti kasus Tirto, pemerintah kolonial pun tidak sanggup untuk membendung dampak tulisan Seowardi, kendati telah mengumumkan larangan beredar serta penyitaan besar-besaran terhadap pamflet tersebut. Sekali lagi, pemerintah Belanda harus terpukul oleh karya tulis putra-putra terbaik Nusantara.

Perjuangan tulisan masih terus berlanjut, bahkan pena itu sedang berada di dalam genggaman seorang Raden Ajeng. Wanita lembut yang menuangkan kebesaran cita-citanya dalam deretan tulisan yang dikirimkan kepada sahabat-sahabat Eropanya. Kartini menuangkan cita-citanya dalam bentuk tulisan yang berbeda. Jika Tirto dengan ciri kegarangan tulisannya, Soewardi dengan gaya tulisan sopan khas keraton Pakualaman, namun tepat menohok jantung, maka Kartini lebih memilih untuk menelusup dalam relung-relung hati yang lembut.
Tulisan-tulisannya hanya berupa surat-surat dalam kegiatan korespondensi dengan teman-teman wanitanya yang berasal dari Eropa. Namun, kekuatan makna dan ketulusan serta petualangan idenya dalam raga yang terkungkung, mampu menjadi sumber inspirasi bagi berjuta-juta manusia, bahkan hingga ratusan tahun setelah keberadaannya. Kartini adalah sosok lain dari sejarah perjuangan tulisan mencapai sebuah tujuan yang besar.

Tulisan memang sebuah fenomena. Sesuatu yang tak pernah bisa ditebak dan diprediksikan dampak selanjutnya. Begitu tulisan itu tercipta dan sampai ke masyarakat, maka dia akan menemukan bentuk perjuangannya sendiri. Dia dengan kekuatannya mampu membentuk opini masyarakat, bahkan melampaui kemampuan penulisnya dalam meyakinkan orang lain dengan ucapan kata-kata. Tulisan adalah sebuah alat perjuangan yang dahsyat dan memiliki daya ledak yang tinggi, melebihi senjata manapun yang pernah tercipta. Tak jarang sebuah tulisan dapat terus berbicara dari generasi ke generasi membawa cita-cita penulisnya, meskipun sang penulis sendiri telah menyatu dengan tanah airnya. Maka, tentu bukan sesuatu yang berlebihan jika dalam novel tetralogi buruh, Pramudya Ananta Toer menulis bahwa "orang boleh pintar setinggi langit diangkasa, tapi selama dia tidak menulis dia akan hilang dalam peredaran peradaban dan sejarah". Oleh sebab itu, menulis adalah sebuah kekuatan untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang besar yang tak lekang oleh waktu dan dapat melompati batas-batas primordialisme. Namun, lebih dari itu, tulisan harus mengandung kekuatan kebenaran yang diperjuangkan dengan penuh kesadaran. Sebab, tulisan pada hakikatnya adalah "bekerja untuk kebadian".
Borneo Tribune, lupa tanggalnya...

Pendidikan Alternatif Untuk Anak-Anak Jalanan

Oleh : Hardianti


"Sinar matahari terasa menyengat, maklum waktu telah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Asap kendaraan dari berbagai jenis dan merk, terasa menusuk hidung dan sesak memenuhi rongga dada. Namun, bocah-bocah ‘lampu merah’ tampak tak merasakan kondisi yang sama sekali tak menyenangkan itu. Mereka berpindah dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain sambil mengadahkan tangan. Baju mereka lusuh, begitu juga dengan tubuh mereka. Seorang anak menghampiriku. Penampilannya tak kalah lusuh dengan anak-anak lain, rambutnya coklat kepirang-pirangan, akibat terpanggang sinar matahari, begitu pula dengan wajahnya yang hitam dan kotor. Namun, gurat-gurat kebocahan tampak jelas pada wajah dan bening matanya yang menatapku.

Di lain waktu, hujan deras menyelimuti kota. Aku menggigil kedinginan sambil menyumpahi lampu merah yang menyala tepat di jalur yang aku lalui. Namun, sumpahku tak terselesaikan, begitu mataku dipaksa memperhatikan tingkah bocah-bocah ‘lampu merah’. Mereka tersenyum menang, sambil menikmati air yang membasahi tubuh mereka, melompat, berlari dan berpindah-pindah dari kendaraan satu ke kendaraan lain. Dapat dibayangkan bahwa tengadahan tangan mereka tak akan membuahkan apa-apa, karena para pengendara terlalu tak kuasa untuk membuka jas hujan dan dompet mereka hanya demi seorang anak ‘lampu merah’ yang entah dari mana asalnya".

