Thursday, March 8, 2012

KANGEN...

Kangen. . .kgn. .kgen. . .kgen. .kgen. .sama kMu. .semuA. . A A A A A A A A A A A A A A A A Dmana dsmpan snyjm waktu it. . Saat mta kian memerah. . Hati kian resah. . Ada kalian bwt menahn mta ini basah. .” sender I

SMS itu begitu saja masuk ke HP ku. Malam, saat aku benar-benar lelah, ingin segera tidur dan tak memikirkan apapun. Pesan singkat itu segera menyita seluruh perhatianku. Mengingatkan pada saat-saat terbaik yang pernah kulewati bersama orang-orang terbaik pula, termasuk I. Kami semua bersahabat, sekumpulan, senasib kadang sependeritaan.

Dulu, kami seringkali menghabiskan waktu dan pulsa hanya untuk saling bertanya hal-hal yang tak begitu penting atau sekedar mengirim kata-kata lebay untuk mengungkapkan betapa setiap kami begitu berharga untuk yang lainnya. Saat-saat biasa terasa begitu istimewa, lebih dari sekedar hari untuk memperpendek usia. Lebih dari sekedar waktu untuk menambah lama masa kuliah. Semuanya lebih dari sekedar rutinitas dalam keseharian.

Masalah bukan halangan untuk kami bergila dan tersenyum renyah. Tak ada yang tak bisa kami selesaikan saat bersama, pun tak ada yang biasa saja ketika kami berkumpul. Semuanya menjadi tak biasa.Aku tersenyum sendiri menatap SMS itu. Lagi-lagi pesan itu mengingatkanku pada banyak hal di masa lalu.

I bukan orang yang biasa mengobral perasaannya. Juga bukan seseorang yang mudah memperlihatkan apa yang dia pikirkan. I lebih suka menyimpan semua itu rapat-rapat dalam senyumnya yang juga tak mudah didefinisikan. Aku hanya berpikir, mungkin malam ini I benar-benar kgen dengan masa lalu... Atau I sedang menghadapi sesuatu yang tak mudah hingga butuh ”penahan mata ini basah” ataw mungkin kenangan itu sendiri yang membuat ”mta kian memerah dan hati kian resah. .”

Teringat kata seorang sahabat lain sambil merebahkan dirinya di lantai. ”Kadang saye merasa bahwa seharusnya tak ade yang membuat celah diantara kita,” ujarnya. Lalu sahabat lain juga kepergok menangis dan mengaku bahwa dia merasa terasing dalam suasana yang berbeda. Ada lagi yang berkata kalau dia begitu kehilangan.

Semuanya berubah saat kami mulai berjalan di jalan kami masing-masing. Saat tuntutan masadepan dan hidup tak mau berkompromi dengan waktu. Seberapapun kami mempertahankannya, tetap ada yang berubah. Waktu kami tak lagi sepenuhnya saling memiliki. Pikiran kami tak lagi saling memberi tempat seluas dulu, meski perasaan kami tak pernah mengerucut. Perasaan itu masih sama, malah bertambah besar dengan kerinduan akan kenangan yang indah.

Aku pernah merasa bahwa hari-hari ku kini tak seberwarna dulu. Aku kini tak hanya bergulat dengan ”kerja cinta” bersama mereka, tapi juga banyak hal di tempat lain yang kadang tak terlalu kunikmati tapi harus kulakukan. Kesadaran bahwa takkan ada yang tak berubah akan membuat kami semakin dewasa.

Friday, February 24, 2012

Negeri City Hunter

Semingguan ini, Rika, Icha dan aku sedang gandrung menonton salah satu drama terkenal dari negeri Ginseng, Korea Selatan. Judulnya City Hunter. Menikmati akting brillian Lee Min Ho membuat kami terpana. Sosoknya, wajahnya juga jalan cerita yang luar biasa membuat kami rela duduk berjam-jam di depan layar computer. Bahkan, Rika sampai rela membeli CD nya.

Ada yang menggelitik pikiranku. Pengkhiatan para petinggi Negara dan patriotisme yang diramu secara apik dalam kisah itu, membuatku tertarik. Drama tersebut menggambarkan tabiat para petinggi yang rasanya akrab di telingaku. Mereka mengambil dana pendidikan, kesejahteraan rakyat, pemotongan dana proyek di sejumlah pos pemerintahan, juga negosiasi illegal untuk penunjukkan perusahan tertentu dalam tender-tender Pemerintah atau yang dikenal dengan mafia proyek. Semuanya tergambar seperti sebuah kilas balik yang mengejek dan menertawakan kondisi kebenaran yang tertindas dalam sebuah bangsa yang katanya besar.

