
Aku rindu rumahku
Sebuah tempat kecil di atas bukit kasih
Tempat kami duduk bersila untuk makan malam dengan lauk sederhana
Tertawa dan bercanda di atas tikar pandan yang mulai rekah termakan usia
Rumahku
Dipan-dipan kayu tempat kami bercerita tentang kepenatan hari
Duduk di bawah bulan sambil menggunting daun kamboja yang kering
Lalu membayangkan masa depan dengan menghitung bintang yang berserakan
Rumahku
Sebuah tempat yang kadang tak berpelita dalam gelap
rembesan air dan bocor atap ketika hujan di tengah malam
Terbangun bersama dan ter tawa menadah air dalam wadah
Dulu itu rumahku
Ketika semua derita akan berubah menjadi tawa saat melewati halaman
Segala perih terhapus dalam gelak canda di ruang tamu
dan kerinduan akan terbayar dalam kehangatan ruang keluarga
Kini, rumah itu tiada
Tempat kecil itu tenggelam bersama jasadnya di pekuburan tanah
Tercerabut bersama desah nafasnya yang patah
Kosong seketika seiring detak nadinya yang tak ada
Rumahku kini tiada
Tinggal aku yang seorang papa
Tanpa rumah
Tanpa pulang