***
Sepenggal cerita diatas adalah sebagian kecil gambaran tentang kehidupan dan aktivitas anak-anak yang ‘berkarya’ di perempatan jalan raya. Mereka menggunakan nyala lampu merah untuk mengadahkan tangan dan meminta belas kasihan dari para pengendara yang berhenti. Tentu saja belas kasihan itu mesti diwujudkan dengan recehan uang yang tak seberapa jumlahnya. Di Kota Pontianak, ada begitu banyak anak-anak lampu merah yang bertebaran di sejumlah ruas jalan utama, meski belum ada data yang lengkap mengenai kepastian jumlah mereka. Namun, jumlah tersebut akan sangat terasa bila melewati sejumlah perempatan jalan di kota Khatulistiwa ini.

Tak dapat dipungkiri bahwa komunitas anak-anak ini adalah sebagian dari wajah kota khatulistiwa, bahkan wajah Indonesia dalam lingkup yang lebih luas. Layaknya anak-anak lain, mereka juga punya andil yang besar dalam menentukan masa depan daerah dan bangsa Indonesia. Sebab, mereka adalah bagian dari generasi muda yang akan menggantikan pemimpin-pemimpin sekarang ini. Dengan kondisi yang demikian, rasanya tidak mungkin mengharapkan kemajuan daerah ditulis oleh tangan mereka. Dalam usia yang begitu belia, mereka sudah diharuskan memanggul beban kehidupan yang berat, terutama masalah perekonomian keluarga. Bahkan, banyak diantara mereka yang tidak sanggup membagi waktu dan kekuarangan biaya, lantas merelakan masa-masa pendidikannya.

Hal ini harus disadari oleh seluruh elemen masyarakat, mengingat masa depan generasi muda dan bangsa ini adalah tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Oleh sebab itu keadaan anak-anak ‘lampu merah’ yang minim akan pendidikan harus dijadikan perhatian khusus dan dicarikan solusinya. Ada banyak program pendidikan yang selama ini dicanangkan, mulai dari bea siswa, Gerakan Nasional Orang Tua Asuh, hingga dana Operasional Sekolah dan lain sebagainya. Namun, tampaknya program-program tersebut belum banyak menyentuh area pendidikan untuk anak-anak ‘lampu merah’. Penyaluran bantuan seringkali tidak dapat mencapai mereka, sebab kebanyakan dari mereka sudah tidak bersekolah lagi.

Memang merupakan suatu hal yang sulit untuk membawa anak-anak yang putus sekolah untuk kembali duduk di bangku pendidikan formal. Mereka mempunyai tanggung jawab dan beban ekonomi yang harus mereka tunaikan. Ketika memasuki area ekonomi, maka hal tersebut sulit untuk dikompromikan, karena tidak hanya menyangkut kehidupan mereka sendiri, tetapi juga seluruh anggota keluarganya. Sebaliknya masyarakat tidak bisa tinggal diam menerima kenyataan bahwa ada banyak generasi muda yang tetap hidup dalam kebodohan di masa depan. Oleh sebab itu, harus ada sebuah metode pembelajaran yang bisa dijadikan pendidikan alternatif bagi anak-anak ini, ditengah aktivitasnya yang tidak mengenal kompromi.

Pembangunan rumah singgah dapat menjadi sebuah pilihan untuk pendidikan mereka. Tempat ini tidak semata-mata untuk melepas lelah bagi anak-anak jalanan. Rumah singgah yang dimaksud adalah sebuah tempat yang dapat dijadikan sebagai sekolah alternatif untuk mereka. Artinya, ada sejumlah kurikulum pembelajaran yang disusun dalam metode yang sesuai dengan kondisi dan aktivitas anak-anak jalanan. Metode tersebut lebih ditekankan pada cara belajar mandiri. Sebab, tidak mungkin menciptakan suasana belajar yang sama seperti di sekolah, mengingat anak-anak ini sulit dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Oleh sebab itu diperlukan sarana dan prasarana belajar yang mampu mendukung metode ini.