Korupsi digambarkan seperti gurita yang menancapkan banyak kaki hingga ke akar birokrasi, menggoyang tatanan demokrasi dan menimbulkan ketakutan-ketakutan yang lama-lama menjadi biasa dalam kehidupan masyarakat. Mahalnya biaya pendidikan tak lagi mengganggu, karena masyarakat sudah pasrah untuk tidak melanjutkan ke perguruan tinggi yang biayanya amat tinggi dibanding rata-rata nilai pendapatan penduduk. Kelaparan dianggap sebagai dosa pribadi yang tak ada sangkut pautnya dengan Negara. Masyarakat terlalu lelah untuk bersuara, hingga tak kuasa lagi berkata.

Namun demikian, para petinggi itu bisa tersenyum penuh rasa simpati ketika membiacarakan kelaparan dan penderitaan rakyat. Satu demi satu mereka menjual isu kemiskinan dan mempertontonkan penderitaan untuk meraih suara dalam pemilihan legislative maupun eksekutif. Dibelakang acara-acara formal dan diskusi public, mereka justru mulai menghitung berapa besar kekayaan yang didapat dari hasil menjual jiwa bangsanya. Itu yang tergambar dalam negeri City Hunter.

Menggelitik, karena lagi-lagi ada yang akrab di telingaku. Para petinggi yang ditangkap jaksa dalam drama itu, selalu tiba-tiba tak sehat. Hampir semua dari mereka secara bersamaan mendadak kenal dekat dengan dokter dan hobi berkunjung ke rumah sakit. Secara misterius, mereka juga amnesia. Lupa pada kejadian-kejadian yang ditanyakan jaksa. Tabiat yang akrab kudengar lewat tayangan berita malam. Mau tak mau cerita tersebut mengingatkan pada negeriku. Tanah tempatku berpijak yang dalam keadaan sadar, ku tempatkan di sudut istimewa dalam hati. Ya, negeriku.

Kadang geram menyaksikan drama itu, kadang tertawa. Tapi di sudut hati yang istimewa tempat negeriku bersandar, ada rasa letih yang dalam. Rasa letih karena telah menertawakan negeriku sendiri. Rasa letih yang sudah terlalu muak dengan tabiat tak bermoral yang pertontonkan orang-orang terhormat. Aku tidak seperti ada dalam dunia city hunter, aku ada di duniaku, di negeriku.

Lembut tapi terasa, ketika ada harapan agar city hunter hadir di negeriku untuk mempermalukan para petinggi yang mencuri hak rakyat itu. Perasaan itu diam-diam menyelinap begitu saja, ketika rasa tak percaya, muak dan lelah pada keadaan negeri ini membuncah.

Terlalu tinggi jika aku berharap bahwa Abu Bakar Siddiq atau Umar bin Khattab lahir kembali untuk menjadi pemimpin negeriku. Mereka terlalu sempurna untuk negeriku yang jiwanya ‘digadaikan’ pada kehancuran. Karena sulit mencari pemimpin, aku hanya berharap negeri ini punya city hunter. Kalaulah boleh, aku hanya ingin city hunter negeriku adalah seorang biasa yang kadang-kadang mungkin minum satu-dua gelas bir dan kadang-kadang tertawa dengan suara yang besar dan ngebut di jlan raya. Seorang biasa yang juga bisa tertarik untuk mencoba hal-hal menyenangkan tapi tak bermanfaat. Seorang yang sangat biasa, namun tahu benar bahwa lapar itu sangat pedih, tahu bahwa miskin itu sakit dan bodoh itu memalukan. Dengan begitu, dia tahu bahwa mengambil hak rakyat untuk hidup sejahtera adalah kejahatan kemanusiaan dan dengan senang hati menangkap para penjahat kemanusiaan itu, walaupun kadang harus memotong jalur hukum. Di sisi lain, aku juga berharap ada jaksa Kim Yong Ju, jaksa jujur yang mati-matian membela hukum dan rakyat. Kalau itu juga tak mungkin, ya sudahlah…

Thursday, October 20, 2011

Hidup Dengan Kebanggaan

Aku tersentak oleh getaran handphone ku. Satu nama yang sangat ku kenal tampil di layarnya. Papah-koe, begitu huruf demi huruf itu tersusun. Kupandangi sebentar. Sejak tadi, beberapa panggilan dan SMS masuk ke HP ku, tapi aku mengacuhkannya. Kali ini tidak. Sebab, Papah adalah temanku, seperti nisa, seperti ambar, icha dan Erika. Mereka punya arti yang berbeda.