Paling tidak, ada sebuah perpustakaan mini dan alat-alat tulis yang dapat digunakan oleh anak-anak ini, ketika mereka berkunjung ke rumah singgah. Buku-buku yang disediakanpun harus menunjang kurikulum dan program-program pembelajaran yang dikembangkan pada mereka, selain buku dan media lain yang dapat memberikan pengetahuan umum. Meskipun metode pembelajaran yang dikembangkan cenderung menekankan pada kemandirian, anak-anak ini tetap saja memerlukan guru untuk mengajari dan mengevaluasi hasil belajar mereka. Hanya saja, guru-guru ini diharapkan dapat lebih bertindak sebagai teman sekaligus mentor. Karena kondisi belajar dan aktivitas mereka tidak dapat disamakan dengan siswa-siswa sekolah umum, maka perlakuan untuk merekapun tidak sama dengan siswa-siswa tersebut.

Selain itu, peran guru-guru tersebut sangat penting untuk memantau perkembangan keilmuan anak-anak ini. Semua itu diperlukan untuk memudahkan mereka dalam proses belajar, sebab akan sulit bagi mereka untuk lebih banyak mengorbankan waktu demi belajar. Kondisi inilah yang harus dipertimbangkan sebaik-baiknya dalam penyediaan fasilitas dan merancang metode belajar untuk komunitas anak-anak jalanan. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan akan tumbuh subur dalam pikiran mereka. Maka, menjadi tugas para aktivis pendidikan dan masyarakat untuk menumbuhkan rasa cinta dan semangat belajar tersebut pada mereka.

Anak-anak ini seharusnya memiliki kesempatan yang sama seperti anak-anak lainnya. Kemampuan merekapun mungkin sama, bahkan lebih dari anak-anak yang dapat mengecap bangku pendidikan formal. Hanya saja, mereka terlahir sebagai anak-anak yang harus memikul beban kehidupan yang lebih berat. Oleh sebab itu, semua masyarakat berkewajiban untuk memberikan kesempatan belajar pada mereka, karena tidak menutup kemungkinan bahwa diantara anak-anak yang sedang berkeliaran di jalanan itu, ada bibit-bibit pemimpin yang selama diharap-harapkan bangsa Indonesia.


Borneo Tribune, lupa tanggalnya....

Thursday, February 28, 2008

Dewasa...

“ Kenapa manusia harus dewasa dan berlari menuju kehancurannya sendiri “.

Begitu sebuah pertanyaan yang kubaca dari serial komik histori karya Ryoko Ikeda. Judulnya Rose of Versailles. Waktu itu, umurku 12 tahun, tepat ketika aku duduk di kelas 1 SMP. Rose of Versailles adalah salah satu judul komik favoritku. Bahkan hingga saat ini, dia punya tempat khusus dalam ingatanku.

Komik itu bercerita tentang seorang putri bangsawan tinggi dari kerajaan Perancis, namanya Oscar De Jarjayes. Sesuai dengan namanya, meskipun putri bangsawan, Oscar tidak dididik layaknya seorang lady. Oscar dibesarkan sebagai laki-laki tepatnya prajurit. Semua itu terjadi karena ayah Oscar, Jenderal De Jarjayes tidak memiliki putra, sementara dia membutuhkan penerus. Hanya ada satu jalan yakni mendidik salah satu putrinya sebagai prajurit yang akan menggantikannya kelak. Dan Oscar, si bungsu dari 7 bersaudara inilah yang harus mengorbankan statusnya sebagai perempuan demi meneruskan posisi yang Ayah.

Oscar adalah prajurit yang luar biasa cerdas, diusia yang belia dia telah mampu menjadi komandan pasukan kavaleri, sebuah satuan pasukan elit di kerajaan. Bukan lantaran Oscar adalah anak dari panglima tertinggi, namun dia mendapatkan semua itu karena kemampuannya yang memang diatas rata-rata. Oscar memiliki seorang sahabat sekaligus pengawal bernama Andre Grandier. Sejak kecil Andre telah menemani Oscar, bahkan dia bersumpah untuk menjaga Oscar selamanya. Andre merasa berhutang budi pada keluarga Oscar yang telah membesarkan dan menolong dia dan neneknya. Bukan hanya karena itu, sejak kecil Andre jatuh cinta pada Oscar.