Aku lupa redaksi SMS itu, yang kuingat hanya papah ingin aku bertandang ke ruangannya. Ini pasti soal SMS yang kukirim padanya. Aku juga lupa bagaimana redaksi SMS yang ku kirim, tapi intinya memberitahukan bahwa aku tak bisa ujian dan wisuda.

Saat itu, aku sedang duduk di kursi operator radio Prokom, radio kampus ku. Mencoba untuk bercanda dan tertawa dengan adik-adik tingkat yang sedang nongkrong di sana dan seorang teman yang berprofesi sebagai dosen, sekedar untuk mengembalikan kondisi perasaan yang sempat berantakan. Setengah jam sebelumnya, aku menghabiskan hampir setengah jam paling menghancurkan dalam sejarah pen-didik-anku. Hampir setengah jam aku mengunci diri di WC mahasiswa yang pasti tak harum, hanya untuk menangis meratapi kegagalanku. Gagal ujian dan wisuda.

Jangan tanya mengapa harus WC, karena tentu saja tak ada tempat yang baik untuk menangis di kampus ini. Direktur Pendidikan Tinggi Kemenag mungkin tak pernah berpikir untuk menyediakan sebuah ruangan agar mahasiswa yang sedang mengalami kegagalan sepertiku dapat menangis. Karena tak ada ruang khusus, WC menjadi tempat paling aman untuk menangis. Tak seorang pun akan melihat dan mendengarku di sini, dan satu bak air akan membasuh wajahku usai menangis untuk menghilangkan jejak sedih. Tempat yang sempurna, walaupun bukan tempat yang nyaman.

Aku menangis, ya aku menangis saat itu. Bukan karena aku ingin ujian dan wisuda, tapi aku butuh kedua moment itu. Aku sangat butuh saat itu. Tahun itu adalah waktu yang kujanjikan pada ibuku untuk menyelesaikan kuliah, dan dia sangat ingin menghadiri acara wisudaku. Pada saat sakit kerasnya, dia masih berkata bahwa dia ingin sembuh untuk acara itu. Dia sangat menginginkannya. Lantas, saat dia pergi untuk selamanya, aku masih yakin bahwa aku bisa memenuhi janjiku walaupun tanpa kehadirannya.Justru karena dia tak ada, aku harus memenuhi janji itu.

Waktu wisuda telah dipatok. Entah kebetulan apa, perayaan wisuda bertepatan dengan peringatan 100 hari ibuku meninggal. Aku semakin gencar mengejar moment itu. Ya, aku butuh moment itu untuk memenuhi janjiku, aku butuh untuk mengobati rasa bersalahku, dan aku butuh untuk rasa kehilanganku. Aku membutuhkannya. Sangat membutuhkannya. Bahkan untuk mengejar moment itu, sesaat setelah pemakaman ibuku, aku langsung membuka laptop dan melanjutkan skripsiku. Aku harus menyelesaikannya tepat waktu, bersedih dapat kulakukan setelah skripsiku selesai. Itu yang kupikirkan sambil mengetik. Tapi, ternyata aku kehilangan moment itu. Sebuah keteledoran masa lalu membuat nilai mata kuliahku tak keluar.

Skripsi yang terhitung ratusan halaman, IP yang tiga-delapanan, track record pendidikan yang tak bermasalah yang sempat menjadi modal kepercayaan diriku untuk mengurus nilai, seketika tak berarti apa-apa lagi. Ah, semuanya seperti runtuh di depanku.

Dalam kasus ini, aku tahu dengan baik bahwa aku salah. Sebab, aku jelas melanggar aturan. Aturan yang ada, mahasiswa dapat mengurus nilainya selambat-lambatnya 2 minggu setelah nilai keluar dan ditempel di mading jurusan. Itu aturannya, dan aku tahu betul akan aturan itu sejak awal-awal kuliah. Tapi aku melanggarnya. Aku juga tak mengulang ketika mata kuliah itu diadakan lagi untuk adik tingkatku. Aku justru mengurus nilai itu setelah hampir 3 semester berlalu. Itu tentu sangat keterlaluan. Sangat dimengerti jika nilaiku tak keluar. Tapi, jujur saja, aku kecewa saat itu.

Aku sempat tersenyum nyinyir mengingat setengah jam itu dan tak percaya bahwa aku telah melewatinya. Aku melangkah menuju ruang Papah. Seorang teman ikut bersamaku. Dia punya urusan dengan Papah. Ketika sampai, aku membiarkannya untuk lebih dulu bicara. Entah berapa lama sampai dia mohon pamit padaku dan Papah.

“Saye tak pernah wisuda sampai saye jadi Doktor,” kata Papah.

Dia lalu menjelaskan betapa tak berartinya wisuda. Hanya sebuah pesta perayaan menyelesaikan kuliah, padahal sesaat setelah pesta itu berakhir banyak diantara wisudawan yang kebingungan mencari kerja dengan status sarjananya hingga berakhir dengan sebutan pengangguran kelas atas. Ironi, begitu kami menyimpulkan moment itu. Aku dan Papah beberapakali memiliki pandangan yang sama tentang sesuatu, mungkin karena pemikiran kami yang sedikit abnormal dibanding mainstream. Aku berpikiran yang sama tentang wisuda, tapi kondisinya berbeda. Aku butuh, itu saja. Karena itu, aku tetap saja merasa tergeletak di lantai paling bawah di ruang paling gelap dengan aroma yang pengap. Itu memaksaku untuk sakit.

Kami lalu bicara soal nilai itu. Dia bangga karena aku tidak mengambil jalan pintas yang dilakukan oleh anak-anak bermasalah di kampusku. Menghadap Kaprodi atau Kajur, lalu mendapatkan selembar surat untuk mengurus nilai ke dosen dan dapatlah nilai. Dia bilang, dia benci cara itu. Papah sempat kaget karena mengetahui ada mahasiswa yang ujian, padahal ada nilainya yang nyangkut di Papah.

“Nilai die tak saye keluarkan, entah darimane die dapat nilai tuh. Ngadap saye pun tadak,” begitu kata Papah ngomel. Dia tak suka itu. Dosen punya hak preogatif untuk soal nilai mata kuliah yang diampunya. Dia tak suka cara anak itu, dan tak mengerti bagaimana secara prosedur, anak itu dapat ‘diizinkan’ melakukan cara itu. Hak dosen dilanggar.

Entah bagaimana kabar tentang nilaiku tersiar. Seingatku, aku hanya memberitahu orang-orang terdekat, yang aku tahu pasti tidak akan bocor dari mereka. Tapi, ini kampus. Apa yang tak diketahui disini? Sejak itu, beberapa orang yang cukup populer di kancah birokrasi kampus sempat menawariku jasa untuk membantu bicara pada pak dosen, sebab beliau-beliau kenal baik dengan Pak dosen. Aku menolak. Ini masalah mahasiswa dan dosen, tak lebih dari itu. Pikiranku memaksaku untuk tetap pada jalur seorang mahasiswa, sebab aku seorang mahasiswa bukan birokrat. Aku akan menghadap dosenku, mendiskusikan masalah itu untuk kemudian menunggu keputusannya. Tidak fair rasanya melibatkan orang lain. Tak boleh begitu.

Lalu, aku ditawari cara. Aku disuruh ke rumah pak dosen, biar lebih akrab dan santai. Bersilaturahmi, begitu bahasanya, tentu saja sambil mengurus nilai. Ini pun kutolak. Kupikir, aku kuliah di kampus bukan di rumahnya. Maka, soal nilai juga harus diselesaikan di kampus. Jadi, itu tak boleh. Itu bukan cara seorang mahasiswa, itu cara para politikus. Aku bukan politikus, memanfaatkan suasana kekeluargaan bukan keahlianku.

Karena itu, aku sempat shock ketika tahu bahwa seorang dosenku berinisiatif untuk menghadap Pak Dosen agar dapat membantu mengeluarkan nilaiku. Aku berterimakasih atas kepeduliannya, tapi aku tak mau itu. Jika saja aku tahu, pasti aku akan menolaknya. Aku ingin nilaiku keluar, tapi aku tetap punya batasan apa yang boleh dan tidak boleh aku lakukan. Itu penting, begitu Papah sering berkata padaku.

“Jadi, harus ngulang?” Papah bertanya.

“Ho oh, satu semester lagi,”jawabku.

“Tak apelah, sambil sempurnakan agik jak skripsinye.”
Aku tersenyum kecut. Mungkin wajahku lebih terlihat seperti menyeringai daripada tersenyum. Papah pasti melihat kondisi itu.