Oleh sebab itu pula, ketika revolusi Perancis pecah pada 1789, Andre tetap berada di samping Oscar yang kemudian memutuskan untuk menentang kerajaan dan memilih untuk membela rakyat Perancis. Oscar tak rela membunuh rakyat Perancis, dia memilih untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya dan dibuang dari lingkungan kerajaan. Hanya Andre yang tetap disampingnya. Saat akan berperang, di atas kuda putih yang ditungganginya, Oscar berkata :

“ Dre, setelah perang ini selesai, kita menikah...” Oscar membayangkan, bahwa dia dan Andre akan hidup tenang di desa yang jauh dari permasalahan politik dan kekuasaan.

Andre kaget, tapi bahagia. Dia menatap Oscar yang kemudian melesat ke depan memimpin perang revolusi besar itu. Di hari yang sama, mata-mata kerajaan mengetahui bahwa Oscar adalah kekuatan utama prajurit rakyat. Mereka mengincar nyawa Oscar. Tembakan diarahkan padanya, tapi prajurit cantik berambut perak itu mampu menghindari setiap tembakan yang datang. Namun, dia tidak menyadari bahwa sebuah peluru sedang berlari menuju jantungnya. Andre yang melihat tembakan itu, tak ada jalan lain, diapun menyerahkan dadanya sebagai tameng nyawa Oscar. Ketika itulah Andre tumbang bersamaan dengan robohnya semua bangunan harapan yang mereka sematkan. Saat-saat seperti inilah yang membuat Oscar berpikir :

“ Kenapa manusia harus dewasa dan berlari menuju kehancurannya sendiri ?”.

Dewasa berarti kehancuran. Mungkin.
Waktu kecil, Oscar tak pernah protes sedikitpun ketika dia lahir sebagai perempuan, namun dibesarkan sebagai laki-laki. Tapi, dia mulai merasa bahwa semua itu tak adil ketika dia mulai dewasa dan mengenal cinta. Oscar harus kehilangan cinta pertamanya, Van Versent, hanya karena pemuda itu menganggap bahwa Oscar terlalu kuat dan tegar untuk dicintai sebagai wanita.

Ketika kecil, Oscar bisa tak peduli pada penderitaan rakyat, karena dia dibesarkan dan dilatih sebagai pasukan elit kerajaan. Tapi kesengsaraan rakyat Perancis mulai membuatnya galau ketika dia beranjak dewasa dan berpikir tentang kehidupan.

Saat kecil, Oscar tak perlu merasa sangat tersiksa karena kehilangan Andre. Sebab, Andre selalu berada di sisinya, tak sekalipun pernah meninggalkan Oscar. Namun, semua itu menjadi luka yang sangat menyiksa ketika dia dewasa dan memahami bahwa Andre bukan sekedar sahabat, tapi juga sandaran hati dan orang yang sangat dicintainya, di saat yang sama Andre harus pergi selama-lamanya. Semuanya menjadi begitu tidak adil ketika dia dewasa.

***

Pertama kali aku membaca pertanyaan itu, aku berpikir bahwa Oscar salah, karena dewasa berarti pintu untuk bebas. Bebas menentukan menentukan hidup, mengambil keputusan dan bebas dalam segala hal. Kamu bebas menentukan untuk sekolah dimanapun. Meski NEM-mu tinggi, kamu tidak dipaksa untuk masuk ke sekolah favorit, bebas untuk menentukan apa yang ingin kau lakukan, dan bebas untuk memilih jalan yang sesuai dengan hatimu. Pendeknya, waktu itu aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa dewasa adalah kebebasan.

Sekarang aku telah dewasa. Aku berada di depan pintu itu. Hingga sekarangpun aku masih berpikir bahwa Oscar salah. Dewasa tidak berarti kehancuran. Tapi, aku mulai tak setuju dengan kesimpulanku dulu. Dewasa tak semudah yang dulu kupikirkan. Tak selamanya dewasa berarti kebebasan. Banyak sekali yang kemudian mau tidak mau harus mempengaruhi keputusan yang diambil.

Dewasa tak sekedar kebebasan untuk memilih sekolah yang kau suka, meski sekolah itu biasa-biasa saja. Dewasa tak hanya soal kebebasan untuk menyatakan bahwa kau lebih suka menjadi penulis daripada pegawai kantoran atau pernyataan bahwa kau ingin jadi dirimu sendiri.