“Ti, saye yakin suatu saat Yanti akan jdi orang yang sukses. Karena itu, siapkan dari sekarang, jangan buat celah yang orang bise meragukan kualitas Yanti. Yanti bise lewat jalan pintas macam budak-budak tu, tapi suatu saat orang-orang akan ngomong, ’Budak tu dulu mintak-mintak nilai.’ Kalo macam itu, ape artinye?” kata Papah sambil menatapku tajam.

“Hidup dengan kebanggaan itu penting, Ti. Itu jaminan atas kualitas kite. Orang tak bise meragukannye,” begitu Papah memberiku semangat. Dia katakan dia bangga padaku. Hari itu, Papah menjadi satu-satunya orang yang mengatakan bahwa dia bangga padaku walaupun aku gagal. Aku merasa benar dengan apa yang tidak aku lakukan dan aku merasa benar dengan apa yang aku pilih. Saat itu aku berharap sekali bahwa ibuku akan mengatakan hal yang sama dan aku yakin itu. Setelah hari itu, sahabatku-sahabatku yang lain juga datang untuk menepuk punggungku seraya tersenyum.

Setahun berlalu. Kini moment wisuda kembali. Mahasiswa berbondong-bondong mendaftar ujian agar dapat wisuda tahun ini. Aku tidak menjadi bagian dari mereka. Aku telah ujian beberapa bulan lalu. Nilaiku dulu telah keluar seiring berlalunya semester. Ujianku terbilang cukup baik dengan nilai yang konon katanya cukup maksimal. Badai telah berlalu, begitu aku menyebut diriku.

Beberapa hari lalu aku kaget dengan cerita temanku tentang nilainya. Gadis cantik yang imut-imut itu satu angkatan denganku. Nilainya bermasalah sama sepertiku dulu dengan dosen yang sama pula. Wow, kau lebih berani dariku, kawan. Aku saja ditolaknya setahun yang lalu, apalagi kamu yang lebih lama setahun dariku,begitu pikirku.

Temanku itu lalu menanyakan pengalamanku sebagai mantan mahasiswa bermasalah. Aku mendukung keinginannya untuk mengurus nilai itu, tapi berkaca dari pengalaman, aku memintanya agar tak berharap banyak. Begitulah pertemuan kami.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa nilainya keluar, walapun tak maksimal. Dia menghadap ke Ketua Jurusan untuk mendapatkan surat rekomendasi agar dosen dapat mengeluarkan nilai. Aku senang, tapi jujur saja, aku juga terkejut. Satu sudut gelap hati manusiaku merasa harus mempertanyakannya. Apalagi, untuk mengurus semua itu, dia hanya butuh waktu beberapa hari, tak sampai seminggu. Lalu, temanku melenggang ke ruang ujian. Sifat sombongku muncul, aku merasa skripsiku lebih baik, IP ku lebih tinggi, sejarah kuliah dan aktivitas kampusku lebih baik, pilihanku lebih benar. Tapi, apa begini? Ah, ternyata ada lampu yang mati di satu sudut hatiku.

Beberapa saat kemudian, aku mendengar bisik-bisik tentang temanku dan nilai itu. Tak sedap juga didengar. Ujiannya tak begitu baik, beberapa penonton menghubungkannya dengan nilai yang tak genap prosesnya. Aku terdiam. Sesuatu yang sesaat tadi terhimpun di sudut hati yang mati lampu. “Hidup dengan kebanggaan” begitu istilah Papah. Pasti akan terasa berat, tapi jangan memberi celah agar orang dapat meragukan kualitas kita. Itu yang tadi aku lupa.

Ah, jariku terasa gatal untuk mulai memencet keypad HPku. Ingin mengirim pesan singkat pada Papah. Tak banyak yang ingin ku tulis, hanya ingin bilang “Pah, terimakasih telah membantuku untuk memilih sesuatu yang benar dan terimakasih untuk bangga padaku”. Terimakasih, Pah, dan terimakasih untuk ssahabat-sahabatku yang selalu percaya pada jalan yang kupilih. . .

Wednesday, October 5, 2011

Wisuda

Aku tak mau wisuda. Tidak salah'kan? Aku tidak salah, tentu saja. Aku mungkin berbeda, tapi aku sangat yakin bahwa aku tidak salah. Ini hanya soal pilihan. Aku hanya tak mau repot memakai kebaya dan kain songket atau batik, untuk kemudian menutupnya dengan jubah besar wisuda, hingga kebaya dan kain yang susah payah dipakai itu justru tak kelihatan.