Lebih dari itu. Dewasa menuntutmu melihat dan memahami semuanya lebih jauh ke dalam. Bukan sekedar keinginanmu, tapi juga harapan orang-orang yang ada didekatmu. Bukan sekedar bahagiamu, tapi juga senyum bangga orang lain. Bukan sekedar lukamu tapi juga kecewa banyak orang. Semuanya, hingga dadamu kadangkala begitu menyesakkan, hatimu terasa begitu terhimpit. Lebih dari apa yang dulu kau rasakan saat dengan terpaksa kau langkahkan kaki menuju gerbang sekolah yang sama sekali tak pernah nangkring dalam otakmu. Lebih dari itu.

Tapi, dewasa adalah saat dimana kau mampu memberikan sesuatu untuk orang lain. Dewasa adalah waktu ketika kau mampu memahami bahwa hidup tidak terpusat pada hatimu, tapi kau adalah bagian kecil dari kehidupan itu sendiri. Saat itu pula dimana kau akan menilai pantas atau tidaknya Tuhan memberikanmu kehidupan. Aku punya kesimpulan baru tentang dewasa. Dewasa adalah tanggung jawab.


23 Februari 2008

Aku, Minggu dan Kajian itu.....

Minggu, 17 Februari 2008 kemarin, aku mengikuti sebuah kajian keislaman. Lumayan buat nambah ilmu yang memang tak seberapa ini. Aku diajak oleh Ambar, temanku. Awalnya jadwal kajian pukul 10.00 WIB, tetapi kemudian Ambar mengirimiku sebuah SMS.

“ Ass ukh dh bngon blm ? O ya!hr ni kajiany g jd jm 10,tp jm 13.ntr ambr jemput jm12.15.lg ngapa?joging yo!biar sehat.” 07: 05: 24 WIB

Aku tersenyum agak lega. Lumayan masih ada waktu beberapa jam untuk membereskan semua pekerjaan rumah. Ada cucian yang masih menumpuk, kamar yang seperti kapal Titanic di saat-saat terakhirnya dan buku-bukuku yang tak pernah diam manis di tempatnya.

Aku berjalan ke ruang tengah, melongok di depan TV sebentar melihat acara yang menjadi favorit seumur hidupku, aneka kartun. Detective Conan belum dimulai, tapi sepertinya hari ini aku harus melupakan kencanku dengan detektive imut itu, yah untuk hari ini aku ikhlas dia ditemani Ran Maori saja.

“ Ti, kalo kerje tuh cepat sikit, katenye mok pegi. Nyuci belom, makan belom. Cepat sikit kerje tuh, depan tepi pulak die” Suara ibuku terdengar merdu ditelinga, namun cukup membuatku terkesiap dan pasrah melangkah ke dapur membereskan meja makan, lalu mencuci pakaian.

Kira-kira pukul 11.00 pekerjaanku selesai. Waktunya untuk makan, mandi, sholat dan lain sebagainya sebelum dijemput Ambar. Sip, jam 12.10 selesai semuanya. 5.....10.....15 menit.... Ya ampun kemana si Ambar ? Aku manyun di ruang tengah menunggu kedatangannya.

Sekitar pukul 13.10 baru kudengar suara motornya di depan rumahku. Yup, tanpa banyak bicara kami pergi membelah kota panas dan juga diwaktu yang panas ini. Sekolah IBM tujuan kami, karena di mushola sekolah itulah tempat kajian yang akan kami hadiri.

Tiba didepan mushola itu, kami bersamaan dengan seorang wanita yang kemudian kutahu bahwa dialah yang memberikan materi dalam kajian tersebut. Kami masuk bersama. Didalam, 3 orang gadis telah menunggu sambil membaca Al Qur’an. Kami memberikan salam, lalu ritual kajian dimulai. Hafalan Qur’an 5 ayat setiap minggunya, aku bengong. ‘kan tidak menghafal, gimana harus nyetor ? ternyata aku juga harus menyetorkan hafalan pada pasanganku, yaitu Ambar. Untung saja dimulai dari surah paling akhir, An Naas. Aku menyelesaikan hafalanku, begitu juga yang lain. Lantas ada beberapa menit jedah untuk melanjutkan kegiatan berikutnya. Aku memanfaatkannya untuk memperhatikan tempat disekelilingku.
Aku belum menanyakan nama mushollah itu, yang jelas dia terletak di sebelah kiri komplek sekolah IBM, didepan asrama siswa. Bangunannya tidak besar, bahkan terlihat sederhana. Dinding dalamnya dari kayu yang dipelitur, ada beberapa tempelan didinding itu, jadwal sholat, kaligrafi dan jam dinding. Karpetnya yang berwarna hijau sudah agak terkelupas dari lantai. Di sudut belakang ada sebuah lemari kecil tempat menyimpan Al Qur’an dan mukena.