Aku hanya tak mau memakai kasut high heels yang mungkin akan membuat kakiku sakit semalaman. Aku juga tak mau memakai make-up tebal yang dapat membuatku tidak menikmati makan dan minum selama acara berlangsung.

Aku hanya tak ingin menjadi boneka pada hari itu untuk sebuah kebanggaan menjadi sarjana. Pesta yang digelar untuk merayakan lahirnya seorang intelektual baru, lalu sejam kemudian menjadi pengangguran berintelektual.

Aku hanya tidak mau.

Sejak awal, aku tak mau wisuda. Aku ingin meraih gelarku, tanpa harus berjalan menuju altar suci itu. Tanpa harus disebut namaku, lalu menunduk agar pemegang gelar tertinggi di kampus dapat memindahkan seutas tali di atas topi yang ku pakai. Pindahnya hanya 2 cm saja, tak lebih dan tentu saja masih nangkring di topi. Aku sendiri bisa memindahkannya lebih jauh.

Mungkin Tuhan mendengar ocehan2ku, hingga aku tak dibiarkannya untuk wisuda tahun lalu, saat aku benar-benar membutuhkan moment itu. Aku butuh, bukan mau atau ingin.
Lalu saat ini, aku lagi-lagi harus menghadapi moment wisuda. Sekali lagi, aku tak mau wisuda.

Tapi apa aku punya pilihan? Benar kata Nas, di luar sana ada orang yang pegang kendali. Aku tidak berhak memutuskan sendiri, ada yang juga memiliki hak atas moment itu. Bahkan, dia memiliki hak yang jauh lebih besar dibandingkan hak yang kumiliki. Dan kemungkinan besar, aku harus wisuda karenanya.

Ingin sekali bisa seperti Prince Moon Seong yang tidak datang dalam pesta pertunangannya, karena dia memang tak menginginkan pertunangan itu. Meskipun, setelah itu dia harus menanggung banyak resiko. Ingin juga seperti Oscar yang meninggalkan pasukan kavaleri istana dan lebih memilih memimpin pasukan rakyat Perancis dalam revolusi th. 1789. Walaupun akhirnya dia harus tewas.

Ingin sekali menolak moment itu, sangat ingin. Tapi, aku tak punya alasan untuk menolaknya. Aku tidak sedang berhadapan dengan pesta pertunangan yang tidak diinginkan. Aku juga tidak sedang berperang untuk membela rakyat yang didzolimi. Aku hanya sedang berhadapan dengan suatu moment yang ditunggu-tunggu oleh para sarjana yang belum di’baptis’, suatu moment yang seakan-akan lebih legal dibanding ijazah sarjana sendiri. Moment yang sangat ditunggu dan akan menjadi yang paling dikenang. Lalu ada apa denganku? Entahlah, aku hanya tak mau wisuda. Sebab, aku tahu pasti, beberapa jam itu pasti akan sangat menyiksak. Sangat menyiksaku, tapi tetap saja harus kulakukan...

Tuesday, September 27, 2011

Bicara pada Luka

Luka...
Aku sedang menikmatimu
Perihmu yang merajam ulu hatiku
Tetes darahmu dan goresan yang kau toreh di dinding hatiku

Luka...
Aku masih menikmatimu
membiarkan pedihmu menebarkan siluet merah di sudut-sudutnya
Terus menikmatimu

Luka...
Aku bicara padamu
Katakan semua tentangmu
Dan tentang kesakitan itu

Tahukah kau...
Kini aku mengundangmu untuk datang padaku
Jangan ragu untuk melukaiku

Karena aku akan menertawakanmu
Menertawakan perihmu yang tak mampu membelenggu kebebasanku
menghinakan pedihmu yang malah menegakkanku
Aku akan mengejek kelemahan goresanmu

Luka...
datanglah padaku tanpa ragu
Karena, ketika kau tebarkan kesakitan dan perih itu
Aku akan mengajarimu tentang arti bertahan dalam kehidupan

Saturday, September 24, 2011

Ruang Kenangan Itu...

Semua hal akan berubah dalam kehidupan ini, takkan ada yang tetap seiring waktu yang berlalu. Meskipun demikian, ada hal-hal yang tak pernah tergantikan.

Desir halus itu menelusuk diam-diam di hatiku. Terpaku sebentar, hingga tak beriak darah ini untuk sejenak. Ruangan ini telah berubah. Kursinya bertambah banyak, dan ditempati oleh wajah-wajah sumringah yang bersemangat. Aku masih berdiri di depan pintu. Dulu, tak banyak kursi di sana, seingatku hanya ada beberapa. Di sana, ada tempat dudukku.

Aku menoleh sejenak pada mereka yang ada di sampingku. Tampaknya, mereka juga sepertiku. Terpaku sebentar. Aku mengingat bahwa kami-lah yang biasa bercengkerama di situ. Tertawa, bercanda, dan adakalanya kami berlinang air mata di tempat itu. Tempat itu tak selalu indah. Kami juga pernah bertengkar, hingga rasa sakit menusuk-nusuk hati untuk beberapa waktu. Entah bagaimana, tempat itu lagi-lagi mempersatukan kami. Itulah tempatnya, tempat kami yang kini jumlah kursinya bertambah banyak.

Aku masih berdiri di depan pintu, ada perasaan takut untuk masuk ke dalam. Aku ingin sekali melihat, apakah kursiku masih ada di sana. Tapi, kakiku bersikeras untuk berhenti di depan pintu. Diam-diam, aku pergi dari ruangan itu.

Entah sejak kapan, seorang anak yang duduk di ruangan itu mengikutiku keluar. Dia tersenyum ramah, dan berusaha untuk bicara padaku.

“Kenapa pergi?” tanyanya polos.

“Aku?” kataku.

“Iya, kamu. Kenapa pergi? Ayolah, masuk dan bergabung bersama kami,” katanya tersenyum.

“Aku? Aku hanya datang untuk melihat ruangan itu, karena sudah beberapa waktu aku tidak ke sana.”

“Tapi, di sana masih ada tempatmu. Kamu bisa bergabung bersama kami. Aku biasa mendengar tentangmu yang sering bermain di sana. Di dinding ruangan itu masih ada pahatan namamu,” katanya menjelaskan.

“Apakah kursiku masih ada di sana?” tanyaku.

Dia kemudian menatapku dengan wajah yang memancarkan rasa bersalah. Suaranya berubah sendu. “Aku tidak mengambil tempatmu. Kursimu masih ada di tempatnya, bahkan aku tak menyentuhnya. Aku hanya duduk di sampingmu, aku berharap suatu saat kita akan bermain bersama di sana. Jika kamu merasa tak nyaman dengan keberadaanku, mungkin aku bisa pergi,” katanya lagi. Dia menunduk .

Aku menatap wajahnya dalam-dalam. Anak itu tentu tak berniat jahat, dia memang tak bermaksud mengambil kursiku. Dia mungkin justru menjaganya. Aku tersenyum menatapnya.

“Aku tahu dan aku tak menyalahkanmu. Aku hanya ingin memastikan bahwa ruangan yang berharga itu baik-baik saja dan aku merasa tenang karena kamu berada di sana untuk menjaganya. Aku hanya merasa bahwa waktu telah banyak berubah,”

“Kamu marah dengan perubahan itu?” tanyanya.

“Di dunia ini, ada sesuatu yang tidak akan pernah tergantikan, tapi tak ada yang tidak berubah. Ruangan itu adalah hal yang tidak akan pernah tergantikan buatku, tapi seiring waktu aku tidak bisa selalu berkunjung ke sana. Aku senang kamu di sana dan menjaganya, melakukan apa yang tak bisa lagi aku lakukan. Aku memang sangat cemburu, tapi bukan karena aku membencimu dan bukan karena kamu. Perasaan itu tak ada kaitannya denganmmu. Aku cemburu, karena tempat itu sangat berharga bagiku. Dia mengajarkan banyak hal tentang cita-cita, persahabatan dan optimisme. Tempat itu tetap sangat berharga dan akan selalu seperti itu.”

“Kalau tempat itu berarti bagimu, kenapa tak masuk dan bermain bersama?”

“Tempat itu telah mengajarkanku cara menapak, dan saat ini tiba waktunya aku untuk mulai melangkah. Aku ingin melihat berbagai macam tempat, agar aku bisa lebih banyak belajar tentang kearifan. Karena itu, saat ini aku harus berada di tempat yang lain. Tempatku bermain, kini menjadi tempat bermainmu, maka bermain dan belajarlah dengan baik. Akan banyak pelajaran yang kamu dapat di sana,”

“Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu tidak akan ke sana lagi?”