Aku jadi teringat pada masjid Al Badar, masjid sekolahku dulu. Betapa rindu memasuki dan sholat di dalamnya. Entah seperti apa keadaan dalamnya sekarang ? Beberapa tahun sudah aku tak pernah ke sana, hanya sering lewat didepannya.

Lamunanku kemudian buyar, karena aku harus memperkenalkan diri, dari perkenalan itu pula akhirnya aku tahu ketiga gadis tadi bernama Tina, War dan Indah. Wanita yang memberi materi belum memperkenalkan diri, karena dia sedang menelpon temannya. Setelah menutup telponnya, dia mempernalkan diri. Namanya Zaleha, guru di sekolah ini, dan keempat temanku ini adalah lulusan IBM, artinya pernah diajar olehnya. Berarti aku sendiri yang kesasar......

Wanita itu tampak lembut, dia kemudian menanyakan motivasiku ikut dalam kajian ini. Aku sudah menduga akan bertemu pertanyaan ini, sebuah pertanyaan yang paling aku tidak suka. Tapi pertanyaan yang seakan-akan wajib ditanyakan pada seorang anggota baru. Aku menjawabnya.

Lalu kami masuk pada sesi tafsir ayat dan materi. Materinya tentang mengenal Allah. Kami harus mencatat pendahuluan materi itu dengan huruf Arab. Waduh, tulisanku hancur sekali dan tak bisa cepat. Alhasil aku kerepotan, tapi untung saja masih bisa kuatasi.

Setelah semua selesai mencatat diapun memulai materi tadi, aku dan teman-teman lain mendengarkannya. Aktivitas itu selesai tepat saat adzan Ashar berkumandang. Kami sholat bersama-sama, Bu Zaleha yang menjadi imam. Usai sholat, kami bersalam-salaman. Meskipun kajian telah selesai, namun tak ada seorangpun dari kami yang meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian War bersuara. Dia mengeluarkan 3 pertanyaan yang dia dapatkan dari seorang temannya. Pertanyaan yang katanya harus dijawab dengan logika, tak boleh menggunakan Al Qur’an sebagai referensi. Aku bingung dengan pertanyaannya, apalagi dengan jawabannya.

“ Saya dapat pertanyaan dari seorang teman, mengapa gereja lebih menonjol dari masjid, padahal’kan Allah Maha Kuasa. Kalau dia mau membuat semua orang menjadi muslim, pasti akan sebentar saja. Jawabannya ndak boleh pakai ayat dalam Al Qur’an “ kata War

Gereja lebih menonjol dari masjid ??? O ya ??? Aku pikir penilaian ini subjektif sekali. Gereja lebih menonjol dari masjid atau sebaliknya, semuanya tergantung pada siapa yang melihatnya, dimana dia melihatnya dan kapan dia melihatnya juga dari sudut pandang apa dia melihatnya. Lalu kenapa dikaitkan dengan kekuasaan Allah untuk mengubah semua umat menjadi Muslim ? Kenapa pula tidak boleh menggunakan Al Qur’an sebagai referensi ?

“ Terus jawabannya apa ?” tanya Bu Zaleha kemudian.

“ Nah itulah letak kekuasaan Allah, dia memberikan manusia akal untuk berpikir untuk memilih jalannya sendiri ...” jawab War lagi

“ Nah, hubungannye ape ?” tanya Bu Zaleha

“ Itu, kekuasaan Allah dengan akal itu supaya kite bisa memikirkannya” katanya lagi.

Aku bengong, tak mengerti sama sekali, hubungannya dengan gereja yang katanya lebih menonjol gimana ? Sedangkan kata ‘menonjol’ sendiri belum dapat dibuktikan keabsahan penilaiannya. Otakku tak dapat menjangkau pikiran mereka, mungkin cara mereka berpikir dan menganalisa suatu pertanyaan terlalu tinggi, tidak hanya dari segi bahasa tapi juga sesuatu dibalik makna. Mungkin.....

Handphone-ku berbunyi memecah kesunyian pikiranku.

“ Ti,u ad d rmh k?kwn kn aq undngn ti “ sender Dewi 16.43.41

“ Maaf Wi, kykx tak bs, yanti agk di sui jawi. Sory honey ” balasku

Aku sedikit merasa bersalah menolak ajakannya. Sudah beberapa kali aku menolak permintaan gadis itu untuk pergi bersamanya, padahal dia baik sekali. Dewi adalah sepupuku, umurnya satu tahun diatasku. Dia gadis yang cantik, tinggi dan langsing, sangat ramah tapi juga peka terhadap perilaku dan sikap orang-orang kepadanya. Tapi setahuku, dia tidak terlalu sensitif dengan sikapku, karena dia tahu benar bahwa aku, sepupunya ini sulit dimengerti dan tidak peka dengan perasaan orang lain.

Sekitar pukul 17.00 kami bubaran dan berniat pulang kerumah masing-masing. Satu per satu anggota kajian ini meninggalkan musholla. Tinggal aku dan Ambar yang terakhir berada di sini. Ambar memboncengku dengan motornya, hanya dua meter dari teras musholla dia berhenti.

“ Kak, bannye bocor ke ?” tanyanya. Aku turun dan melihat ban motor. Benar, tak ada angin sama sekali di ban belakang motor itu.

“ Kayaknye pecah lah Mbar “ jawabku lemah

“ Ha...........dorong lah kite nih” katanya lagi

“ Dimane ade bengkel ?”

“ Depan ade “ katanya merujuk pada gang tempat kami berdiri. Dia lalu memegang stang motor, sementara itu aku mendorong dari belakang. Kami melewati gang kecil yang jalannya di semen, tapi sudah pecah-pecah disana sini. Ambar lalu bercerita tentang masa-masa dia bersekolah di IBM.

“ Dulu Ambar pakai sepeda, kalau sepeda Ambar bocor atau kempes, Ambar doronglah, kadang gak Ambar tinggalkan kalo susah” katanya mengawali cerita.

“ Pake sepeda, jaohlah ye ? Berape lamaklah Mbar ?” tanyaku

“ Dari jeruju ye.... tapi tadak gak jaoh, Ambar’kan suke nembos-nembos jalannye. 15 menet lah “

“ Wah, berarti dari SMA memang pembalaplah ye...” kataku

“ Iyelah, kite...... tapi paleng susah tuh kalau agik banjer, jeruju tuh suke banjer Kak. Ambar bincinglah sepatu Ambar. “

“ Betol, Yanti waktu sekolah kalau ujan, yanti bincing sepatu Yanti. Sayang, sepatu mahal. Waktu kuliah jak, pernah Yanti bincing sepatu Yanti. Jadi baleknye tuh, kan nebeng Nisa, Yanti tak pake sepatu, pake kaos kaki jak. Nisa jadi ngikot hehehehe. orang liat, mane duli..... kalo kaos kaki kan tak mahal” kataku lagi. Kami tertawa.

“ Kite same-same pelit ye.......” ujar Ambar sambil tertawa

“ Ye......Ambar tuh yang pelit, Yanti tadak, Yanti tuh hemat.....hehehehe” jawabku menggodanya

“ Hm....dasar, tinju nanti.....” katanya kesal

Tak terasa kami sudah sampai di ujung gang, tepat di Jl. Rais A Rahman. Bengkel langganan Ambar ternyata tutup. Dia memintaku menunggui motornya sebentar, sementara dia melihat-lihat lokasi bengkel yang lain.

“ Situ’ ade bengkel Kak” katanya menunjuk deretan ruko di sebelah kiri kami. Tak jauh, mungkin sekitar 150 meter.

“ Sip...” kataku seraya mendorong motornya. Kali ini kami berganti posisi, aku yang pegang stang, dan dia mendorong dari belakang. Kami sampai ditempat tambal ban, kami meperhatikan bagaimana ban motor itu dipompa lalu direndam di dalam air. Akhirnya kami bosan, dan memilih meninggalkan tempat itu, kami mencari minuman. Tenggorokan rasanya kering sekali, hari ini aku tak membawa botol minum.

“ Sekalian cari ceres, kawan Ambar titip “ ujar Ambar sambil berjalan

“ Susah nih bejalan same emak-emak “ kataku lagi-lagi menggodanya.