“Aku akan tetap ke sana nanti. Bukankah kursiku dan teman-temanku masih ada di sana? Aku akan tetap bersahabat dengan tempat itu sampai kapanpun. Keberadaanmu atau siapapun tidak akan mengubah itu. Jadi jangan merasa bersalah padaku,” jelasku padanya. Gadis itu tersenyum. Raut wajahnya tak lagi sendu.

“Kembalilah ke ruangan itu, karena aku juga akan kembali melangkah ke berbagai tempat. Aku masih harus belajar banyak, begitu juga denganmu.” Kataku lagi.
Mata anak itu berbinar, dia kemudian berbalik dan berjalan menuju ruang kenanganku. Dari jauh, aku melihat pintu ruangan itu terbuka dan memancarkan cahaya biru yang lembut dan hangat. Cahaya yang berasal dari hati ruangan yang penuh dengan persahabatan dan ketulusan. Aku melangkah membelakangi ruangan itu. Sayup-sayup terdengar suara tawa yang renyah.

Aku tersenyum sambil terus melangkah. Ruangan itu mungkin tak lagi sepenuhnya milikku dan teman-temanku, sebab sudah banyak kursi lain di sana. Namun, ruangan itu telah memberikan kekuatan yang besar pada kakiku untuk melangkah. Dia mempersiapkan sepasang kaki yang kuat agar aku bisa mengejar mimpiku dan sepasang kaki yang kuat agar suatu saat aku bisa kembali mengunjunginya. Ada banyak hal yang akan berubah di dunia ini karena waktu, tapi ada hal yang tidak akan pernah tergantikan, sekalipun oleh waktu…

Wednesday, September 21, 2011

Dalam Secangkir Teh


Jangan main-main pada secangkir teh, karena minuman cantik itu mengandung perasaan orang yang membuatnya. Itulah ungkapanku tentang teh. Entah karena telalu suka pada teh, atau factor lain, aku selalu merasakan bahwa rasa yang terkandung dalam secangkir teh selalu dipengaruhi perasaan si pembuat. Karena itu, tak heran kalau setiap kali menikmati secangkir teh, aku akan merasakan rasa yang berbeda, meskipun teh dan gula yang digunakan sama.

Aku menyukai rasa teh yang ku buat saat sendirian dengan perasaan yang agak sedih tanpa rasa marah. Kesedihan tanpa rasa marah itu hanya akan timbul saat aku mengingat orang-orang yang ku saying, namun telah pergi sangat jauh. Rasa secangkir teh itu lebih lembut, sangat lembut. Aku suka sensasinya ketika melewati lidahku, kemudian meluncur ke tenggorokan dan terus hilang perlahan-lahan. Sangat perlahan, hingga aku merasa harus sekali lagi mereguk isi cangkir itu. Berulang-ulang, hingga aku tak sempat berpikir, bahwa secangkir teh ku telah habis…

Aku tak begitu menyukai teh yang ku buat saat terlalu gembira. Rasa manisnya lebih kental, rasa pahit teh yang khas itu lenyap begitu saja. Aromanya menjadi manis, bukan lagi aroma teh yang tenang. Saat melewati kerongkongan, ada yang “menyelekit” di sana. Dengan cepat, aku akan merasa sangat bosan menghabiskan secangkir teh di depanku. Kalau sudah begitu, aku lebih memilih minum susu Dancow putih yang tanpa rasa itu, untuk menetralisir rasa manis yang menyelekit.

Aku juga tak begitu menyukai teh yang dibuat saat marah. Semua rasa yang terkandung dalam secangkir teh itu terlalu kuat. Semuanya seolah berlomba-lomba untuk mendominasi satu dengan yang lain. Aroma teh yang nikmat itu tentu saja lenyap. Dia paling sensitif. Tidak di semua cangkir teh akan kau temukan aroma teh yang menyegarkan itu, Apalagi dalam secangkir teh ‘marah’. Setelah sedikit menampar lidah, dia akan meremas kerongkongan untuk kemudian pada akhirnya mengoyak kulit lambung… uhg…

Tapi pada akhirnya, teh adalah teh, secangkir minuman yang kerap diminum untuk melepas lelah, cemas, takut, sekedar untuk meredakan perasaan rindu, atau menambah manis senyuman bahagia. Secangkir teh mungkin mewakili segenggam perasaan pembuatnya, tapi mungkin juga mengobati perasaan, karena dalam secangkir teh larut semua perasaan.