“ Tinju nanti nih....” katanya bernada manja

Kami masuk ke sebuah warung, dan menemukan ceres di sana. Sayang tak sesuai dengan pesanan temannya. Kami lalu keluar dan berjalan lagi, ada sebuah warung es kecil di tepi jalan, kami memutuskan untuk membelinya. Sesuai perjanjian, tidak beli minuman yang mahal, sedang kanker stadium IV (kantong kering sekali). Setelah 5 menit memilih minuman, kami akhirnya sepakat membeli es teh sisri gula batu. Harganya Rp 600 perkantong, jadilah Rp 1200 untuk semuanya. Kemudian Ambar menelpon untuk meminta persetujuan membeli ceres yang tadi kami lihat di warung pertama, temannya setuju. Aku dan Ambar kembali lagi ke warung tersebut untuk sekantong ceres. Setelah itu lalu ke tempat tambal ban, mengambil motor dan bergegas pulang.

Dalam perjalanan kami bercerita tentang banyak hal. Ambar bercerita tentang Ayah~Y nya yang selalu mendukung dan memberinya semangat. Termasuk memberikannya banyak sekali kesempatan untuk lebih maju.

“ Die perhatian tuh same Ambar, die selalu nanyakan tugas-tugas Ambar. Pokoknye perhatianlah same Ambar. Makenye ade ape-ape Ambar pasti cerite same die. Kakak ngiri tuh..... “ gantian dia yang menggodaku

“ Siape yang ngiri ....... ? Iyelah, die ayah Ambar, ambeklah sana. Yanti cari Papah baru jak lah. Nanti Yanti bikin pengumuman ‘Siape yang mok jadi Papah Yanti yang baru?’ Yanti tempel di mading. Siape gak tau, Pak Hermansyah maok jadi Papah Yanti” jawabku asal. Ambar tertawa.

“ mane ade yang maok.....” ujarnya penuh kemenangan.

“ Kalo tak ade yang maok, udahlah, tak jadi pensiunlah Papah Yanti tuh, kite bagi dua’ jak lah ye hehehehehe “. Lagi-lagi Ambar tertawa.

Persahabatan kami memang aneh, kami sama-sama keras kepala, tak ada yang mau mengalah. Seringkali kalau berebut sesuatu, tak ada seorangpun diantara kami yang mengalah, hingga akhirnya kami letih sendiri. Tapi aneh, semua itu membuat kami nyaman berada di dekat satu sama lain, mungkin karena beberapa persamaan yang mendasari hidup kami.

Aku bercerita tentang beberapa mahasiswa yang nilainya banyak tak keluar, ternyata Ambar juga punya stok nama yang tak sedikit untuk masalah yang sama.

“ Heran ye, kuliah bah susah. Duet tinggal mintak, komputer ade, motor ade ape agiklah?” katanya

“ He’eh. Kite jak yang banting-bantingan carek duet maseh nak kuliah. Yanti malah pengen sekolah terus, tak taulah sampai S berape, pokoknye sampai capeklah” sambungku.

“ Samelah Kak, Ambar pon gituk gak. Tak kepikeran yang laen. Ambar nak sekolah nak kerje, banyaklah pokoknye. Banyak sekali cite-cite Ambar nih”

“ Sama dong, Yanti tuh banyangkan, nantik sarjana, trus dapat tugas belajar, bea siswa ke Perancis, waduh....... Sorbonne........”

“ Kalau Ambar Harvard, ah.......ketemu same Bill Kovach......”

Kami kemudian larut dengan impian masing-masing. Dengan impian yang tinggi sekali seperti matahari yang sedang memerah di ufuk barat itu.

“ Eh, nanti kite ketemuan ye, sekali-sekali Ambar yang ke Perancis, nantik Yanti yang ke Amerika “ ujarku agak gila

“ Oh... tenang Kak, kite ketemualah pokoknye.....”

“ Amin.....” ujar kami bersama.

Tak terasa aku dan Ambar telah sampai di depan rumahku, setelah mengucapkan salam perpisahan dan sedikit cekikikan, kami berpisah. Dia harus melanjutkan perjalanannya di sore yang hangat ini. Aku masuk ke dalam, inilah hariku, hari ini. Thanks for Today, Ya Allah.


17 Februari 2008